PENGANTAR ANTROPOLOGI

28 01 2009

I

AZAS-AZAS DAN RUANG LINGKUP ANTROPOLOGI

1. Fase Perkembangan Ilmu Antropologi

  1. Fase Pertama (Sebelum Tahun 1800)

Orang-orang Eropa baru mulai berdatangan di Afrika, Asia, dan Amerika pada akhir abad 15. Mereka membuat catatan-catatan mengenai keadaan penduduk pribumi; adat-istiadat, bahasa, ciri fisik, dan susunan masyarakat. Catatan bahan pengetahuan ini disebut bahan etnografi (deskripsi tentang bangsa-bangsa).

Bahan etnografi ini menarik perhatian kalangan terpelajar di Eropa Barat sejak abad ke-18. Ada 3 macam sikap yang bertentangan terhadap bangsa di Afrika, Asia, dan Amerika, yaitu;

  1. Sebagian orang Eropa memandang sifat buruk dari bangsa jauh tadi sebagai manusia liar, turunan iblis, savages, primitive, dan sebagainya.

  2. Sebagian orang Eropa memandang baik dari bangsa jauh tadi dan merupakan contoh masyarakat yang masih murni, belum kemasukan keburukan dan kejahatan seperti masyarakat Eropa waktu itu.

  3. Sebagian orang Eropa tertarik akan adat-istiadat yang aneh dan mulai mengumpulkan benda-benda kebudayaan dari suku-suku bangsa di Afrika, Asia, dan Amerika.

    1. Fase Kedua (Kira-kira Pertengahan Abad ke-19)

Pada fase ini timbul karangan-karangan yang menyusun bahan etnografi berdasarkan cara berpikir evolusi masyarakat “ masyarakat dan kebudayaan manusia berevolusi sangat lambat dalam jangka beribu-ribu tahun, bentuk masyarakat dan kebudayaan manusia yang tertinggi dicapai seperti apa yang hidup di Eropa Barat, sedangkan bangsa di Afrika, Asia, dan Amerika adalah contoh dari tingkat kebudayaan yang lebih rendah”.

Dengan adanya pengklasifikasian bahan tentang beraneka warna kebudayaan di seluruh dunia ke dalam tingkat evolusi tertentu ini, maka timbullah ilmu antropologi.

Fase perkembangan yang kedua ini ilmu antropologi berupa suatu ilmu yang bersifat akademikal, dengan tujuan mempelajari masyarakat dan kebudayaan primitive dengan maksud mendapat pengertian tentang tingkat-tingkat kuno dalam sejarah evolusi dan sejarah penyebaran kebudayaan manusia.

    1. Fase Ketiga (Permulaan abad ke-20)

Pada permulaan abad ke-20 negara-negara penjajajh di Eropamulai berhadapan langsung dengan bangsa-bangsa terjajah. Sehingga pengetahuan tentang masyarakat terjajah menjadi sangat penting. Dalam fase ini ilmu antropologi menjadi suatu ilmu yang praktis, dengan tujuan mempelajari masyarakat dan kebudayaan suku-suku bangsa di luar Eropa guna kepentingan kolonial dan guna mendapat suatu pengertian tentang masyarakat masa kini yang kompleks.

    1. Fase Keempat (Sesudah kira-kira 1930)

Fase ini ilmu antropologi mengalami masa perkembangan yang paling luas. Sasaran ilmu antropolgi tidak lagi suku-suku bangsa primitive yang tinggal di luar Eropa saja, melainkan kepada manusia pedesaan di Eropa dan kota-kota kecil di Amerika. Tujuan ilmu antropologi fase ini adalah akademikal dan praktis. Akademikal; “mencapai pengertian tentang mahluk manusia pada umumnya dengan mempelajari aneka warnabentuk fisik, masyarakat serta kebudayaannya”. Tujuan praktisnya adalah guna membangun masyarakat itu.

2. Antropologi Masa Kini

Secara kasar aliran-aliran antropologi dapat digolongkan berdasarkan berbagai universitas di Amerika, Inggris, Eropa Tengah, Eropa Utara, Uni Sovyet, dan negara-negara yang sedang berkembang.

Di Amerika Srikat ilmu antropologi telah memakai dan mengintegrasikan bahan dan metode dari ilmu antropologi dalam fasenya yang kesatu sampai ketiga dan ditambah dengan berbagai spesialisasi untuk mencapai pengertian dasar anekawarna bentuk kebudayaan masyarakat manusia masa kini.

Di Inggris dan Australia, perkembangan ilmu antropologi fase ketiga masih dilakukan. Seiring hilangnya daerah jajahan, maka para sarjana Inggria memperhatikan berbagai masalah yang lebih luas tentang masyarakat dan kebudayaan manusia pada umumnya. Metode-metode antropologi yang berkembang di Amerika Serikat, juga mempengaruhi penelitian para ahli antropologi Inggris.

Di Eropa Tengah (Jerman, Austria, Swis), akhir-akhir ini pengaruh antropologi dari Amerika Serikat juga mulai tampak pada berbagai ahli antropologi generasi muda di Jerman dan Swis.

Di Eropa Utara (negara-negara Skandinavia) ilmu antropologi bersifat akademikal seperti di Jerman dan Austria. Keistimewaan mereka terletak pada hasil-hasil penelitian mereka terhadap kebudayaan suku-suku bangsa Eskimo. Mereka juga banyak menggunakan metode antropolgi yang dikembangkan di Amerika Serikat.

Di Uni Sovyet, ilmu antropologi didasrakan pada konsep K. Marx dan F. Engels mengenai tingkat-tingkat evolusi masyarakat. Ilmu itu dianggap dari bagian ilmu sejarah yang mengkhususkan kepada asalmula, evolusi, dan penyebaran kebudayaan bangsa-bangsa di seluruh muka bumi. Di Uni Sovyet antropologi menunjukkan bidang yang praktis, yaitu sebagai alat untuk mengembangkan saling pengertian diantara suku-suku bangsa di Uni Sovyet yang bergam itu. Selain itu sarjana-sarjana Uni Sovyet juga menaruh perhatian yang besar terhadap daerah lain di luar Uni Sovyet dan menghasilkan buku-buku berjudul Narody Mira (Bangsa-bangsa di- Dunia).

Di India, ilmu antropologi dalam hal metode-metodenya mendapat pengaruh dari Inggris. Antropologi di India digunakan untuk kepentingan praktis dalam hubungan antara golongan-golongan penduduk India yang beragam. Di India antropologi dan sosiologi sudah bukan ilmu yang berbeda, tetapi hanya berupa dua golongan metode saja yang menjadi satu sebagai suatu ilmu sosial baru.

Di Indonesia, baru mulai mengembangkan suatu ilmuantropologi Indonesia yang khusus. Dalam menentukan dasar-dasar dari antropologi Indonesia kita belum terikat oleh sutau tradisi. Menurut Koentjoroningrat, kita dapat mengkombinasikan berbagai unsur dari berbagai aliran ilmu antropologi yang telah berkembang di negara lain. Batas-batas lapangan penelitian antropologi serta seluruh integrasi luas dari metode-metode antropologi dapat kita contoh dari Amerika Serikat; pengunaan sebagai ilmu praktis dapat ditiru dari Uni Sovyet, Meksiko, dan India.

3. Ilmu-ilmu Bagian dari Antropologi;

    1. Paleo-Antropologi, adalah ilmu bagian yang meneliti asal-usul atau terjadinya dan evolusi manusia menggunakan bahan penelitian sisa-sisa tubuh yang telah membatu, atau fosil-fosil manusia zaman dulu yang tersimpan dalam lapisan-lapisan bumi yang harus digali.

    2. Atropologi Fisik ( Somatologi), adalah bagian ilmu antropologi yang mempelajari tentang sejarah terjadinya aneka warna mahluk manusia dipandanga dari ciri-ciri tubuhnya. Baik yang lahiriah (fenotip) seperti warna kulit, rambut, indeks tengkorak, bentuk muka, warna mata, bentuk hidung, tinggi dan bentuk tubuh, maupun yan dalam (genotip), sperti frekuensi golongan darah dan sebagainya.

    3. Etnolinguistik atau Antropologi Terapan, adalah suatu ilmu bagian yang pada mulanyabersangkutan erat dengan ilmu antropologi. Bahan penelitiannya berupa daftar kata-kata, ciri-ciri dan tata bahasa dari beratus-ratus bahasa suku bangsa di muka bumi.

    4. Prehistori, mempelajari sejarah perkembangan dan penyebaran semua kebudayaan manusia di bumi dalam zaman manusia sebelum mengenal huruf.

    5. Etnologi, adalah ilmu bagian yang mencoba mencapai pengertian mengenai azas-azas manusia dengan mempelajari kebudayaan-kebudayaan dalam masyarakat suku bangsa di bumi pada masa kini.

Spesialisasi antropologi, yaitu pengkhususan penelitian antropologi terhadap maslah-masalah praktis dalam masyarakat. Tahun 1930 ahli antropologi Inggris, R. Firth mulai meneliti dengan metode-metode antropologi gejala-gejala ekonomi pedesaan, penghimpunan modal, pengerahan tenaga, sistem produksi dan pemasaran lokal hasil pertanian dan perikanan di Oseania dan Malaysia. Penelitian ini yang nantinya memunculkan spesialisasi antropologi yang pertama yaitu antropologi ekonomi. Selain itu muncul antropologi pembangunan, yang menggunakan metode-metode, konsep-konsep, dan teori-teori antrpologi untuk mempelajari soal-soal pembangunan masyarakat. Desa. Kemudian muncul juga antropolgi; pendidikan, kesehatan, penduduk, politik, serta antropologi psikiatri yang meneliti maslah-masalah latar belakang sosial budaya dari penyakit-penyakit jiwa.

4. Hubungan antara Antropologi Sosial dan Sosiologi

Persamaannya, sama-sama bertujuan untuk mencapai pengertian tentang azas-azas hidup masyarakat dan kebudayaan manusia pada umumnya.

Perbedaannya;

  1. Asal mula dan sejarah perkembangannnya berbeda.

  2. Perbedaan pengkhususan pokok dan bahan penelitian.

  3. Metode dan masalah yang khusus

Ilmu antropologi sosial sebagai himpunan bahan keterangan tentang masyarakat dan kebudayaan penduduk pribumi di luar Eropa untuk menjadi ilmu khusus karena kebutuhan orang Eropa untuk mendapat pengertian tentang tingkat-tingkat permulaan dalam perkembangan sejarah masyarakat dan kebudayaannya sendiri. Sebaliknya ilmu sosiologi mulai sebagai suatu filsafat sosial dalam rangka ilmu filsafat menjadi ilmu khusus karena krisis masyarakat di Eropa yang menyebabkan orang Eropa memerlukan pengetahuan lebih mendalam mengenai azas-azas masyarakat dan kebudayaannya sendiri.

Kesimpulannya, akhir-akhir ini perbedaan anrtropologi sosial dengan sosiologi tidak dapat ditentukan lagi oleh perbedaan antara masyarakat suku-suku bangsa di luar Eropa dan juga Amerikadengan bangsa-bangsa Eropa-Amerika.

Perbedaan metode ilmiah antropologi sosial dan sosiologi; pengalaman dalam hal meneliti masyarakat kecil memberi kesempatan ahli antropologi untuk mengembangkan metode penelitian intensif (kualitatif), misalnya metode wawancara. Sedangkan ahli sosiologi yang biasa meneliti masyarakat kompleks menggunakan metode bersifat penelitian meluas merata (kuantitatif), misalnya angket.

5. Hubungan Antropologi dan Ilmu-Ilmu Lain

Hubungan ini biasanya bersifat timbal balik, saling membutuhkan dan melengkapi. Ilmu-ilmu lain yang terpenting antara lain; geologi, paleontology, anatomi, kesehatan masyarakat, psikiatri, linguistik, arkeologi, sejarah, geografi, ekonomi, hukum adat, administrasi, dan politik.

Hubungan dengan ilmu geologi; bantuan ilmu geologi yang mempelajari lapian bumiserta perubahannya dibutuhkan oleh paleo-antropologi dan prehistori untuk menentukan umur relatif fosil manusia primate dan manusia zaman dulu serta artefak dan bekas-bekas kebudayaan yang digali dari lapisan bumi.

Hubungan dengan paleontology; ilmu ini memberikan informasi tentang proses evolusi bentuk mahluk hidup zaman dulu hinggga sekarang.

Hubungan dengan ilmu anatomi. Seorang ahli antropologi fisik yang meneliti ciri-ciri rasdi dunia sangat perlu ilmu anatomi karena ciri-ciri bagian tubuh manusia menjadi obyek peneliti. Terpenting bagi ahli antropologi fisik untuk mengetahui asal mula penyebaran manusia di bumi.

Hubungan dengan ilmu kesehatan masyarakat. Antropologi memberikan informasi kepada para dokter kesehatan masyarakat yang akan bekerja dan hidup di dearah dengan beragam kebudayaan. Metode-metode dan cara-cara untuk segera mengetahui dan menyesuaikan diri dengan kebudayaan dan adat istiadat lain.

Hubungan dengan ilmu linguistik. Tiap peneliti yang mengumpulkan bahan etnografi di lapangan memerlukan pengetahuan secara cepat tentang bahasa penduduk di daerah yang ditelitinya. Dengan mengetahui ilmu bahasa, seorang peneliti menguasai alat untuk dengan cepat menganalisa dan mempelajari bahasa daerah tadi. Sehingga tugas penelitiannya dapat terlaksana dengan baik.

Hubungan dengan ilmu arkeologi (ilmu sejarah kebudayaan purbakala). Sub ilmu antropologi, prehistori menggunakan sisa-sisa benda kebudayaan manusia yang tertingggaldalam lapisan-lapisan bumi, benda-benda ini yang dipelajari dalam arkeologi.

Hubungan dengan ilmu sejarah, hampir menyerupai hubungan dengan ilmu arkeologi. Konsep-konsep tentang kehidupan masyarakat yang dikembangkan antropologi dan ilmu-ilmu sosial lainnya akan memakai pengertiankepada seorang ahli sejarah untuk mengisi latar belakang dari peristiwa politik dalam sejarah yang menjadi obyek penelitiannya. Ahli antropologi juga memerlukan sejarah dari suku-suku bangsa yang ditelitinya.

Hubungan dengan ilmu geografi. Geograi tidak bisa mengabaikan antropologi karena salah satu obyek kajian geografi adalah manusia yang beraneka warnasifatnya di muka bumi ini. Sebaliknya, antropologi juga memerlukan geografi, karena banyak masalah kebudayaan manusia memiliki sangkut paut dengan keadaan lingkungan alamnya.

Hubungan dengan ilmu ekonomi. Proses dan hukum-hukum ekonomi yang berlakudalam aktifitas ekonomi dipengaruhi oleh sistem kemasyarakatan, cara berpikir, serta pandangan hidup masyarakat. Ahli ekonomi yang hendak membangun ekonomi negara harus mengetahui sistem kemasyarakatan tadi yang dapat diperoleh dari antropologi.

Hubungan dengan ilmu politik. Untuk dapat memahami latar belakang dan adat istiadat tradisional dari suatu suku bangsa, maka metose analisa antropologi menjadi penting; seorang ahli ilmu politik, untuk mendpat pengertian mengenai tingkah laku partai politik yang sedang dipelajarinya. Sebaliknya, seorang ahli antropologi dalam mempelajari masyarakat untuk menulis deskripsi etnografi tentang masyarakat tersebut tentu akan juga menghadapi sendiri kekuatan dan proses poitik lokal, serta aktivitas cabang-cabang partai politik nasional di situ. Untuk menganalisanya ia perlu konsep dan teori ilmu politiknya juga.

6. Metode Ilmiah dari Antropologi

Metode ilmiah dari suatu ilmu pengetahuan ialah segala jalan atau cara dalam rangka ilmu tersebut, untuk sampai kepada ilmu pengetahuan. Tanpa metode ilmiah, suatu ilmu pengetahuan sebenarnya bukan suatu ilmu, melainkan suatu kumpulan pengetahuan saja. Kesatuan pengetahuan dapat dicapai melalui tiga tingkat1; 1) pengumpulan fakta, 2) penentuan ciri-ciri umum dan sistem, 3) verifikasi.

Pengumpulan Fakta. Untuk antropolgi budaya tingkat ini adalah pengumpulan fakta mengenai kejadian dan gejalamasyarakat dan kebudayaan untuk pengolahan secara ilmiah. Aktifitas pengumpulan fakta terdiri dari metode observasi, mencatat, mengolah, dan melukiskan fakta-fakta yang terjadi dalam masyarakat yang hidup. Pada umumnya, metode-metode pengumpulan fakta dalam ilmu pengetahuan dapat digolongkan; (i) penelitian di lapangan, (ii) penelitian di laboratorium, dan (iii) penelitian dalam perpustakaan. Dalam ilmu antropologi budaya, penelitian yang terpenting adalah penelitian lapangan.

Penentuan Ciri-ciri Umum dan Sistem. Tujuannya untuk menentukan ciri umum dan sistemdalam himpunan fakta-fakta yang dikumpulkan dalam suatu penelitian. Proses berpikir secara ilmiah dalam ilmu antropologi ini menimbulkanmetode-metode yang hendak mencari ciri-ciri yang umum dalam aneka warna fakta dalam kehidupan masyarakat dan kebudayaan umat manusia. Proses berpikir disini berjalan secara induktif, dari pengetahuan tentang peristiwa dan fakta-fakta khusus dan konkret, kearah konsep mengenai ciri-ciri umum yang lebih abstrak.

Adapun ilmu antropologi, yang bekerja dengan fakta-fakta dari banyak macam masyarakat dan kebudayaan dari seluruh dunia, dalam hal mencari ciri-ciri umumharus menggunakan berbagai metode membandingkan atau komparatif yang dimulai dengan metode klasifikasi.

Verifikasi atau Pengujian. Terdiri dari cara-cara yang harus menguji kaidah-kaidah yang telah dirumuskan atauyang harus memperkuat pengertian yan telah dicapai. Disini proses berpikir berjalan secara deduktif dari perumusan umum, kembali ke arah fakta-fakta khusus.

II

KEPRIBADIAN

1. Definisi Kepribadian

Kepribadian (personality) adalah susunan unsur-unsur akal dan jiwa yang menentukan perbedaan tingkah laku atau tindakan tiap-tiap individu manusia.

Dalam bahasa populer, istilah “kepribadian” juga berarti ciri-ciri watak seseorang individu yang konsisten, yang memberikan kepadanya suatu identitas sebagai individu yang khusus. Dalam bahasa sehari-hari kita anggap seseorang tertentu mempunyai kepribadian, memang yang biasa kita maksudkan ialah ciri watak yang diperlihatkannya secara lahir, konsisten, dan konsekwen dalam tingkah lakunya sehingga tampak bahwa individu tersebut memiliki identitas khusus yang berbeda dengan individu lainnya.

2. Unsur-Unsur Kepribadian

Pengetahuan. Unsur-unsur yang mengisi akal dan jiwa seseorang manusia yang sadar, secara nyata terkandung dalam otaknya. Sesuatu yang dialami dan diterima melalui panca indera dan reseptor lainnya sebagai getaran eter (cahaya dan warna), getaran akustik(suara), bau, rasa, sentuhan, tekanan mekanikal (berat-ringan), panas-dingin, dan sebagainya, yang masuk ke dalam sel-sel tertentu di bagisn tertentu dalam otaknya. Di sana berbagai proses fisik, fisiologi, dan psikologi terjadi, yang menyebabkan berbagai macam getaran dan tekanan yang diolah menjadi suatu susunan yang dipancarkan atau diproyeksikan individu menjadi suatu penggambaran tentang lingkungan individu. Seluruh proses akal manusia yang sadar (conscious) tadi, dalam ilmu psikologi disebut “persepsi”.

Penggambaran tentang lingkungan tersebut berbeda dengan sebuah gambar foto yang hanya memuat lingkungan yang terkena cahaya sehingga ditangkap oleh film melalui lensa kamera. Penggambaran oleh akal manusia hanya mengandung bagian-bagian yang khusus yang mendapat perhatian dari akal si individu, sehingga merupakan suatu penggambaran yang terfokus pada bagian-bagian khusus tadi. Apabila individu tadi menutup matanya, maka akan terbayang dalam kesadarannya penggambaran yang berfokus dari alam yang baru saja dilihatnya tadi.

Penggambaran lingkungan dengan focus kepada bagian yang paling menarik perhatian individ, sering kali diolah oleh suatu proses dalam akalnya yang menghubungkan penggambaran tadi dengan berbagai penggambaran lain sejenis yang pernah diterima dan diproyeksikan oleh akalnya dalam masa lalu, yang timbul kembali sebagai kenangan dalam kesadarannya. Dengan demikian, diperoleh penggambaraban baru dengan banyak pengertian tentang keadaan lingkungan. Penggambaran baru dengan pengertian baru seperti itu, alam psikologi disebut “apersepsi”.

Suatu “persepsi” setelah diproyeksikan kembali oleh individu, menjadi penggambaran yang berfokus tentang lingkungan, karena tertarik, akan lebih intensif memusatkan akalnya terhadap bagian-bagian khusus tadi. Penggambaran yang lebih intensif terfokus, yang terjadi karena pemusatan akal yang lebih intensif, dalam ilmu psikologi disebut “pengamatan”.

Dengan proses akal individu mempunyai kemampuan untuk mebentuk penggambaran baru yang abstrak yang dalam kenyataan tidak serupa dengan salah satu dari berbagai macam gambaran yang menjadi bahan konkret dari penggambaran baru itu. Misalnya manusia membuat penggambaran tentang tempat tertentu yang ia belum pernah melihatnya. Penggambaran abstrak dalam ilmu-ilmu sosial disebut “konsep”. Penggambaran baru yang seringkali tidak realistic disebut “fantasi”.

Seluruh penggambaran, apersepsi, pengamatan, konsep, dan fantasi merupakan unsur-unsur “pengetahuan” seseorang individu yang sadar. Sebaliknya, banyak pengetahuan atau bagian dari seluruh himpunan pengetahuan yang ditimbun individu selama hidupnya, seringkali hilang dari alam akalnya yang sadar, atau dalam “kesadarannya”, karena berbagai macam sebab yang dipelajari oleh ilmu psikologi. Walaupun demikian perlu diperhatikan bahwa unsur-unsur pengetahuan tadi sebenarnyatidak hilang lenyap begitu saja, melainkan hanya terdesak masuk saja ke dalam bagian jiwa manusia yang dalam ilmu psikologi disebut “bawah sadar” (sub-conscious).

Dalam alam bawah sadar banyak pengetahuan yang larut dan terpecah-pecah menjadi bagian yang seringkali tercampur satu sama lain dengan tidak teratur. Proses ini terjadi karena tidak ada lagi akal sadar individu yang bersangkutan, yang menyusun dan menatanya dengan rapi walaupun terdesak ke alam bawah tak sadar, namun kadang-kadang bagian pengetahuan tadi muncul lagi di alam sadar dari jiwa individu tersebut.

Pengetahuan individu juga dapat terdesak atau dengan sengaja didesak oleh individu itu, karena berbagai alasan ke dalam bagian jiwa manusia yang lebih dalam lagi, yaitu alam “tak sadar” (unconscious). Disanalah pengetahuan larut dan terpecah-pecah ke dalam bagian-bagian yang saling berbaur dan tercampur. Bagian yang telah tercampur ini kadang-kadang dapat muncul kembali pada saat akal yang mengatur kesadaran manusia dalam keadaan kendor atau tak berfungsi.

Proses psikologi yang terjadi dalam alam bawah sadar dan alam tak sadar tadi dipelajari oleh ilmu psikologi yang disebut psiko-analisa, yang dikembangkan oleh ahli psikologi Jerman S. Freud.

Perasaan. Perasaan adalah suatu keadaan dalam kesadaran manusia yang karena pengaruh pengetahuannya dinilainya sebagai suatu keadaan positif atau negative (baik-buruk).

Perasaan selalu bersifat subyektif karena adanya unsur-unsur penlaian, biasanya menimbulkan suatu “kehendak” dalam kesadaran seseorang individu. Kehendak itu juga positif – artinya individu tersebut ingin mendapatkan hal yang dirasakannya sebagai hal yang akan memberikan kenikmatan kepadanya, atau juga bisa negative, artinya ia hendak menghindari hal yang dirasakannya sebagai hal yang akan membawa perasaan tidak nikmat kepadanya. Suatu kehendak juga dapat menjadi sangat keras, dan hal itu sering terjadi apabila hal yang dikehendaki itu tidak mudah diperoleh, atau sebaliknya. Kehendak yang keras ini disebut “keinginan”. Keinginan yang sangat besar akan melahirkan emosi.

Dorongan Naluri. Kesadaran manusia menurut para ahli psikologi juga mengandung berbagai perasaan lain yang tidak ditimbulkan karena pengaruh pengetahuannya, melainkan karena sudah trekandung dalam dirinya, khususnya dalam gen-nya sebagai naluri. Kemauan yang sudah merupakan naluri, oleh beberapa ahlipsikologi disebut “dorongan” (drive). Ada 7 macam dorongan naluri, yaitu:2

  1. Dorongan untuk mempertahankan hidup. Yang merupakan kekuatan biologi yang ada pada semua mahluk yang menyebabkan semua jenis mahluk mampu mempertahankan hidupnya.

  2. Dorongan sex. Dorongan ini timbul pada tiap individu yang normal tanpa terkena pengaruh pengetahuan, dan memang dorongan ini mempunyai landasan biologi yang mendorong mahluk manusia untuk membentuk keturunan yang melanjutkan jensinya.

  3. Dorongan untuk usaha mencari makan.

  4. Dorongan untuk bergaul atau berinteraksi dengan sesama manusia. Dorongan ini merupakan landasan biologi dari kehidupan masyarakat manusia sebagai mahluk kolektif.

  5. Dorongan untuk meniru tingkah laku sesamanya. Merupakan sumber dari adanya beragam kebudayaan diantara mahluk manusia karena adanya dorongan ini manusia mengembangkan adat yang memaksanya berbuat conform dengan manusia sekitarnya.3

  6. Dorongan untuk berbakti. Dorongan ini memungkinkan ada dalam naluri manusia, karena manusia merupakan mahluk hidup kolektif, sehingga untuk dapat hidup bersama bersama manusia lain secara serasi ia perlu mempunyai suatu landasan biologiuntuk mengembangkan rasa; alturistik, simpati, cinta dan sebagainya, yang memungkinkannya untyuk hidup bersama itu. Kalau dorongan untuk berbagai hal itu diekstensikan dari sesama manusianya kepada kekuatan-kekuatan yang oleh perasaannya dianggap berada di luar akalnya, maka akan timbul religi.

  7. Dorongan akan keindahan, dalam arti keindahan bentuk, warna, suara, atau gerak. Pada seorang bayi dorongan ini sudah sering tampak pada gejala tertariknya seorang bayi kepada bentuk-bentuk tertentu dari benda-benda di sekitarnya, kepada warna-warna cerah, suara nyaring dan berirama, dan kepada gerak-gerak yang selaras. Dorongan ini merupakan landasan dari suatu unsur penting dalam kebudayaan manusia, yaitu kesenian.

3. Materi dari Unsur-Unsur Kepribadian

Seorang ahli etnopsikologi, A.F.C Wallace membuat suatu kerangka di mana terdaftar secara sistem atikal seluruh materi yang menjadi obyek dan sasaran unsur-unsur kepribadian manusia. Kerangka itu menyebut tiga hal yang pada tahap pertama merupakan isi kepribadian yang pokok, yaitu:4

  1. Aneka warna kebutuhan organik diri sendiri, aneka kebutuhan serta dorongan psikologi diri sendiri, dan aneka warna kebutuhan serta dorongan organic maupun psikologi sesama manusia yang lain daripada diri sendiri; sedangkan kebutuhan-kebutuhan tadi dapat dipenuhi atau tidak dipenuhi oleh individu yang bersangkutan, sehingga memuaskan dan bernilai positif baginya, atau tidak memuaskan dan bernialai negative.

  2. Aneka warna hal yang bersangkutan dengan kesamaan identitas diri sendiri bauk aspek fisik maupun psikologinya, dan segala hal yang b ersangkutan dengan kesadaran individu mengenai macam-macam kategori manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, benda, zat, kekutan, dan gejala alam, baik yang nyata maupun yang gaib dalam lingkungan sekelilingnya.

  3. Berbagai macam cara untuk memenuhi, memperkuat, berhubungan, mendapatkan atau mempergunakan aneka warna kebutuhan dari hal tersebut di atas, sehingga tercapai keadaan memuaskan dalam kesadaran individu yang bersangkutan. Pelaksanaan berbagai macam caradan jalan tersebut terwujud dalam aktifitas hidup sehari-hari dari seorang individu.

4. Aneka Warna Kepribadian

Aneka warna Kepridian Iindividu. Aneka warna materi yang menjadi sisi dan sasaran dari pengetahuan, perasaan, kehendak, serta keinginan kepribadian serta perbedaan kualitas hubungan antara berbagai unsur kepribadian dalam kesadaran individu, menyebabkan adanya beraaneka macam struktur kepribadian pada setiap manusia, dan menyebabkan kepribadian tiap individu itu berbeda dengan individu lain.

Antropolgi dan ilmu-ilmu sosial lain tidak mempelajari individu, tetapi mempelajari seluruh pengetahuan, gagasan, dan konsep yang umum hidup di masyarakat yang biasanya disebut sebagai adat istiadat (customs).

Tiap manusia mempunyai kepribadian yang berbeda, karena materi yang merupakan isi pengetahuan dan perasaan seorang individu itu berbeda dengan individu lain, dan juga sifat dan intensitas kaitan antara berbagai macam bentuk pengetahuan dan perasaan juga berbeda.

Ilmu antropologi memperhatika masalah kepribadian untuk memperdalam dan memahami adat istiadat serta sistem sosial dari suatu masyarakat. Khususnya, ilmu antropologi juga mempelajari kepribadian yang ada pada sebagian besar warga suatu masyarakat, ytang disebut kepribadian umum/watak umum (modal personality).

Kepribadian Umum. Para pengarang etnografi abad ke-19 yang lalau hingga tahun 1930-an sering mencantumkan dalam karangan etnografi mereka tentang watak atau kepribadian umumdari warga kebudayaan yang menjadi topik etnografi mereka. Pelukisan watak itu biasanya berdasarkan kesan dari pengalaman bergaul dengan para warga kebudayaan yang sedang mereka teliti. Tahun 1930-an seorang ahli antropologi, R. Linton, mengembangkan suatu penelitian terhadap soal kepribadian umum. Ia mencari hubungan dengan para ahli psikologi untuk mempertajam pengertiannyamengenai konsep-konsep psikologi yang menyangkut kepribadian umum, dan bersama-sama mereka mencari suatu metode yang eksak untuk mengukurnya. Seorang ahli psikologi yang menaruh terhadap proyek Linton adalah A. Kardiner, usaha pertama mereka adalah suatu penelitian terhadap penduduk Kepulauan Marquesas, bagian timur Polinesia, dan suku bangsa Tanaladi bagian timur Pulau Madagaskar. Linton mencari bahan etnografinya, sedangakan A. Kardiner menerapkan metode-metode psikologinya serta menganalisa data psikologinya. Hasilnya sebuah buku berjudul Individual and His-Society (1938).

Dalam rangka proyek bersama antara Linton dan Kardiner tersebut, dipertajam konsep kepribadian umum sehingga timbul konsep “kepribadian dasar”(basic personality structure) yang berarti : semua unsur kepribadian yang dimiliki bersama oleh suatu bagian besar dari warga suatu masyarakat itu. Kepribadian dasar itu ada karena semua individu warga dari suatu masyarakat itu mengalami pengaruh lingkungan kebudayaan yang sama selama masa tumbuhnya. Metodologi untuk mengumpulkan data mengenai kepribadian bangsa adalah dengan mengumpulkansuatu smpel dari individu-individu warga masyarakat yang menjadi obyek penelitian, kemudian tiap individu dalam sample diteliti kepribadiannya dengan test-test psikologi. Hasilnya suatu daftar ciri-ciri watak yang secara statistic ada pada suatu persentase yang besar dari individu-individu dalam sampel tadi.

Penelitian suatu kebudayaan juga dilaksanakan dengan metode lain berdasarkan suatu pendirian dalam ilmu psikologi bahwa ciri-ciri dan unsur watak seorang individu dewasa sebenarnya sudah diletakkan benih-benihnya ke dalam jiwa seorang individu sejak sangat awal, yaitu masa anak-anak. Pembentukan watak dalam jiwa idividu banyak dipengaruhi oleh pengalamannya ketika masih anak-anak ia diasuh orang di sekitarnya, ibu, ayah, kakak, dan individu lain yang biasa mengerumuninya waktu itu. Watak juga ditentukan oleh cara-cara sewaktu kecil diajar makan, diajar kebersihan, kedisiplinan, main dan bergaul dengan anak-anak lain dan sebagainya. Oleh karena itu, dalam tiap kebudayaan cara pengasuhan anak menunjukan keseragaman pola-pola adat dan norma-norma tertentu, maka ketika anak-anak itu menjadi dewasa, beberapa unsur watak yang seragam akan tampak menonjol pada banyak individu yang telah menjadi dewasa itu.

Para ahli antropologi berpendirian bahwa dengan mempelajari adat istiadat pengasuhan anak yang khas akan dapat diduga adanya berbagai unsur kepribadian yang merupakan akibat dari pengalaman-pengalaman sejak masa kanak-kanak pada sebagian besar warga masyarakat yang bersangkutan.

Metode penelitian kepribadian umum dengan cara mempelajari adat istiadat, pengasuhan anak-anak dalam suatu kebudayaan, terutama dikembangkan oleh ahli anropologi terkenal, Margeret Mead, tidak hanya suku-suku bangsa di Melanisia, “khususnya Papua Nugini, melainkan juga di Bali. Buku-buku Mead di mana metode penelitian kepribadian umum berdasarkan adat pengasuhan anak terurai tadi dikembangkan, dan di mana hasil kedua penelitiannya tersebut diatas dimuat, adalah Growing Up in New Guinea (1930), dan Children and Ritual in Bali (1955). Suatu buku lain yang juga hasil penelitian di Bali yang ditulis bersama G. Bateson, berjudul Balinese Character. A Phothographic Analysis (1942).

Keepribadian Barat dan Kepribadian Timur. Pada mulanya tulisan-tulisan para sarjana sejarah kebudayaan, para pengarang kesusasteraan, serta para penyair Eropa Barat, bila mereka menyinggung pandangan hidup manusia yang hidup dalam kebudayaan-kebudayaan Asia ( Islam, Hindu Budha, dan Cina) yang lokasi geografinya senua memang di sebelah timur Eropa menyebutnya sebagai kebudayaan Timur.

Kemudian ketika para pengarang Eropa berkenalan dengan kebudayaan lain di Asia seperti Kebudayaan Parsi, Kebudayaan Thai, Kebudayaan Jepang, atau Kebudayaan Indonesia, maka pandangan hidup serta kepribadfian manusia yang hidup di dalam kebudayaan-kebudayaan tersebut itu juga dinamakan kepribadian Timur. Semua kebudayaan bukan Eropa Barat, disebut pandangan hidup dan kerpibadian Timur. Denan demikian timbul dua konsep yang kontras, yaitu Kepridaian Timur dan Keprribadian Timur.

Konsep kontras tersebut kemudian juga diambil alih oleh para pengarang Asia sendiri, sehingga oleh para pengarang dan penyair Indonesia mulai dipakai konsep Timur-Barat dalam arti kontras tersebut, dan tidak jarang dalam karangan-karangan mereka konsep kebudayaan Timur lawan kebudayaan Barat, pandangan hidup Timur lawan pandangan hidup Barat, dan kerpibadian Timur lawan kepribadian Barat. Dalam rangka pemakaian kedua konsep yang kontras itu ada berbagai macam pandangan di antara para cendekiawan Indonesia, yang sering bersifat kabur. Mareka yang suka mendiskusikan kontras antara kedua konsep tersebut biasanya menyangka bahwa kepribadian Timur mempunyai pandangan hidup yang mementingkan kehidupan kerohanian, mistik, pikiran prelogis, keramah-tamahan, dan kehidupan kolektif sedangkan kepribadian Barat mempunyai pandangan hidup yang mementingkan kehidupan material, pikiran logis, hubungan berdasarkan azas guna, dan individualisme.

Kontras kolektivisme-individualisme Timur-Barat merupakan kontras orientasi nilai budaya manusia dan dapat dikaitkan dengan konsep kepribadian Timur-Barat yang pernah sarjana Amerika keturunan Cina, Francis L.K. Hsu, yang mengkombinasikan dirinyasuatu keahlian dalam dalam ilmu antropologi, psikologi, filsafat, serta kesusteraan Cina klasik, dalam sebuah karangannya berjudul Psychological Homeostatis and Jen, menurut Hsu ilmu ilmu psikologi yang dikembangkan orang Eropa Barat, di mana konsep individu memang mengambil tempat yang sangat penting, biasanya menganalisa jiwa manusia dengan terlampau banyak menekan kepada pembatasan konsep individu sebagai suatu kesatuan analisa tersendiri. Sampai sekarang ilmu psikologi di negara Barat itu terutama mengembangkan konsep-konsep dan teori-teori mengenai aneka warna isi jiwa serta metode-metode dan alat-alat untuk menganalisa dan mengukur secara detail variasi isi jiwa individu dan lingkungan sosial budayanya. Dengan emikian untuk menghindari pendekatan terhadap jiwamanusia itu, hanya sebagi suatu obyek yang terkandung dalam batas individu yang terisolasi, maka Hsu mengembangkan konsepsi bahwa alam jiwa manusia sebagai mahluk sosial budaya itu mengandung delapan daerah yang berwujud seolah-olah seperti lingkaran konsentrikal sekitar diri pribadinya.

Lingkaran nomor 7 dan 6 adalah daerah dalam jiwa individu yang oleh para ahli psikologi disebut daerah “ tak sadar” dan “subsadar”. Kedua daerah itu berada di daerah pedalaman dari alam jiwa individu , terdiri dari bahan pikiran dan gagasan yang telah terdesak ke dalam sehinggga tak disadari lagi oleh individubersangkutan. Bahan pemikiran dan gagasan tadi sering sudah tak utuh lagi, hilang terlupakan, dan unsur-unsurnya, bagian isi impian sudah tidak lagi tersusun menurut logikayang biasa dianut oleh manusia dalam kehidupan sehari-hari, individu sudah lupa terhadap gagasan tersebut, tetapi dalam keadaan-keadaan tertentu unsur-unsur itu dapat meledak keluar lagi dan mengganggu kebiasaan hidup sehari-hari.

Lingkaran nomor 5 disebut Hsu “kesadaran yang tak dinyatakan” (unexpressed consciousness). Lingkaran itu terdiri dari pikiran-pikiran dan gagasan-gagasan yang disadarai penuh oleh individu bersangkutan, tetapi yang disimpan saja dalam alam jiwanya sendiri dan tidak dinyatakan kepada siapapun juga dalam lingkungannya. Kemungkinannya bahwa; (i) ia takut salah atau takut dimarahi orang apabila ia menyatakannya, atau ia mempunyai maksud jahat, (ii) ia sungkan menyatakannya karena ia belum yakin bahwa ia akan mendapat respond an pengertian yang baik dari sesamanya, atau takut walaupun mendapat respon, sebenarnya resp[on itu tidak diberikan dengan hati yang ikhlas, atau karena ia takut ditolak mentah-mentah, (iii) ia malu karena takut ditertawakan atau karena ada perasaan bersalah yang mendalam, (iv) ia tidak dapat menemukan kata-kata atau rumusan yang cocok untukmenyatakan gagasan yang bersanngkutan tadi kepada sesamanya.

Lingkaran nomor 4 disebut “kesadaran yang dinyatakan” (expressed conscious). Lingkaran ini dalam alam jiwa manusia mengandung pikiran-pikiran gagasan-gagasan, dan perasaan-perasaan yang dapat dinyatakan secara terbuka oleh individu kepada sesamanya, yang dengan mudah dapat diterima dan dijawab pula oleh sesamanya. Simpati, kemarahan, kebencian, rasa puas, rasa senang, kegembiraan, rasa terima kasi, kosep-konsep tentang tata cara hidup sehari-hari, pengetahuan yang juga dipahami oleh umum, adat istiadat, peraturan sopan santun, dan sebagainya, yang dikenal oleh semua orang dan banyak hal lain, semua itu menjadi bahan aktifitas berpikir dan pencetusan emosi manusia dari waktu ke waktu.

Lingkaran nomor 3 adalah “lingkaran hubungan karib” (intimate society) mengandung konsepsi-konsepsi tentang orang-orang, binatang, atau benda-benda yang oleh individu diajak bergaul secara mesra dan karib, yang bisa dipakai sebagai tempat berlindung dan sebagai tempat mencurahkan isi hati apabila sedang terkena tekanan batin atau dikejar-kejar oleh kesedihanserta masalah-masalah hidup yang menyulitkan. Orang tua, saudara sekandung, kerabat dekat, sahabat karib, biasanya merupakan penghuni penting dari daerah lingkaran nomor 3 dalam alam pikiran manusia ini, yang kecuali oleh tokoh-tokoh manusia sering juga ditempati oleh pikiran-pikiran, perasaan terhadap binatang kesayangan, benda kesayangan, benda pusaka, ide-ide atau ideologi-ideologi yang dapat menjadi sasaran rasa kebaktian penuh dari jiwanya, seperti halnya Tuhan bagi kita, dan sebgainya.

Sikap manusia terhadap orang, binatang atau benda-benda dalam lingkaran nomor 2, yang dapat kita sebut “lingkungan hubungan berguna” tidak lagi ditandai oleh sikap sayang mesra, melainkan ditentukan oleh fungsi kegunaan dari orang, binatang, atau benda-benda itubagi dirinya. Bagi seorang murid, guru berada di daerah lingkungan 2 dari alam pikirannya; bagi pedagang , para pembeli berada di tempat itu, pakaian sehari-hari, perabot rumah tangga, uang dan sebagainya.

Lingkaran nomor 1, yang disebut ingkungan hubungan jauh”, terdiri dari pikiran dan sikap dalam alam jiwa manusia tentang manusia, benda, alat, pengetahuan, dan adat yang ada dalam kebudayaan dan masyarakatnya sendiri, tetapi yang jarang sekali mempeunyai arti dan pengaruh lngsung terhadap kehidupannya sehari-hari. Bagi petani Jawa di desa-desa di Jawa Tengah, pandangan mereka tentang kota Jakarta mungkin terletak dalam daerah lingkaran ini. Orang tadi mungkin akan kagum apabila mereka mendengar mengenai kota Jakarta, tetapi sesuadah itu tak akan ada kelanjutan lebih jauh dari kekaguman tadi, karena bagi mereka hal itu tiak ada tempat dan fungsi langsung dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Daerahnomor 0 disebut “lingkaran dunia luar” terdiri dari pikiran-pikiran dan anggapan-anggapan yang hampir sama dengan pikiran-pikiran yang terletak dalam lingkaran nomor 1, bedanya yang pertama terdiri dari pikiran-pikiran dan anggapan-anggapan tentang orang dan hal yang terletak di luar masyarakat dan negara Indonesia, dan ditanggapi oleh individu bersangkutan dengan masa bodoh. Contohnya; anggapan seorang pelajar Indonesia yang tidak pernah pergi ke luar negeri, tentang negara Columbia, pandangan seorang tukang kebun di Papua tentang orang Eskimo dan sebagainya.

Daerah lingkaran nomor 4 dibatasi oleh garis yang digambar lebih tebal dari garis yang lain. Itu menggambarkan bats dari alam jiwa individu yang disebut “kepribadian”. Sebagian besar dari isi jiwa manusia (termasuk yang telah didesak ke dalam daerah tak sadar dan sub-sadar), sebagian besar dari pengetahuan dan pengertiannya tentang adat istiadat, dan kebudayaannya, sebagian besar dari pengetahuan dan pengertiannya tentang lingkungannya, dan sebagian besar dari nilai budaya dan norma-norma yang dianutnya, menurut psikologi Barat terkandung dalam kepribadian manusia. Itulah yang merupakan konsep ego atau akunya manusia dalam psikologi Barat.

Menurut Francis Hsu, mahluk manusia masih memerlukan suatu daerah isi jiwa tambahan untuk memuaskan suatu kebutuhan rohaniah yang bersifat fundamental dalam hidupnya. Daerah isi jiwa tambahan terhadap lingkaran- nomor 7, 6, 5, dan 4 yang menggambarkan kepribadian manusia tadi, adalah nomor lingkaran 3. hubungan yang berdasarkan cinta dan kemesraan dan juga rasa untuk berbakti secara penuh dan mutlak, merupakan suatu kebutuhan fundamental dalam hidup manusia. Tanpa adanya tokoh-tokoh atau benda-benda kesayangan, tanpa Tuhan, tanpa ide atau ideology yang menjadi sasaran dari rasa kebaktian mutlak yang semuanya menempati daerah lingkaran 3 dalam alam jiwanya, hidup kerohanian manusia tidak akan seimbang selaras. Manusia yang tidak mempunyai semua itu akan merupakan manusia yang sangat menderita, karena ia kehilangan mutu hidup, kehilangan arti untuk hidup, dan kehilangan landasan dari rasa keamanan murni dalam hidupnya. Manusia seperti itu sering memilih jalan keluar dari penderitaan dengan bunuh diri.

Hsu mengusulkan mengembangkansuatu konsep kapribadian yang lain sebagai tambahan terhadap konsep personality yang telah lama dikembangkan oleh para ahli psikologi Barat. Konsep ini dipakai untuk menganalisa alam jiwa manusia yang hidup di masyarakat Timur, khususnya Cina, dan Asia pada umumnya.

Jen adalah “manusia yang berjiwa selaras, manusia yang berkepribadian”. Dengan demikian usul Hsu adalah menyatakan agar para ahli psikologi tidak hanya memakai konsep psikologi Barat mengenai kepribadian itu, tetapi juga memperhatikan unsur hubungan mesra dan bakti itu. Dalam konsep jen tersebut di atas, manusia yang selaras dan berkepribadian adalah manusia yang dapat menjaga keseimbangan hubungan diri kepribadiannya dengan lingkungan sekitarnya, terutama yang paling dekatdan paling serius, kepada siapa ia dapat mencurahkan rasa cinta, kemesraan, dan baktinya.

Dalam bagan di atas, nomor 4 dan 3, dibedakan dari yang lain dengan garis arsir yang sedikit memasuki daerah nomor 5 dan nomor 2 juga, menggambarkan konsep jen atau alam jiwa dari “manusia yang berjiwa selaras” itu. Kedua lingkaran itu adalah daerah-daerah dalam jiwa individu yang ada dalam suatu keaadaanpsikologi yang oleh Hsu disebut psychological homeostatis (= judul karangannya).

Hampir semua manusia di dunia, kata Hsu selanjutnya, hidup dimulai dengan orang tua dan saudara-saudara sekandungnya. “Masyarakat hubungan karib” inilah (lingkaran 3), yang merupakan bentuk masyarakat berbagi suku bangsa tertentu di Indonesia, dan masyarakat lain di dunia yang berdasarkan prinsip keturunan matrilineal,5 saudara laki-laki ibu juga akan masuk ke dalam lingkaran “masyarakat karib” itu. Dalam masyarakat semua suku bangsa di Indonesia dan Asia (bangsa Timur), orang tua dan saudara-saudara sepupu tetap dianggap sebagai warga “masyarakat karib” selama mereka masih hidup. Orang-orang tersebut akan menjadi obyek dari rasa kemesraannya, dan dalam masa kesulitan dan tekanan batin, orang-orang tadilah yang menjadi tempat berlindung dan sumber pertolongan pertama.

Dalam masyarakat Eropa “masyarakat karib” dari tiap individu pada mulanya juga terdiri dari orang tua serta saudara-saudara kandungnya; tetapi apabila ia telah merasa dewasa, ia akan memisahkan diri dari “masyarakat intimnya” dan akan mencari orientasi dan jalan hidupnya sendiri.

Kegigihan manusia Barat terhadap hidup tidak lain karenatidak adanya sekelompok manusia yang secara otomatis dapat dianggapnya sebagai “lingkungan karib”. Ia harus selalu mencari orang-orang itu, bila tidak menemukannya, maka seekor anjing atau kucing kesayangan pun jadi. Untuk mengisi lingkungan itu. Dan kalau ia tidak menemukannya juga, ia akan gigih mencari suatu tujuan hidup lain yang berarti. Ia secara gigih akan mengeksplorasi lautan dan benua, meneliti alam, zat-zat atau hidup dalam laboratorium.

Manusia Timur, tidak memiliki sikap hidup yang gigih seperti itu karena salah satu kebutuhannya yang pokok, yaitu “lingkungan karib” sudah otomatis ada. Sikap hidup yang gigih tidak perlu menjadi kebiasaannya, dan ia hidup mengambang dengan selaras, puas dan bahagia dengan apa yang dimilikinya, menikmati keindahan hidup sekitarnya, atau kalau hidup tidak indah tetapi penuh dosa dan kesengsaraan, maka sikap orang Indonesia adalah untuk tetap mencoba dan melihat unsur-unsur keindahandalam kesengsaraan itu.

DAFTAR PUSTAKA

Koentjaraningrat. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: PT Rineka Cipta, 2000.

1 A. Wolff, Essentials of Scientific Method (1925 : hlm. 10-15)

2 W.MacDougall, Introduction to Social Psychology. Boston, Luce 1908.

3Dalam ilmu sosiologi memang ada teori yang mendasarkan berfungsinya kebudayaan manusiakepada hasrat manusia untuk meniru, yaitu teori dari ahli kriminologi Perancis, G. Tarde dalam bukunya Les Lois de I`lmitation (1890).

4 A.F.C. Wallace, Culture and Personality, New York, Random House 1996 : h.16 – 20

5 Menghitung garis keturunan dari garis ibu dan kerabat wanita.

About these ads

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: