<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>HARYONO FROM KRENCENG</title>
	<atom:link href="http://haryono10182.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://haryono10182.wordpress.com</link>
	<description>PILIHLAH YANG BAIK MENURUT ALLAH, RASULULLAH, DAN NURANIMU SEBAGAI HAMBA ALLAH!!!!!!!!!!!</description>
	<lastBuildDate>Wed, 04 Feb 2009 05:38:06 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='haryono10182.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/daf30586f895e6f70a0c157f3ddc91a3?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>HARYONO FROM KRENCENG</title>
		<link>http://haryono10182.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://haryono10182.wordpress.com/osd.xml" title="HARYONO FROM KRENCENG" />
	<atom:link rel='hub' href='http://haryono10182.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>RUU BHP</title>
		<link>http://haryono10182.wordpress.com/2009/02/04/ruu-bhp/</link>
		<comments>http://haryono10182.wordpress.com/2009/02/04/ruu-bhp/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Feb 2009 05:38:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>haryono10182</dc:creator>
				<category><![CDATA[UNDANG-UNDANG]]></category>
		<category><![CDATA[UU BHP]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://haryono10182.wordpress.com/?p=62</guid>
		<description><![CDATA[1 RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR … TAHUN … TENTANG BADAN HUKUM PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa untuk mewujudkan fungsi dan tujuan pendidikan nasional, diperlukan otonomi dalam pengelolaan pendidikan formal dengan menerapkan manajemen berbasis sekolah/madrasah pada pendidikan anak usia dini jalur formal, pendidikan dasar dan menengah, serta [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=haryono10182.wordpress.com&amp;blog=5778151&amp;post=62&amp;subd=haryono10182&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>1<br />
RANCANGAN<br />
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA<br />
NOMOR … TAHUN …<br />
TENTANG<br />
BADAN HUKUM PENDIDIKAN<br />
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA<br />
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,<br />
Menimbang: a. bahwa untuk mewujudkan fungsi dan tujuan pendidikan<br />
nasional, diperlukan otonomi dalam pengelolaan pendidikan<br />
formal dengan menerapkan manajemen berbasis<br />
sekolah/madrasah pada pendidikan anak usia dini jalur<br />
formal, pendidikan dasar dan menengah, serta otonomi<br />
perguruan tinggi pada pendidikan tinggi;<br />
b. bahwa otonomi dalam pengelolaan pendidikan formal dapat<br />
diwujudkan, jika penyelenggara dan/atau satuan pendidikan<br />
formal berbentuk badan hukum pendidikan, yang berfungsi<br />
memberikan pelayanan yang adil dan bermutu kepada<br />
peserta didik, berprinsip nirlaba, dan dapat mengelola dana<br />
secara mandiri untuk memajukan satuan pendidikan;<br />
c. bahwa agar badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud<br />
pada huruf b, menjadi landasan hukum bagi penyelenggara<br />
dan/atau satuan pendidikan dalam mengelola pendidikan<br />
formal, maka badan hukum pendidikan tersebut perlu diatur<br />
dengan undang-undang;<br />
d. bahwa berdasarkan pertimbangan pada huruf a, huruf b, dan<br />
huruf c, serta untuk melaksanakan ketentuan Pasal 53<br />
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem<br />
Pendidikan Nasional, perlu membentuk Undang-Undang<br />
tentang Badan Hukum Pendidikan.<br />
Mengingat: 1. Pasal 5 ayat (1) dan Pasal 20 Undang-Undang Dasar Negara<br />
Republik Indonesia Tahun 1945;<br />
2. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem<br />
Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia<br />
Tahun 2003 Nomor 78, Tambahan Lembaran Negara Republik<br />
Indonesia Nomor 4301);<br />
2<br />
Dengan Persetujuan Bersama<br />
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA<br />
dan<br />
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA<br />
MEMUTUSKAN:<br />
Menetapkan : UNDANG-UNDANG TENTANG BADAN HUKUM<br />
PENDIDIKAN.<br />
BAB I<br />
KETENTUAN UMUM<br />
Pasal 1<br />
Dalam undang-undang ini yang dimaksud dengan:<br />
1. Badan Hukum Pendidikan yang selanjutnya disebut BHP adalah badan<br />
hukum yang menyelenggarakan pendidikan formal.<br />
2. Badan Hukum Pendidikan Pemerintah yang selanjutnya disebut BHPP<br />
adalah BHP yang didirikan oleh Pemerintah.<br />
3. Badan Hukum Pendidikan Pemerintah Daerah yang selanjutnya disebut<br />
BHPPD adalah BHP yang didirikan oleh pemerintah daerah.<br />
4. Badan Hukum Pendidikan Masyarakat yang selanjutnya disebut BHPM<br />
adalah BHP yang didirikan oleh masyarakat.<br />
5. Pendiri adalah Pemerintah, pemerintah daerah, atau masyarakat yang<br />
mendirikan BHP.<br />
6. Masyarakat adalah kelompok warga negara Indonesia non-pemerintah<br />
yang mempunyai perhatian dan peranan dalam bidang pendidikan.<br />
7. Satuan pendidikan adalah kelompok layanan pendidikan yang<br />
menyelenggarakan pendidikan formal.<br />
8. Pendidikan formal adalah jalur pendidikan terstruktur dan berjenjang yang<br />
meliputi pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan<br />
dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi.<br />
9. Pemimpin satuan pendidikan yang selanjutnya disebut pemimpin adalah<br />
pejabat yang memimpin satuan pendidikan dengan sebutan kepala<br />
sekolah/madrasah atau sebutan lain pada pendidikan anak usia dini jalur<br />
formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah, atau rektor untuk<br />
universitas/institut, ketua untuk sekolah tinggi, atau direktur untuk<br />
politeknik/akademi pada pendidikan tinggi.<br />
10. Pimpinan satuan pendidikan yang selanjutnya disebut pimpinan adalah<br />
para pejabat yang memimpin satuan pendidikan dengan sebutan kepala<br />
sekolah/madrasah, wakil kepala sekolah/madrasah, dan sebutan/pejabat<br />
lain pada pendidikan anak usia dini jalur formal, pendidikan dasar, dan<br />
pendidikan menengah, atau rektor, wakil rektor, dekan, dan<br />
sebutan/pejabat lain pada pendidikan tinggi.<br />
3<br />
11. Pendanaan pendidikan yang selanjutnya disebut pendanaan adalah<br />
penyediaan sumber daya keuangan yang diperlukan untuk<br />
penyelenggaraan pendidikan formal.<br />
12. Pemerintah adalah Pemerintah Pusat.<br />
13. Pemerintah daerah adalah pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten,<br />
atau pemerintah kota.<br />
14. Menteri adalah menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang<br />
pendidikan nasional.<br />
Pasal 2<br />
BHP berfungsi memberikan pelayanan pendidikan formal kepada peserta<br />
didik.<br />
Pasal 3<br />
BHP bertujuan memajukan satuan pendidikan dengan menerapkan<br />
manajemen berbasis sekolah dan otonomi perguruan tinggi.<br />
Pasal 4<br />
(1) Dalam pengelolaan dana secara mandiri, BHP didasarkan pada prinsip<br />
nirlaba, yaitu prinsip kegiatan yang tujuan utamanya bukan mencari sisa<br />
lebih, sehingga apabila timbul sisa lebih hasil usaha dari kegiatan BHP,<br />
maka seluruh sisa lebih hasil kegiatan tersebut harus ditanamkan kembali<br />
ke dalam BHP untuk meningkatkan kapasitas dan/atau mutu layanan<br />
pendidikan.<br />
[Pengelolaan dana secara mandiri oleh BHP didasarkan pada prinsip<br />
nirlaba, yaitu prinsip kegiatan yang tujuan utamanya tidak mencari<br />
keuntungan sehingga seluruh sisa hasil usaha dari kegiatan BHP harus<br />
ditanamkan kembali ke dalam BHP untuk meningkatkan kapasitas<br />
dan/atau mutu layanan pendidikan.]<br />
(2) Pengelolaan pendidikan formal secara keseluruhan oleh BHP didasarkan<br />
pada prinsip:<br />
a. Otonomi, yaitu kewenangan dan kemampuan untuk menjalankan<br />
kegiatan secara mandiri baik dalam bidang akademik maupun nonakademik;<br />
b. Akuntabilitas, yaitu kemampuan dan komitmen untuk<br />
mempertanggungjawabkan semua kegiatan yang dijalankan BHP<br />
kepada pemangku kepentingan sesuai dengan peraturan perundangundangan;<br />
c. Transparansi, yaitu keterbukaan dan kemampuan menyajikan<br />
informasi yang relevan secara tepat waktu sesuai dengan peraturan<br />
perundang-undangan dan standar pelaporan yang berlaku kepada<br />
pemangku kepentingan;<br />
d. Penjaminan mutu, yaitu kegiatan sistemik dalam memberikan layanan<br />
pendidikan formal yang memenuhi atau melampaui Standar Nasional<br />
Pendidikan, serta dalam meningkatkan mutu pelayanan pendidikan<br />
secara berkelanjutan;<br />
4<br />
e. Layanan prima, yaitu orientasi dan komitmen untuk memberikan<br />
layanan pendidikan formal yang terbaik demi kepuasan pemangku<br />
kepentingan, terutama peserta didik;<br />
f. Akses yang berkeadilan, yaitu memberikan layanan pendidikan formal<br />
kepada calon peserta didik dan peserta didik, tanpa memandang latar<br />
belakang agama, ras, etnis, gender, status sosial, dan kemampuan<br />
ekonominya;<br />
g. Keberagaman, yaitu kepekaan dan sikap akomodatif terhadap berbagai<br />
perbedaan pemangku kepentingan yang bersumber dari kekhasan<br />
agama, ras, etnis, dan budaya masing-masing;<br />
h. Keberlanjutan, yaitu kemampuan untuk memberikan layanan<br />
pendidikan formal kepada peserta didik secara terus-menerus, dengan<br />
menerapkan pola manajemen yang mampu menjamin keberlanjutan<br />
layanan;<br />
i. Partisipasi atas tanggung jawab negara, yaitu keterlibatan pemangku<br />
kepentingan dalam penyelenggaraan pendidikan formal untuk<br />
mencerdaskan kehidupan bangsa yang sesungguhnya merupakan<br />
tanggung jawab negara.<br />
Pasal 5<br />
(1) Penyelenggara dan/atau satuan pendidikan tinggi yang didirikan oleh<br />
Pemerintah atau masyarakat berbentuk badan hukum pendidikan.<br />
(2) Penyelenggara dan/atau satuan pendidikan dasar dan pendidikan<br />
menengah yang didirikan oleh Pemerintah atau pemerintah daerah dapat<br />
berbentuk badan hukum pendidikan.<br />
(3) Penyelenggara dan/atau satuan pendidikan dasar dan pendidikan<br />
menengah yang didirikan oleh masyarakat berbentuk badan hukum<br />
pendidikan.<br />
BAB II<br />
JENIS, BENTUK, PENDIRIAN, DAN PENGESAHAN<br />
Pasal 6<br />
(1) Jenis BHP terdiri atas BHP penyelenggara, BHP satuan pendidikan, serta<br />
BHP penyelenggara dan satuan pendidikan.<br />
(2) BHP penyelenggara merupakan jenis BHP yang didirikan oleh<br />
penyelenggara pendidikan yang mengelola satu atau lebih satuan<br />
pendidikan formal.<br />
(3) BHP satuan pendidikan merupakan jenis BHP yang didirikan oleh satuan<br />
pendidikan yang mengelola satu satuan pendidikan formal.<br />
(4) BHP penyelenggara dan satuan pendidikan merupakan jenis BHP yang<br />
didirikan oleh penyelenggara pendidikan dan satuan pendidikan yang<br />
mengelola satu atau lebih satuan pendidikan formal yang berbadan<br />
hukum.<br />
Pasal 7<br />
(1) Bentuk BHP terdiri atas BHPP, BHPPD, dan BHPM.<br />
5<br />
(2) BHPP dan BHPM dapat menyelenggarakan satu atau lebih jenjang dan<br />
jenis pendidikan.<br />
(3) BHPPD dapat menyelenggarakan satu atau lebih jenjang pendidikan anak<br />
usia dini, pendidikan dasar, dan/atau pendidikan menengah dalam satu<br />
atau lebih jenis pendidikan umum, pendidikan kejuruan, pendidikan<br />
keagamaan, dan/atau pendidikan khusus.<br />
(4) BHPP didirikan dengan Peraturan Pemerintah, BHPPD didirikan dengan<br />
Peraturan Daerah, dan BHPM didirikan dengan akta notaris.<br />
(5) Badan hukum yang didirikan untuk menyelenggarakan pendidikan formal<br />
setelah Undang-Undang ini berlaku berbentuk BHPP, BHPPD, atau BHPM<br />
sebagaimana dimaksud pada ayat (1).<br />
(6) Ketentuan lebih lanjut mengenai biaya pembuatan akta notaris<br />
sebagaimana dimaksud pada ayat (4) ditetapkan dengan Peraturan<br />
Pemerintah.<br />
Pasal 8<br />
(1) Pendirian BHPP dan BHPPD dilakukan oleh Menteri atau Menteri lain,<br />
Gubernur, Bupati/Walikota sesuai kewenangan masing-masing.<br />
(2) Pendirian BHPM dilakukan oleh orang perseorangan atau masyarakat.<br />
(3) Pendirian BHP harus memenuhi syarat:<br />
a. mempunyai tujuan di bidang pendidikan formal;<br />
b. mempunyai struktur organisasi;<br />
c. mempunyai kekayaan sendiri yang terpisah dari kekayaan pendiri; dan<br />
d. mempunyai organ penentu kebijakan umum tertinggi.<br />
(4) Jumlah kekayaan yang dipisahkan oleh pendiri sebagai kekayaan BHP<br />
sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf c, harus mencukupi biaya<br />
operasional BHP dan ditetapkan dalam anggaran dasar BHP.<br />
Pasal 9<br />
(1) Peraturan pemerintah, peraturan daerah, dan akta notaris sebagaimana<br />
dimaksud dalam Pasal 7 ayat (4) memuat anggaran dasar BHP dan<br />
keterangan lain yang dianggap perlu.<br />
(2) Pembuatan atau perubahan anggaran dasar BHP dilakukan oleh pendiri<br />
BHP.<br />
(3) Dalam hal pendiri BHPM telah tidak ada, pengaturan tentang perubahan<br />
anggaran dasar BHPM ditetapkan dalam anggaran dasar BHPM.<br />
(4) Anggaran dasar BHP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurangkurangnya<br />
memuat:<br />
a. nama dan tempat kedudukan BHP;<br />
b. tujuan BHP;<br />
c. ciri khas dan ruang lingkup kegiatan BHP;<br />
d. jangka waktu pendirian BHP;<br />
6<br />
e. struktur organisasi serta nama dan fungsi setiap organ BHP;<br />
f. susunan, tatacara pembentukan, pengangkatan dan pemberhen-tian<br />
pemimpin dan pimpinan organ, serta pembatasan masa jabatan para<br />
pejabat di lingkungan BHP;<br />
g. pengelolaan sumber daya BHP;<br />
h. jumlah kekayaan yang dipisahkan oleh pendiri sebagai kekayaan BHP;<br />
i. tata cara penggabungan dan pembubaran BHP;<br />
j. perlindungan terhadap tenaga BHP dan peserta didik di lingkungan<br />
BHP;<br />
k. pencegahan kepailitan dan penyelamatan BHP yang hampir pailit; dan<br />
l. tata cara perubahan anggaran dasar dan penyusunan anggaran rumah<br />
tangga BHP.<br />
Pasal 10<br />
(1) Status sebagai BHPP berlaku mulai tanggal Peraturan Pemerintah tentang<br />
pendirian BHPP ditetapkan oleh Presiden dan status sebagai BHPPD<br />
berlaku mulai tanggal Peraturan Daerah tentang pendirian BHPPD<br />
ditetapkan oleh gubernur, bupati, atau walikota sesuai kewenangan<br />
masing-masing.<br />
(2) Status sebagai BHPM berlaku mulai tanggal akta notaris tentang pendirian<br />
BHPM disahkan oleh Menteri.<br />
(3) Perubahan anggaran dasar BHPM tentang hal-hal sebagaimana dimaksud<br />
dalam Pasal 9 ayat (4) huruf a, huruf b, huruf c, huruf e, dan huruf h<br />
disahkan Menteri.<br />
(4) Perubahan anggaran dasar BHPM yang tidak menyangkut hal-hal<br />
sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diberitahukan kepada Menteri.<br />
(5) Pengesahan akta notaris tentang pendirian BHPM sebagaimana dimaksud<br />
pada ayat (2) tidak dipungut biaya.<br />
Pasal 11<br />
(1) Dalam waktu paling lama 6 (enam) bulan setelah peraturan pemerintah<br />
atau peraturan daerah tentang pendirian BHPP atau BHPPD ditetapkan<br />
atau akta notaris tentang pendirian BHPM disahkan oleh Menteri, organ<br />
penentu kebijakan umum tertinggi harus membentuk organ-organ lainnya<br />
sesuai ketentuan dalam Undang-Undang ini.<br />
(2) Pendirian satuan pendidikan oleh organ penentu kebijakan umum tertinggi<br />
harus memperoleh izin terlebih dahulu dari Pemerintah atau pemerintah<br />
daerah sesuai kewenangan masing-masing.<br />
Pasal 12<br />
(1) Lembaga pendidikan asing yang terakreditasi atau yang diakui di<br />
negaranya dapat mendirikan BHP di Indonesia melalui kerja sama dengan<br />
BHP Indonesia yang telah ada.<br />
7<br />
(2) Pendirian BHP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi<br />
ketentuan dalam Pasal 7 sampai dengan Pasal 12.<br />
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai pendirian BHP sebagaimana dimaksud<br />
pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.<br />
BAB III<br />
TATA KELOLA<br />
Pasal 13<br />
(1) BHP yang menyelenggarakan pendidikan anak usia dini jalur formal, serta<br />
pendidikan dasar dan menengah memiliki sekurang-kurangnya 2 (dua)<br />
fungsi pokok, yaitu:<br />
a. fungsi penentuan kebijakan umum tertinggi, dan<br />
b. fungsi pengelolaan pendidikan.<br />
(2) BHP yang menyelenggarakan pendidikan tinggi memiliki sekurangkurangnya<br />
4 (empat) fungsi pokok, yaitu:<br />
a. fungsi penentuan kebijakan umum tertinggi,<br />
b. fungsi penentuan kebijakan akademik,<br />
c. fungsi audit bidang non-akademik, dan<br />
d. fungsi pengelolaan pendidikan.<br />
(3) Anggaran dasar BHP dapat menambahkan fungsi tambahan selain fungsi<br />
pokok sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2).<br />
(4) Nama organ BHP yang melaksanakan fungsi pokok sebagaimana dimaksud<br />
pada ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan dalam anggaran dasar BHP.<br />
Pasal 14<br />
(1) Satu BHP dapat mengelola lebih dari 1 (satu) satuan pendidikan.<br />
(2) Dalam hal BHP yang menyelenggarakan pendidikan anak usia dini jalur<br />
formal serta pendidikan dasar dan menengah mengelola lebih dari 1 (satu)<br />
satuan pendidikan, BHP tersebut memiliki 1 (satu) organ penentu<br />
kebijakan umum tertinggi untuk sejumlah satuan pendidikan yang<br />
dikelolanya, dan hal itu diatur dalam anggaran dasar BHP.<br />
(3) Dalam hal BHP yang menyelenggarakan pendidikan tinggi mengelola lebih<br />
dari 1 (satu) satuan pendidikan, BHP tersebut memiliki 1 (satu) organ<br />
penentu kebijakan umum tertinggi, 1 (satu) organ audit bidang nonakademik,<br />
dan sejumlah organ penentu kebijakan akademik untuk<br />
sejumlah satuan pendidikan yang dikelolanya, dan hal itu diatur dalam<br />
anggaran dasar BHP.<br />
8<br />
Pasal 15<br />
(1) Fungsi penentuan kebijakan umum tertinggi di dalam BHP dijalankan oleh<br />
organ penentu kebijakan umum tertinggi.<br />
(2) Organ penentu kebijakan umum tertinggi merupakan organ tertinggi BHP<br />
dalam menyelenggarakan pendidikan formal.<br />
(3) Anggota organ penentu kebijakan umum tertinggi di dalam BHP yang<br />
menyelenggarakan pendidikan anak usia dini jalur formal serta pendidikan<br />
dasar dan menengah, sekurang-kurangnya terdiri atas:<br />
a. pendiri atau wakil pendiri,<br />
b. pemimpin satuan pendidikan,<br />
c. wakil pendidik,<br />
d. wakil tenaga kependidikan, dan<br />
e. wakil komite sekolah/madrasah.<br />
(4) Anggota organ penentu kebijakan umum tertinggi dalam BHP yang<br />
menyelenggarakan pendidikan tinggi, sekurang-kurangnya terdiri atas:<br />
a. pendiri atau wakil pendiri,<br />
b. wakil organ penentu kebijakan akademik,<br />
c. pemimpin satuan pendidikan,<br />
d. wakil tenaga kependidikan, dan<br />
e. wakil unsur masyarakat.<br />
(5) Anggaran dasar BHP dapat menetapkan wakil unsur lain sebagai anggota<br />
organ tersebut selain anggota organ penentu kebijakan umum tertinggi<br />
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3).<br />
(6) Jumlah anggota organ penentu kebijakan umum tertinggi yang berasal<br />
dari pendiri atau wakil pendiri dapat lebih dari 1 (satu) orang.<br />
(7) Jumlah anggota organ penentu kebijakan umum tertinggi yang berasal<br />
dari pemimpin satuan pendidikan adalah 1 (satu) orang.<br />
Pasal 16<br />
(1) Jumlah dan komposisi pemimpin satuan pendidikan yang menjadi anggota<br />
organ penentu kebijakan umum tertinggi BHP yang mengelola lebih dari 1<br />
(satu) satuan pendidikan ditetapkan dalam anggaran dasar BHP.<br />
(2) Anggota organ penentu kebijakan umum tertinggi yang berasal dari<br />
pemimpin satuan pendidikan, wakil pendidik, dan wakil tenaga<br />
kependidikan pada BHP yang menyelenggarakan pendidikan anak usia dini<br />
jalur formal serta pendidikan dasar dan menengah berjumlah sebanyakbanyaknya<br />
satu per tiga dari jumlah anggota organ tersebut.<br />
(3) Anggota organ penentu kebijakan umum tertinggi yang berasal dari<br />
pemimpin satuan pendidikan, wakil organ penentu kebijakan akademik,<br />
dan wakil tenaga kependidikan pada BHP yang menyelenggarakan<br />
pendidikan tinggi berjumlah sebanyak-banyaknya 1/3 (satu pertiga) dari<br />
jumlah semua anggota organ tersebut.<br />
9<br />
(4) Jumlah anggota organ penentu kebijakan umum tertinggi yang berasal<br />
dari komite sekolah atau wakil unsur masyarakat ditetapkan dalam<br />
anggaran dasar BHP.<br />
Pasal 17<br />
(1) Pengangkatan dan pemberhentian anggota organ penentu kebijakan<br />
umum tertinggi ditetapkan dalam anggaran dasar BHP.<br />
(2) Organ penentu kebijakan umum tertinggi dipimpin oleh seorang ketua<br />
yang dipilih dari dan oleh para anggota organ penentu kebijakan umum<br />
tertinggi.<br />
(3) Anggota organ penentu kebijakan umum tertinggi yang berasal dari<br />
pemimpin satuan pendidikan, wakil organ penentu kebijakan akademik,<br />
wakil tenaga pendidik/tenaga kependidikan, tidak dapat dipilih sebagai<br />
ketua organ penentu kebijakan umum tertinggi.<br />
(4) Ketua organ penentu kebijakan umum tertinggi harus berkewarganegaraan<br />
Indonesia.<br />
(5) Masa jabatan ketua dan anggota organ penentu kebijakan umum tertinggi<br />
selama 5 (lima) tahun dan dapat dipilih kembali untuk 1 (satu) kali masa<br />
jabatan.<br />
Pasal 18<br />
(1) Dalam BHPPD, Gubernur, Bupati, atau Walikota, atau yang mewakilinya<br />
sesuai kewenangan masing-masing berkedudukan sebagai wakil pendiri<br />
dalam organ penentu kebijakan umum tertinggi.<br />
(2) Dalam BHPP yang menyelenggarakan pendidikan tinggi, Menteri, Menteri<br />
Agama, Menteri lain atau Kepala Lembaga Pemerintah Non Departemen,<br />
atau yang mewakilinya, sesuai dengan kewenangan masing-masing<br />
berkedudukan sebagai wakil pendiri dalam organ penentu kebijakan<br />
umum tertinggi.<br />
(3) Dalam BHPM, kedudukan dan kewenangan pendiri atau wakil pendiri<br />
dalam organ penentu kebijakan umum tertinggi ditetapkan dalam<br />
anggaran dasar BHPM.<br />
Pasal 19<br />
Tugas dan wewenang organ penentu kebijakan umum tertinggi meliputi:<br />
a. menetapkan kebijakan umum BHP;<br />
b. menyusun dan mengesahkan anggaran dasar BHP dan anggaran rumah<br />
tangga BHP beserta perubahannya;<br />
c. menetapkan rencana strategis, rencana kerja, dan anggaran tahunan BHP;<br />
d. mengangkat dan memberhentikan pemimpin satuan pendidikan;<br />
e. mengangkat dan memberhentikan ketua serta anggota organ audit bidang<br />
non-akademik;<br />
f. mengesahkan pimpinan dan keanggotaan organ penentu kebijakan<br />
akademik;<br />
g. melakukan pengawasan umum atas pengelolaan BHP;<br />
10<br />
h. melakukan evaluasi tahunan atas kinerja BHP;<br />
i. mengevaluasi laporan pertanggungjawaban tahunan pemimpin satuan<br />
pendidikan;<br />
j. mengusahakan pemenuhan kebutuhan pembiayaan BHP sesuai dengan<br />
peraturan perundang-undangan; dan<br />
k. menyelesaikan persoalan BHP, termasuk masalah keuangan, yang tidak<br />
dapat diselesaikan oleh organ BHP lain sesuai kewenangan masing-masing.<br />
Pasal 20<br />
(1) Pengambilan keputusan dalam organ penentu kebijakan umum tertinggi<br />
dilakukan secara musyawarah untuk mufakat, kecuali ditetapkan lain<br />
dalam anggaran dasar BHP.<br />
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai hak suara dan tata cara pengambilan<br />
keputusan melalui pemungutan suara dalam organ penentu kebijakan<br />
umum tertinggi, ditetapkan dalam anggaran dasar BHP.<br />
Pasal 21<br />
(1) Fungsi penentuan kebijakan akademik di dalam BHP yang<br />
menyelenggarakan pendidikan tinggi dijalankan oleh organ penentu<br />
kebijakan akademik.<br />
(2) Organ penentu kebijakan akademik merupakan organ BHP yang bertindak<br />
untuk dan atas nama organ penentu kebijakan umum tertinggi dalam<br />
menetapkan norma dan ketentuan akademik tentang kurikulum, proses<br />
pembelajaran, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta<br />
mengawasi penerapan norma dan ketentuan tersebut oleh satuan<br />
pendidikan.<br />
(3) Anggota organ penentu kebijakan akademik sekurang-kurangnya meliputi:<br />
a. pimpinan satuan pendidikan,<br />
b. wakil guru besar, dan<br />
c. wakil pendidik.<br />
(4) Anggaran dasar BHP yang menyelenggarakan pendidikan tinggi, dapat<br />
menetapkan wakil unsur lain sebagai anggota organ penentu kebijakan<br />
akademik selain anggota organ penentu kebijakan akademik sebagaimana<br />
dimaksud pada ayat (3).<br />
Pasal 22<br />
(1) Jumlah anggota organ penentu kebijakan akademik yang berasal dari<br />
pimpinan satuan pendidikan paling banyak 1/3 (satu pertiga) dari jumlah<br />
semua anggota organ penentu kebijakan akademik.<br />
(2) Anggota organ penentu kebijakan akademik yang berasal dari wakil<br />
pendidik dipilih melalui pemungutan suara di unit kerjanya.<br />
11<br />
(3) Organ penentu kebijakan akademik dipimpin oleh seorang ketua yang<br />
dipilih dari dan oleh para anggota organ penentu kebijakan akademik.<br />
(4) Pimpinan satuan pendidikan tidak dapat dipilih sebagai ketua organ<br />
penentu kebijakan akademik.<br />
(5) Ketua dan anggota organ penentu kebijakan akademik disahkan oleh organ<br />
penentu kebijakan umum tertinggi.<br />
(6) Ketua dan anggota organ penentu kebijakan akademik pada BHP yang<br />
baru didirikan, untuk pertama kali ditetapkan oleh organ penentu<br />
kebijakan umum tertinggi.<br />
(7) Masa jabatan ketua dan anggota organ penentu kebijakan akademik<br />
selama 5 (lima) tahun dan dapat dipilih kembali untuk 1 (satu) kali masa<br />
jabatan.<br />
Pasal 23<br />
Tugas dan wewenang organ penentu kebijakan akademik adalah:<br />
a. menetapkan dan mengawasi penerapan norma dan ketentuan akademik<br />
satuan pendidikan;<br />
b. menetapkan dan mengawasi pelaksanaan kebijakan penjaminan mutu<br />
pendidikan di satuan pendidikan;<br />
c. menetapkan dan mengawasi pelaksanaan kebijakan kurikulum serta proses<br />
pembelajaran;<br />
d. menetapkan dan mengawasi pelaksanaan kebijakan penelitian dan<br />
pengabdian kepada masyarakat;<br />
e. menetapkan dan mengawasi pencapaian tolok ukur keberhasilan<br />
penyelenggaraan pendidikan berdasarkan Standar Nasional Pendidikan;<br />
f. menetapkan dan mengawasi pelaksanaan kode etik sivitas akademika;<br />
g. menetapkan dan mengawasi penerapan peraturan pelaksanaan kebebasan<br />
akademik, kebebasan mimbar akademik, otonomi keilmuan, pemberian<br />
atau pencabutan gelar dan penghargaan akademik;<br />
h. menetapkan dan mengawasi pelaksanaan kebijakan tata tertib akademik;<br />
i. menetapkan dan mengawasi pelaksanaan kebijakan penilaian kinerja<br />
pendidik dan tenaga kependidikan pelaksanaannya;<br />
j. memberi rekomendasi tentang pemberian sanksi terhadap pelanggaran<br />
norma dan ketentuan akademik kepada pemimpin satuan pendidikan;<br />
k. memberi pertimbangan kepada organ penentu kebijakan umum tertinggi<br />
tentang rencana strategis, serta rencana kerja dan anggaran tahunan yang<br />
telah disusun oleh pemimpin satuan pendidikan; dan<br />
l. memberi pertimbangan kepada organ penentu kebijakan umum tertinggi<br />
tentang pengangkatan dan pemberhentian, serta kinerja bidang akademik<br />
pemimpin satuan pendidikan.<br />
12<br />
Pasal 24<br />
(1) Pengambilan keputusan dalam organ penentu kebijakan akademik<br />
dilakukan secara musyawarah untuk mufakat, kecuali ditetapkan lain oleh<br />
organ penentu kebijakan akademik.<br />
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai hak suara dan tata cara pengambilan<br />
keputusan melalui pemungutan suara dalam organ penentu kebijakan<br />
akademik ditetapkan oleh organ penentu kebijakan akademik.<br />
Pasal 25<br />
(1) Fungsi audit bidang non-akademik di dalam BHP penyelenggara<br />
pendidikan tinggi dijalankan oleh organ audit bidang non-akademik.<br />
(2) Organ audit bidang non-akademik merupakan organ BHP yang bertindak<br />
untuk dan atas nama organ penentu kebijakan umum tertinggi dalam<br />
melakukan evaluasi non-akademik atas penyelenggaraan BHP tersebut.<br />
(3) Susunan, jumlah, dan kedudukan ketua dan anggota organ audit bidang<br />
non-akademik ditetapkan dalam anggaran dasar BHP.<br />
(4) Masa jabatan ketua dan anggota organ audit bidang non-akademik selama<br />
5 (lima) tahun dan dapat dipilih kembali untuk 1 (satu) kali masa jabatan.<br />
(5) Tugas dan wewenang organ audit bidang non-akademik adalah:<br />
a. menetapkan kebijakan audit internal dan eksternal atas BHP dalam<br />
bidang non-akademik;<br />
b. mengevaluasi hasil audit internal dan eksternal atas BHP;<br />
c. mengambil kesimpulan atas hasil audit internal dan eksternal atas<br />
BHP; dan<br />
d. mengajukan saran dan pertimbangan mengenai kegiatan non-<br />
akademik kepada organ penentu kebijakan umum tertinggi.<br />
(6) Ketua dan anggota organ audit bidang non-akademik ditentukan,<br />
diangkat, dan diberhentikan oleh organ penentu kebijakan umum<br />
tertinggi.<br />
(7) Organ audit bidang non-akademik dapat menugaskan pengaudit<br />
independen untuk melaksanakan audit internal dan/atau audit eksternal<br />
atas beban pembiayaan BHP.<br />
Pasal 26<br />
(1) Fungsi pengelolaan pendidikan di dalam BHP dijalankan oleh satuan<br />
pendidikan.<br />
(2) Satuan pendidikan merupakan organ BHP yang bertindak untuk dan atas<br />
nama organ penentu kebijakan umum tertinggi dalam mengelola<br />
pendidikan.<br />
13<br />
(3) Satuan pendidikan memiliki otonomi dalam mengimplementasikan<br />
manajemen berbasis sekolah dan otonomi perguruan tinggi sesuai<br />
peraturan perundang-undangan.<br />
(4) Nama satuan pendidikan ditetapkan dalam anggaran dasar BHP dan<br />
digunakan oleh pemimpin satuan pendidikan dalam melakukan tindakan<br />
ke dalam dan ke luar satuan pendidikan.<br />
Pasal 27<br />
(1) Satuan pendidikan dipimpin oleh pemimpin satuan pendidikan.<br />
(2) Pemimpin satuan pendidikan bertindak ke dalam dan ke luar satuan<br />
pendidikan untuk dan atas nama satuan pendidikan.<br />
(3) Pemimpin satuan pendidikan bertindak ke luar untuk dan atas nama BHP<br />
sesuai ketentuan dalam anggaran dasar BHP.<br />
(4) Dalam hal 1 (satu) BHP memiliki lebih dari 1 (satu) pemimpin satuan<br />
pendidikan, kewenangan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) ditetapkan<br />
dalam anggaran dasar BHP.<br />
(5) Tata cara pengangkatan dan pemberhentian pemimpin satuan pendidikan<br />
ditetapkan dalam anggaran dasar BHP.<br />
(6) Pemimpin satuan pendidikan dapat dibantu oleh seorang atau lebih wakil<br />
yang diangkat dan diberhentikan oleh pemimpin satuan pendidikan<br />
berdasarkan anggaran dasar BHP dan anggaran rumah tangga BHP.<br />
(7) Masa jabatan pemimpin satuan pendidikan selama 5 (lima) tahun dan<br />
dapat dipilih kembali untuk 1 (satu) kali masa jabatan.<br />
Pasal 28<br />
(1) Tugas dan wewenang satuan pendidikan anak usia dini jalur formal serta<br />
pendidikan dasar dan menengah adalah:<br />
a. menyusun rencana strategis satuan pendidikan berdasarkan kebijakan<br />
akademik yang ditetapkan organ penentu kebijakan umum tertinggi;<br />
b. menyusun rencana kerja dan anggaran tahunan satuan pendidikan<br />
berdasarkan rencana strategis satuan pendidikan untuk disahkan oleh<br />
organ penentu kebijakan umum tertinggi;<br />
c. menyelenggarakan pendidikan sesuai rencana kerja dan rencana<br />
anggaran tahunan satuan pendidikan yang telah disahkan;<br />
d. mengangkat dan memberhentikan pejabat di bawah pemimpin satuan<br />
pendidikan serta tenaga BHP berdasarkan anggaran dasar BHP,<br />
anggaran rumah tangga BHP, dan peraturan perundang-undangan;<br />
e. melaksanakan fungsi-fungsi manajemen satuan pendidikan; serta<br />
f. membina dan mengembangkan hubungan baik satuan pendidikan<br />
dengan lingkungan satuan pendidikan dan masyarakat pada<br />
umumnya.<br />
(2) Tugas dan wewenang satuan pendidikan tinggi adalah:<br />
14<br />
a. menyusun rencana strategis satuan pendidikan berdasarkan kebijakan<br />
akademik yang ditetapkan oleh organ penentu kebijakan akademik<br />
untuk disahkan oleh organ penentu kebijakan umum tertinggi;<br />
b. menyusun rencana kerja dan rencana anggaran tahunan satuan<br />
pendidikan berdasarkan rencana strategis satuan pendidikan untuk<br />
disahkan oleh organ penentu kebijakan umum tertinggi;<br />
c. menyelenggarakan pendidikan sesuai rencana kerja dan rencana<br />
anggaran tahunan satuan pendidikan yang telah disahkan;<br />
d. menyelenggarakan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat<br />
sesuai dengan rencana kerja dan rencana anggaran tahunan satuan<br />
pendidikan yang telah disahkan;<br />
e. mengangkat dan memberhentikan pejabat di bawah pemimpin satuan<br />
pendidikan serta tenaga BHP berdasarkan anggaran dasar BHP,<br />
anggaran rumah tangga BHP, dan peraturan perundang-undangan;<br />
f. melaksanakan fungsi-fungsi manajemen satuan pendidikan; serta<br />
g. membina dan mengembangkan hubungan baik satuan pendidikan<br />
dengan lingkungan satuan pendidikan dan masyarakat pada<br />
umumnya.<br />
(3) Pemimpin satuan pendidikan tidak berwenang mewakili satuan pendidikan<br />
atau BHP apabila:<br />
a. terjadi perkara di depan pengadilan antara satuan pendidikan atau<br />
BHP dengan pemimpin satuan pendidikan; dan<br />
b. pemimpin satuan pendidikan mempunyai kepentingan yang<br />
bertentangan dengan kepentingan satuan pendidikan atau BHP.<br />
(4) Dalam hal terjadi keadaan sebagaimana dimaksud pada ayat (3), organ<br />
penentu kebijakan umum tertinggi menunjuk seseorang untuk mewakili<br />
kepentingan satuan pendidikan atau BHP.<br />
Pasal 29<br />
Pemimpin satuan pendidikan dan wakilnya dilarang merangkap:<br />
a. jabatan pimpinan dan jabatan lain pada satuan pendidikan lain;<br />
b. jabatan lain pada lembaga pemerintah pusat atau daerah; atau<br />
c. jabatan lain yang dapat menimbulkan pertentangan kepentingan<br />
dengan kepentingan satuan pendidikan.<br />
Pasal 30<br />
Dalam 1 (satu) BHP tidak boleh dilakukan perangkapan jabatan<br />
antarpemimpin organ dalam BHP yang menjalankan fungsi sebagaimana<br />
dimaksud pada Pasal 13 ayat (1), ayat (2), dan ayat (3).<br />
15<br />
BAB IV<br />
KEKAYAAN<br />
Pasal 31<br />
(1) Kekayaan BHP berasal dari kekayaan pendiri yang dipisahkan menjadi<br />
kekayaan BHP.<br />
(2) Kekayaan dan penerimaan pendapatan serta sisa hasil kegiatan BHP<br />
adalah milik BHP dan dikelola secara mandiri oleh BHP itu.<br />
(3) Kekayaan dan penerimaan pendapatan serta sisa hasil kegiatan BHP<br />
sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dan ayat (2) digunakan baik secara<br />
langsung maupun tidak langsung untuk:<br />
a. kepentingan peserta didik dalam proses pembelajaran pada satuan<br />
pendidikan pendidikan anak usia dini jalur formal, satuan pendidikan<br />
dasar, dan satuan pendidikan menengah; serta<br />
b. pelaksanaan tridharma perguruan tinggi pada satuan pendidikan<br />
pendidikan tinggi.<br />
(4) Semua bentuk penerimaan pendapatan dan sisa hasil kegiatan BHPP dan<br />
BHPPD yang diperoleh dari penggunaan kekayaan negara yang telah<br />
dipisahkan sebagai kekayaan BHPP dan BHPPD, tidak termasuk<br />
pendapatan negara bukan pajak.<br />
Pasal 32<br />
Kekayaan BHP, semua bentuk penerimaan pendapatan BHP, dan sisa hasil<br />
kegiatan BHP berupa uang, barang, atau bentuk lain yang dapat dinilai<br />
dengan uang milik BHP, dilarang dialihkan kepemilikannya secara langsung<br />
atau tidak langsung kepada siapa pun, kecuali ditetapkan dalam anggaran<br />
dasar BHP.<br />
BAB V<br />
PENDANAAN<br />
Pasal 33<br />
(1) Sumber dana untuk pendidikan formal yang diselenggarakan BHP<br />
ditetapkan berdasarkan prinsip keadilan, kecukupan, dan keberlanjutan.<br />
(2) Pendanaan pendidikan formal yang diselenggarakan BHP menjadi<br />
tanggung jawab bersama antara Pemerintah, pemerintah daerah, dan<br />
masyarakat sesuai peraturan perundang-undangan.<br />
(3) Pemerintah dan pemerintah daerah bertanggung jawab dalam penyediaan<br />
dana pendidikan sebagaimana diatur dalam Pasal 31 ayat (4) Undang-<br />
Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.<br />
(4) Dana pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) yang disalurkan<br />
untuk BHP diterima dan dikelola oleh satuan pendidikan.<br />
Pasal 34<br />
(1) Pemerintah dan pemerintah daerah menanggung seluruh biaya pendidikan<br />
untuk BHPP dan BHPPD dalam menyelenggarakan pendidikan dasar<br />
16<br />
untuk biaya operasional, biaya investasi, beasiswa, dan bantuan biaya<br />
pendidikan bagi peserta didik, berdasarkan standar pelayanan minimal<br />
untuk mencapai standar nasional pendidikan.<br />
(2) Pemerintah dan pemerintah daerah menanggung sekurang-kurangnya dua<br />
per tiga biaya pendidikan untuk BHPP dan BHPPD yang<br />
menyelenggarakan pendidikan menengah untuk biaya operasional, biaya<br />
investasi, beasiswa, dan bantuan biaya pendidikan bagi peserta didik pada<br />
BHPP berdasarkan standar pelayanan minimal untuk mencapai standar<br />
nasional pendidikan.<br />
(3) Pemerintah menanggung sekurang-kurangnya dua per tiga biaya<br />
pendidikan untuk BHPP yang menyelenggarakan pendidikan tinggi untuk<br />
biaya operasional, biaya investasi, beasiswa, dan bantuan biaya<br />
pendidikan bagi peserta didik pada BHPP sesuai dengan standar nasional<br />
pendidikan.<br />
(4) Peserta didik dapat ikut menanggung biaya penyelenggaraan pendidikan<br />
sesuai dengan kemampuannya, orang tua, atau pihak yang bertanggung<br />
jawab membiayai.<br />
(5) Biaya penyelenggaraan pendidikan sebagaimana yang dimaksud pada ayat<br />
(4) yang ditanggung oleh seluruh peserta didik dalam pendanaan<br />
pendidikan menengah atau pendidikan tinggi pada BHPP atau BHPPD<br />
sebanyak-banyaknya satu per tiga dari seluruh biaya operasional.<br />
(6) Dana pendidikan dari Pemerintah dan pemerintah daerah pada BHP<br />
diberikan dalam bentuk hibah sesuai peraturan perundang-undangan.<br />
Pasal 35<br />
(1) BHP dapat mendirikan badan usaha berbadan hukum sesuai dengan<br />
peraturan perundang-undangan untuk memenuhi pendanaan pendidikan.<br />
(2) Seluruh laba yang diperoleh dari badan usaha sebagaimana dimaksud pada<br />
ayat (1) digunakan untuk memajukan satuan pendidikan dan memberikan<br />
pelayanan pendidikan kepada peserta didik.<br />
Pasal 36<br />
(1) Pemerintah dan Pemerintah daerah menanggung dana pendidikan untuk<br />
BHPM dalam menyelenggarakan program wajib belajar pendidikan dasar,<br />
untuk biaya operasional, biaya investasi, beasiswa, dan bantuan biaya<br />
pendidikan bagi peserta didik pada BHPM tersebut sesuai dengan standar<br />
pelayanan minimal untuk mencapai standar nasional pendidikan<br />
(2) Pemerintah dan/atau pemerintah daerah memberikan bantuan dana<br />
pendidikan pada BHPM.<br />
(3) Dana pendidikan dari Pemerintah dan pemerintah daerah pada BHP<br />
diberikan dalam bentuk hibah sesuai peraturan perundang-undangan.<br />
Pasal 37<br />
(1) Masyarakat dapat memberikan dana pendidikan pada BHP yang tidak<br />
mengikat serta tidak bertentangan dengan anggaran dasar BHP dan<br />
17<br />
peraturan perundang-undangan, untuk biaya investasi, biaya operasi, dan<br />
beasiswa atau bantuan biaya pendidikan bagi peserta didik.<br />
(2) Dana pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa<br />
antara lain sumbangan pendidikan, hibah, wakaf, zakat, pembayaran<br />
nadzar, pinjaman, sumbangan perusahaan, dan penerimaan lain yang sah.<br />
(3) Pemerintah dan pemerintah daerah memberikan kemudahan atau insentif<br />
perpajakan kepada masyarakat yang memberikan dana pendidikan pada<br />
BHP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2).<br />
Pasal 38<br />
(1) BHP mengalokasikan beasiswa atau bantuan biaya pendidikan bagi<br />
peserta didik yang kurang mampu secara ekonomi dan/atau peserta didik<br />
yang memiliki potensi akademik tinggi paling sedikit 20% dari jumlah<br />
seluruh peserta didik di dalam satuan pendidikan yang<br />
diselenggarakannya.<br />
(2) Beasiswa atau bantuan biaya pendidikan sebagaimana dimaksud pada<br />
ayat (1) ditanggung oleh Pemerintah dan/atau pemerintah daerah.<br />
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai beasiswa dan bantuan biaya pendidikan<br />
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan dengan<br />
peraturan organ penentu kebijakan umum tertinggi BHP.<br />
BAB VI<br />
AKUNTABILITAS DAN PENGAWASAN<br />
Pasal 39<br />
(1) Akuntabilitas BHP pada masyarakat terdiri atas akuntabilitas akademik<br />
dan akuntabilitas non-akademik.<br />
(2) Untuk mewujudkan akuntabilitas BHP, jumlah maksimum peserta didik<br />
dalam setiap satuan pendidikan harus sesuai dengan kapasitas sarana<br />
dan prasarana, pendidik dan tenaga kependidikan, pelayanan, serta<br />
sumber daya pendidikan lainnya.<br />
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai jumlah maksimum peserta didik<br />
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri.<br />
Pasal 40<br />
(1) Pengawasan BHP dilakukan melalui sistem laporan tahunan yang terdiri<br />
atas laporan satuan pendidikan dan laporan BHP.<br />
(2) Laporan satuan pendidikan dan laporan BHP meliputi laporan bidang<br />
akademik dan laporan bidang non-akademik.<br />
(3) Laporan bidang akademik meliputi laporan penyelenggaraan pendidikan,<br />
penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.<br />
(4) Laporan bidang non-akademik meliputi laporan manajemen dan laporan<br />
keuangan.<br />
18<br />
Pasal 41<br />
(1) Satuan pendidikan menyusun dan menyampaikan laporan tahunan<br />
satuan pendidikan secara tertulis kepada organ penentu kebijakan umum<br />
tertinggi.<br />
(2) Satuan pendidikan dibebaskan dari tanggung jawab, setelah laporan<br />
tahunan satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diterima<br />
dan disahkan oleh organ penentu kebijakan umum tertinggi.<br />
(3) Dalam hal setelah pengesahan sebagaimana dimaksud pada ayat (2)<br />
terdapat hal baru yang membuktikan sebaliknya, maka pengesahan<br />
tersebut dapat dibatalkan oleh organ penentu kebijakan umum tertinggi.<br />
Pasal 42<br />
(1) Organ penentu kebijakan umum tertinggi menyusun laporan tahunan BHP<br />
secara tertulis berdasarkan laporan tahunan satuan pendidikan untuk<br />
dilaporkan dalam rapat pleno organ penentu kebijakan umum tertinggi.<br />
(2) Laporan tahunan BHP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dievaluasi<br />
oleh dan di dalam rapat pleno organ penentu kebijakan umum tertinggi.<br />
(3) Laporan tahunan BHP disertai hasil evaluasi rapat pleno secara tertulis<br />
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diberitahukan oleh organ penentu<br />
kebijakan umum tertinggi kepada:<br />
a. Menteri, Menteri Agama, menteri lain, atau kepala Lembaga<br />
Pemerintah Non-Departemen, bagi BHPP sesuai kewenangan masingmasing;<br />
b. Gubernur, Bupati, atau Walikota, bagi BHPPD sesuai kewenangan<br />
masing-masing; dan<br />
c. Pendiri BHP, bagi BHPM.<br />
Pasal 43<br />
(1) Laporan keuangan tahunan BHP, sebagai bagian yang tidak terpisahkan<br />
dari laporan tahunan BHP, disusun mengikuti standar akuntansi yang<br />
berlaku.<br />
(2) Dalam hal BHP mengelola lebih dari 1 (satu) satuan pendidikan, laporan<br />
keuangan tahunan BHP merupakan laporan keuangan tahunan<br />
konsolidasi.<br />
(3) Laporan keuangan tahunan BHP yang menyelenggarakan pendidikan<br />
tinggi, harus dipertanggungjawabkan kepada publik melalui pemuatan di<br />
media cetak berbahasa Indonesia, dan penempelan di papan pengumuman<br />
resmi setiap satuan pendidikan yang dikelolanya.<br />
(4) Dalam hal BHP menerima dan menggunakan dana dari Anggaran<br />
Pendapatan dan Belanja Negara, BHP harus menyusun laporan<br />
penerimaan dan penggunaan dana tersebut dan melaporkan kepada<br />
Menteri Keuangan sesuai peraturan perundang-undangan.<br />
(5) Dalam hal BHP menerima dan menggunakan dana dari Anggaran<br />
Pendapatan dan Belanja Daerah, BHP harus menyusun laporan<br />
19<br />
penerimaan dan penggunaan dana tersebut dan melaporkan kepada<br />
Gubernur, Bupati, atau Walikota menurut kewenangan masing-masing,<br />
sesuai peraturan perundang-undangan.<br />
Pasal 44<br />
(1) Laporan keuangan tahunan BHP diaudit oleh akuntan publik.<br />
(2) Dalam hal BHP memperoleh hibah dari Pemerintah dan/atau pemerintah<br />
daerah, maka Badan Pemeriksa Keuangan, Inspektorat Jenderal<br />
Departemen terkait, atau Badan Pengawasan Daerah sesuai dengan<br />
kewenangan masing-masing dapat melakukan audit terhadap laporan<br />
keuangan tahunan BHP, terbatas pada bagian penerimaan dan<br />
penggunaan hibah tersebut.<br />
Pasal 45<br />
(1) Administrasi dan laporan keuangan tahunan BHP merupakan tanggung<br />
jawab pemimpin satuan pendidikan.<br />
(2) Dalam hal BHP mengelola lebih dari 1 (satu) satuan pendidikan, pihak<br />
yang bertanggung jawab menyusun konsolidasi laporan keuangan<br />
tahunan BHP ditetapkan dalam anggaran dasar BHP.<br />
Pasal 46<br />
Ketentuan lebih lanjut mengenai akuntabilitas dan pengawasan BHP<br />
ditetapkan dalam anggaran dasar BHP.<br />
BAB VII<br />
KETENAGAAN<br />
Pasal 47<br />
(1) Tenaga BHP terdiri atas pendidik, tenaga kependidikan, dan tenaga<br />
penunjang.<br />
(2) Tenaga BHP berstatus pegawai negeri sipil yang dipekerjakan dan/ atau<br />
pegawai non-pemerintah.<br />
(3) Tenaga BHP sebagaimana dimaksud pada ayat (2) membuat perjanjian<br />
kerja dengan BHP.<br />
(4) Pegawai negeri sipil sebagaimana dimaksud pada ayat (2) memperoleh<br />
remunerasi dari:<br />
a. Pemerintah atau pemerintah daerah sesuai peraturan perundangundangan,<br />
dan<br />
b. BHP sesuai ketentuan dalam anggaran dasar BHP dan anggaran<br />
rumah tangga BHP.<br />
(5) Pengangkatan dan pemberhentian jabatan serta hak dan kewajiban tenaga<br />
BHP dengan status sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan dalam<br />
perjanjian kerja berdasarkan anggaran dasar BHP, anggaran rumah tangga<br />
BHP, serta peraturan perundang-undangan.<br />
20<br />
(6) Perjanjian kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dibuat antara<br />
pemimpin satuan pendidikan yang bertindak untuk dan atas nama organ<br />
penentu kebijakan umum tertinggi dengan setiap tenaga BHP.<br />
(7) Penyelesaian perselisihan yang timbul antara pendidik serta tenaga<br />
kependidikan dan BHP diatur dalam anggaran dasar BHP.<br />
(8) Jika penyelesaian perselisihan sebagaimana dimaksud pada ayat (7) tidak<br />
berhasil, maka penyelesaiannya dilakukan melalui Pengadilan Tata Usaha<br />
Negara.<br />
(9) Ketentuan lebih lanjut mengenai tenaga BHP sebagaimana dimaksud pada<br />
ayat (1) ditetapkan dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga<br />
BHP.<br />
BAB VIII<br />
PENGGABUNGAN<br />
Pasal 48<br />
(1) Penggabungan BHP dapat dilakukan melalui:<br />
a. dua atau lebih BHP bergabung menjadi satu BHP baru; atau<br />
b. satu atau lebih BHP bergabung dengan BHP lain.<br />
(2) Dengan penggabungan BHP sebagaimana dimaksud pada ayat (1),<br />
keberadaan BHP yang bergabung berakhir karena hukum.<br />
(3) Aktiva dan pasiva BHP yang bergabung beralih karena hukum ke BHP<br />
baru atau BHP yang menerima penggabungan.<br />
(4) Aktiva dan pasiva sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dibukukan dan<br />
dilaporkan sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku dan harus<br />
dimanfaatkan untuk kepentingan pendidikan.<br />
(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penggabungan BHP diatur<br />
dalam Peraturan Pemerintah.<br />
BAB IX<br />
PEMBUBARAN<br />
Pasal 49<br />
BHP bubar karena:<br />
a. jangka waktu yang ditetapkan dalam anggaran dasar BHP berakhir;<br />
b. tujuan BHP yang ditetapkan dalam anggaran dasar BHP tidak atau sudah<br />
tercapai;<br />
c. putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap<br />
berdasarkan alasan:<br />
1) BHP melanggar ketertiban umum, kesusilaan, dan/atau peraturan<br />
perundang-undangan;<br />
2) BHP tidak mampu membayar hutangnya setelah dinyatakan pailit;<br />
dan/atau<br />
21<br />
3) harta kekayaan BHP tidak cukup untuk melunasi hutangnya setelah<br />
pernyataan pailit dicabut.<br />
Pasal 50<br />
(1) Dalam hal BHP bubar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49, BHP:<br />
a. wajib diikuti dengan likuidasi; dan<br />
b. tidak dapat lagi melakukan perbuatan hukum, kecuali diperlukan<br />
untuk pemberesan semua urusan BHP dalam rangka likuidasi.<br />
(2) Dalam hal BHP bubar karena alasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal<br />
49 huruf a dan huruf b, organ penentu kebijakan umum tertinggi<br />
menunjuk likuidator untuk menyelesaikan penanganan kekayaan BHP.<br />
(3) Dalam hal BHP bubar karena putusan pengadilan, pengadilan menunjuk<br />
likuidator untuk menyelesaikan penanganan kekayaan BHP.<br />
(4) Dalam hal BHP bubar karena pailit, berlaku peraturan perundangundangan<br />
di bidang kepailitan.<br />
(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penanganan kekayaan BHP yang<br />
bubar atau dibubarkan ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.<br />
BAB X<br />
SANKSI ADMINISTRATIF<br />
Pasal 51<br />
(1) Dalam hal keputusan yang diambil organ BHP melanggar anggaran dasar<br />
BHP, anggaran rumah tangga BHP, dan/atau peraturan perundangundangan,<br />
maka Menteri, Menteri Agama, menteri lain, kepala Lembaga<br />
Pemerintah Non-Departemen, Gubernur, Bupati, atau Walikota sesuai<br />
dengan kewenangan masing-masing dapat membatalkan keputusan<br />
tersebut atau mencabut izin satuan pendidikan.<br />
(2) Pencabutan izin satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)<br />
diumumkan di media cetak berbahasa Indonesia.<br />
BAB XI<br />
SANKSI PIDANA<br />
Pasal 52<br />
(1) Setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud pada<br />
Pasal 32 dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun.<br />
(2) Selain pidana penjara sebagaimana dimaksud pada ayat (1), pelanggar<br />
juga dikenai pidana tambahan berupa kewajiban mengembalikan uang,<br />
barang, atau bentuk lain yang dialihkan.<br />
22<br />
BAB XII<br />
KETENTUAN PERALIHAN<br />
Pasal 53<br />
Pada saat undang-undang ini berlaku, izin satuan pendidikan formal yang<br />
sudah dikeluarkan dinyatakan tetap berlaku sampai izin tersebut berakhir<br />
masa berlakunya atau sampai dicabut sebelum masa berlakunya berakhir.<br />
Pasal 54<br />
(1) Satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah dan/atau<br />
pemerintah daerah sebelum Undang-Undang ini berlaku diakui<br />
keberadaannya dan tetap dapat menyelenggarakan pendidikan formal.<br />
(2) Satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah dan/atau<br />
pemerintah daerah harus mengubah bentuk dan menyesuaikan tata<br />
kelolanya sebagai BHPP dan BHPPD menurut Undang-Undang ini, paling<br />
lambat 6 (enam) tahun sejak Undang-Undang ini diundangkan.<br />
(3) Satuan pendidikan sebagaimana dimaksud ayat (1) tetap memperoleh<br />
alokasi dana pendidikan seperti yang selama ini telah diperoleh paling<br />
lama 6 (enam) tahun terhitung sejak Undang-Undang ini diundangkan,<br />
dan selanjutnya memperoleh alokasi dana pendidikan sesuai dengan Pasal<br />
34 ayat (5).<br />
(4) Perubahan bentuk dan penyesuaian tata kelola satuan pendidikan sebagai<br />
BHPP dan BHPPD sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan dengan<br />
Peraturan Pemerintah atau Peraturan Daerah.<br />
Pasal 55<br />
(1) Perguruan Tinggi Badan Hukum Milik Negara yang telah<br />
menyelenggarakan pendidikan formal sebelum Undang-Undang ini<br />
berlaku, diakui keberadaannya sebagai BHP satuan pendidikan berbentuk<br />
BHPP.<br />
(2) Perguruan Tinggi Badan Hukum Milik Negara sebagai BHP satuan<br />
pendidikan yang berbentuk BHPP harus menyesuaikan tata kelolanya<br />
sebagai BHPP menurut Undang-Undang ini, paling lambat 3 (tiga) tahun<br />
sejak Undang-Undang ini diundangkan.<br />
(3) Perguruan Tinggi Badan Hukum Milik Negara sebagaimana dimaksud ayat<br />
(1) tetap memperoleh alokasi dana pendidikan seperti yang selama ini telah<br />
diperoleh paling lama 3 (tiga) tahun terhitung sejak Undang-Undang ini<br />
diundangkan, dan selanjutnya memperoleh alokasi dana pendidikan<br />
sesuai dengan Pasal 34 ayat (5).<br />
(4) Penyesuaian tatakelola sebagai BHPP sebagaimana dimaksud pada ayat (2)<br />
dilakukan dengan Peraturan Pemerintah.<br />
Pasal 56<br />
(1) Yayasan, perkumpulan, badan hukum di bidang pendidikan, dan badan<br />
hukum lain sejenis yang telah menyelenggarakan pendidikan formal<br />
sebelum Undang-Undang ini berlaku diakui keberadaannya sebagai BHP<br />
penyelenggara berbentuk BHPM.<br />
23<br />
(2) Sebagai BHP penyelenggara berbentuk BHPM, Yayasan, perkumpulan,<br />
badan hukum di bidang pendidikan yang bertindak sebagai nazhir, dan<br />
badan hukum lain sejenis harus menyesuaikan tata kelolanya sebagai<br />
BHPM menurut Undang-Undang ini, paling lambat 6 (enam) tahun sejak<br />
Undang-Undang ini diundangkan.<br />
(3) Yayasan, perkumpulan, badan hukum di bidang pendidikan yang<br />
bertindak sebagai nazhir, dan badan hukum lain sejenis sebagaimana<br />
dimaksud pasal ayat (1) tetap memperoleh bantuan dana pendidikan<br />
seperti yang selama ini telah diperoleh paling lama 6 (enam) tahun<br />
terhitung sejak Undang-Undang ini diundangkan, dan selanjutnya<br />
memperoleh bantuan dana pendidikan sesuai dengan Pasal 34 ayat (5).<br />
(4) Penyesuaian tata kelola sebagai BHPM sebagaimana dimaksud pada ayat<br />
(2) dilakukan dengan akta notaris.<br />
(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai biaya pembuatan akta notaris<br />
sebagaimana dimaksud pada ayat (4) ditetapkan dengan Peraturan<br />
Pemerintah.<br />
BAB XIII<br />
KETENTUAN PENUTUP<br />
Pasal 57<br />
Semua peraturan perundang-undangan yang diperlukan untuk melaksanakan<br />
Undang-Undang ini harus ditetapkan paling lambat 2 (dua) tahun terhitung<br />
sejak Undang-Undang ini diundangkan.<br />
Pasal 58<br />
Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.<br />
Agar setiap orang dapat mengetahuinya, memerintahkan pengundang-an<br />
Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik<br />
Indonesia.<br />
Disahkan di Jakarta,<br />
pada tanggal …&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;<br />
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA<br />
DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO<br />
Diundangkan di Jakarta<br />
pada tanggal …&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;<br />
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA,<br />
ANDI MATTALATTA<br />
24<br />
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN …&#8230; NOMOR …..<br />
25<br />
PENJELASAN<br />
ATAS<br />
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA<br />
NOMOR … TAHUN …<br />
TENTANG<br />
BADAN HUKUM PENDIDIKAN<br />
I. UMUM<br />
Dalam rangka reformasi di bidang pendidikan, Undang-Undang No. 20<br />
tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) telah<br />
disusun berdasarkan visi pendidikan nasional. Visi tersebut adalah<br />
terwujudnya sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan<br />
berwibawa, untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia agar<br />
berkembang menjadi manusia yang berkualitas, sehingga mampu dan<br />
proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. Selanjutnya, UU<br />
Sisdiknas juga menyatakan bahwa gerakan reformasi menuntut penerapan<br />
prinsip-prinsip:<br />
a. pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta<br />
tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai<br />
keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa;<br />
b. pendidikan diselenggarakan sebagai satu kesatuan yang sistemik<br />
dengan sistem terbuka dan multimakna;<br />
c. pendidikan diselenggarakan sebagai suatu proses pembudayaan dan<br />
pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat;<br />
d. pendidikan diselenggarakan dengan memberi keteladanan, membangun<br />
kemauan, dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses<br />
pembelajaran;<br />
e. pendidikan diselenggarakan dengan mengembangkan budaya membaca,<br />
menulis, dan berhitung bagi segenap warga masyarakat;<br />
f. pendidikan diselenggarakan dengan memberdayakan semua komponen<br />
masyarakat melalui peran serta dalam penyelenggaraan dan<br />
pengendalian mutu layanan pendidikan.<br />
Menurut UU Sisdiknas, perubahan mendasar pada manajemen sistem<br />
pendidikan adalah pelaksanaan manajemen pendidikan berbasis<br />
sekolah/madrasah pada tingkat pendidikan dasar dan menengah, serta<br />
otonomi perguruan tinggi pada tingkat pendidikan tinggi. Manajemen<br />
pendidikan berbasis sekolah/madrasah adalah bentuk otonomi manajemen<br />
pendidikan pada kepala sekolah/ madrasah dan guru dibantu oleh komite<br />
sekolah/madrasah dalam mengelola kegiatan pendidikan. Sedangkan yang<br />
dimaksud dengan otonomi perguruan tinggi adalah kemandirian perguruan<br />
tinggi untuk mengelola sendiri lembaganya.<br />
Di samping itu, UU Sisdiknas sebagaimana dikemukakan dalam Penjelasan<br />
Umum, menghendaki pembaharuan sistem pendidikan yang meliputi<br />
penghapusan diskriminasi antara pendidikan yang dikelola pemerintah dan<br />
26<br />
pendidikan yang dikelola masyarakat, serta pembedaan antara pendidikan<br />
keagamaan dan pendidikan umum. Dengan demikian, masyarakat akan<br />
mendapat kepastian hukum dalam memperoleh pelayanan pendidikan<br />
secara tidak diskriminatif dari sekolah/madrasah atau perguruan tinggi,<br />
baik yang didirikan oleh Pemerintah, pemerintah daerah, maupun<br />
masyarakat.<br />
Untuk mewujudkan amanat UU Sisdiknas sebagaimana dikemukakan di<br />
atas, maka Pasal 53 UU Sisdiknas memerintahkan agar penyelenggara<br />
dan/atau satuan pendidikan formal yang didirikan oleh Pemerintah atau<br />
masyarakat berbentuk badan hukum pendidikan. Sehubungan dengan itu,<br />
Pasal 53 ayat (4) UU Sisdiknas memerintahkan agar ketentuan tentang<br />
badan hukum pendidikan ditetapkan dengan undang-undang tersendiri.<br />
II. PASAL DEMI PASAL<br />
Pasal 1<br />
Cukup jelas.<br />
Pasal 2<br />
Cukup jelas.<br />
Pasal 3<br />
Manajemen berbasis sekolah/madrasah adalah bentuk otonomi<br />
manajemen pendidikan pada satuan pendidikan, yang dalam hal ini<br />
kepala sekolah/madrasah dan guru dibantu oleh komite<br />
sekolah/madrasah dalam mengelola kegiatan pendidikan. Sedangkan<br />
yang dimaksud dengan otonomi perguruan tinggi adalah kemandirian<br />
perguruan tinggi untuk mengelola sendiri lembaganya.<br />
Pasal 4<br />
Ayat (1)<br />
Cukup jelas.<br />
Ayat (2)<br />
Cukup jelas.<br />
Pasal 5<br />
Ayat (1)<br />
Cukup jelas.<br />
Pasal 6<br />
Ayat (1)<br />
Cukup jelas.<br />
Pasal 7<br />
Ayat (1)<br />
Cukup jelas.<br />
Ayat (2)<br />
Jalur pendidikan terdiri atas pendidikan formal, non formal, dan<br />
informal. Adapun jenjang pendidikan formal terdiri atas<br />
pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi.<br />
Sedangkan jenis pendidikan mencakup pendidikan umum,<br />
kejuruan, akademik, profesi, vokasi, keagamaan, dan khusus.<br />
27<br />
Pada dasarnya BHPP hanya dapat mengelola 1 (satu) jenjang<br />
pendidikan dalam 1 (satu) satuan pendidikan, kecuali BHPP<br />
binaan Departemen Agama dapat mengelola lebih dari 1 (satu)<br />
jenjang, jenis dan/atau satuan pendidikan.<br />
Ayat (3)<br />
Cukup jelas.<br />
Ayat (4)<br />
Cukup jelas.<br />
Ayat (5)<br />
Setelah Undang-Undang ini berlaku, Pemerintah, pemerin-tah<br />
daerah, dan masyarakat yang akan menyelenggarakan pendidikan<br />
formal tidak perlu lagi mendirikan BHMN, yayasan, badan hukum<br />
di bidang pendidikan yang bertindak sebagai nazhir,<br />
perkumpulan, atau badan hukum sejenis, melainkan langsung<br />
mendirikan BHPP, BHPPD, atau BHPM.<br />
Ayat (6)<br />
Cukup jelas.<br />
Pasal 8<br />
Ayat (1)<br />
Cukup jelas.<br />
Ayat (2)<br />
Orang perseorangan adalah subyek hukum berupa manusia<br />
sebagai individu pengemban hak dan kewajiban.<br />
Ayat (3)<br />
Huruf a<br />
Cukup jelas.<br />
Huruf b<br />
Cukup jelas.<br />
Huruf c<br />
Cukup jelas.<br />
Huruf d<br />
Dalam hal BHP yang didirikan merupakan BHP yang sama<br />
sekali baru, maka BHP harus membentuk organ yang<br />
bertugas membentuk organ-organ lain di dalam BHP. Organ<br />
tersebut adalah organ penentu kebijakan umum tertinggi.<br />
Unsur anggota dan pimpinan organ penentu kebijakan<br />
umum tertinggi pada BHP yang sama sekali baru tentu<br />
belum dapat diisi sesuai komposisi yang ditetapkan pada<br />
Pasal 14 ayat (3), sehingga komposisinya ditetapkan oleh<br />
pendiri.<br />
Ayat (4)<br />
Kekayaan yang dipisahkan dari kekayaan pendiri menjadi<br />
kekayaan BHP akan dimanfaatkan sebagai biaya operasional BHP<br />
yang sama sekali baru didirikan. Oleh karena itu kekayaan yang<br />
dimaksud berbentuk dana pendidikan. Sedangkan besaran dana<br />
pendidikan yang dipandang memadai adalah 3 kali biaya<br />
operasional BHP pertahun. Dengan demikian, apabila BHP bubar<br />
28<br />
atau dinyatakan pailit, maka masih tersedia biaya operasional<br />
yang memadai untuk meyelenggarakan pendidikan bagi peserta<br />
didik yang belum menyelesaikan pendidikannya. Lahan dan/atau<br />
bangunan dapat dikecualikan dari kekayaan yang dipisahkan oleh<br />
pendiri sebagai kekayaan BHP.<br />
Pasal 9<br />
Ayat (1)<br />
Keterangan lain memuat sekurang kurangnya nama, tanggal<br />
lahir, alamat, dan pekerjaan pendiri, atau nama, tempat<br />
kedudukan, alamat, dan bukti badan hukum yang mendirikan.<br />
Ayat (2)<br />
Cukup jelas.<br />
Ayat (3)<br />
Cukup jelas.<br />
Ayat (4)<br />
Cukup jelas.<br />
Pasal 10<br />
Ayat (1)<br />
Cukup jelas.<br />
Ayat (2)<br />
Apabila para pendiri BHPM melakukan perbuatan hukum untuk<br />
kepentingan BHPM sebelum akta notaris tentang pendirian BHPM<br />
disahkan oleh Menteri, maka tanggung-jawab atas perbuatan<br />
hukum tersebut merupakan tang-gungjawab pribadi para pendiri<br />
tersebut.<br />
Ayat (3)<br />
Cukup jelas.<br />
Ayat (4)<br />
Cukup jelas.<br />
Ayat (5)<br />
Cukup jelas.<br />
Pasal 11<br />
Ayat (1)<br />
Ketika BHP yang sama sekali baru dibentuk, BHP belum memiliki<br />
organ penentu kebijakan akademik, organ audit bidang nonakademik,<br />
dan satuan pendidikan, sehingga merupakan tugas dan<br />
wewenang organ penentu kebijakan umum tertinggi untuk<br />
membentuk organ-organ tersebut setelah BHP dinyatakan sah.<br />
Ayat (2)<br />
Ketentuan ini merupakan keharusan sebagaimana diatur dalam<br />
Pasal 62 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2003 tentang<br />
Sistem Pendidikan Nasional, yang mengatur bahwa setiap satuan<br />
pendidikan formal dan nonformal yang didirikan harus<br />
memperoleh izin Pemerintah atau pemerintah daerah.<br />
Pasal 12<br />
Ayat (1)<br />
29<br />
Keharusan untuk bekerjasama dengan BHP Indonesia dalam<br />
mendirikan BHP di Indonesia, bertujuan agar kepentingan<br />
Nasional dalam bidang pendidikan dapat dilindungi.<br />
Ayat (2)<br />
Cukup jelas.<br />
Ayat (3)<br />
Cukup jelas.<br />
Pasal 13<br />
Ayat (1)<br />
Penggunaan istilah ‘sekurang-kurangnya’ menunjukkan bahwa<br />
untuk mengakomodasi kekhasan tata kelola pendidikan yang<br />
telah ada, Undang-Undang ini hanya mengatur 2 (dua) fungsi<br />
pokok minimal berdasarkan manajemen berbasis sekolah.<br />
Keberadaan fungsi pokok lain yang dibutuhkan oleh suatu BHP<br />
karena kekhasannya, dapat ditetapkan di dalam anggaran dasar<br />
BHP.<br />
Ayat (2)<br />
Penggunaan istilah ‘sekurang-kurangnya’ menunjukkan bahwa<br />
untuk mengakomodasi kekhasan tata kelola pendidikan yang<br />
telah ada, Undang-Undang ini hanya mengatur 4 (empat) fungsi<br />
pokok minimal berdasarkan otonomi perguruan tinggi.<br />
Keberadaan fungsi pokok lain yang dibutuhkan oleh suatu BHP<br />
karena kekhasannya, dapat ditetapkan di dalam anggaran dasar<br />
BHP.<br />
Ayat (3)<br />
BHP dapat menetapkan fungsi lain untuk melaksanakan kegiatan<br />
yang relevan dengan pendidikan. Misalnya, BHP dapat<br />
menetapkan keberadaan fungsi perumusan etika akademik dan<br />
keikutsertaan dalam menjaga kebebasan akademik, kebebasan<br />
mimbar, dan otonomi keilmuan, dengan membentuk<br />
Majelis/Dewan Guru Besar sebagai organ BHP yang mengelola<br />
pendidikan tinggi.<br />
Ayat (4)<br />
Untuk badan hukum milik negara yang sekarang telah ada dapat<br />
tetap menggunakan nama Majelis Wali Amanat sebagai organ yang<br />
menjalankan fungsi penentuan kebijakan umum tertinggi; Senat<br />
Akademik sebagai organ yang menjalankan fungsi penentuan<br />
kebijakan akademik; Dewan Audit sebagai organ yang<br />
menjalankan fungsi audit bidang non-akademik; dan universitas,<br />
institut, sekolah tinggi, akademi, atau politeknik sebagai organ<br />
yang menjalankan fungsi pengelolaan pendidikan.<br />
Sedangkan bagi yayasan yang telah menyelenggarakan pendidikan<br />
tinggi, dapat tetap menggunakan nama organ Pembina dan<br />
Pengurus sebagai organ BHP yang menjalankan fungsi penentuan<br />
kebijakan umum tertinggi; organ Pengawas sebagai organ BHP<br />
yang menjalankan fungsi audit bidang non-akademik; universitas,<br />
30<br />
institut, sekolah tinggi, akademi, atau politeknik sebagai organ<br />
BHP yang menjalankan fungsi penelolaan pendidikan, dan<br />
menambahkan satu organ baru dalam BHP, yaitu senat akademik<br />
sebagai organ yang menjalankan fungsi penentuan kebijakan<br />
akademik.<br />
Pasal 14<br />
Ayat (1)<br />
Dalam hal terdapat badan hukum penyelenggara pendidikan yang<br />
pada saat Undang-Undang ini berlaku, mengelola lebih dari 1<br />
(satu) satuan pendidikan di beberapa daerah di Indonesia, maka<br />
badan hukum penyelenggara tersebut diakui sebagai 1 (satu)<br />
BHPM yang dapat mengelola sejumlah satuan pendidikan di<br />
beberapa daerah tersebut.<br />
Ayat (2)<br />
Cukup jelas.<br />
Ayat (3)<br />
Cukup jelas<br />
Pasal 15<br />
Ayat (1)<br />
Cukup jelas.<br />
Ayat (2)<br />
Sebagai organ tertinggi BHP, organ penentu kebijakan umum<br />
tertinggi merupakan pemegang kewenangan tertinggi di dalam<br />
BHP, dan puncak pertanggungjawaban dari semua organ BHP.<br />
Ayat (3)<br />
Organ penentu kebijakan umum tertinggi dibentuk untuk<br />
menciptakan akuntabilitas dan transparansi penyeleng-garaan<br />
pendidikan anak usia dini jalur formal serta pendidikan dasar dan<br />
menengah, sehingga organ penentu kebijakan umum tertinggi<br />
mengikutsertakan seluruh pihak yang berkepentingan<br />
(stakeholders) dari satuan pendidikan dalam pengambilan<br />
berbagai kebijakan umum.<br />
Huruf a<br />
Cukup jelas.<br />
Huruf b<br />
Cukup jelas.<br />
Huruf c<br />
Cukup jelas.<br />
Huruf d<br />
Wakil dari tenaga kependidikan, antara lain tenaga BHP<br />
yang bukan pendidik.<br />
Huruf e<br />
Komite sekolah/madrasah merupakan lembaga man-diri<br />
yang dibentuk dan berperan dalam peningkatan mutu<br />
pelayanan, dengan memberikan pertimbangan, arahan dan<br />
dukungan tenaga, sarana dan prasarana, serta pengawasan<br />
pendidikan pada tingkat satuan pendidikan.<br />
Ayat (4)<br />
31<br />
Organ penentu kebijakan umum tertinggi dibentuk untuk<br />
menciptakan akuntabilitas dan transparansi penyeleng-garaan<br />
pendidikan tinggi, sehingga organ penentu kebijakan umum<br />
tertinggi mengikutsertakan seluruh pihak yang berkepentingan<br />
(stakeholders) dari satuan pendidikan dalam pengambilan<br />
berbagai kebijakan umum.<br />
Huruf a<br />
Cukup jelas.<br />
Huruf b<br />
Cukup jelas.<br />
Huruf c<br />
Cukup jelas.<br />
Huruf d<br />
Wakil dari tenaga kependidikan, antara lain tenaga BHP<br />
yang bukan pendidik.<br />
Huruf e<br />
Cukup jelas.<br />
Ayat (5)<br />
Yang dimaksud dengan wakil dari unsur lain, misalnya:<br />
a. wakil orang tua/wali peserta didik pada pendidikan dasar dan<br />
menengah;<br />
b. wakil alumni satuan pendidikan pada pendidikan tinggi;<br />
Ayat (6)<br />
Cukup jelas.<br />
Ayat (7)<br />
Cukup jelas.<br />
Pasal 16<br />
Ayat (1)<br />
Cukup jelas.<br />
Ayat (2)<br />
Ketentuan bahwa 2/3 (dua per tiga) dari jumlah anggota organ<br />
penentu kebijakan umum tertinggi bukan berasal dari wakil dari<br />
pemimpin satuan pendidikan, dan wakil dari pendidik dan wakil<br />
dari tenaga kependidikan, dimaksudkan agar terwujud<br />
akuntabilitas dan transparansi di dalam organ penentu kebijakan<br />
umum tertinggi, di samping optimalisasi partisipasi pihak-pihak<br />
yang berkepentingan (stakeholders) dalam pendidikan.<br />
Ayat (3)<br />
Ketentuan bahwa 2/3 (dua per tiga) dari jumlah anggota organ<br />
penentu kebijakan umum tertinggi bukan berasal dari wakil dari<br />
organ penentu kebijakan akademik, pemimpin satuan pendidikan,<br />
dan wakil dari tenaga kependidikan, dimaksudkan agar terwujud<br />
akuntabilitas dan transparansi di dalam organ penentu kebijakan<br />
umum tertinggi, di samping optimalisasi partisipasi pihak-pihak<br />
yang berkepentingan (stakeholders) dalam pendidikan.<br />
Ayat (4)<br />
Cukup jelas.<br />
Pasal 17<br />
32<br />
Cukup jelas.<br />
Pasal 18<br />
Cukup jelas.<br />
Pasal 19<br />
Huruf a<br />
Cukup jelas.<br />
Huruf b<br />
Cukup jelas.<br />
Huruf c<br />
Cukup jelas.<br />
Huruf d<br />
Cukup jelas.<br />
Huruf e<br />
Organ ini hanya ada pada BHP yang menyelenggarakan<br />
pendidikan tinggi, karena itu tugas dan wewenang mengangkat<br />
dan memberhentikan ketua serta anggota organ audit bidang nonakademik<br />
hanya ada dalam BHP yang menyelenggarakan<br />
pendidikan tinggi.<br />
Huruf f<br />
Organ ini hanya ada pada BHP yang menyelenggarakan<br />
pendidikan tinggi, karena itu tugas dan wewenang mengesahkan<br />
pimpinan dan keanggotaan organ penentu kebijakan akademik<br />
hanya ada dalam BHP yang menyeleng-garakan pendidikan tinggi.<br />
Huruf g<br />
Cukup jelas.<br />
Huruf h<br />
Cukup jelas.<br />
Huruf i<br />
Cukup jelas.<br />
Huruf j<br />
Organ penentu kebijakan umum tertinggi dapat menetapkan<br />
pendirian berbagai badan usaha, baik berbadan hukum maupun<br />
tidak berbadan hukum, untuk menggalang dana pengembangan<br />
satuan pendidikan.<br />
Huruf k<br />
Jenjang dan tahap penyelesaian masalah BHP, termasuk masalah<br />
keuangan, ditetapkan dalam anggaran dasar BHP.<br />
Pasal 20<br />
Cukup jelas.<br />
Pasal 21<br />
Ayat (1)<br />
Organ penentu kebijakan akademik lazim dikenal sebagai Senat<br />
Akademik.<br />
33<br />
Ayat (2)<br />
Cukup jelas.<br />
Ayat (3)<br />
Huruf a<br />
Cukup jelas.<br />
Huruf b<br />
Guru besar hanya ada di perguruan tinggi berbentuk<br />
universitas, institut, sekolah tinggi yang menyeleng-garakan<br />
pendidikan akademik, sedangkan di perguru-an tinggi<br />
berbentuk akademi dan politeknik yang menyelenggarakan<br />
pendidikan vokasi, keberadaan guru besar bukan<br />
merupakan keharusan. Karena itu, di dalam organ penentu<br />
kebijakan akademik di lingkungan akademi dan politeknik<br />
tidak harus ada wakil dari guru besar.<br />
Huruf c<br />
Cukup jelas.<br />
Ayat (4)<br />
Yang dimaksud dengan “unsur lain” adalah pemimpin unit kerja<br />
yang tugas dan wewenangnya mempunyai relevansi tinggi dengan<br />
perumusan norma dan ketentuan akademik dan dimaksudkan<br />
untuk mengakomodasi kekhasan BHP.<br />
Pasal 22<br />
Ayat (1)<br />
Ketentuan bahwa 2/3 (dua per tiga) dari jumlah anggota organ<br />
penentu kebijakan akademik bukan berasal dari pimpinan satuan<br />
pendidikan, dimaksudkan agar perumusan norma dan ketentuan<br />
akademik dapat dilakukan secara obyektif, tidak terpengaruh oleh<br />
kepentingan pimpinan satuan pendidikan.<br />
Ayat (2)<br />
Cukup jelas.<br />
Ayat (3)<br />
Cukup jelas.<br />
Ayat (4)<br />
Cukup jelas.<br />
Ayat (5)<br />
Cukup jelas.<br />
Ayat (6)<br />
Cukup Jelas.<br />
Ayat (7)<br />
Cukup Jelas.<br />
Pasal 23<br />
Huruf a<br />
Cukup jelas.<br />
34<br />
Huruf b<br />
Penerapan sistem penjaminan mutu (quality assurance system)<br />
pendidikan pada semua jenjang pendidikan merupakan syarat<br />
mutlak, agar satuan pendidikan mampu mengembangkan mutu<br />
pendidikan secara berkelanjutan (continuous quality improvement<br />
atau kaizen). Sistem penjaminan mutu pendidikan terdiri atas<br />
penjaminan mutu internal yang dilakukan oleh satuan pendidikan<br />
sendiri, dan penjaminan mutu eksternal yang dilakukan oleh<br />
badan akreditasi di luar satuan pendidikan, baik tingkat nasional<br />
maupun tingkat internasional yang diakui oleh Pemerintah atau<br />
pemerintah daerah.<br />
Apabila hal ini dilaksanakan secara konsisten, maka akan<br />
terdapat keselarasan antara biaya pendidikan yang dikeluarkan<br />
dengan nilai mutu pendidikan yang diperoleh peserta didik.<br />
Huruf c<br />
Cukup jelas.<br />
Huruf d<br />
Cukup jelas.<br />
Huruf e<br />
Cukup jelas.<br />
Huruf f<br />
Cukup jelas.<br />
Huruf g<br />
Cukup jelas.<br />
Huruf h<br />
Cukup jelas.<br />
Huruf i<br />
Cukup jelas.<br />
Huruf j<br />
Cukup jelas.<br />
Huruf k<br />
Cukup jelas.<br />
Huruf l<br />
Cukup jelas.<br />
Pasal 24<br />
Cukup jelas.<br />
Pasal 25<br />
Ayat (1)<br />
Keberadaan organ audit bidang non-akademik di dalam BHP yang<br />
menyelenggarakan pendidikan anak usia dini jalur formal,<br />
pendidikan dasar dan pendidikan menengah bukan keharusan,<br />
tetapi dalam hal BHP menyelenggarakan lebih dari 1 (satu) jenjang<br />
pendidikan, maka keberadaan organ audit bidang non-akademik<br />
merupakan keharusan.<br />
35<br />
Ayat (2)<br />
Bidang non-akademik meliputi bidang keuangan, bidang sumber<br />
daya manusia, bidang prasarana dan sarana, bidang kehumasan,<br />
dan bidang lain yang tidak termasuk bidang akademik.<br />
Ayat (3)<br />
Cukup jelas.<br />
Ayat (4)<br />
Cukup jelas.<br />
Ayat (5)<br />
Huruf a<br />
Audit dalam bidang non-akademik dapat meliputi audit<br />
keuangan, audit kinerja non-akademik, audit ketaatan,<br />
audit investigatif, dan audit lain yang dipandang perlu oleh<br />
organ audit bidang non-akademik.<br />
Huruf b<br />
Cukup jelas.<br />
Huruf c<br />
Cukup jelas.<br />
Huruf d<br />
Cukup jelas.<br />
Ayat (6)<br />
Cukup jelas.<br />
Ayat (7)<br />
Cukup jelas.<br />
Pasal 26<br />
Ayat (1)<br />
Cukup jelas.<br />
Ayat (2)<br />
Cukup jelas.<br />
Ayat (3)<br />
Cukup jelas.<br />
Ayat (4)<br />
Nama satuan pendidikan digunakan antara lain di dalam kop<br />
surat, dokumen, logo satuan pendidikan, dan bendera satuan<br />
pendidikan.<br />
Pasal 27<br />
Ayat (1)<br />
Cukup jelas.<br />
Ayat (2)<br />
Cukup jelas.<br />
Ayat (3)<br />
BHP merupakan subyek hukum yang memiliki hak dan kewajiban<br />
sendiri terpisah dari pendirinya. Dalam melaksanakan hak dan<br />
kewajibannya ke luar BHP, BHP diwakili oleh pemimpin satuan<br />
pendidikan yang bertindak untuk dan atas nama BHP. Luas<br />
36<br />
lingkup kewenangan pemimpin satuan pendidikan dalam<br />
bertindak ke luar untuk dan atas nama BHP ditetapkan dalam<br />
anggaran dasar BHP.<br />
Ayat (4)<br />
1 (satu) BHP dapat mengelola sejumlah satuan pendidikan,<br />
sehingga dalam BHP tersebut terdapat sejumlah pemimpin satuan<br />
pendidikan. Oleh karena itu, anggaran dasar BHP perlu<br />
menetapkan pemimpin satuan pendidikan yang berwenang<br />
bertindak ke luar untuk dan atas nama BHP.<br />
Ayat (5)<br />
Cukup jelas.<br />
Ayat (6)<br />
Cukup jelas.<br />
Ayat (7)<br />
Seseorang dapat menjabat pemimpin satuan pendidikan<br />
sebanyak-banyaknya 2 (dua) kali masa jabatan, baik secara<br />
berurutan atau bersela, termasuk jabatan pemimpin satuan<br />
pendidikan yang pernah didudukinya sebelum dibentuk BHP.<br />
Pasal 28<br />
Ayat (1)<br />
Huruf a<br />
Inti (core) dari rencana strategis satuan pendidikan adalah<br />
kebijakan akademik yang ditetapkan oleh organ penentu<br />
kebijakan umum tertinggi. Atas dasar kebijakan akademik<br />
tersebut dapat direncanakan berbagai program satuan<br />
pendidikan, baik di bidang akademik maupun di bidang<br />
non-akademik sebagai penunjang kegiatan bidang<br />
akademik.<br />
Huruf b<br />
Cukup jelas.<br />
Huruf c<br />
Cukup jelas.<br />
Huruf d<br />
Cukup jelas.<br />
Huruf e<br />
Cukup jelas.<br />
Huruf f<br />
Cukup jelas.<br />
Ayat (2)<br />
Huruf a<br />
Inti (core) dari rencana strategis satuan pendidikan adalah<br />
kebijakan akademik yang ditetapkan oleh organ penentu<br />
kebijakan akademik. Atas dasar kebijakan akademik<br />
tersebut dapat direncanakan berbagai program satuan<br />
pendidikan, baik di bidang akademik maupun di bidang<br />
non-akademik sebagai penunjang kegiatan bidang<br />
akademik.<br />
Huruf b<br />
37<br />
Cukup jelas.<br />
Huruf c<br />
Cukup jelas.<br />
Huruf d<br />
Cukup jelas.<br />
Huruf e<br />
Cukup jelas.<br />
Huruf f<br />
Cukup jelas.<br />
Huruf g<br />
Cukup jelas.<br />
Ayat (3)<br />
Huruf a<br />
Cukup jelas.<br />
Huruf b<br />
Ada atau tidaknya pertentangan kepentingan antara<br />
pemimpin satuan pendidikan dengan kepentingan satuan<br />
pendidikan atau BHP, ditetapkan oleh organ penentu<br />
kebijakan umum tertinggi.<br />
Ayat (4)<br />
Cukup jelas.<br />
Pasal 29<br />
Huruf a<br />
Cukup jelas.<br />
Huruf b<br />
Cukup jelas.<br />
Huruf c<br />
Ada atau tidaknya pertentangan kepentingan antara kepentingan<br />
satuan pendidikan dengan kepentingan jabatan lain yang<br />
dirangkap oleh pemimpin satuan pendidikan dan wakilnya,<br />
ditetapkan oleh organ penentu kebijakan umum tertinggi.<br />
Pasal 30<br />
Cukup jelas.<br />
Pasal 31<br />
Ayat (1)<br />
Pemisahan kekayaan berarti dilakukan peralihan hak milik atas<br />
kekayaan tersebut dari pendiri ke BHP.<br />
Ayat (2)<br />
BHP merupakan badan hukum yang otonom, sehingga baik<br />
kekayaan BHP yang telah dipisahkan oleh pendiri, semua<br />
penerimaan pendapatan BHP dari berbagai sumber penerimaan,<br />
maupun sisa lebih sebagai hasil kegiatan yang dijalankan oleh<br />
BHP, berstatus sebagai milik BHP, dan dapat digunakan secara<br />
mandiri oleh BHP untuk menjalankan kegiatannya sesuai dengan<br />
anggaran dasar BHP.<br />
Ayat (3)<br />
38<br />
Cukup jelas.<br />
Ayat (4)<br />
Sebagai konsekuensi dari ketentuan ayat (2) yaitu semua<br />
penerimaan dan sisa lebih BHP merupakan milik BHP, maka<br />
semua penerimaan dan sisa lebih BHP tidak perlu disetorkan ke<br />
kas negara agar menjadi milik negara, sehingga pendapatan BHP<br />
tersebut tidak termasuk pendapatan negara bukan pajak.<br />
Pasal 32<br />
Segala bentuk dan cara pengalihan kepemilikan kekayaan BHP,<br />
penerimaan pendapatan BHP serta sisa lebih hasil kegiatan BHP berupa<br />
uang, barang, atau bentuk lain yang dapat dinilai dengan uang milik<br />
BHP, dilarang untuk dialihkan kepada orang dan/atau badan tertentu,<br />
kecuali telah ditetapkan terlebih dahulu dalam anggaran dasar BHP,<br />
misalnya untuk pembayaran gaji dan honorarium, biaya<br />
penyelenggaraan pendidikan.<br />
Sedangkan yang dimaksud dengan “bentuk lain” antara lain adalah hak<br />
kekayaan intelektual yang dimiliki oleh BHP, atau sistem manajemen<br />
dan prosedur administratif satuan pendidikan milik BHP.<br />
Pasal 33<br />
Ayat (1)<br />
Cukup jelas.<br />
Ayat (2)<br />
Ketentuan ini sesuai dengan Pasal 41 ayat (1) Undang-Undang<br />
Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.<br />
Ayat (3)<br />
Ketentuan ini sesuai dengan Pasal 46 ayat (2) Undang-Undang<br />
Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.<br />
Ayat (4)<br />
Dalam hal ini pemimpin satuan pendidikan berwenang menerima<br />
dana yang disalurkan oleh Pemerintah atau pemerintah daerah,<br />
dan mengelola dana tersebut melalui tindakan perencanaan,<br />
pengorganisasian, penggunaan, pengendalian, dan<br />
pertanggungjawaban dana tersebut.<br />
Pasal 34<br />
Ayat (1)<br />
Anggaran pendidikan sebesar 20 % dari APBN atau APBD<br />
sebagaimana diatur dalam Pasal 31 ayat (4) Undang-Undang<br />
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, dan Pasal 49<br />
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem<br />
Pendidikan Nasional, antara lain dialokasikan untuk mendanai<br />
BHP dalam menyelenggarakan pendidikan.<br />
Ayat (2)<br />
Cukup jelas.<br />
Ayat (3)<br />
Sumbangan pendidikan sesuai dengan kemampuan orang tua<br />
atau pihak yang bertanggungjawab membiayai merupa-kan<br />
39<br />
penerapan prinsip keadilan proporsional, sehingga kekurangannya<br />
diperoleh dari hasil penerapan kebijakan subsidi silang yang<br />
berasal dari peserta didik yang berkemampuan secara ekonomi.<br />
Melalui subsidi silang, kecukupan pendanaan pendidikan akan<br />
terjamin, dan pada gilirannya akan menghasilkan keberlanjutan<br />
pendidikan secara institusional maupun terutama bagi peserta<br />
didik.<br />
Ayat (4)<br />
Dengan kedudukan mandiri sebagai badan hukum, maka secara<br />
hukum BHP berwenang melakukan berbagai perbuatan hukum<br />
untuk menggalang dana, baik dengan mendayagunakan potensi<br />
internal BHP (misalnya penelitian, pemberian jasa oleh<br />
laboratorium, pendidikan berkelanjut-an), maupun dengan<br />
mendirikan atau ikut serta dalam badan usaha yang tidak<br />
bertentangan dengan tujuan pendidikan.<br />
Ayat (5)<br />
Penyaluran anggaran pendidikan dalam bentuk hibah merupakan<br />
amanat Pasal 49 ayat (3) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003<br />
tentang Sistem Pendidikan Nasional.<br />
Ayat (6)<br />
Cukup jelas.<br />
Pasal 35<br />
Cukup jelas.<br />
Pasal 36<br />
Cukup jelas.<br />
Pasal 37<br />
Ayat (1)<br />
Cukup jelas.<br />
Ayat (2)<br />
Ketentuan ini sesuai dengan Penjelasan Pasal 46 ayat (1) Undang-<br />
Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan<br />
Nasional.<br />
Ayat (3)<br />
Ketentuan ini dimaksudkan sebagai ketentuan khusus terhadap<br />
undang-undang perpajakan berdasarkan prinsip lex specialis<br />
derogat legi generali.<br />
Pasal 38<br />
Ayat (1)<br />
Ketentuan ini merupakan penerapan prinsip keberpihakan kepada<br />
mereka yang tersisih (preferential option for the poor).<br />
Ayat (2)<br />
Cukup jelas.<br />
Pasal 39<br />
40<br />
Ayat (1)<br />
Cukup jelas.<br />
Ayat (2)<br />
Akuntabilitas BHP antara lain dapat diukur dari ratio antara<br />
pendidik dan peserta didik, ratio antara ruang pembelajaran<br />
dengan peserta didik, alat bantu pembelajaran dengan peserta<br />
didik, komposisi peserta didik asing dengan peserta didik<br />
warganegara, dan lain-lain.<br />
Ayat (3)<br />
Cukup jelas.<br />
Pasal 40<br />
Ayat (1)<br />
Cukup jelas.<br />
Ayat (2)<br />
Cukup jelas.<br />
Ayat (3)<br />
Cukup jelas.<br />
Ayat (4)<br />
Yang dimaksud laporan manajemen adalah laporan yang berisi<br />
kinerja perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan,<br />
pengendalian BHP maupun satuan pendidikan.<br />
Pasal 41<br />
Ayat (1)<br />
Cukup jelas.<br />
Ayat (2)<br />
Dibebaskan dari tanggungjawab karena laporan tahunan satuan<br />
pendidikan tidak mengandung kekurangan, kekeliruan, atau<br />
kekhilafan.<br />
Ayat (3)<br />
Yang dimaksudkan dengan “hal baru” adalah bukti baru atau<br />
novum .<br />
Pasal 42<br />
Ayat (1)<br />
Cukup jelas.<br />
Ayat (2)<br />
Cukup jelas.<br />
Ayat (3)<br />
Cukup jelas.<br />
Pasal 43<br />
Ayat (1)<br />
Cukup jelas.<br />
Ayat (2)<br />
Cukup jelas.<br />
Ayat (3)<br />
Ketentuan ini hanya berlaku untuk BHP yang menyeleng-garakan<br />
pendidikan tinggi.<br />
41<br />
Ayat (4)<br />
Cukup jelas.<br />
Ayat (5)<br />
Cukup jelas.<br />
Pasal 44<br />
Ayat (1)<br />
Cukup jelas.<br />
Ayat (2)<br />
Berhubung dana hibah berasal Aangaran Pendapatan dan Belanja<br />
Negara atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, maka<br />
otoritas pengawasan negara berhak untuk melakukan audit<br />
keuangan hanya pada bagian keuangan BHP yang berasal dari<br />
hibah.<br />
Pasal 45<br />
Ayat (1)<br />
Cukup jelas.<br />
Ayat (2)<br />
Cukup jelas.<br />
Pasal 46<br />
Cukup jelas.<br />
Pasal 47<br />
Ayat (1)<br />
Tenaga penunjang merupakan tenaga BHP yang bekerja di dalam<br />
badan usaha yang dapat didirikan oleh BHP.<br />
Ayat (2)<br />
Pegawai negeri sipil yang pada saat Undang-Undang ini berlaku<br />
bekerja di suatu satuan pendidikan dapat memilih antara tetap<br />
menjadi pegawai negeri sipil dipekerjakan pada BHP, atau beralih<br />
menjadi pegawai non pemerintah.<br />
Pegawai non pemerintah adalah tenaga BHP yang diangkat dan<br />
diberhentikan oleh BHP dan tidak berstatus pegawai negeri sipil.<br />
Berdasarkan Pasal 14 ayat (1) huruf a dan Pasal 51 ayat (1) huruf<br />
a Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru Dan<br />
Dosen, tenaga pendidik (guru atau dosen), baik berstatus pegawai<br />
negeri sipil atau pegawai non pemerintah, memiliki hak untuk<br />
memperoleh penghasilan di atas kebutuhan hidup minimum dan<br />
jaminan kesejahteraan sosial. Selanjutnya, diatur pula bahwa<br />
penghasilan di atas kebutuhan hidup minimum meliputi gaji<br />
pokok, tunjangan yang melekat pada gaji, serta penghasilan lain<br />
yang berupa tunjangan profesi, tunjangan fungsional, tunjangan<br />
khusus, tunjangan kehormatan (khusus dosen), serta maslahat<br />
tambahan yang terkait dengan tugas sebagai guru atau dosen<br />
yang ditetapkan dengan prinsip penghargaan atas dasar prestasi.<br />
42<br />
Oleh sebab itu, sekalipun tenaga pendidik yang berstatus pegawai<br />
negeri sipil beralih status menjadi pegawai non pemerintah, maka<br />
Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru Dan Dosen<br />
menjamin bahwa penghasilannya akan relatif setara dengan<br />
penghasilan sebelumnya.<br />
Ayat (3)<br />
Tenaga BHP yang berstatus pegawai negeri sipil harus tetap<br />
membuat perjanjian dengan BHP, karena sekalipun tenaga<br />
tersebut telah diangkat oleh Pemerintah atau pemerintah daerah,<br />
tetapi yang bersangkutan belum diangkat oleh BHP.<br />
Ayat (4)<br />
Cukup jelas.<br />
Ayat (5)<br />
Cukup jelas.<br />
Ayat (6)<br />
Cukup jelas.<br />
Ayat (7)<br />
Cukup jelas.<br />
Ayat (8)<br />
Cukup jelas.<br />
Ayat (9)<br />
Cukup jelas.<br />
Pasal 48<br />
Ayat (1)<br />
Cukup jelas.<br />
Ayat (2)<br />
Cukup jelas.<br />
Ayat (3)<br />
Cukup jelas.<br />
Ayat (4)<br />
Cukup jelas.<br />
Ayat (5)<br />
Cukup jelas.<br />
Pasal 49<br />
Huruf a.<br />
Cukup jelas.<br />
Huruf b.<br />
Yang dimaksud dengan ”tujuan BHP sudah tercapai” antara lain<br />
apabila BHP didirikan dengan tujuan khusus untuk menghasilkan<br />
sejumlah lulusan satuan pendidikan yang diselenggarakannya,<br />
sehingga setelah jumlah tersebut terpenuhi maka BHP bubar.<br />
Huruf c.<br />
Cukup jelas<br />
43<br />
Pasal 50<br />
Ayat (1)<br />
Cukup jelas.<br />
Ayat (2)<br />
Cukup jelas.<br />
Ayat (3)<br />
Cukup jelas.<br />
Ayat (4)<br />
Cukup jelas.<br />
Ayat (5)<br />
Cukup jelas.<br />
Pasal 51<br />
Ayat (1)<br />
Cukup jelas.<br />
Ayat (2)<br />
Cukup jelas.<br />
Pasal 52<br />
Ayat (1)<br />
Sanksi ini dimaksudkan untuk menegakkan prinsip nirlaba dari<br />
BHP.<br />
Ayat (2)<br />
Cukup jelas.<br />
Pasal 53<br />
Cukup jelas.<br />
Pasal 54<br />
Ayat (1)<br />
Cukup jelas.<br />
Ayat (2)<br />
Berdasarkan peraturan perundang-undangan, Pemerintah<br />
bertanggungjawab menyelenggarakan pendidikan tinggi, dan<br />
pemerintah daerah bertanggungjawab menyelenggarakan<br />
pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan<br />
dasar, dan pendidikan menengah.<br />
Pada saat Undang-Undang ini berlaku terdapat perguruan tinggi<br />
yang dikelola oleh Pemerintah (dahulu dikenal sebagai perguruan<br />
tinggi negeri/PTN), dan sekolah yang dikelola oleh pemerintah<br />
daerah (dahulu dikenal sebagai sekolah negeri). Baik PTN maupun<br />
sekolah negeri harus mengubah bentuk dan menyesuaikan<br />
tatakelolanya, masing-masing sebagai BHPP dan BHPPD.<br />
Khusus mengenai pembentukan BHPPD yang menyeleng-garakan<br />
pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan<br />
dasar, dan pendidikan menengah berdasarkan Undang-Undang<br />
ini, dapat dilakukan pada tingkat propinsi, kabupaten atau kota.<br />
44<br />
Dengan demikian, di dalam satu propinsi, kabupaten atau kota<br />
cukup didirikan satu BHP pemerintah daerah.<br />
Unsur pendiri atau wakil pendiri di dalam organ penentu<br />
kebijakan umum tertinggi BHPPD adalah Kepala Dinas Pendidikan<br />
propinsi, kabupaten, atau kota setempat.<br />
Ayat (3)<br />
Cukup jelas.<br />
Ayat (4)<br />
Cukup jelas.<br />
Pasal 55<br />
Pasal 53 ayat (1) Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem<br />
Pendidikan Nasional, menyatakan bahwa “penyelenggara dan/atau<br />
satuan pendidikan formal yang didirikan oleh Pemerintah atau<br />
masyarakat berbentuk badan hukum pendidikan”. Rumusan pasal<br />
tersebut menyebabkan menurut Undang-Undang ini diakui 3 (tiga) jenis<br />
BHP, yaitu BHP penyelenggara, BHP satuan pendidikan, dan BHP<br />
gabungan penyelenggara dan satuan pendidikan. Ketiga jenis BHP<br />
tersebut harus menyesuaikan tatakelolanya pada Undang-Undang ini,<br />
yaitu tatakelola berdasarkan bentuk BHP, yaitu BHPP, BHPPD, dan<br />
BHPM. Secara skematik struktur jenis dan bentuk BHP dapat<br />
digambarkan sebagai berikut:<br />
No<br />
Bentuk<br />
Pemerintah Masyarakat<br />
Jenis Dikti Dikdasmen Dikti Dikdasmen<br />
1 BHP Penyelenggara X X BHPM BHPM<br />
2 BHP Satuan Pend.* BHPP** BHPPD BHPM BHPM<br />
3 BHP Gabungan 1 &amp; 2 X X BHPM BHPM<br />
Keterangan:<br />
* BHMN adalah jenis BHP Satuan Pendidikan.<br />
** Bentuk BHPP adalah tatakelola BHP Satuan Pendidikan berdasarkan Undang-Undang ini.<br />
Ayat (1)<br />
Pada saat Undang-Undang ini berlaku terdapat Badan Hukum<br />
Milik Negara yang tetap diakui keberadaannya, tetapi harus<br />
menyesuaikan tatakelolanya sebagai BHPP.<br />
Ayat (2)<br />
Penyesuaian ini merupakan upaya lebih lanjut untuk menerapkan<br />
prinsip otonomi perguruan tinggi pada BHMN yang<br />
menyelenggarakan pendidikan tinggi. Penerapan prinsip tersebut<br />
akan menghasilkan tatakelola perguruan tinggi yang baik (good<br />
university governance).<br />
Ayat (3)<br />
Cukup jelas.<br />
Ayat (4)<br />
Cukup jelas.<br />
45<br />
Pasal 56<br />
Pasal 53 ayat (1) Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem<br />
Pendidikan Nasional, menyatakan bahwa “penyelenggara dan/atau<br />
satuan pendidikan formal yang didirikan oleh Pemerintah atau<br />
masyarakat berbentuk badan hukum pendidikan”. Rumusan pasal<br />
tersebut menyebabkan menurut Undang-Undang ini diakui 3 (tiga) jenis<br />
BHP, yaitu BHP penyelenggara, BHP satuan pendidikan, dan BHP<br />
gabungan penyelenggara dan satuan pendidikan. Ketiga jenis BHP<br />
tersebut harus menyesuaikan tatakelolanya pada Undang-Undang ini,<br />
yaitu tatakelola berdasarkan bentuk BHP, yaitu BHPP, BHPPD, dan<br />
BHPM. Secara skematik struktur jenis dan bentuk BHP dapat<br />
digambarkan sebagai berikut:<br />
No<br />
Bentuk<br />
Pemerintah Masyarakat<br />
Jenis Dikti Dikdasmen Dikti Dikdasmen<br />
1 BHP Penyelenggara* X X BHPM** BHPM**<br />
2 BHP Satuan Pend. BHPP BHPPD BHPM BHPM<br />
3 BHP Gabungan 1 &amp; 2 X X BHPM BHPM<br />
Keterangan:<br />
* Yayasan, perkumpulan, wakaf, dan badan hukum sejenis adalah jenis BHP Penyelenggara.<br />
** Bentuk BHPM adalah tatakelola BHP Penyelenggara berdasarkan Undang-Undang ini.<br />
Ayat (1)<br />
Badan hukum yang sebelum Undang-Undang ini berlaku telah<br />
menyelenggarakan pendidikan formal, antara lain yayasan,<br />
perkumpulan, atau badan hukum di bidang pendidikan yang<br />
bertindak sebagai nazhir, tetap diakui keberadaannya sebagai<br />
jenis BHP Penyelenggara dan diberi bentuk sebagai BHPM. Dengan<br />
demikian, yayasan, perkumpulan, atau badan hukum di bidang<br />
pendidikan yang bertindak sebagai nazhir merupakan BHPM<br />
menurut Undang-Undang ini.<br />
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2001 tentang<br />
Yayasan, yayasan adalah badan hukum yang terdiri atas<br />
kekayaan yang dipisahkan dan diperuntukkan untuk mencapai<br />
tujuan tertentu di bidang sosial, keagamaan, dan kemanusiaan,<br />
yang tidak mempunyai anggota.<br />
Berdasarkan Pasal 1653 sampai dengan Pasal 1665 Kitab Undangundang<br />
Hukum Perdata, dapat dike-mukakan bahwa<br />
perkumpulan adalah sekumpulan orang yang secara bersama<br />
sepakat mengadakan kerjasama untuk mencapai suatu tujuan<br />
tertentu (pada umumnya bertujuan nirlaba), yang bentuk dan<br />
caranya diatur di dalam anggaran dasar.<br />
Berdasarkan Staatsbblad 1870/64, anggaran dasar perkumpulan<br />
dapat dimintakan pengesahan kepada Menteri Hukum dan HAM,<br />
sehingga dengan pengesahan itu suatu perkumpulan memiliki<br />
status sebagai badan hukum.<br />
46<br />
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang<br />
Wakaf, nazhir adalah pihak yang menerima harta benda wakaf<br />
dari wakif untuk dikelola dan dikembangkan sesuai dengan<br />
peruntukkannya, dapat berbentuk perseorangan, organisasi, atau<br />
badan hukum. Badan hukum yang dimaksud merupakan badan<br />
hukum yang bergerak di bidang sosial, pendidikan,<br />
kemasyarakatan, dan/atau keagamaan Islam. Sedangkan wakif<br />
adalah pihak yang mewakafkan harta benda miliknya.<br />
Adapun wakaf adalah perbuatan hukum wakif untuk memisahkan<br />
dan/atau menyerahkan sebagian harta benda miliknya untuk<br />
dimanfaatkan selamanya atau untuk jangka waktu tertentu sesuai<br />
dengan kepentingannya guna keperluan ibadah dan/atau<br />
kesejahteraan umum menurut syariah.<br />
Badan hukum lain yang sejenis antara lain adalah organisasi<br />
kemasyarakatan yang berdasarkan Undang-Undang Nomor 8<br />
Tahun 1985 tentang Organisasi Kemasyarakatan, adalah<br />
organisasi yang dibentuk oleh anggota masyarakat Warganegara<br />
Indonesia secara sukarela atas dasar kesamaan kegiatan, profesi,<br />
fungsi, agama, dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa,<br />
untuk berperan serta untuk mencapai tujuan nasional.<br />
Ayat (2)<br />
Penyesuaian ini merupakan upaya untuk menerapkan prinsip<br />
manajemen berbasis sekolah/madrasah untuk BHP Penyelenggara<br />
yang menyelenggarakan pendidikan anak usia dini jalur<br />
pendidikan formal, pendidikan dasar dan menengah, serta prinsip<br />
otonomi perguruan tinggi untuk BHP Penyelenggara yang<br />
menyelenggarakan pendidikan tinggi. Penerapan kedua prinsip<br />
tersebut akan menghasil-kan tatakelola yang baik (good<br />
governance) di semua jenjang pendidikan.<br />
Ayat (3)<br />
Cukup jelas.<br />
Ayat (4)<br />
Cukup jelas.<br />
Ayat (5)<br />
Cukup jelas.<br />
Pasal 57<br />
Cukup jelas.<br />
Pasal 58<br />
Cukup jelas.<br />
TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR&#8230;<br />
i<br />
DAFTAR ISI<br />
BAB I &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.. 2<br />
KETENTUAN UMUM &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;. 2<br />
Pasal 1 &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..2<br />
Pasal 2 &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..3<br />
Pasal 3 &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..3<br />
Pasal 4 &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..3<br />
Pasal 5 &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..4<br />
BAB II &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;. 4<br />
JENIS, BENTUK, PENDIRIAN, DAN PENGESAHAN &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.. 4<br />
Pasal 6 &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..4<br />
Pasal 7 &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..4<br />
Pasal 8 &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..5<br />
Pasal 9 &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..5<br />
Pasal 10 &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;6<br />
Pasal 11 &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;6<br />
Pasal 12 &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;6<br />
BAB III &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.. 7<br />
TATA KELOLA &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230; 7<br />
Pasal 13 &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;7<br />
Pasal 14 &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;7<br />
Pasal 15 &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;8<br />
Pasal 16 &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;8<br />
Pasal 17 &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;9<br />
Pasal 18 &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;9<br />
Pasal 19 &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;9<br />
Pasal 20 &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.10<br />
Pasal 21 &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.10<br />
Pasal 22 &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.10<br />
Pasal 23 &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.11<br />
Pasal 24 &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.12<br />
Pasal 25 &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.12<br />
Pasal 26 &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.12<br />
Pasal 27 &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.13<br />
Pasal 28 &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.13<br />
Pasal 29 &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.14<br />
Pasal 30 &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.14<br />
BAB IV &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;. 15<br />
KEKAYAAN &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230; 15<br />
Pasal 31 &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.15<br />
Pasal 32 &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.15<br />
BAB V &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.. 15<br />
PENDANAAN &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;. 15<br />
Pasal 33 &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.15<br />
Pasal 34 &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.15<br />
ii<br />
Pasal 35 &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.16<br />
Pasal 36 &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.16<br />
Pasal 37 &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.16<br />
Pasal 38 &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.17<br />
BAB VI &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;. 17<br />
AKUNTABILITAS DAN PENGAWASAN &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;. 17<br />
Pasal 39 &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.17<br />
Pasal 40 &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.17<br />
Pasal 41 &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.18<br />
Pasal 42 &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.18<br />
Pasal 43 &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.18<br />
Pasal 44 &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.19<br />
Pasal 45 &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.19<br />
Pasal 46 &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.19<br />
BAB VII &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.. 19<br />
KETENAGAAN &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.. 19<br />
Pasal 47 &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.19<br />
BAB VIII &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;. 20<br />
PENGGABUNGAN &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230; 20<br />
Pasal 48 &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.20<br />
BAB IX &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230; 20<br />
PEMBUBARAN &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;. 20<br />
Pasal 49 &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.20<br />
Pasal 50 &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.21<br />
BAB X &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.. 21<br />
SANKSI ADMINISTRATIF &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230; 21<br />
Pasal 51 &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.21<br />
BAB XI &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230; 21<br />
SANKSI PIDANA &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.. 21<br />
Pasal 52 &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.21<br />
BAB XII &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.. 22<br />
KETENTUAN PERALIHAN &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230; 22<br />
Pasal 53 &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.22<br />
Pasal 54 &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.22<br />
Pasal 55 &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.22<br />
Pasal 56 &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.22<br />
BAB XIII &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;. 23<br />
KETENTUAN PENUTUP &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230; 23<br />
Pasal 57 &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.23<br />
Pasal 58 &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.23<br />
PENJELASAN &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.25</p>
<br />Posted in UNDANG-UNDANG Tagged: UU BHP <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/haryono10182.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/haryono10182.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/haryono10182.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/haryono10182.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/haryono10182.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/haryono10182.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/haryono10182.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/haryono10182.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/haryono10182.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/haryono10182.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/haryono10182.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/haryono10182.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/haryono10182.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/haryono10182.wordpress.com/62/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=haryono10182.wordpress.com&amp;blog=5778151&amp;post=62&amp;subd=haryono10182&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://haryono10182.wordpress.com/2009/02/04/ruu-bhp/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4e360807ddc2482d9b6bf85e2b43d15e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">haryono10182</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PENGANTAR ANTROPOLOGI</title>
		<link>http://haryono10182.wordpress.com/2009/01/28/pengantar-antropologi/</link>
		<comments>http://haryono10182.wordpress.com/2009/01/28/pengantar-antropologi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Jan 2009 10:07:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>haryono10182</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://haryono10182.wordpress.com/?p=59</guid>
		<description><![CDATA[I AZAS-AZAS DAN RUANG LINGKUP ANTROPOLOGI 1. Fase Perkembangan Ilmu Antropologi Fase Pertama (Sebelum Tahun 1800) Orang-orang Eropa baru mulai berdatangan di Afrika, Asia, dan Amerika pada akhir abad 15. Mereka membuat catatan-catatan mengenai keadaan penduduk pribumi; adat-istiadat, bahasa, ciri fisik, dan susunan masyarakat. Catatan bahan pengetahuan ini disebut bahan etnografi (deskripsi tentang bangsa-bangsa). Bahan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=haryono10182.wordpress.com&amp;blog=5778151&amp;post=59&amp;subd=haryono10182&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="center"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><strong>I</strong></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="center"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><strong>AZAS-AZAS DAN RUANG LINGKUP ANTROPOLOGI</strong></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-left:.66cm;text-indent:-.66cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><strong>1.	Fase Perkembangan Ilmu Antropologi</strong></span></p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><strong>Fase 	Pertama (Sebelum Tahun 1800)</strong></span></p>
</li>
</ol>
<p style="margin-left:.66cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><strong> </strong></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Orang-orang Eropa baru mulai berdatangan di Afrika, Asia, dan Amerika pada akhir abad 15. Mereka membuat catatan-catatan mengenai keadaan penduduk pribumi; adat-istiadat, bahasa, ciri fisik, dan susunan masyarakat. Catatan bahan pengetahuan ini disebut bahan etnografi (deskripsi tentang bangsa-bangsa).</span></p>
<p style="margin-left:.66cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> Bahan etnografi ini menarik perhatian kalangan terpelajar di Eropa Barat sejak abad ke-18. Ada 3 macam sikap yang bertentangan terhadap bangsa di Afrika, Asia, dan Amerika, yaitu;</span></p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Sebagian 	orang Eropa memandang sifat buruk dari bangsa jauh tadi sebagai 	manusia liar, turunan iblis, </span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><em>savages, 	primitive</em></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;">, dan sebagainya.</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Sebagian 	orang Eropa memandang baik dari bangsa jauh tadi dan merupakan 	contoh masyarakat yang masih murni, belum kemasukan keburukan dan 	kejahatan seperti masyarakat Eropa waktu itu.</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Sebagian 	orang Eropa tertarik akan adat-istiadat yang aneh dan mulai 	mengumpulkan benda-benda kebudayaan dari suku-suku bangsa di Afrika, 	Asia, dan Amerika.</span></p>
</li>
</ol>
<p style="margin-left:.64cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<ol>
<li>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><strong>Fase 		Kedua (Kira-kira Pertengahan Abad ke-19)</strong></span></p>
</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p style="margin-left:.66cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> Pada fase ini timbul karangan-karangan yang menyusun bahan etnografi berdasarkan cara berpikir evolusi masyarakat “ masyarakat dan kebudayaan manusia berevolusi sangat lambat dalam jangka beribu-ribu tahun, bentuk masyarakat dan kebudayaan manusia yang tertinggi dicapai seperti apa yang hidup di Eropa Barat, sedangkan bangsa di Afrika, Asia, dan Amerika adalah contoh dari tingkat kebudayaan yang lebih rendah”. </span></p>
<p style="margin-left:.66cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> Dengan adanya pengklasifikasian bahan tentang beraneka warna kebudayaan di seluruh dunia ke dalam tingkat evolusi tertentu ini, maka timbullah ilmu antropologi.</span></p>
<p style="margin-left:.66cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> Fase perkembangan yang kedua ini ilmu antropologi berupa suatu ilmu yang bersifat akademikal, dengan tujuan mempelajari masyarakat dan kebudayaan primitive dengan maksud mendapat pengertian tentang tingkat-tingkat kuno dalam sejarah evolusi dan sejarah penyebaran kebudayaan manusia.</span></p>
<p style="margin-left:.66cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-left:.66cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-left:.66cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<ol>
<li>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><strong>Fase 		Ketiga (Permulaan abad ke-20)</strong></span></p>
</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p style="margin-left:.66cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><strong> </strong></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Pada permulaan abad ke-20 negara-negara penjajajh di Eropamulai berhadapan langsung dengan bangsa-bangsa terjajah. Sehingga pengetahuan tentang masyarakat terjajah menjadi sangat penting. Dalam fase ini ilmu antropologi menjadi suatu ilmu yang praktis, dengan tujuan mempelajari masyarakat dan kebudayaan suku-suku bangsa di luar Eropa guna kepentingan kolonial dan guna mendapat suatu pengertian tentang masyarakat masa kini yang kompleks. </span></p>
<p style="margin-left:.66cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<ol>
<li>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><strong>Fase 		Keempat (Sesudah kira-kira 1930)</strong></span></p>
</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p style="margin-left:.66cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><strong> </strong></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Fase ini ilmu antropologi mengalami masa perkembangan yang paling luas. Sasaran ilmu antropolgi tidak lagi suku-suku bangsa primitive yang tinggal di luar Eropa saja, melainkan kepada manusia pedesaan di Eropa dan kota-kota kecil di Amerika. Tujuan ilmu antropologi fase ini adalah akademikal dan praktis. Akademikal; “mencapai pengertian tentang mahluk manusia pada umumnya dengan mempelajari aneka warnabentuk fisik, masyarakat serta kebudayaannya”. Tujuan praktisnya adalah guna membangun masyarakat itu.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><strong>2. Antropologi Masa Kini</strong></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><strong> </strong></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Secara kasar aliran-aliran antropologi dapat digolongkan berdasarkan berbagai universitas di Amerika, Inggris, Eropa Tengah, Eropa Utara, Uni Sovyet, dan negara-negara yang sedang berkembang.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> Di Amerika Srikat ilmu antropologi telah memakai dan mengintegrasikan bahan dan metode dari ilmu antropologi dalam fasenya yang kesatu sampai ketiga dan ditambah dengan berbagai  spesialisasi untuk mencapai pengertian dasar anekawarna bentuk kebudayaan masyarakat manusia masa kini.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> Di Inggris dan Australia, perkembangan ilmu antropologi fase ketiga masih dilakukan. Seiring hilangnya daerah jajahan, maka para sarjana Inggria memperhatikan berbagai masalah yang lebih luas tentang masyarakat dan kebudayaan manusia pada umumnya. Metode-metode antropologi yang berkembang di Amerika Serikat, juga mempengaruhi penelitian para ahli antropologi Inggris.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> Di Eropa Tengah (Jerman, Austria, Swis), akhir-akhir ini pengaruh antropologi dari Amerika Serikat juga mulai tampak pada berbagai ahli antropologi generasi muda di Jerman dan Swis.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> Di Eropa Utara (negara-negara Skandinavia) ilmu antropologi bersifat akademikal seperti di Jerman dan Austria. Keistimewaan mereka terletak pada hasil-hasil penelitian mereka terhadap kebudayaan suku-suku bangsa Eskimo. Mereka juga banyak menggunakan metode antropolgi yang dikembangkan di Amerika Serikat.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> Di Uni Sovyet, ilmu antropologi didasrakan pada konsep K. Marx dan F. Engels mengenai tingkat-tingkat evolusi masyarakat. Ilmu itu dianggap dari bagian ilmu sejarah yang mengkhususkan kepada asalmula, evolusi, dan penyebaran kebudayaan bangsa-bangsa di seluruh muka bumi. Di Uni Sovyet antropologi menunjukkan bidang yang praktis, yaitu sebagai alat untuk mengembangkan saling pengertian diantara suku-suku bangsa di Uni Sovyet yang bergam itu. Selain itu sarjana-sarjana Uni Sovyet juga menaruh perhatian yang besar terhadap daerah lain di luar Uni Sovyet dan menghasilkan buku-buku berjudul </span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><em>Narody Mira</em></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> (Bangsa-bangsa di- Dunia).</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> Di India, ilmu antropologi dalam hal metode-metodenya mendapat pengaruh dari Inggris. Antropologi di India digunakan untuk kepentingan praktis dalam hubungan antara golongan-golongan penduduk India yang beragam. Di India antropologi dan sosiologi sudah bukan ilmu yang berbeda, tetapi hanya berupa dua golongan metode saja yang menjadi satu sebagai suatu ilmu sosial baru.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> Di Indonesia, baru mulai mengembangkan suatu ilmuantropologi Indonesia yang khusus. Dalam menentukan dasar-dasar dari antropologi Indonesia kita belum terikat oleh sutau tradisi. Menurut Koentjoroningrat, kita dapat mengkombinasikan berbagai unsur dari berbagai aliran ilmu antropologi yang telah berkembang di negara lain. Batas-batas lapangan penelitian antropologi serta seluruh integrasi luas dari metode-metode antropologi dapat kita contoh dari Amerika Serikat; pengunaan sebagai ilmu praktis dapat ditiru dari Uni Sovyet, Meksiko, dan India.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><strong>3. Ilmu-ilmu Bagian dari Antropologi;</strong></span></p>
<ul>
<li>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><em>Paleo-Antropologi</em></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;">, 		adalah ilmu bagian yang meneliti asal-usul atau terjadinya dan 		evolusi manusia menggunakan bahan penelitian sisa-sisa tubuh yang 		telah membatu, atau fosil-fosil manusia zaman dulu yang tersimpan 		dalam lapisan-lapisan bumi yang harus digali.</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><em>Atropologi 		Fisik ( Somatologi),</em></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> adalah bagian ilmu antropologi yang mempelajari tentang sejarah 		terjadinya aneka warna mahluk manusia dipandanga dari ciri-ciri 		tubuhnya. Baik yang lahiriah (fenotip) seperti warna kulit, rambut, 		indeks tengkorak, bentuk muka, warna mata, bentuk hidung, tinggi 		dan bentuk tubuh, maupun yan dalam (genotip), sperti frekuensi 		golongan darah dan sebagainya.</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><em>Etnolinguistik 		atau Antropologi Terapan, </em></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;">adalah 		suatu ilmu bagian yang pada mulanyabersangkutan erat dengan ilmu 		antropologi. Bahan penelitiannya berupa daftar kata-kata, ciri-ciri 		dan tata bahasa dari beratus-ratus bahasa suku bangsa di muka bumi.</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><em>Prehistori</em></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;">, 		mempelajari sejarah perkembangan dan penyebaran semua kebudayaan 		manusia di bumi dalam zaman manusia sebelum mengenal huruf.</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><em>Etnologi</em></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;">, 		adalah ilmu bagian yang mencoba mencapai pengertian mengenai 		azas-azas manusia dengan mempelajari kebudayaan-kebudayaan dalam 		masyarakat suku bangsa di bumi pada masa kini.</span></p>
</li>
</ol>
</li>
</ul>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> Spesialisasi antropologi, yaitu pengkhususan penelitian antropologi terhadap maslah-masalah praktis dalam masyarakat. Tahun 1930 ahli antropologi Inggris, R. Firth mulai meneliti dengan metode-metode antropologi gejala-gejala ekonomi pedesaan, penghimpunan modal, pengerahan tenaga, sistem produksi dan pemasaran lokal hasil pertanian dan perikanan di Oseania dan Malaysia. Penelitian ini yang nantinya memunculkan spesialisasi antropologi yang pertama yaitu antropologi ekonomi. Selain itu muncul antropologi pembangunan, yang menggunakan metode-metode, konsep-konsep, dan teori-teori antrpologi untuk mempelajari soal-soal pembangunan masyarakat. Desa. Kemudian muncul juga antropolgi; pendidikan, kesehatan, penduduk, politik, serta antropologi psikiatri yang meneliti maslah-masalah latar belakang sosial budaya dari penyakit-penyakit jiwa.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><strong>4. Hubungan  antara Antropologi Sosial dan Sosiologi</strong></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><strong> </strong></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><em>Persamaannya</em></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;">, sama-sama bertujuan untuk mencapai pengertian tentang azas-azas hidup masyarakat dan kebudayaan manusia pada umumnya.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> </span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><em>Perbedaannya</em></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;">;</span></p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Asal 	mula dan sejarah perkembangannnya berbeda.</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Perbedaan 	pengkhususan pokok dan bahan penelitian.</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Metode 	dan masalah yang khusus</span></p>
</li>
</ol>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> Ilmu antropologi sosial sebagai himpunan bahan keterangan tentang masyarakat  dan kebudayaan penduduk pribumi di luar Eropa untuk menjadi ilmu khusus karena kebutuhan orang Eropa untuk mendapat pengertian tentang tingkat-tingkat permulaan dalam perkembangan sejarah masyarakat dan kebudayaannya sendiri. Sebaliknya ilmu sosiologi mulai sebagai suatu filsafat sosial dalam rangka ilmu filsafat menjadi ilmu khusus karena krisis masyarakat di Eropa yang menyebabkan orang Eropa memerlukan pengetahuan lebih mendalam mengenai azas-azas masyarakat dan kebudayaannya sendiri. </span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> Kesimpulannya, akhir-akhir ini perbedaan anrtropologi sosial dengan sosiologi tidak dapat ditentukan lagi oleh perbedaan antara masyarakat suku-suku bangsa di luar Eropa dan juga Amerikadengan bangsa-bangsa Eropa-Amerika.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> Perbedaan metode ilmiah antropologi sosial dan sosiologi; pengalaman dalam hal meneliti masyarakat kecil memberi kesempatan ahli antropologi untuk mengembangkan metode penelitian intensif (kualitatif), misalnya metode wawancara. Sedangkan ahli sosiologi yang biasa meneliti masyarakat kompleks menggunakan metode bersifat penelitian meluas merata (kuantitatif), misalnya angket.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><strong>5. Hubungan Antropologi dan Ilmu-Ilmu Lain</strong></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><strong> </strong></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Hubungan ini biasanya bersifat timbal balik, saling membutuhkan dan melengkapi. Ilmu-ilmu lain yang terpenting antara lain; geologi, paleontology, anatomi, kesehatan masyarakat, psikiatri, linguistik, arkeologi, sejarah, geografi, ekonomi, hukum adat, administrasi, dan politik.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> Hubungan dengan ilmu geologi; bantuan ilmu geologi yang mempelajari lapian bumiserta perubahannya dibutuhkan oleh paleo-antropologi dan prehistori untuk menentukan umur relatif fosil manusia primate dan manusia zaman dulu serta artefak dan bekas-bekas kebudayaan yang digali dari lapisan bumi.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> Hubungan dengan paleontology; ilmu ini memberikan informasi tentang proses evolusi bentuk mahluk hidup zaman dulu hinggga sekarang.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> Hubungan dengan ilmu anatomi. Seorang ahli antropologi fisik yang meneliti ciri-ciri rasdi dunia sangat perlu ilmu anatomi karena ciri-ciri bagian tubuh manusia menjadi obyek	peneliti. Terpenting bagi ahli antropologi fisik untuk mengetahui asal mula penyebaran manusia di bumi.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> Hubungan dengan ilmu kesehatan masyarakat. Antropologi memberikan informasi kepada para dokter kesehatan masyarakat  yang akan bekerja dan hidup di dearah  dengan beragam kebudayaan. Metode-metode dan cara-cara untuk segera mengetahui dan menyesuaikan diri dengan kebudayaan dan adat istiadat lain.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> Hubungan dengan ilmu linguistik. Tiap peneliti yang mengumpulkan bahan etnografi di lapangan memerlukan pengetahuan secara cepat tentang bahasa penduduk di daerah yang ditelitinya. Dengan mengetahui ilmu bahasa, seorang peneliti menguasai alat untuk dengan cepat menganalisa dan mempelajari bahasa daerah tadi. Sehingga tugas penelitiannya dapat terlaksana dengan baik.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> Hubungan dengan ilmu arkeologi (ilmu sejarah kebudayaan purbakala). Sub ilmu antropologi, prehistori menggunakan sisa-sisa benda kebudayaan manusia yang tertingggaldalam lapisan-lapisan bumi, benda-benda ini yang dipelajari dalam arkeologi.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> Hubungan dengan ilmu sejarah, hampir menyerupai hubungan dengan ilmu arkeologi. Konsep-konsep tentang kehidupan masyarakat yang dikembangkan antropologi dan ilmu-ilmu sosial lainnya akan memakai pengertiankepada seorang ahli sejarah untuk mengisi latar belakang dari peristiwa politik dalam sejarah yang menjadi obyek penelitiannya. Ahli antropologi juga memerlukan sejarah dari suku-suku bangsa yang ditelitinya.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> Hubungan dengan ilmu geografi. Geograi tidak bisa mengabaikan antropologi karena salah satu obyek kajian geografi adalah manusia yang beraneka warnasifatnya di muka bumi ini. Sebaliknya, antropologi juga memerlukan geografi, karena banyak masalah kebudayaan manusia memiliki sangkut paut dengan keadaan lingkungan alamnya.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> Hubungan dengan ilmu ekonomi. Proses dan hukum-hukum ekonomi yang berlakudalam aktifitas ekonomi dipengaruhi oleh sistem kemasyarakatan, cara berpikir, serta pandangan hidup masyarakat. Ahli ekonomi yang hendak membangun ekonomi negara harus mengetahui sistem kemasyarakatan tadi yang dapat diperoleh dari antropologi.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> Hubungan dengan ilmu politik. Untuk dapat memahami latar belakang dan adat istiadat tradisional dari suatu suku bangsa, maka metose analisa antropologi menjadi penting; seorang ahli ilmu politik, untuk mendpat pengertian mengenai tingkah laku partai politik yang sedang dipelajarinya. Sebaliknya, seorang ahli antropologi dalam mempelajari masyarakat untuk menulis deskripsi etnografi tentang masyarakat tersebut tentu akan juga menghadapi sendiri kekuatan dan proses poitik lokal, serta aktivitas cabang-cabang partai politik nasional di situ. Untuk menganalisanya ia perlu konsep dan teori ilmu politiknya juga.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><strong>6. Metode Ilmiah dari Antropologi</strong></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><strong> </strong></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Metode ilmiah dari suatu ilmu pengetahuan ialah segala jalan atau cara dalam rangka ilmu tersebut, untuk sampai kepada ilmu pengetahuan. Tanpa metode ilmiah, suatu ilmu pengetahuan sebenarnya bukan suatu ilmu, melainkan suatu kumpulan pengetahuan saja. Kesatuan pengetahuan dapat dicapai melalui tiga tingkat</span><sup><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote1anc" href="#sdfootnote1sym"><sup>1</sup></a></span></sup><span style="font-family:Arial,sans-serif;">; 1) pengumpulan fakta, 2) penentuan ciri-ciri umum dan sistem, 3) verifikasi.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> </span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><em>Pengumpulan Fakta.</em></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> Untuk antropolgi budaya tingkat ini adalah pengumpulan fakta mengenai kejadian dan gejalamasyarakat dan kebudayaan untuk pengolahan secara ilmiah. Aktifitas pengumpulan fakta terdiri dari metode observasi, mencatat, mengolah, dan melukiskan fakta-fakta yang terjadi dalam masyarakat yang hidup. Pada umumnya, metode-metode pengumpulan fakta dalam ilmu pengetahuan dapat digolongkan; (i) penelitian di lapangan, (ii) penelitian di laboratorium, dan (iii) penelitian dalam perpustakaan. Dalam ilmu antropologi budaya, penelitian yang terpenting adalah penelitian lapangan.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> </span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><em>Penentuan Ciri-ciri Umum dan Sistem</em></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;">. Tujuannya untuk menentukan ciri umum dan sistemdalam himpunan fakta-fakta yang dikumpulkan dalam suatu penelitian. Proses berpikir secara ilmiah dalam ilmu antropologi ini menimbulkanmetode-metode yang hendak mencari ciri-ciri yang umum dalam aneka warna fakta dalam kehidupan masyarakat dan kebudayaan umat manusia. Proses berpikir disini berjalan secara induktif, dari pengetahuan tentang peristiwa dan fakta-fakta khusus dan konkret, kearah konsep mengenai ciri-ciri umum yang lebih abstrak.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> Adapun ilmu antropologi, yang bekerja dengan fakta-fakta dari banyak macam masyarakat dan kebudayaan dari seluruh dunia, dalam hal mencari ciri-ciri umumharus menggunakan berbagai metode membandingkan atau komparatif yang dimulai dengan metode klasifikasi.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> </span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><em>Verifikasi atau Pengujian</em></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;">. Terdiri dari cara-cara yang harus menguji kaidah-kaidah yang telah dirumuskan atauyang harus memperkuat pengertian yan telah dicapai. Disini proses berpikir berjalan secara deduktif dari perumusan umum, kembali ke arah fakta-fakta khusus.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="center"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><strong>II</strong></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="center"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><strong>KEPRIBADIAN</strong></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><strong>1. Definisi Kepribadian</strong></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><strong> </strong></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Kepribadian (personality) adalah susunan unsur-unsur akal dan jiwa yang menentukan perbedaan tingkah laku atau tindakan tiap-tiap individu manusia.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> Dalam bahasa populer, istilah “kepribadian” juga berarti ciri-ciri watak seseorang individu yang konsisten, yang memberikan kepadanya suatu identitas sebagai individu yang khusus. Dalam bahasa sehari-hari kita anggap seseorang tertentu mempunyai kepribadian, memang yang biasa kita maksudkan ialah ciri watak yang diperlihatkannya secara lahir, konsisten, dan konsekwen dalam tingkah lakunya sehingga tampak bahwa individu tersebut memiliki identitas khusus yang berbeda dengan individu lainnya.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> </span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><strong>2. Unsur-Unsur Kepribadian</strong></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><strong> </strong></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:medium;"><em>Pengetahuan</em></span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;">. Unsur-unsur yang mengisi akal dan jiwa seseorang manusia yang sadar, secara nyata terkandung dalam otaknya. Sesuatu yang dialami dan diterima melalui panca indera</span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><em> </em></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;">dan reseptor lainnya sebagai getaran eter (cahaya dan warna), getaran akustik(suara), bau, rasa, sentuhan, tekanan mekanikal (berat-ringan), panas-dingin, dan sebagainya, yang masuk ke dalam sel-sel tertentu di bagisn tertentu dalam otaknya. Di sana berbagai proses fisik, fisiologi, dan psikologi terjadi, yang menyebabkan berbagai macam getaran dan tekanan yang diolah menjadi suatu susunan yang dipancarkan atau diproyeksikan individu menjadi suatu penggambaran tentang lingkungan individu. Seluruh proses akal manusia yang sadar (conscious) tadi, dalam ilmu psikologi disebut “persepsi”.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> Penggambaran tentang lingkungan tersebut berbeda dengan sebuah gambar foto yang hanya memuat lingkungan yang terkena cahaya sehingga ditangkap oleh film melalui lensa kamera. Penggambaran oleh akal manusia hanya mengandung bagian-bagian yang khusus  yang mendapat perhatian dari akal si individu, sehingga merupakan suatu penggambaran yang terfokus pada bagian-bagian khusus tadi. Apabila individu tadi menutup matanya, maka akan terbayang dalam kesadarannya penggambaran yang berfokus dari alam yang baru saja dilihatnya tadi.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> Penggambaran lingkungan dengan focus kepada bagian yang paling menarik perhatian individ, sering kali diolah oleh suatu proses dalam akalnya yang menghubungkan penggambaran tadi dengan berbagai penggambaran lain sejenis yang pernah diterima dan diproyeksikan oleh akalnya dalam masa lalu, yang timbul kembali sebagai kenangan dalam kesadarannya. Dengan demikian, diperoleh penggambaraban baru dengan banyak pengertian tentang keadaan lingkungan. Penggambaran baru dengan pengertian baru seperti itu, alam psikologi disebut “apersepsi”.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> Suatu “persepsi” setelah diproyeksikan kembali oleh individu, menjadi penggambaran yang berfokus tentang lingkungan, karena tertarik, akan lebih intensif memusatkan akalnya terhadap bagian-bagian khusus tadi. Penggambaran yang lebih intensif terfokus, yang terjadi karena pemusatan akal yang lebih intensif, dalam ilmu psikologi disebut “pengamatan”.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> Dengan proses akal individu mempunyai kemampuan untuk mebentuk penggambaran baru yang abstrak yang dalam kenyataan tidak serupa dengan salah satu dari berbagai macam gambaran yang menjadi bahan konkret dari penggambaran baru itu. Misalnya manusia membuat penggambaran tentang tempat tertentu yang ia belum pernah melihatnya. Penggambaran abstrak dalam ilmu-ilmu sosial disebut “konsep”. Penggambaran baru yang seringkali tidak realistic disebut “fantasi”.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> Seluruh penggambaran, apersepsi, pengamatan, konsep, dan fantasi merupakan unsur-unsur “pengetahuan” seseorang individu yang sadar. Sebaliknya, banyak pengetahuan atau bagian dari seluruh himpunan pengetahuan yang ditimbun individu selama hidupnya, seringkali hilang dari alam akalnya yang sadar, atau dalam “kesadarannya”, karena berbagai macam sebab yang dipelajari oleh ilmu psikologi. Walaupun demikian perlu diperhatikan bahwa unsur-unsur pengetahuan tadi sebenarnyatidak hilang lenyap begitu saja, melainkan hanya terdesak masuk saja ke dalam bagian jiwa manusia yang dalam ilmu psikologi disebut “bawah sadar” (</span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><em>sub-conscious</em></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;">).</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> Dalam alam bawah sadar banyak pengetahuan yang larut dan terpecah-pecah menjadi bagian yang seringkali tercampur satu sama lain dengan tidak teratur. Proses ini terjadi karena tidak ada lagi akal sadar individu yang bersangkutan, yang menyusun dan menatanya dengan rapi walaupun terdesak ke alam bawah tak sadar, namun kadang-kadang bagian pengetahuan tadi muncul lagi di alam sadar dari jiwa individu tersebut.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> Pengetahuan individu juga dapat terdesak atau dengan sengaja didesak oleh individu itu, karena berbagai alasan ke dalam bagian jiwa manusia yang lebih dalam lagi, yaitu alam “tak sadar” (</span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><em>unconscious</em></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;">). Disanalah pengetahuan larut dan terpecah-pecah ke dalam bagian-bagian yang saling berbaur dan tercampur. Bagian yang telah tercampur ini kadang-kadang dapat muncul kembali pada saat akal yang mengatur kesadaran manusia dalam keadaan kendor atau tak berfungsi.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> Proses psikologi yang terjadi dalam alam bawah sadar dan alam tak sadar tadi dipelajari oleh ilmu psikologi yang disebut psiko-analisa, yang dikembangkan oleh ahli psikologi Jerman S. Freud.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> </span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:medium;"><em>Perasaan</em></span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><em>.</em></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> Perasaan adalah suatu keadaan dalam kesadaran manusia yang karena pengaruh pengetahuannya dinilainya sebagai suatu keadaan positif atau negative (baik-buruk).</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> Perasaan selalu bersifat subyektif karena adanya unsur-unsur penlaian, biasanya menimbulkan suatu “kehendak” dalam kesadaran seseorang individu. Kehendak itu juga positif – artinya individu tersebut ingin mendapatkan hal yang dirasakannya sebagai hal yang akan memberikan kenikmatan kepadanya, atau juga bisa negative, artinya ia hendak menghindari hal yang dirasakannya sebagai hal yang akan membawa perasaan tidak nikmat kepadanya. Suatu kehendak juga dapat menjadi sangat keras, dan hal itu sering terjadi apabila hal yang dikehendaki itu tidak mudah diperoleh, atau sebaliknya. Kehendak yang keras ini disebut “keinginan”. Keinginan yang sangat besar akan melahirkan emosi.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> </span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:medium;"><em>Dorongan Naluri</em></span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:medium;">. </span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Kesadaran manusia menurut para ahli psikologi juga mengandung berbagai perasaan lain yang tidak ditimbulkan karena pengaruh pengetahuannya, melainkan karena sudah trekandung dalam dirinya, khususnya dalam gen-nya sebagai naluri. Kemauan yang sudah merupakan naluri, oleh beberapa ahlipsikologi disebut “dorongan” (</span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><em>drive</em></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;">)</span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:medium;">. </span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Ada 7 macam dorongan naluri, yaitu:</span><sup><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote2anc" href="#sdfootnote2sym"><sup>2</sup></a></span></sup></p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Dorongan 	untuk mempertahankan hidup. Yang merupakan kekuatan biologi yang ada 	pada semua mahluk yang menyebabkan semua jenis mahluk mampu 	mempertahankan hidupnya.</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Dorongan 	sex. Dorongan ini timbul pada tiap individu yang normal tanpa 	terkena pengaruh pengetahuan, dan memang dorongan ini mempunyai 	landasan biologi yang mendorong mahluk manusia untuk membentuk 	keturunan yang melanjutkan jensinya.</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Dorongan 	untuk usaha mencari makan.</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Dorongan 	untuk bergaul atau berinteraksi dengan sesama manusia. Dorongan ini 	merupakan landasan biologi dari kehidupan masyarakat manusia sebagai 	mahluk kolektif.</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Dorongan 	untuk meniru tingkah laku sesamanya. Merupakan sumber dari adanya 	beragam kebudayaan diantara mahluk manusia karena adanya dorongan 	ini manusia mengembangkan adat yang memaksanya berbuat conform 	dengan manusia sekitarnya.</span><sup><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote3anc" href="#sdfootnote3sym"><sup>3</sup></a></span></sup></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Dorongan 	untuk berbakti. Dorongan ini memungkinkan ada dalam naluri manusia, 	karena manusia merupakan mahluk hidup kolektif, sehingga untuk dapat 	hidup bersama bersama manusia lain secara serasi ia perlu mempunyai 	suatu landasan biologiuntuk mengembangkan rasa; alturistik, simpati, 	cinta dan sebagainya, yang memungkinkannya untyuk hidup bersama itu. 	Kalau dorongan untuk berbagai hal itu diekstensikan dari sesama 	manusianya kepada kekuatan-kekuatan yang oleh perasaannya dianggap 	berada di luar akalnya, maka akan timbul religi.</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Dorongan 	akan keindahan, dalam arti keindahan bentuk, warna, suara, atau 	gerak. Pada seorang bayi dorongan ini sudah sering tampak pada 	gejala tertariknya seorang bayi kepada bentuk-bentuk tertentu dari 	benda-benda di sekitarnya, kepada warna-warna cerah, suara nyaring 	dan berirama, dan kepada gerak-gerak yang selaras. Dorongan ini 	merupakan landasan dari suatu unsur penting dalam kebudayaan 	manusia, yaitu kesenian.</span></p>
</li>
</ol>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><strong>3. Materi dari Unsur-Unsur Kepribadian</strong></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><strong> </strong></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Seorang ahli etnopsikologi, A.F.C Wallace membuat suatu kerangka di mana terdaftar secara sistem atikal seluruh materi yang menjadi obyek dan sasaran unsur-unsur kepribadian manusia. Kerangka itu menyebut tiga hal yang pada tahap pertama merupakan isi kepribadian yang pokok, yaitu:</span><sup><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote4anc" href="#sdfootnote4sym"><sup>4</sup></a></span></sup></p>
<ol type="I">
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Aneka 	warna kebutuhan organik diri sendiri, aneka kebutuhan serta dorongan 	psikologi diri sendiri, dan aneka warna kebutuhan serta dorongan 	organic maupun psikologi sesama manusia yang lain daripada diri 	sendiri; sedangkan kebutuhan-kebutuhan tadi dapat dipenuhi atau 	tidak dipenuhi oleh individu yang bersangkutan, sehingga memuaskan 	dan bernilai positif baginya, atau tidak memuaskan dan bernialai 	negative.</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Aneka 	warna hal yang bersangkutan dengan kesamaan identitas diri sendiri 	bauk aspek fisik maupun psikologinya, dan segala hal yang b 	ersangkutan dengan kesadaran individu mengenai macam-macam kategori 	manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, benda, zat, kekutan, dan gejala 	alam, baik yang nyata maupun yang gaib dalam lingkungan 	sekelilingnya.</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Berbagai 	macam cara untuk memenuhi, memperkuat, berhubungan, mendapatkan atau 	mempergunakan aneka warna kebutuhan dari hal tersebut di atas, 	sehingga tercapai keadaan memuaskan dalam kesadaran individu yang 	bersangkutan. Pelaksanaan berbagai macam caradan jalan tersebut 	terwujud dalam aktifitas hidup sehari-hari dari seorang individu.</span></p>
</li>
</ol>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><strong>4. Aneka Warna Kepribadian</strong></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><strong> </strong></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><em>Aneka warna Kepridian Iindividu.</em></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> Aneka warna materi yang  menjadi sisi dan sasaran dari pengetahuan, perasaan, kehendak, serta keinginan kepribadian serta perbedaan kualitas hubungan antara berbagai unsur kepribadian dalam kesadaran individu, menyebabkan adanya beraaneka macam struktur kepribadian pada setiap manusia, dan menyebabkan kepribadian tiap individu itu berbeda dengan individu lain.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> Antropolgi dan ilmu-ilmu sosial lain tidak mempelajari individu, tetapi mempelajari seluruh pengetahuan, gagasan, dan konsep yang umum hidup di masyarakat yang biasanya disebut sebagai adat istiadat (</span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><em>customs</em></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;">).</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> Tiap manusia mempunyai kepribadian yang berbeda, karena materi yang merupakan isi pengetahuan dan perasaan seorang individu itu berbeda dengan individu lain, dan juga sifat dan intensitas kaitan antara berbagai macam bentuk pengetahuan  dan perasaan juga berbeda.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> Ilmu antropologi memperhatika masalah kepribadian untuk memperdalam dan memahami adat istiadat  serta sistem sosial dari suatu masyarakat. Khususnya, ilmu antropologi juga mempelajari kepribadian yang ada pada sebagian besar warga suatu masyarakat, ytang disebut kepribadian umum/watak umum (</span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><em>modal personality</em></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;">).</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> </span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><em>Kepribadian Umum.</em></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> Para pengarang etnografi abad ke-19 yang lalau hingga tahun 1930-an sering mencantumkan dalam karangan etnografi mereka tentang watak atau kepribadian umumdari warga kebudayaan yang menjadi topik etnografi mereka. Pelukisan watak itu biasanya berdasarkan kesan dari pengalaman bergaul dengan para warga kebudayaan yang sedang mereka teliti.  Tahun 1930-an seorang ahli antropologi, R. Linton, mengembangkan suatu penelitian terhadap soal kepribadian umum. Ia mencari hubungan dengan para ahli psikologi untuk mempertajam pengertiannyamengenai konsep-konsep psikologi yang menyangkut kepribadian umum, dan bersama-sama mereka mencari suatu metode yang eksak untuk mengukurnya. Seorang ahli psikologi yang menaruh terhadap proyek Linton adalah A. Kardiner, usaha pertama mereka adalah suatu penelitian terhadap penduduk Kepulauan Marquesas, bagian timur Polinesia, dan suku bangsa Tanaladi bagian timur Pulau Madagaskar. Linton mencari bahan etnografinya, sedangakan A. Kardiner menerapkan metode-metode psikologinya serta menganalisa data psikologinya. Hasilnya sebuah buku berjudul </span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><em>Individual and His-Society</em></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> (1938).</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> Dalam rangka proyek bersama antara Linton dan Kardiner tersebut, dipertajam konsep kepribadian umum sehingga timbul konsep “kepribadian dasar”(</span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><em>basic personality structure</em></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;">) yang berarti : semua unsur kepribadian yang dimiliki bersama oleh suatu bagian besar dari warga suatu masyarakat itu. Kepribadian dasar itu ada karena semua individu warga dari suatu masyarakat itu mengalami pengaruh lingkungan kebudayaan yang sama selama masa tumbuhnya. Metodologi untuk mengumpulkan data mengenai kepribadian bangsa adalah dengan mengumpulkansuatu smpel dari individu-individu warga masyarakat yang menjadi obyek penelitian, kemudian tiap individu dalam sample diteliti kepribadiannya dengan test-test psikologi. Hasilnya suatu daftar ciri-ciri watak yang secara statistic ada pada suatu persentase yang besar dari individu-individu dalam sampel tadi.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> Penelitian suatu kebudayaan juga dilaksanakan dengan metode lain berdasarkan suatu pendirian dalam ilmu psikologi bahwa ciri-ciri dan unsur watak seorang individu dewasa sebenarnya sudah diletakkan benih-benihnya ke dalam jiwa seorang individu sejak sangat awal, yaitu masa anak-anak. Pembentukan watak dalam jiwa idividu banyak dipengaruhi oleh pengalamannya ketika masih anak-anak ia diasuh orang di sekitarnya, ibu, ayah, kakak, dan individu lain yang biasa mengerumuninya waktu itu. Watak juga ditentukan oleh cara-cara sewaktu kecil diajar makan, diajar kebersihan, kedisiplinan, main dan bergaul dengan anak-anak lain dan sebagainya. Oleh karena itu, dalam tiap kebudayaan cara pengasuhan anak menunjukan keseragaman pola-pola adat dan norma-norma tertentu, maka ketika anak-anak itu menjadi dewasa, beberapa unsur watak yang seragam akan tampak menonjol pada banyak individu yang telah menjadi dewasa itu.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> Para ahli antropologi berpendirian bahwa dengan mempelajari adat istiadat pengasuhan anak yang khas akan dapat diduga adanya berbagai unsur kepribadian yang merupakan akibat dari pengalaman-pengalaman sejak masa kanak-kanak pada sebagian besar warga masyarakat yang bersangkutan.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> Metode penelitian kepribadian umum dengan cara mempelajari adat istiadat, pengasuhan anak-anak dalam suatu kebudayaan, terutama dikembangkan oleh ahli anropologi terkenal, Margeret Mead, tidak hanya suku-suku bangsa di Melanisia, “khususnya Papua Nugini, melainkan juga di Bali. Buku-buku Mead di mana metode penelitian kepribadian umum berdasarkan adat pengasuhan anak terurai tadi dikembangkan, dan di mana hasil kedua penelitiannya tersebut diatas dimuat, adalah </span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><em>Growing Up in New Guinea </em></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;">(1930), dan</span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><em> Children and Ritual in Bali</em></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> (1955). Suatu buku lain yang juga hasil penelitian di Bali yang ditulis bersama G. Bateson, berjudul </span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><em>Balinese Character. A Phothographic Analysis </em></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;">(1942).</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> </span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><em>Keepribadian Barat dan Kepribadian Timur</em></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;">. Pada mulanya tulisan-tulisan para sarjana sejarah kebudayaan, para pengarang kesusasteraan, serta para penyair Eropa Barat, bila mereka menyinggung pandangan hidup manusia yang hidup dalam kebudayaan-kebudayaan Asia ( Islam, Hindu Budha, dan Cina) yang lokasi geografinya senua memang di sebelah timur Eropa menyebutnya sebagai kebudayaan Timur.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> Kemudian ketika para pengarang Eropa berkenalan dengan kebudayaan lain di Asia seperti Kebudayaan Parsi, Kebudayaan Thai, Kebudayaan Jepang, atau Kebudayaan Indonesia, maka pandangan hidup serta kepribadfian manusia yang hidup di dalam kebudayaan-kebudayaan tersebut itu juga dinamakan kepribadian Timur. Semua kebudayaan bukan Eropa Barat, disebut pandangan hidup dan kerpibadian Timur. Denan demikian timbul dua konsep yang kontras, yaitu Kepridaian Timur dan Keprribadian Timur.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> Konsep kontras tersebut kemudian juga diambil alih oleh para pengarang Asia sendiri, sehingga oleh para pengarang dan penyair Indonesia mulai dipakai konsep Timur-Barat dalam arti kontras tersebut, dan tidak jarang dalam karangan-karangan mereka konsep kebudayaan Timur lawan kebudayaan Barat, pandangan hidup Timur lawan pandangan hidup Barat, dan kerpibadian Timur lawan kepribadian Barat. Dalam rangka pemakaian kedua konsep yang kontras itu ada berbagai macam pandangan di antara para cendekiawan Indonesia, yang sering bersifat kabur. Mareka yang suka mendiskusikan kontras antara kedua konsep tersebut biasanya menyangka bahwa kepribadian Timur mempunyai pandangan hidup yang mementingkan kehidupan kerohanian, mistik, pikiran prelogis, keramah-tamahan, dan kehidupan kolektif sedangkan kepribadian Barat mempunyai pandangan hidup yang mementingkan kehidupan material, pikiran logis, hubungan berdasarkan azas guna, dan individualisme.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> </span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> Kontras kolektivisme-individualisme Timur-Barat merupakan kontras orientasi nilai budaya manusia dan dapat dikaitkan dengan konsep kepribadian Timur-Barat yang pernah sarjana Amerika keturunan Cina, Francis L.K. Hsu, yang mengkombinasikan dirinyasuatu keahlian dalam dalam ilmu antropologi, psikologi, filsafat, serta kesusteraan Cina klasik, dalam sebuah karangannya berjudul </span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><em>Psychological Homeostatis and Jen</em></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;">, menurut Hsu ilmu ilmu psikologi yang dikembangkan orang Eropa Barat, di mana konsep individu memang mengambil tempat yang sangat penting, biasanya menganalisa jiwa manusia dengan terlampau banyak menekan kepada pembatasan konsep individu sebagai suatu kesatuan analisa tersendiri. Sampai sekarang ilmu psikologi di negara Barat itu terutama mengembangkan konsep-konsep dan teori-teori mengenai aneka warna isi jiwa serta metode-metode dan alat-alat untuk menganalisa dan mengukur secara detail variasi isi jiwa individu dan lingkungan sosial budayanya. Dengan emikian untuk menghindari pendekatan terhadap jiwamanusia itu, hanya sebagi suatu obyek yang terkandung dalam batas individu yang terisolasi, maka Hsu mengembangkan konsepsi bahwa alam jiwa manusia sebagai mahluk sosial budaya itu mengandung  delapan daerah yang berwujud seolah-olah seperti lingkaran konsentrikal sekitar diri pribadinya.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> Lingkaran nomor 7 dan 6 adalah daerah dalam jiwa individu yang oleh para ahli psikologi disebut daerah “ tak sadar” dan “subsadar”. Kedua daerah itu berada di daerah pedalaman dari alam jiwa individu , terdiri dari bahan pikiran dan gagasan yang telah terdesak ke dalam sehinggga tak disadari lagi oleh individubersangkutan. Bahan pemikiran dan gagasan tadi sering sudah tak utuh lagi, hilang terlupakan, dan unsur-unsurnya, bagian isi impian sudah tidak lagi tersusun menurut logikayang biasa dianut oleh manusia dalam kehidupan sehari-hari, individu sudah lupa terhadap gagasan tersebut, tetapi dalam keadaan-keadaan tertentu unsur-unsur itu dapat meledak keluar lagi dan mengganggu kebiasaan hidup sehari-hari.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> Lingkaran nomor 5 disebut Hsu “kesadaran yang tak dinyatakan” (</span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><em>unexpressed consciousness</em></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;">). Lingkaran itu terdiri dari pikiran-pikiran dan gagasan-gagasan yang disadarai penuh oleh individu bersangkutan, tetapi yang disimpan saja dalam alam jiwanya sendiri dan tidak dinyatakan kepada siapapun juga dalam lingkungannya. Kemungkinannya bahwa; (i) ia takut salah atau takut dimarahi orang apabila ia menyatakannya, atau ia mempunyai maksud jahat, (ii) ia sungkan menyatakannya karena ia belum yakin bahwa ia akan mendapat respond an pengertian yang baik dari sesamanya, atau takut walaupun mendapat respon, sebenarnya resp[on itu tidak diberikan dengan hati yang ikhlas, atau karena ia takut ditolak mentah-mentah, (iii) ia malu karena takut ditertawakan atau karena ada perasaan bersalah yang mendalam, (iv) ia tidak dapat menemukan kata-kata atau rumusan yang cocok untukmenyatakan gagasan yang bersanngkutan tadi kepada sesamanya.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> Lingkaran nomor 4 disebut “kesadaran yang dinyatakan” (</span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><em>expressed conscious</em></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;">). Lingkaran ini dalam alam jiwa manusia mengandung pikiran-pikiran gagasan-gagasan, dan perasaan-perasaan yang dapat dinyatakan secara terbuka oleh individu kepada sesamanya, yang dengan mudah dapat diterima dan dijawab pula oleh sesamanya. Simpati, kemarahan, kebencian, rasa puas, rasa senang, kegembiraan, rasa terima kasi, kosep-konsep tentang tata cara hidup sehari-hari, pengetahuan yang juga dipahami oleh umum, adat istiadat, peraturan sopan santun, dan sebagainya, yang dikenal oleh semua orang dan banyak hal lain, semua itu menjadi bahan aktifitas berpikir dan pencetusan emosi manusia dari waktu ke waktu.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> Lingkaran nomor 3 adalah “lingkaran hubungan karib” (</span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><em>intimate society</em></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;">) mengandung konsepsi-konsepsi tentang orang-orang, binatang, atau benda-benda yang oleh individu diajak bergaul secara mesra dan karib, yang bisa dipakai sebagai tempat  berlindung dan sebagai tempat mencurahkan isi hati apabila sedang terkena tekanan batin atau dikejar-kejar oleh kesedihanserta masalah-masalah hidup yang menyulitkan. Orang tua, saudara sekandung, kerabat dekat, sahabat karib, biasanya merupakan penghuni penting dari daerah lingkaran nomor 3 dalam alam pikiran manusia ini, yang kecuali oleh tokoh-tokoh manusia sering juga ditempati oleh pikiran-pikiran, perasaan terhadap binatang kesayangan, benda kesayangan, benda pusaka, ide-ide atau ideologi-ideologi yang dapat menjadi sasaran rasa kebaktian penuh dari jiwanya, seperti halnya Tuhan bagi kita, dan sebgainya.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> Sikap manusia terhadap orang, binatang atau benda-benda dalam lingkaran nomor 2, yang dapat kita sebut “lingkungan hubungan berguna” tidak lagi ditandai oleh sikap sayang mesra, melainkan ditentukan oleh fungsi kegunaan dari orang, binatang, atau benda-benda itubagi dirinya. Bagi seorang murid, guru berada di daerah lingkungan 2 dari alam pikirannya; bagi pedagang , para pembeli berada di tempat itu, pakaian sehari-hari, perabot rumah tangga, uang dan sebagainya.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> Lingkaran nomor 1, yang disebut ingkungan hubungan jauh”, terdiri dari pikiran dan sikap dalam alam jiwa manusia tentang manusia, benda, alat, pengetahuan, dan adat yang ada dalam kebudayaan dan masyarakatnya sendiri, tetapi yang jarang sekali mempeunyai arti dan pengaruh lngsung terhadap kehidupannya sehari-hari. Bagi petani Jawa di desa-desa di Jawa Tengah, pandangan mereka tentang kota Jakarta mungkin terletak dalam daerah lingkaran ini. Orang tadi mungkin akan kagum apabila mereka mendengar mengenai kota Jakarta, tetapi sesuadah itu tak akan ada kelanjutan lebih jauh dari kekaguman tadi, karena bagi mereka hal itu tiak ada tempat dan fungsi langsung dalam kehidupan mereka sehari-hari.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> Daerahnomor 0 disebut “lingkaran dunia luar” terdiri dari pikiran-pikiran dan anggapan-anggapan yang hampir sama dengan pikiran-pikiran yang terletak dalam lingkaran nomor 1, bedanya yang pertama terdiri dari pikiran-pikiran dan anggapan-anggapan tentang orang dan hal yang terletak di luar masyarakat dan negara Indonesia, dan ditanggapi oleh individu bersangkutan dengan masa bodoh. Contohnya; anggapan seorang pelajar Indonesia yang tidak pernah pergi ke luar negeri, tentang negara Columbia, pandangan seorang tukang kebun di Papua tentang orang Eskimo dan sebagainya.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> Daerah lingkaran nomor 4 dibatasi oleh garis yang digambar lebih tebal dari garis yang lain. Itu menggambarkan bats dari alam jiwa individu yang disebut “kepribadian”. Sebagian besar dari isi jiwa manusia (termasuk yang telah didesak ke dalam daerah tak sadar dan sub-sadar), sebagian besar dari pengetahuan dan pengertiannya tentang adat istiadat, dan kebudayaannya, sebagian besar dari pengetahuan dan pengertiannya tentang lingkungannya, dan sebagian besar dari nilai budaya dan norma-norma yang dianutnya, menurut psikologi Barat terkandung dalam kepribadian manusia. Itulah yang merupakan konsep ego atau akunya manusia dalam psikologi Barat.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> Menurut Francis Hsu, mahluk manusia masih memerlukan suatu daerah isi jiwa tambahan untuk memuaskan suatu kebutuhan rohaniah yang bersifat fundamental dalam hidupnya. Daerah isi jiwa tambahan terhadap lingkaran- nomor 7, 6, 5, dan 4 yang menggambarkan kepribadian manusia tadi, adalah nomor lingkaran 3. hubungan yang berdasarkan cinta dan kemesraan dan juga rasa untuk berbakti secara penuh dan mutlak, merupakan suatu kebutuhan fundamental dalam hidup manusia. Tanpa adanya tokoh-tokoh atau benda-benda kesayangan, tanpa Tuhan, tanpa ide atau ideology yang menjadi sasaran dari rasa kebaktian mutlak yang semuanya menempati daerah lingkaran 3 dalam alam jiwanya, hidup kerohanian manusia tidak akan seimbang selaras. Manusia yang tidak mempunyai semua itu akan merupakan manusia yang sangat menderita, karena ia kehilangan mutu hidup, kehilangan arti untuk hidup, dan kehilangan landasan dari rasa keamanan murni dalam hidupnya. Manusia seperti itu sering memilih jalan keluar dari penderitaan dengan bunuh diri.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> Hsu mengusulkan mengembangkansuatu konsep kapribadian yang lain sebagai tambahan terhadap konsep </span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><em>personality</em></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> yang telah lama dikembangkan oleh para ahli psikologi Barat. Konsep ini dipakai untuk menganalisa alam jiwa manusia yang hidup di masyarakat Timur, khususnya Cina, dan Asia pada umumnya.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> </span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><em>Jen </em></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;">adalah “manusia yang berjiwa selaras, manusia yang berkepribadian”. Dengan demikian usul Hsu adalah menyatakan agar para ahli psikologi tidak hanya memakai konsep psikologi Barat mengenai kepribadian itu, tetapi juga memperhatikan unsur hubungan mesra dan bakti itu. Dalam konsep </span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><em>jen </em></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;">tersebut di atas, manusia yang selaras dan berkepribadian adalah manusia yang dapat menjaga keseimbangan hubungan diri kepribadiannya dengan lingkungan sekitarnya, terutama yang paling dekatdan paling serius, kepada siapa ia dapat mencurahkan rasa cinta, kemesraan, dan baktinya.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> Dalam bagan di atas, nomor 4 dan 3, dibedakan dari yang lain dengan garis arsir yang sedikit memasuki daerah nomor 5 dan nomor 2 juga, menggambarkan konsep </span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><em>jen</em></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> atau alam jiwa dari “manusia yang berjiwa selaras” itu. Kedua lingkaran itu adalah daerah-daerah dalam jiwa individu yang ada dalam suatu keaadaanpsikologi yang oleh Hsu disebut </span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><em>psychological homeostatis</em></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> (= judul karangannya).</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> Hampir semua manusia di dunia, kata Hsu selanjutnya, hidup dimulai dengan orang tua dan saudara-saudara sekandungnya. “Masyarakat hubungan karib” inilah (lingkaran 3), yang merupakan bentuk masyarakat berbagi suku bangsa tertentu di Indonesia, dan masyarakat lain di dunia yang berdasarkan prinsip keturunan matrilineal,</span><sup><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote5anc" href="#sdfootnote5sym"><sup>5</sup></a></span></sup><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> saudara laki-laki ibu juga akan masuk ke dalam lingkaran “masyarakat karib” itu. Dalam masyarakat semua suku bangsa di Indonesia dan Asia (bangsa Timur), orang tua dan saudara-saudara sepupu tetap dianggap sebagai warga “masyarakat karib” selama mereka masih hidup. Orang-orang tersebut akan menjadi obyek dari rasa kemesraannya, dan dalam masa kesulitan dan tekanan batin, orang-orang tadilah yang menjadi tempat berlindung dan sumber pertolongan pertama.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> Dalam masyarakat Eropa “masyarakat karib” dari tiap individu pada mulanya juga terdiri dari orang tua serta saudara-saudara kandungnya; tetapi apabila ia telah merasa dewasa, ia akan memisahkan diri dari “masyarakat intimnya” dan akan mencari orientasi dan jalan hidupnya sendiri.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> Kegigihan manusia Barat terhadap hidup tidak lain karenatidak adanya sekelompok manusia yang secara otomatis dapat dianggapnya sebagai “lingkungan karib”. Ia harus selalu mencari orang-orang itu, bila tidak menemukannya, maka seekor anjing atau kucing kesayangan pun jadi. Untuk mengisi lingkungan itu. Dan kalau ia tidak menemukannya juga, ia akan gigih mencari suatu tujuan hidup lain yang berarti. Ia secara gigih akan mengeksplorasi lautan dan benua, meneliti alam, zat-zat atau hidup dalam laboratorium.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> </span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;">Manusia Timur, tidak memiliki sikap hidup yang gigih seperti itu karena salah satu kebutuhannya yang pokok, yaitu “lingkungan karib” sudah otomatis ada. Sikap hidup yang gigih tidak perlu menjadi kebiasaannya, dan ia hidup mengambang dengan selaras, puas dan bahagia dengan apa yang dimilikinya, menikmati keindahan hidup sekitarnya, atau kalau hidup tidak indah tetapi penuh dosa dan kesengsaraan, maka sikap orang Indonesia adalah untuk tetap mencoba dan melihat unsur-unsur keindahandalam kesengsaraan itu.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="center"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">DAFTAR PUSTAKA</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="center">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Koentjaraningrat. </span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><em>Pengantar Ilmu Antropologi</em></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;">. Jakarta: PT Rineka Cipta, 2000.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"> </span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<div id="sdfootnote1">
<p class="sdfootnote"><a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote1sym" href="#sdfootnote1anc">1</a> A. Wolff, <em>Essentials of Scientific Method</em> (1925 : hlm. 	10-15)</p>
</div>
<div id="sdfootnote2">
<p class="sdfootnote" align="justify"><a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote2sym" href="#sdfootnote2anc">2</a> W.MacDougall, <em>Introduction to Social Psychology.</em> Boston, Luce 	1908.</p>
</div>
<div id="sdfootnote3">
<p class="sdfootnote" style="margin-left:.22cm;text-indent:-.2cm;" align="justify"><a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote3sym" href="#sdfootnote3anc">3</a>Dalam 	ilmu sosiologi memang ada teori yang mendasarkan berfungsinya 	kebudayaan manusiakepada hasrat manusia untuk meniru, yaitu teori 	dari ahli kriminologi Perancis, G. Tarde dalam bukunya <em>Les Lois 	de I`lmitation </em>(1890).</p>
</div>
<div id="sdfootnote4">
<p class="sdfootnote"><a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote4sym" href="#sdfootnote4anc">4</a> A.F.C. Wallace, <em>Culture and Personality</em>, New York, Random 	House 1996 :  h.16 – 20</p>
</div>
<div id="sdfootnote5">
<p class="sdfootnote"><a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote5sym" href="#sdfootnote5anc">5</a> Menghitung garis keturunan dari garis ibu dan kerabat wanita.</p>
</div>
<br />Posted in Uncategorized  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/haryono10182.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/haryono10182.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/haryono10182.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/haryono10182.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/haryono10182.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/haryono10182.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/haryono10182.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/haryono10182.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/haryono10182.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/haryono10182.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/haryono10182.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/haryono10182.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/haryono10182.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/haryono10182.wordpress.com/59/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=haryono10182.wordpress.com&amp;blog=5778151&amp;post=59&amp;subd=haryono10182&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://haryono10182.wordpress.com/2009/01/28/pengantar-antropologi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4e360807ddc2482d9b6bf85e2b43d15e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">haryono10182</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MODEL-MODEL PEMBELAJARAN</title>
		<link>http://haryono10182.wordpress.com/2009/01/02/model-model-pembelajaran/</link>
		<comments>http://haryono10182.wordpress.com/2009/01/02/model-model-pembelajaran/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Jan 2009 07:08:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>haryono10182</dc:creator>
				<category><![CDATA[PENDIDIKAN]]></category>
		<category><![CDATA[metode debat]]></category>
		<category><![CDATA[model-model pembelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[problem solving]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://haryono10182.wordpress.com/?p=33</guid>
		<description><![CDATA[Model-model pembelajaran, antara lain :
Metode debat merupakan salah satu metode pembelajaran yang sangat penting untuk meningkatkan kemampuan akademik siswa. Materi ajar dipilih dan disusun menjadi paket pro dan kontra. Siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok dan setiap kelompok terdiri dari empat orang. Di dalam kelompoknya, siswa (dua orang mengambil posisi pro dan dua orang lainnya dalam posisi kontra) melakukan perdebatan tentang topik yang ditugaskan. Laporan masing-masing kelompok yang menyangkut kedua posisi pro dan kontra diberikan kepada guru.<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=haryono10182.wordpress.com&amp;blog=5778151&amp;post=33&amp;subd=haryono10182&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="post-42" class="post hentry category-blogroll">
<h2>Model-Model Pembelajaran, Antara Lain:</h2>
<div class="entry"><span class="jump"><a href="http://wijayalabs.wordpress.com/2008/04/22/model-model-pembelajaran/#comments"></a></span></p>
<div class="snap_preview">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Metode debat merupakan salah satu  metode pembelajaran yang sangat penting untuk meningkatkan kemampuan akademik  siswa. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Materi ajar  dipilih dan disusun menjadi paket pro dan kontra. Siswa dibagi ke dalam beberapa  kelompok dan setiap kelompok terdiri dari empat orang. Di dalam kelompoknya,  siswa (dua orang mengambil posisi pro dan dua orang lainnya dalam posisi kontra)  melakukan perdebatan tentang topik yang ditugaskan. Laporan masing-masing  kelompok yang menyangkut kedua posisi pro dan kontra diberikan kepada  guru.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Selanjutnya guru dapat mengevaluasi  setiap siswa tentang penguasaan materi yang meliputi kedua posisi tersebut dan  mengevaluasi seberapa efektif siswa terlibat dalam prosedur debat.<br />
Pada  dasarnya, agar semua model berhasil seperti yang diharapkan pembelajaran  kooperatif, setiap model harus melibatkan materi ajar yang memungkinkan siswa  saling membantu dan mendukung ketika mereka belajar materi dan bekerja saling  tergantung (interdependen) untuk menyelesaikan tugas. Ketrampilan sosial yang  dibutuhkan dalam usaha berkolaborasi harus dipandang penting dalam keberhasilan  menyelesaikan tugas kelompok. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Ketrampilan ini dapat diajarkan  kepada siswa dan peran siswa dapat ditentukan untuk memfasilitasi proses  kelompok. Peran tersebut mungkin bermacam-macam menurut tugas, misalnya, peran  pencatat (recorder), pembuat kesimpulan (summarizer), pengatur materi (material  manager), atau fasilitator dan peran guru bisa sebagai pemonitor proses  belajar.</span></p>
<h3><span style="color:#99cc00;"><a title="Tautan Tetap ke &quot;Metode Role Playing&quot;" href="http://gurupkn.wordpress.com/2007/11/16/metode-role-playing/">Metode  Role Playing</a></span></h3>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Metode Role Playing adalah suatu  cara penguasaan bahan-bahan pelajaran melalui pengembangan imajinasi dan  penghayatan siswa. Pengembangan imajinasi dan penghayatan dilakukan siswa dengan  memerankannya sebagai tokoh hidup atau benda mati. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Permainan ini pada umumnya  dilakukan lebih dari satu orang, hal itu bergantung kepada apa yang diperankan. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Kelebihan metode Role  Playing:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Melibatkan seluruh siswa dapat  berpartisipasi mempunyai kesempatan untuk memajukan kemampuannya dalam  bekerjasama.</span></p>
<ol type="1">
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Siswa  bebas mengambil keputusan dan berekspresi secara utuh.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Permainan  merupakan penemuan yang mudah dan dapat digunakan dalam situasi dan waktu yang  berbeda.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Guru  dapat mengevaluasi pemahaman tiap siswa melalui pengamatan pada waktu melakukan  permainan.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Permainan  merupakan pengalaman belajar yang menyenangkan bagi anak.</span></li>
</ol>
<h3><a title="Tautan Tetap ke &quot;Metode Pemecahan Masalah (Problem Solving)&quot;" href="http://gurupkn.wordpress.com/2007/11/16/metode-pemecahan-masalah-problem-solving/">Metode  Pemecahan Masalah (Problem Solving)</a></h3>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Metode pemecahan masalah  (problem solving) adalah penggunaan metode dalam kegiatan pembelajaran dengan  jalan melatih siswa menghadapi berbagai masalah baik itu masalah pribadi atau  perorangan maupun masalah kelompok untuk dipecahkan sendiri atau secara  bersama-sama.<br />
Orientasi pembelajarannya adalah investigasi dan penemuan yang  pada dasarnya adalah pemecahan masalah.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Adapun keunggulan metode  problem solving sebagai berikut:</span></p>
<ol type="1">
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Melatih  siswa untuk mendesain suatu penemuan.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Berpikir  dan bertindak kreatif.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Memecahkan masalah yang dihadapi  secara realistis</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Mengidentifikasi dan melakukan  penyelidikan.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Menafsirkan dan mengevaluasi hasil  pengamatan.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Merangsang perkembangan kemajuan  berfikir siswa untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dengan tepat.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Dapat  membuat pendidikan sekolah lebih relevan dengan kehidupan, khususnya dunia  kerja.</span></li>
</ol>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Kelemahan metode problem  solving sebagai berikut:</span></p>
<ol type="1">
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Beberapa  pokok bahasan sangat sulit untuk menerapkan metode ini. Misal terbatasnya  alat-alat laboratorium menyulitkan siswa untuk melihat dan mengamati serta  akhirnya dapat menyimpulkan kejadian atau konsep tersebut.</span><span style="font-size:10pt;"> </span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Memerlukan alokasi waktu yang lebih  panjang dibandingkan dengan metode pembelajaran yang lain.</span><span style="font-size:10pt;"> </span></li>
</ol>
<h3><a title="Tautan Tetap ke &quot;Pembelajaran Berdasarkan Masalah&quot;" href="http://gurupkn.wordpress.com/2007/11/16/pembelajaran-berdasarkan-masalah/">Pembelajaran  Berdasarkan Masalah</a></h3>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Problem Based Instruction  (PBI) memusatkan pada masalah kehidupannya yang bermakna bagi siswa, peran guru  menyajikan masalah, mengajukan pertanyaan dan memfasilitasi penyelidikan dan  dialog.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Langkah-langkah:</span></p>
<ol type="1">
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Guru  menjelaskan tujuan pembelajaran. Menjelaskan logistik yang dibutuhkan.  Memotivasi siswa terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah yang dipilih.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Guru  membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang  berhubungan dengan masalah tersebut (menetapkan topik, tugas, jadwal,  dll.)</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Guru  mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan  eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah, pengumpulan data,  hipotesis, pemecahan masalah.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Guru  membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti  laporan dan membantu mereka berbagi tugas dengan temannya.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Guru  membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan  mereka dan proses-proses yang mereka gunakan.</span></li>
</ol>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Kelebihan:</span></p>
<ol type="1">
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Siswa  dilibatkan pada kegiatan belajar sehingga pengetahuannya benar-benar diserapnya  dengan baik. </span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Dilatih  untuk dapat bekerjasama dengan siswa lain. </span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Dapat  memperoleh dari berbagai sumber. </span></li>
</ol>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Kekurangan: </span></p>
<ol type="1">
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Untuk  siswa yang malas tujuan dari metode tersebut tidak dapat tercapai.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Membutuhkan banyak waktu dan  dana.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Tidak  semua mata pelajaran dapat diterapkan dengan metode ini</span></li>
</ol>
<h3><a title="Tautan Tetap ke &quot;Cooperative Script&quot;" href="http://gurupkn.wordpress.com/2007/11/16/cooperative-script/">Cooperative Script</a></h3>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Skrip kooperatif adalah  metode belajar dimana siswa bekerja berpasangan dan secara lisan mengikhtisarkan  bagian-bagian dari materi yang dipelajari.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Langkah-langkah:</span></p>
<ol type="1">
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Guru  membagi siswa untuk berpasangan.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Guru  membagikan wacana / materi tiap siswa untuk dibaca dan membuat ringkasan.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Guru dan  siswa menetapkan siapa yang pertama berperan sebagai pembicara dan siapa yang  berperan sebagai pendengar.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Pembicara  membacakan ringkasannya selengkap mungkin, dengan memasukkan ide-ide pokok dalam  ringkasannya. Sementara pendengar menyimak / mengoreksi / menunjukkan ide-ide  pokok yang kurang lengkap dan membantu mengingat / menghapal ide-ide pokok  dengan menghubungkan materi sebelumnya atau dengan materi lainnya.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Bertukar  peran, semula sebagai pembicara ditukar menjadi pendengar dan sebaliknya, serta  lakukan seperti di atas.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Kesimpulan guru.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Penutup.</span></li>
</ol>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Kelebihan:</span></p>
<ul type="disc">
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Melatih  pendengaran, ketelitian / kecermatan.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Setiap  siswa mendapat peran.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Melatih  mengungkapkan kesalahan orang lain dengan lisan.</span></li>
</ul>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Kekurangan:</span></p>
<ul type="disc">
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Hanya  digunakan untuk mata pelajaran tertentu</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Hanya  dilakukan dua orang (tidak melibatkan seluruh kelas sehingga koreksi hanya  sebatas pada dua orang tersebut).</span></li>
</ul>
<h3><a title="Tautan Tetap ke &quot;Picture and Picture&quot;" href="http://gurupkn.wordpress.com/2007/11/16/picture-and-picture/">Picture  and Picture</a></h3>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Picture and Picture adalah  suatu metode belajar yang menggunakan gambar dan dipasangkan / diurutkan menjadi  urutan logis.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Langkah-langkah:<br />
1.  Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai.<br />
</span><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">2. Menyajikan materi sebagai  pengantar.<br />
3. Guru menunjukkan / memperlihatkan gambar-gambar yang berkaitan  dengan materi.<br />
4. Guru menunjuk / memanggil siswa secara bergantian memasang  / mengurutkan gambar-gambar menjadi urutan yang logis.<br />
</span><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">5. Guru menanyakan alas an / dasar  pemikiran urutan gambar tersebut.<br />
6. Dari alasan / urutan gambar tersebut  guru memulai menanamkan konsep / materi sesuai dengan kompetensi yang ingin  dicapai.<br />
7. Kesimpulan / rangkuman.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Kebaikan:<br />
1. Guru lebih  mengetahui kemampuan masing-masing siswa.<br />
2. Melatih berpikir logis dan  sistematis.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Kekurangan:Memakan banyak  waktu. Banyak siswa yang pasif.</span></p>
<h3><a title="Tautan Tetap ke &quot;Numbered Heads Together&quot;" href="http://gurupkn.wordpress.com/2007/11/14/numbered-heads-together/">Numbered  Heads Together</a></h3>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Numbered Heads Together  adalah suatu metode belajar dimana setiap siswa diberi nomor kemudian dibuat  suatu kelompok kemudian secara acak guru memanggil nomor dari  siswa.<br />
Langkah-langkah:</span></p>
<ol type="1">
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Siswa  dibagi dalam kelompok, setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Guru  memberikan tugas dan masing-masing kelompok mengerjakannya.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Kelompok  mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan tiap anggota kelompok dapat  mengerjakannya.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Guru  memanggil salah satu nomor siswa dengan nomor yang dipanggil melaporkan hasil  kerjasama mereka.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Tanggapan  dari teman yang lain, kemudian guru menunjuk nomor yang lain.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Kesimpulan.</span></li>
</ol>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Kelebihan:</span></p>
<ul type="disc">
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Setiap  siswa menjadi siap semua.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Dapat  melakukan diskusi dengan sungguh-sungguh.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Siswa  yang pandai dapat mengajari siswa yang kurang pandai. </span></li>
</ul>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Kelemahan:</span></p>
<ul type="disc">
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Kemungkinan nomor yang dipanggil,  dipanggil lagi oleh guru.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Tidak  semua anggota kelompok dipanggil oleh guru</span></li>
</ul>
<h3><a title="Tautan Tetap ke &quot;Metode Investigasi Kelompok (Group Investigation)&quot;" href="http://gurupkn.wordpress.com/2007/11/13/metode-investigasi-kelompok-group-investigation/">Metode  Investigasi Kelompok (Group Investigation)</a></h3>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Metode investigasi  kelompok sering dipandang sebagai metode yang paling kompleks dan paling sulit  untuk dilaksanakan dalam pembelajaran kooperatif. Metode ini melibatkan siswa  sejak perencanaan, baik dalam menentukan topik maupun cara untuk mempelajarinya  melalui investigasi. Metode ini menuntut para siswa untuk memiliki kemampuan  yang baik dalam berkomunikasi maupun dalam ketrampilan proses kelompok (group  process skills). Para guru yang menggunakan metode investigasi kelompok umumnya  membagi kelas menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan 5 hingga 6 siswa  dengan karakteristik yang heterogen. Pembagian kelompok dapat juga didasarkan  atas kesenangan berteman atau kesamaan minat terhadap suatu topik tertentu. Para  siswa memilih topik yang ingin dipelajari, mengikuti investigasi mendalam  terhadap berbagai subtopik yang telah dipilih, kemudian menyiapkan dan  menyajikan suatu laporan di depan kelas secara keseluruhan. Adapun deskripsi  mengenai langkah-langkah metode investigasi kelompok dapat dikemukakan sebagai  berikut:</span></p>
<p><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">a. Seleksi  topik</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"><br />
Parasiswa memilih berbagai  subtopik dalam suatu wilayah masalah umum yang biasanya digambarkan lebih dahulu  oleh guru. Para siswa selanjutnya diorganisasikan menjadi kelompok-kelompok yang  berorientasi pada tugas (task oriented groups) yang beranggotakan 2 hingga 6  orang. Komposisi kelompok heterogen baik dalam jenis kelamin, etnik maupun  kemampuan akademik. </span></p>
<p><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">b. Merencanakan  kerjasama</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"><br />
Parasiswa beserta guru  merencanakan berbagai prosedur belajar khusus, tugas dan tujuan umum yang  konsisten dengan berbagai topik dan subtopik yang telah dipilih dari langkah a)  di atas. </span></p>
<p><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">c.  Implementasi</span></strong><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"><br />
</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Parasiswa melaksanakan rencana yang  telah dirumuskan pada langkah b). Pembelajaran harus melibatkan berbagai  aktivitas dan ketrampilan dengan variasi yang luas dan mendorong para siswa  untuk menggunakan berbagai sumber baik yang terdapat di dalam maupun di luar  sekolah. Guru secara terus-menerus mengikuti kemajuan tiap kelompok dan  memberikan bantuan jika diperlukan.</span></p>
<p><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">d. Analisis dan  sintesis</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"><br />
Parasiswa menganalisis dan  mensintesis berbagai informasi yang diperoleh pada langkah c) dan merencanakan  agar dapat diringkaskan dalam suatu penyajian yang menarik di depan  kelas.</span></p>
<p><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">e. Penyajian hasil  akhir</span></strong><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"><br />
</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Semua kelompok menyajikan suatu  presentasi yang menarik dari berbagai topik yang telah dipelajari agar semua  siswa dalam kelas saling terlibat dan mencapai suatu perspektif yang luas  mengenai topik tersebut. Presentasi kelompok dikoordinir oleh guru.</span></p>
<p><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">f.  Evaluasi</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"><br />
Guru beserta siswa melakukan  evaluasi mengenai kontribusi tiap kelompok terhadap pekerjaan kelas sebagai  suatu keseluruhan. Evaluasi dapat mencakup tiap siswa secara individu atau  kelompok, atau keduanya.</span></p>
<h3><a title="Tautan Tetap ke &quot;Metode Jigsaw&quot;" href="http://gurupkn.wordpress.com/2007/11/13/27metode-jigsaw/">Metode Jigsaw</a></h3>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Pada dasarnya, dalam model  ini guru membagi satuan informasi yang besar menjadi komponen-komponen lebih  kecil. Selanjutnya guru membagi siswa ke dalam kelompok belajar kooperatif yang  terdiri dari empat orang siswa sehingga setiap anggota bertanggungjawab terhadap  penguasaan setiap komponen/subtopik yang ditugaskan guru dengan sebaik-baiknya.  Siswa dari masing-masing kelompok yang bertanggungjawab terhadap subtopik yang  sama membentuk kelompok lagi yang terdiri dari yang terdiri dari dua atau tiga  orang.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Siswa-siswa ini bekerja  sama untuk menyelesaikan tugas kooperatifnya dalam: a) belajar dan menjadi ahli  dalam subtopik bagiannya; b) merencanakan bagaimana mengajarkan subtopik  bagiannya kepada anggota kelompoknya semula. Setelah itu siswa tersebut kembali  lagi ke kelompok masing-masing sebagai “ahli” dalam subtopiknya dan mengajarkan  informasi penting dalam subtopik tersebut kepada temannya. Ahli dalam subtopik  lainnya juga bertindak serupa. Sehingga seluruh siswa bertanggung jawab untuk  menunjukkan penguasaannya terhadap seluruh materi yang ditugaskan oleh guru.  Dengan demikian, setiap siswa dalam kelompok harus menguasai topik secara  keseluruhan.</span></p>
<h3><a title="Tautan Tetap ke &quot;Metode Team Games Tournament (TGT)&quot;" href="http://gurupkn.wordpress.com/2007/11/13/metode-team-games-tournament-tgt/">Metode  Team Games Tournament (TGT)</a></h3>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Pembelajaran kooperatif  model TGT adalah salah satu tipe atau model pembelajaran kooperatif yang mudah  diterapkan, melibatkan aktivitas seluruh siswa tanpa harus ada perbedaan status,  melibatkan peran siswa sebagai tutor sebaya dan mengandung unsur permainan dan  reinforcement.<br />
Aktivitas belajar dengan permainan yang dirancang dalam  pembelajaran kooperatif model TGT memungkinkan siswa dapat belajar lebih rileks  disamping menumbuhkan tanggung jawab, kerjasama, persaingan sehat dan  keterlibatan belajar.<br />
Ada5 komponen utama dalam komponen utama dalam TGT  yaitu:</span></p>
<p><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">1. Penyajian kelas </span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"><br />
Pada awal  pembelajaran guru menyampaikan materi dalam penyajian kelas, biasanya dilakukan  dengan pengajaran langsung atau dengan ceramah, diskusi yang dipimpin guru. Pada  saat penyajian kelas ini siswa harus benar-benar memperhatikan dan memahami  materi yang disampaikan guru, karena akan membantu siswa bekerja lebih baik pada  saat kerja kelompok dan pada saat game karena skor game akan menentukan skor  kelompok.</span></p>
<p><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">2. Kelompok  (team)</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"><br />
Kelompok biasanya terdiri dari  4 sampai 5 orang siswa yang anggotanya heterogen dilihat dari prestasi akademik,  jenis kelamin dan ras atau etnik. Fungsi kelompok adalah untuk lebih mendalami  materi bersama teman kelompoknya dan lebih khusus untuk mempersiapkan anggota  kelompok agar bekerja dengan baik dan optimal pada saat game.</span></p>
<p><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">3.  Game</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"><br />
Game  terdiri dari pertanyaan-pertanyaan yang dirancang untuk menguji pengetahuan yang  didapat siswa dari penyajian kelas dan belajar kelompok. Kebanyakan game terdiri  dari pertanyaan-pertanyaan sederhana bernomor. Siswa memilih kartu bernomor dan  mencoba menjawab pertanyaan yang sesuai dengan nomor itu. Siswa yang menjawab  benar pertanyaan itu akan mendapat skor. Skor ini yang nantinya dikumpulkan  siswa untuk turnamen mingguan.</span></p>
<p><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">4.  Turnamen</span></strong><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"><br />
</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Biasanya turnamen dilakukan pada  akhir minggu atau pada setiap unit setelah guru melakukan presentasi kelas dan  kelompok sudah mengerjakan lembar kerja. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Turnamen pertama guru membagi siswa  ke dalam beberapa meja turnamen. Tiga siswa tertinggi prestasinya dikelompokkan  pada meja I, tiga siswa selanjutnya pada meja II dan  seterusnya.</span></p>
<p><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">5. Team recognize  (penghargaan kelompok)</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"><br />
Guru kemudian mengumumkan  kelompok yang menang, masing-masing team akan mendapat sertifikat atau hadiah  apabila rata-rata skor memenuhi kriteria yang ditentukan. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Team mendapat julukan “Super Team”  jika rata-rata skor 45 atau lebih, “Great Team” apabila rata-rata mencapai 40-45  dan “Good Team” apabila rata-ratanya 30-40</span></p>
<div class="MsoNormal" style="text-align:center;">
<hr size="2" /></div>
<h3><a title="Tautan Tetap ke &quot;Model Student Teams – Achievement Divisions (STAD)&quot;" href="http://gurupkn.wordpress.com/2007/11/10/metode-student-teams-%C3%A2%C2%80%C2%93-achievement-divisions-stad/">Model  Student Teams – Achievement Divisions (STAD)</a></h3>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Siswa dikelompokkan secara  heterogen kemudian siswa yang pandai menjelaskan anggota lain sampai  mengerti.<br />
Langkah-langkah:</span></p>
<ol type="1">
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Membentuk  kelompok yang anggotanya 4 orang secara heterogen (campuran menurut prestasi,  jenis kelamin, suku, dll.).</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Guru  menyajikan pelajaran.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Guru  memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota kelompok. Anggota  yang tahu menjelaskan kepada anggota lainnya sampai semua anggota dalam kelompok  itu mengerti.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Guru  memberi kuis / pertanyaan kepada seluruh siswa. Pada saat menjawab kuis tidak  boleh saling membantu.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Memberi  evaluasi.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Penutup.</span></li>
</ol>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Kelebihan:<br />
1. Seluruh  siswa menjadi lebih siap.<br />
2. Melatih kerjasama dengan baik.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Kekurangan:<br />
1. Anggota  kelompok semua mengalami kesulitan.<br />
2. Membedakan siswa.</span></p>
<h3><a title="Tautan Tetap ke &quot;Model Examples Non Examples&quot;" href="http://gurupkn.wordpress.com/2007/11/10/model-examples-non-examples/">Model  Examples Non Examples</a></h3>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Examples Non Examples  adalah metode belajar yang menggunakan contoh-contoh. Contoh-contoh dapat dari  kasus / gambar yang relevan dengan KD.<br />
Langkah-langkah:</span></p>
<ol type="1">
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Guru  mempersiapkan gambar-gambar sesuai dengan tujuan  pembelajaran.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Guru  menempelkan gambar di papan atau ditayangkan lewat OHP.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Guru  memberi petunjuk dan memberi kesempatan kepada siswa untuk memperhatikan /  menganalisa gambar.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Melalui  diskusi kelompok 2-3 orang siswa, hasil diskusi dari analisa gambar tersebut  dicatat pada kertas.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Tiap  kelompok diberi kesempatan membacakan hasil diskusinya.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Mulai  dari komentar / hasil diskusi siswa, guru mulai menjelaskan materi sesuai tujuan  yang ingin dicapai.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">KKesimpulan.</span></li>
</ol>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Kebaikan:<br />
1. Siswa  lebih kritis dalam menganalisa gambar.<br />
2. Siswa mengetahui aplikasi dari  materi berupa contoh gambar.<br />
3. Siswa diberi kesempatan untuk mengemukakan  pendapatnya.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Kekurangan:<br />
1. Tidak  semua materi dapat disajikan dalam bentuk gambar.<br />
2. Memakan waktu yang  lama.</span></p>
<h3><a title="Tautan Tetap ke &quot;Model Lesson Study&quot;" href="http://gurupkn.wordpress.com/2007/11/10/model-lesson-study/">Model  Lesson Study</a></h3>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Lesson Study adalah suatu  metode yang dikembankan di Jepang yang dalam bahasa Jepangnyadisebut  Jugyokenkyuu. Istilah lesson study sendiri diciptakan oleh Makoto  Yoshida.<br />
Lesson Study merupakan suatu proses dalam mengembangkan  profesionalitas guru-guru di Jepang dengan jalan menyelidiki/ menguji praktik  mengajar mereka agar menjadi lebih efektif.<br />
Adapun langkah-langkahnya sebagai  berikut:</span></p>
<p style="margin-left:20.25pt;text-indent:-13.5pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">1. Sejumlah guru bekerjasama dalam  suatu kelompok. Kerjasama ini meliputi:</span></p>
<p style="text-indent:20.25pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">a. Perencanaan.</span></p>
<p style="text-indent:20.25pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">b. Praktek mengajar.</span></p>
<p style="text-indent:20.25pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">c. Observasi.</span></p>
<p style="text-indent:20.25pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">d. Refleksi/ kritikan terhadap  pembelajaran.</span></p>
<p style="margin-left:20.25pt;text-indent:-13.5pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">2. Salah satu guru dalam kelompok  tersebut melakukan tahap perencanaan yaitu membuat rencana pembelajaran yang  matang dilengkapi dengan dasar-dasar teori yang menunjang.</span></p>
<p style="margin-left:20.25pt;text-indent:-13.5pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">3. Guru yang telah membuat rencana  pembelajaran pada (2) kemudian mengajar di kelas sesungguhnya. Berarti tahap  praktek mengajar terlaksana.</span></p>
<p style="margin-left:20.25pt;text-indent:-13.5pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">4. Guru-guru lain dalam kelompok  tersebut mengamati proses pembelajaran sambil mencocokkan rencana pembelajaran  yang telah dibuat. Berarti tahap observasi terlalui.</span></p>
<p style="margin-left:20.25pt;text-indent:-13.5pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">5. Semua guru dalam kelompok  termasuk guru yang telah mengajar kemudian bersama-sama mendiskusikan pengamatan  mereka terhadap pembelajaran yang telah berlangsung. Tahap ini merupakan tahap  refleksi. Dalam tahap ini juga didiskusikan langkah-langkah perbaikan untuk  pembelajaran berikutnya.</span></p>
<p style="margin-left:20.25pt;text-indent:-13.5pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">6. Hasil pada (5) selanjutnya  diimplementasikan pada kelas/ pembelajaran berikutnya dan seterusnya kembali ke  (2).</span></p>
<p style="margin-left:6.75pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Adapun kelebihan metode lesson  study sebagai berikut:</span></p>
<p style="margin-left:20.25pt;text-indent:-13.5pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">- Dapat diterapkan di setiap bidang  mulai seni, bahasa, sampai matematika dan olahraga dan pada setiap tingkatan  kelas.</span></p>
<p style="margin-left:20.25pt;text-indent:-13.5pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">- Dapat dilaksanakan antar/ lintas  sekolah.</span></p>
<h3><a title="Tautan Tetap ke &quot;Model Pembelajaran ARIAS&quot;" href="http://gurupkn.wordpress.com/2007/12/22/model-pembelajaran-arias/">Model  Pembelajaran ARIAS</a></h3>
<p><span style="color:#000080;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Abstrak. Model  pembelajaran ARIAS dikembangkan sebagai salah satu alternatif yang dapat  digunakan oleh guru sebagai dasar melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan  baik. Model pembelajaran ARIAS berisi lima komponen yang merupakan satu kesatuan  yang diperlukan dalam kegiatan pembelajaran yaitu assurance, relevance,  interest, assessment, dan satisfaction yang dikembangkan berdasarkan teori-teori  belajar.</span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Model ini sudah dicobakan  di dua sekolah yang berbeda yaitu salah satu SD negeri di Kota Palembang  (percobaan pertama) dan satu SD negeri di Sekayu, Kabupaten Musi Banyu Asin  (percobaan kedua). Hasil percobaan di lapangan menunjukkan bahwa model  pembelajaran ARIAS memberi pengaruh yang positif terhadap motivasi berprestasi  dan hasil belajar siswa. Berdasarkan hasil percobaan tersebut model pembelajaran  ARIAS dapat digunakan oleh para guru sebagai dasar melaksanakan kegiatan  pembelajaran dalam usaha meningkatkan motivasi berprestasi dan hasil belajar  siswa.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Kata kunci: motivasi  berprestasi, hasil belajar siswa, ARIAS, kegiatan pembelajaran</span></p>
<p><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">1.  Pendahuluan</span></strong></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Salah satu masalah dalam  pembelajaran di sekolah adalah rendahnya hasil belajar siswa. Suatu tes terhadap  sejumlah siswa SD dari berbagai kabupaten dan propinsi menunjukkan hasil belajar  siswa sangat rendah (Lastri 1993:12). Nilai Ebtanas siswa SD dalam kurun waktu  lima tahun terakhir (1993/1994 sampai dengan 1997/1998) menunjukkan hasil  belajar yang kurang menggembirakan (Depdikbud, 1998).</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Hasil belajar dipengaruhi  oleh berbagai faktor, baik faktor dari dalam (internal) maupun faktor dari luar  (eksternal). Menurut Suryabrata (1982: 27) yang termasuk faktor internal adalah  faktor fisiologis dan psikologis (misalnya kecerdasan motivasi berprestasi dan  kemampuan kognitif), sedangkan yang termasuk faktor eksternal adalah faktor  lingkungan dan instrumental (misalnya guru, kurikulum, dan model pembelajaran).  Bloom (1982: 11) mengemukakan tiga faktor utama yang mempengaruhi hasil belajar,  yaitu kemampuan kognitif, motivasi berprestasi dan kualitas pembelajaran.  Kualitas pembelajaran adalah kualitas kegiatan pembelajaran yang dilakukan dan  ini menyangkut model pembelajaran yang digunakan.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Sering ditemukan di  lapangan bahwa guru menguasai materi suatu subjek dengan baik tetapi tidak dapat  melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan baik. Hal itu terjadi karena kegiatan  tersebut tidak didasarkan pada model pembelajaran tertentu sehingga hasil  belajar yang diperoleh siswa rendah. Timbul pertanyaan apakah mungkin  dikembangkan suatu model pembelajaran yang sederhana, sistematik, bermakna dan  dapat digunakan oleh para guru sebagai dasar untuk melaksanakan kegiatan  pembelajaran dengan baik sehingga dapat membantu meningkatkan motivasi  berprestasi dan hasil belajar. Berkenaan dengan hal itu, maka dengan  memperhatikan berbagai konsep dan teori belajar dikembangkanlah suatu model  pembelajaran yang disebut dengan model pembelajaran ARIAS. Untuk mengetahui  bagaimana pengaruh model pembelajaran ARIAS terhadap motivasi berprestasi dan  hasil belajar siswa, telah dicobakan pada sejumlah siswa di dua sekolah yang  berbeda. Hasil percobaan di lapangan menunjukkan bahwa model pembelajaran ARIAS  memberi pengaruh yang positif terhadap motivasi berprestasi dan hasil belajar  siswa. Oleh karena itu, model pembelajaran ARIAS ini dapat digunakan oleh para  guru sebagai dasar melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan baik, dan sebagai  suatu alternatif dalam usaha meningkatkan motivasi berprestasi dan hasil belajar  siswa. Tujuan percobaan lapangan ini untuk mengetahui apakah ada pengaruh model  pembelajaran ARIAS terhadap motivasi berprestasi dan hasil belajar.</span></p>
<p><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">2. Kajian Teori  dan Pembahasan</span></strong></p>
<p><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">2.1 Model  Pembelajaran ARIAS</span></strong></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Model pembelajaran ARIAS  merupakan modifikasi dari model ARCS. Model ARCS (Attention, Relevance,  Confidence, Satisfaction), dikembangkan oleh Keller dan Kopp (1987: 2-9) sebagai  jawaban pertanyaan bagaimana merancang pembelajaran yang dapat mempengaruhi  motivasi berprestasi dan hasil belajar. Model pembelajaran ini dikembangkan  berdasarkan teori nilai harapan (expectancy value theory) yang mengandung dua  komponen yaitu nilai (value) dari tujuan yang akan dicapai dan harapan  (expectancy) agar berhasil mencapai tujuan itu. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Dari dua komponen tersebut oleh  Keller dikembangkan menjadi empat komponen. Keempat komponen model pembelajaran  itu adalah attention, relevance, confidence dan satisfaction dengan akronim ARCS  (Keller dan Kopp, 1987: 289-319).</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Model pembelajaran ini  menarik karena dikembangkan atas dasar teori-teori belajar dan pengalaman nyata  para instruktur (Bohlin, 1987: 11-14). Namun demikian, pada model pembelajaran  ini tidak ada evaluasi (assessment), padahal evaluasi merupakan komponen yang  tidak dapat dipisahkan dalam kegiatan pembelajaran. Evaluasi yang dilaksanakan  tidak hanya pada akhir kegiatan pembelajaran tetapi perlu dilaksanakan selama  proses kegiatan berlangsung. Evaluasi dilaksanakan untuk mengetahui sampai  sejauh mana kemajuan yang dicapai atau hasil belajar yang diperoleh siswa  (DeCecco, 1968: 610). Evaluasi yang dilaksanakan selama proses pembelajaran  menurut Saunders et al. seperti yang dikutip Beard dan Senior (1980: 72) dapat  mempengaruhi hasil belajar siswa. Mengingat pentingnya evaluasi, maka model  pembelajaran ini dimodifikasi dengan menambahkan komponen evaluasi pada model  pembelajaran tersebut.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Dengan modifikasi  tersebut, model pembelajaran yang digunakan mengandung lima komponen yaitu:  attention (minat/perhatian); relevance (relevansi); confidence (percaya/yakin);  satisfaction (kepuasan/bangga), dan assessment (evaluasi). Modifikasi juga  dilakukan dengan penggantian nama confidence menjadi assurance, dan attention  menjadi interest. Penggantian nama confidence (percaya diri) menjadi assurance,  karena kata assurance sinonim dengan kata self-confidence (Morris, 1981: 80).  Dalam kegiatan pembelajaran guru tidak hanya percaya bahwa siswa akan mampu dan  berhasil, melainkan juga sangat penting menanamkan rasa percaya diri siswa bahwa  mereka merasa mampu dan dapat berhasil. Demikian juga penggantian kata attention  menjadi interest, karena pada kata interest (minat) sudah terkandung pengertian  attention (perhatian). Dengan kata interest tidak hanya sekedar menarik  minat/perhatian siswa pada awal kegiatan melainkan tetap memelihara  minat/perhatian tersebut selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Untuk  memperoleh akronim yang lebih baik dan lebih bermakna maka urutannya pun  dimodifikasi menjadi assurance, relevance, interest, assessment dan  satisfaction. Makna dari modifikasi ini adalah usaha pertama dalam kegiatan  pembelajaran untuk menanamkan rasa yakin/percaya pada siswa. Kegiatan  pembelajaran ada relevansinya dengan kehidupan siswa, berusaha menarik dan  memelihara minat/perhatian siswa. Kemudian diadakan evaluasi dan menumbuhkan  rasa bangga pada siswa dengan memberikan penguatan (reinforcement). Dengan  mengambil huruf awal dari masing-masing komponen menghasilkan kata ARIAS sebagai  akronim. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Oleh karena  itu, model pembelajaran yang sudah dimodifikasi ini disebut model pembelajaran  ARIAS.</span></p>
<p><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">2.2 Komponen Model  Pembelajaran ARIAS</span></strong></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Seperti yang telah  dikemukakan model pembelajaran ARIAS terdiri dari lima komponen (assurance,  relevance, interest, assessment, dan satisfaction) yang disusun berdasarkan  teori belajar. Kelima komponen tersebut merupakan satu kesatuan yang diperlukan  dalam kegiatan pembelajaran. Deskripsi singkat masing-masing komponen dan  beberapa contoh yang dapat dilakukan untuk membangkitkan dan meningkatkannya  kegiatan pembelajaran adalah sebagai berikut.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Komponen pertama model  pembelajaran ARIAS adalah assurance (percaya diri), yaitu berhubungan dengan  sikap percaya, yakin akan berhasil atau yang berhubungan dengan harapan untuk  berhasil (Keller, 1987: 2-9). Menurut Bandura seperti dikutip oleh Gagne dan  Driscoll (1988: 70) seseorang yang memiliki sikap percaya diri tinggi cenderung  akan berhasil bagaimana pun kemampuan yang ia miliki. Sikap di mana seseorang  merasa yakin, percaya dapat berhasil mencapai sesuatu akan mempengaruhi mereka  bertingkah laku untuk mencapai keberhasilan tersebut. Sikap ini mempengaruhi  kinerja aktual seseorang, sehingga perbedaan dalam sikap ini menimbulkan  perbedaan dalam kinerja. Sikap percaya, yakin atau harapan akan berhasil  mendorong individu bertingkah laku untuk mencapai suatu keberhasilan (Petri,  1986: 218). Siswa yang memiliki sikap percaya diri memiliki penilaian positif  tentang dirinya cenderung menampilkan prestasi yang baik secara terus menerus  (Prayitno, 1989: 42). Sikap percaya diri, yakin akan berhasil ini perlu  ditanamkan kepada siswa untuk mendorong mereka agar berusaha dengan maksimal  guna mencapai keberhasilan yang optimal. Dengan sikap yakin, penuh percaya diri  dan merasa mampu dapat melakukan sesuatu dengan berhasil, siswa terdorong untuk  melakukan sesuatu kegiatan dengan sebaik-baiknya sehingga dapat mencapai hasil  yang lebih baik dari sebelumnya atau dapat melebihi orang lain. Beberapa cara  yang dapat digunakan untuk mempengaruhi sikap percaya diri  adalah:</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">- Membantu siswa menyadari  kekuatan dan kelemahan diri serta menanamkan pada siswa gambaran diri positif  terhadap diri sendiri. Menghadirkan seseorang yang terkenal dalam suatu bidang  sebagai pembicara, memperlihatkan video tapes atau potret seseorang yang telah  berhasil (sebagai model), misalnya merupakan salah satu cara menanamkan gambaran  positif terhadap diri sendiri dan kepada siswa. Menurut Martin dan Briggs (1986:  427-433) penggunaan model seseorang yang berhasil dapat mengubah sikap dan  tingkah laku individu mendapat dukungan luas dari para ahli. Menggunakan  seseorang sebagai model untuk menanamkan sikap percaya diri menurut Bandura  seperti dikutip Gagne dan Briggs (1979: 88) sudah dilakukan secara luas di  sekolah-sekolah.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">- Menggunakan suatu  patokan, standar yang memungkinkan siswa dapat mencapai keberhasilan (misalnya  dengan mengatakan bahwa kamu tentu dapat menjawab pertanyaan di bawah ini tanpa  melihat buku).</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">- Memberi tugas yang sukar  tetapi cukup realistis untuk diselesaikan/sesuai dengan kemampuan siswa  (misalnya memberi tugas kepada siswa dimulai dari yang mudah berangsur sampai ke  tugas yang sukar). Menyajikan materi secara bertahap sesuai dengan urutan dan  tingkat kesukarannya menurut Keller dan Dodge seperti dikutip Reigeluth dan  Curtis dalam Gagne (1987: 175-202) merupakan salah satu usaha menanamkan rasa  percaya diri pada siswa.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">- Memberi kesempatan  kepada siswa secara bertahap mandiri dalam belajar dan melatih suatu  keterampilan.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Komponen kedua model  pembelajaran ARIAS, relevance, yaitu berhubungan dengan kehidupan siswa baik  berupa pengalaman sekarang atau yang telah dimiliki maupun yang berhubungan  dengan kebutuhan karir sekarang atau yang akan datang (Keller, 1987: 2-9). Siswa  merasa kegiatan pembelajaran yang mereka ikuti memiliki nilai, bermanfaat dan  berguna bagi kehidupan mereka. Siswa akan terdorong mempelajari sesuatu kalau  apa yang akan dipelajari ada relevansinya dengan kehidupan mereka, dan memiliki  tujuan yang jelas. Sesuatu yang memiliki arah tujuan, dan sasaran yang jelas  serta ada manfaat dan relevan dengan kehidupan akan mendorong individu untuk  mencapai tujuan tersebut. Dengan tujuan yang jelas mereka akan mengetahui  kemampuan apa yang akan dimiliki dan pengalaman apa yang akan didapat. Mereka  juga akan mengetahui kesenjangan antara kemampuan yang telah dimiliki dengan  kemampuan baru itu sehingga kesenjangan tadi dapat dikurangi atau bahkan  dihilangkan sama sekali (Gagne dan Driscoll, 1988: 140).</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Dalam kegiatan  pembelajaran, para guru perlu memperhatikan unsur relevansi ini. Beberapa cara  yang dapat digunakan untuk meningkatkan relevansi dalam pembelajaran adalah: </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">- Mengemukakan tujuan  sasaran yang akan dicapai. Tujuan yang jelas akan memberikan harapan yang jelas  (konkrit) pada siswa dan mendorong mereka untuk mencapai tujuan tersebut  (DeCecco,1968: 162). </span><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Hal ini akan mempengaruhi hasil  belajar mereka.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">- Mengemukakan manfaat  pelajaran bagi kehidupan siswa baik untuk masa sekarang dan/atau untuk berbagai  aktivitas di masa mendatang.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">- Menggunakan bahasa yang  jelas atau contoh-contoh yang ada hubungannya dengan pengalaman nyata atau  nilai- nilai yang dimiliki siswa. Bahasa yang jelas yaitu bahasa yang dimengerti  oleh siswa. Pengalaman nyata atau pengalaman yang langsung dialami siswa dapat  menjembataninya ke hal-hal baru. Pengalaman selain memberi keasyikan bagi siswa,  juga diperlukan secara esensial sebagai jembatan mengarah kepada titik tolak  yang sama dalam melibatkan siswa secara mental, emosional, sosial dan fisik,  sekaligus merupakan usaha melihat lingkup permasalahan yang sedang dibicarakan  (Semiawan, 1991). (4) Menggunakan berbagai alternatif strategi dan media  pembelajaran yang cocok untuk pencapaian tujuan. Dengan demikian dimungkinkan  menggunakan bermacam-macam strategi dan/atau media pembelajaran pada setiap  kegiatan pembelajaran.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Komponen ketiga model  pembelajaran ARIAS, interest, adalah yang berhubungan dengan minat/perhatian  siswa. Menurut Woodruff seperti dikutip oleh Callahan (1966: 23) bahwa  sesungguhnya belajar tidak terjadi tanpa ada minat/perhatian. Keller seperti  dikutip Reigeluth (1987: 383-430) menyatakan bahwa dalam kegiatan pembelajaran  minat/perhatian tidak hanya harus dibangkitkan melainkan juga harus dipelihara  selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Oleh karena itu, guru harus  memperhatikan berbagai bentuk dan memfokuskan pada minat/perhatian dalam  kegiatan pembelajaran. Herndon (1987:11-14) menunjukkan bahwa adanya  minat/perhatian siswa terhadap tugas yang diberikan dapat mendorong siswa  melanjutkan tugasnya. Siswa akan kembali mengerjakan sesuatu yang menarik sesuai  dengan minat/perhatian mereka. Membangkitkan dan memelihara minat/perhatian  merupakan usaha menumbuhkan keingintahuan siswa yang diperlukan dalam kegiatan  pembelajaran.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Minat/perhatian merupakan  alat yang sangat berguna dalam usaha mempengaruhi hasil belajar siswa. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Beberapa cara yang  dapat digunakan untuk membangkitkan dan menjaga minat/perhatian siswa antara  lain adalah: </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">- Menggunakan cerita,  analogi, sesuatu yang baru, menampilkan sesuatu yang lain/aneh yang berbeda dari  biasa dalam pembelajaran.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">- Memberi kesempatan  kepada siswa untuk berpartisipasi secara aktif dalam pembelajaran, misalnya para  siswa diajak diskusi untuk memilih topik yang akan dibicarakan, mengajukan  pertanyaan atau mengemukakan masalah yang perlu dipecahkan.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">- Mengadakan variasi dalam  kegiatan pembelajaran misalnya menurut Lesser seperti dikutip Gagne dan Driscoll  (1988: 69) variasi dari serius ke humor, dari cepat ke lambat, dari suara keras  ke suara yang sedang, dan mengubah gaya mengajar.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">- Mengadakan komunikasi  nonverbal dalam kegiatan pembelajaran seperti demonstrasi dan simulasi yang  menurut Gagne dan Briggs (1979: 157) dapat dilakukan untuk menarik  minat/perhatian siswa.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Komponen keempat model  pembelajaran ARIAS adalah assessment, yaitu yang berhubungan dengan evaluasi  terhadap siswa. Evaluasi merupakan suatu bagian pokok dalam pembelajaran yang  memberikan keuntungan bagi guru dan murid (Lefrancois, 1982: 336). Bagi guru  menurut Deale seperti dikutip Lefrancois (1982: 336) evaluasi merupakan alat  untuk mengetahui apakah yang telah diajarkan sudah dipahami oleh siswa; untuk  memonitor kemajuan siswa sebagai individu maupun sebagai kelompok; untuk merekam  apa yang telah siswa capai, dan untuk membantu siswa dalam belajar. Bagi siswa,  evaluasi merupakan umpan balik tentang kelebihan dan kelemahan yang dimiliki,  dapat mendorong belajar lebih baik dan meningkatkan motivasi berprestasi  (Hopkins dan Antes, 1990:31). Evaluasi terhadap siswa dilakukan untuk mengetahui  sampai sejauh mana kemajuan yang telah mereka capai. Apakah siswa telah memiliki  kemampuan seperti yang dinyatakan dalam tujuan pembelajaran (Gagne dan Briggs,  1979:157). Evaluasi tidak hanya dilakukan oleh guru tetapi juga oleh siswa untuk  mengevaluasi diri mereka sendiri (self assessment) atau evaluasi diri. Evaluasi  diri dilakukan oleh siswa terhadap diri mereka sendiri, maupun terhadap teman  mereka. Hal ini akan mendorong siswa untuk berusaha lebih baik lagi dari  sebelumnya agar mencapai hasil yang maksimal. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Mereka akan merasa malu kalau  kelemahan dan kekurangan yang dimiliki diketahui oleh teman mereka sendiri.  Evaluasi terhadap diri sendiri merupakan evaluasi yang mendukung proses belajar  mengajar serta membantu siswa meningkatkan keberhasilannya (Soekamto, 1994). Hal  ini sejalan dengan yang dikemukakan Martin dan Briggs seperti dikutip Bohlin  (1987: 11-14) bahwa evaluasi diri secara luas sangat membantu dalam pengembangan  belajar atas inisiatif sendiri. Dengan demikian, evaluasi diri dapat mendorong  siswa untuk meningkatkan apa yang ingin mereka capai. Ini juga sesuai dengan apa  yang dikemukakan Morton dan Macbeth seperti dikutip Beard dan Senior (1980: 76)  bahwa evaluasi diri dapat mempengaruhi hasil belajar siswa. Oleh karena itu,  untuk mempengaruhi hasil belajar siswa evaluasi perlu dilaksanakan dalam  kegiatan pembelajaran. Beberapa cara yang dapat digunakan untuk melaksanakan  evaluasi antara lain adalah: </span></p>
<ul type="disc">
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Mengadakan evaluasi dan memberi  umpan balik terhadap kinerja siswa.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Memberikan evaluasi yang obyektif  dan adil serta segera menginformasikan hasil evaluasi kepada siswa.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Memberi  kesempatan kepada siswa mengadakan evaluasi terhadap diri sendiri.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Memberi  kesempatan kepada siswa mengadakan evaluasi terhadap teman.</span></li>
</ul>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Komponen kelima model  pembelajaran ARIAS adalah satisfaction yaitu yang berhubungan dengan rasa  bangga, puas atas hasil yang dicapai. Dalam teori belajar satisfaction adalah  reinforcement (penguatan). </span><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Siswa yang telah berhasil  mengerjakan atau mencapai sesuatu merasa bangga/puas atas keberhasilan tersebut.  Keberhasilan dan kebanggaan itu menjadi penguat bagi siswa tersebut untuk  mencapai keberhasilan berikutnya (Gagne dan Driscoll, 1988: 70). Reinforcement  atau penguatan yang dapat memberikan rasa bangga dan puas pada siswa adalah  penting dan perlu dalam kegiatan pembelajaran (Hilgard dan Bower, 1975:561).  Menurut Keller berdasarkan teori kebanggaan, rasa puas dapat timbul dari dalam  diri individu sendiri yang disebut kebanggaan intrinsik di mana individu merasa  puas dan bangga telah berhasil mengerjakan, mencapai atau mendapat sesuatu.  Kebanggaan dan rasa puas ini juga dapat timbul karena pengaruh dari luar  individu, yaitu dari orang lain atau lingkungan yang disebut kebanggaan  ekstrinsik (Keller dan Kopp, 1987: 2-9). Seseorang merasa bangga dan puas karena  apa yang dikerjakan dan dihasilkan mendapat penghargaan baik bersifat verbal  maupun nonverbal dari orang lain atau lingkungan. Memberikan penghargaan  (reward) menurut Thorndike seperti dikutip oleh Gagne dan Briggs (1979: </span><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">&lt;!&#8211;[if gte vml  1]&gt; &lt;![endif]&#8211;&gt;&lt;!&#8211;[if !vml]&#8211;&gt;<img border="0" alt="8)" width="15" height="15" />&lt;!&#8211;[endif]&#8211;&gt;</span><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">merupakan suatu penguatan  (reinforcement) dalam kegiatan pembelajaran. Dengan demikian, memberikan  penghargaan merupakan salah satu cara yang dapat digunakan untuk mempengaruhi  hasil belajar siswa (Hilgard dan Bower, 1975: 561). Untuk itu, rasa bangga dan  puas perlu ditanamkan dan dijaga dalam diri siswa. Beberapa cara yang dapat  dilakukan antara lain :</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">- Memberi penguatan  (reinforcement), penghargaan yang pantas baik secara verbal maupun non-verbal  kepada siswa yang telah menampilkan keberhasilannya. Ucapan guru : “Bagus, kamu  telah mengerjakannya dengan baik sekali!”. Menganggukkan kepala sambil tersenyum  sebagai tanda setuju atas jawaban siswa terhadap suatu pertanyaan, merupakan  suatu bentuk penguatan bagi siswa yang telah berhasil melakukan suatu kegiatan.  Ucapan yang tulus dan/atau senyuman guru yang simpatik menimbulkan rasa bangga  pada siswa dan ini akan mendorongnya untuk melakukan kegiatan lebih baik lagi,  dan memperoleh hasil yang lebih baik dari sebelumnya.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">- Memberi kesempatan  kepada siswa untuk menerapkan pengetahuan/keterampilan yang baru diperoleh dalam  situasi nyata atau simulasi.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">- Memperlihatkan perhatian  yang besar kepada siswa, sehingga mereka merasa dikenal dan dihargai oleh para  guru.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">- Memberi kesempatan  kepada siswa untuk membantu teman mereka yang mengalami kesulitan/memerlukan  bantuan.</span></p>
<p><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">2.3 Penggunaan  Model Pembelajaran ARIAS</span></strong></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Penggunaan model  pembelajaran ARIAS perlu dilakukan sejak awal, sebelum guru melakukan kegiatan  pembelajaran di kelas. Model pembelajaran ini digunakan sejak guru atau  perancang merancang kegiatan pembelajaran dalam bentuk satuan pelajaran  misalnya. Satuan pelajaran sebagai pegangan (pedoman) guru kelas dan satuan  pelajaran sebagai bahan/materi bagi siswa. Satuan pelajaran sebagai pegangan  bagi guru disusun sedemikian rupa, sehingga satuan pelajaran tersebut sudah  mengandung komponen-komponen ARIAS. Artinya, dalam satuan pelajaran itu sudah  tergambarkan usaha/kegiatan yang akan dilakukan untuk menanamkan rasa percaya  diri pada siswa, mengadakan kegiatan yang relevan, membangkitkan minat/perhatian  siswa, melakukan evaluasi dan menumbuhkan rasa dihargai/bangga pada siswa. Guru  atau pengembang sudah merancang urutan semua kegiatan yang akan dilakukan,  strategi atau metode pembelajaran yang akan digunakan, media pembelajaran apa  yang akan dipakai, perlengkapan apa yang dibutuhkan, dan bagaimana cara  penilaian akan dilaksanakan. Meskipun demikian pelaksanaan kegiatan pembelajaran  disesuaikan dengan situasi, kondisi dan lingkungan siswa. Demikian juga halnya  dengan satuan pelajaran sebagai bahan/materi untuk siswa. Bahan/materi tersebut  harus disusun berdasarkan model pembelajaran ARIAS. Bahasa, kosa kata, kalimat,  gambar atau ilustrasi, pada bahan/materi dapat menumbuhkan rasa percaya diri  pada siswa, bahwa mereka mampu, dan apa yang dipelajari ada relevansi dengan  kehidupan mereka. Bentuk, susunan dan isi bahan/materi dapat membangkitkan  minat/perhatian siswa, memberi kesempatan kepada siswa untuk mengadakan evaluasi  diri dan siswa merasa dihargai yang dapat menimbulkan rasa bangga pada mereka.  Guru dan/atau pengembang agar menggunakan bahasa yang mudah dipahami dan  dimengerti, kata-kata yang jelas dan kalimat yang sederhana tidak berbelit-belit  sehingga maksudnya dapat dengan mudah ditangkap dan dicerna siswa. Bahan/materi  agar dilengkapi dengan gambar yang jelas dan menarik dalam jumlah yang cukup.  Gambar dapat menimbulkan berbagai macam khayalan/fantasi dan dapat membantu  siswa lebih mudah memahami bahan/materi yang sedang dipelajari.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Siswa dapat  membayangkan/mengkhayalkan apa saja, bahkan dapat membayangkan dirinya sebagai  apa saja (McClelland, 1987: 29). Bahan/materi disusun sesuai urutan dan tahap  kesukarannya perlu dibuat sedemikian rupa sehingga dapat menimbulkan  keingintahuan dan memungkinkan siswa dapat mengadakan evaluasi  sendiri.</span></p>
<p><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">3. Hasil Percobaan  di Lapangan</span></strong></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Model pembelajaran ARIAS  telah dicobakan pada sejumlah siswa di dua sekolah yang berbeda. Pertama model  ini dicobakan kepada sejumlah siswa kelas V dari sebuah sekolah dasar (SD)  Negeri di Kota Palembang selama satu caturwulan yaitu catur wulan III tahun  ajaran 1995/1996. Sekolah ini diambil sebagai sampel secara acak sederhana dari  sejumlah SD negeri setara di Kota Palembang yang memiliki kelas V paralel. Dari  keseluruhan siswa SD ini diambil 60 orang siswa kelas V sebagai sampel yang  dikelompokkan ke dalam empat kelompok, di mana masing-masing kelompok berjumlah  15 orang siswa. Sampel siswa ini juga diambil secara acak sederhana. Percobaan  menggunakan metode eksperimen dengan rancangan faktorial 2 x 2. Untuk memperoleh  data yang diperlukan digunakan instrumen tes hasil belajar dan kuesioner yang  telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Data yang diperoleh dianalisis dengan  ANAVA&amp;mdash;2 jalur dengan uji F pada taraf signifikansi a =  0,05.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Percobaan kedua juga  menggunakan metode eksperimen dengan rancangan 2 x 2 dilaksanakan di SD yang  berbeda, yaitu sebuah SD negeri di Sekayu, Kabupaten Musi Banyu Asin. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Lama percobaan selama  satu caturwulan yaitu catur wulan II tahun ajaran 1996/1997. Jumlah sampel  sebanyak 80 orang siswa yang dikelompokkan ke dalam empat kelompok di mana  masing-masing kelompok berjumlah 20 orang siswa. Baik sampel SD maupun sampel  siswa diambil secara acak sederhana. Untuk memperoleh data yang diperlukan  digunakan tes motivasi berprestasi. Data yang diperoleh juga dianalisis dengan  ANAVA&amp;mdash;2 jalur pada taraf signifikansi a = 0,05. Seperti halnya pada  percobaan pertama, pada percobaan kedua ini juga dilakukan uji persyaratan  analisis yaitu uji Lilliefors untuk normalitas dan uji Bartlett untuk  homogenitas data.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Apakah motivasi  berprestasi dan hasil belajar siswa yang mengikuti model pembelajaran ARIAS  lebih tinggi daripada mereka yang mengikuti model pembelajaran non-ARIAS. Untuk  itu baik pada percobaan pertama maupun pada percobaan kedua, siswa dikelompokkan  ke dalam kelompok kontrol dan eksperimen. Kegiatan pembelajaran pada kelompok  eksperimen dilaksanakan berdasarkan model pembelajaran ARIAS. Satuan pelajaran  yang disusun berdasarkan model pembelajaran ARIAS disusun/dikembangkan oleh  penulis. Pada kelompok kontrol kegiatan pembelajaran dilaksanakan berdasarkan  model pembelajaran non-ARIAS, dengan satuan pelajaran disusun oleh guru kelas  bersangkutan. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Pada  kedua percobaan ini dilakukan pengontrolan validitas internal dan eksternal.  Pengontrolan validitas internal adalah:</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">(1) Menyetarakan setiap  kelompok pada awal percobaan dengan menganalisis skor tes awal setiap kelompok  untuk menghindari efek pemilihan subjek yang berbeda;</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">(2) Menggunakan instrumen  yang sama untuk tes akhir dan tes awal guna menghindari efek perbedaan instrumen  pengukur;</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">(3) Mengusahakan agar  tidak ada subjek yang mengundurkan diri selama penelitian berlangsung untuk  menghindari efek kehilangan subjek dalam percobaan;</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">(4) Memberikan perlakuan  yang relatif singkat, untuk menghindari efek pematangan dan efek tes awal.  Pengontrolan validitas eksternal adalah:</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">1. Penentuan kelompok  kontrol, kelompok eksperimen dan pemilihan guru yang memiliki kualifikasi setara  ditetapkan secara acak;</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">2. Suasana belajar,  situasi kelas, dan kondisi setiap kelompok semua sama seperti hari-hari belajar  biasa, kecuali penggunaan model pembelajaran ARIAS pada kelompok eksperimen,  untuk menghindari efek lingkungan yang dapat menyebabkan reaksi yang berlebihan  dari siswa;</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">3. Selama percobaan siswa  tidak diberitahu bahwa sedang ada penelitian untuk menghindari efek Howthorne  dan John Henry.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Hasil ANAVA menunjukkan  bahwa pada percobaan pertama Fo=10,74 jauh lebih besar dari Ft=4,02 pada taraf  signifikansi a = 0,05, dan perbedaan rerata skor antara kedua kelompok XA=78,80  &gt; Xn-A=75,93 (Sopah, 1999: 120 &#8211; 121). Hasil ini menunjukkan bahwa hasil  belajar siswa yang mengikuti model pembelajaran ARIAS lebih tinggi daripada  mereka yang mengikuti model pembelajaran non-ARIAS. Pada percobaan kedua Fo=8,44  lebih besar dari Ft=3,96 pada taraf signifikansi a = 0,05, dan perbedaan rerata  skor antara kedua kelompok adalah XA=18,55 &gt; Xn-A=15,98 (Sopah,1998: 99-100).  Hasil ini menunjukkan bahwa motivasi berprestasi siswa yang mengikuti model  pembelajaran ARIAS lebih tinggi daripada mereka yang mengikuti model  pembelajaran non-ARIAS.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Hasil kedua percobaan  menunjukkan bahwa ada pengaruh model pembelajaran ARIAS terhadap motivasi  berprestasi dan hasil belajar. Motivasi berprestasi dan hasil belajar siswa yang  mengikuti model pembelajaran ARIAS lebih tinggi daripada mereka yang mengikuti  model pembelajaran non-ARIAS.</span></p>
<p><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">4.  Penutup</span></strong></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Dari hasil kedua percobaan  lapangan tersebut dapat dikatakan bahwa model pembelajaran ARIAS dapat digunakan  oleh guru sebagai suatu alternatif dalam usaha meningkatkan motivasi berprestasi  dan hasil belajar. Meskipun percobaan lapangan ini menunjukkan hasil positif  namun kedua percobaan ini memiliki beberapa keterbatasan, yaitu: </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Dari hasil kedua percobaan  lapangan tersebut dapat dikatakan bahwa model pembelajaran dapat digunakan oleh  guru sebagai suatu alternatif dalam usaha meningkatkan motivasi berprestasi dan  hasil belajar. Meskipun percobaan lapangan ini menunjukkan hasil positif namun  kedua percobaan ini memiliki beberapa keterbatasan, yaitu: </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">- Percobaan ini dilakukan  dengan mengambil sampel salah satu SD negeri di Kota Palembang (percobaan  pertama) dan satu SD negeri di Sekayu, Kabupaten Musi Banyu Asin (percobaan  kedua). Walaupun sampel ini diambil secara acak, namun jumlahnya sangat  terbatas, sehingga hasilnya belum tentu dapat digeneralisasikan ke wilayah yang  lebih luas. Untuk itu, perlu penelitian sejenis lainnya dengan sebaran dan  wilayah sampel yang lebih luas. Dengan dukungan hasil penelitian sejenis ini  maka diharapkan dapat merupakan bahan pertimbangan penggunaan model pembelajaran  ARIAS di Sekolah Dasar.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">- Waktu yang digunakan  untuk percobaan ini juga terbatas. Percobaan hanya berlangsung selama satu catur  wulan. Karena waktunya terbatas, maka bahan atau materi yang diberikan juga  terbatas, belum begitu banyak. Meskipun dalam percobaan ini telah dilakukan  pengendalian secara cermat, namun karena terbatasnya waktu dan bahan yang  diberikan kemungkinan adanya pengaruh variabel lain yang tidak terkendali dapat  terjadi. Untuk itu, perlu adanya penelitian lanjutan yang waktunya lebih lama,  bahan/materi yang diberikan lebih banyak, sehingga dapat lebih mencerminkan  bahwa model pembelajaran ARIAS dapat mempengaruhi hasil belajar siswa atau  tidak.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">- Bidang studi yang  digunakan terbatas pada satu bidang studi bahkan satu subbidang studi. Hasil  baik yang diperoleh dalam subbidang studi ini belum tentu memberikan hasil yang  sama pada bidang studi lain. Karena itu juga perlu adanya penelitian sejenis  lainnya pada berbagai bidang studi, sehingga dapat mencerminkan besarnya  pengaruh model pembelajaran ARIAS terhadap hasil belajar siswa.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">- Dalam percobaan ini  satuan pelajaran yang disusun menurut model pembelajaran ARIAS, baik untuk  pegangan guru maupun sebagai bahan/materi bagi murid disusun oleh penulis.  Satuan pelajaran menurut model pembelajaran ARIAS ini dicobakan dan ternyata  hasilnya baik. Hasil baik ini mungkin perlu didukung oleh penelitian sejenis  lainnya di mana satuan pelajaran menurut model pembelajaran ARIAS disusun oleh  guru bersangkutan. Dengan demikian akan terlihat apakah memang satuan pelajaran  menurut model pembelajaran ARIAS yang disusun oleh guru dengan berbagai macam  keterbatasannya juga akan mencapai hasil yang lebih baik.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Pustaka Acuan :</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Beard, Ruth M. dan Senior,  Isabel J. 1980. Motivating students. London: Routledge and Kegan Paul  Ltd.<br />
Bloom, Benjamin S.1982. Human characteristics and school learning. New  York: McGraw-Hill Book Company.<br />
Bohlin, Roy M. 1987. Motivation in  instructional design: Comparison of an American and a Soviet model, Journal of  Instructional Development vol. 10 (2), 11-14.<br />
Callahan, Sterling G. 1966.  Successful teaching in secondary schools. Chicago: Scott, Foreman and  Company.<br />
Davies, Ivor K. 1981. Instructional technique. New York: McGraw Hill  Book Company.<br />
DeCecco, John P. 1968. The psychology of learning and  instructions: Educational psychology. New Jersey: Prentice Hall,  Inc.<br />
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1998. Laporan EBTANAS SD.  Palembang: Depdikbud Kodya Palembang.<br />
Dick, Walter dan Reiser, Robert A.  1989. Planning effective instruction. Boston: Allyn and Bacon.<br />
Gagne, Robert  M, dan Briggs, Leslie J. 1979. Principles of instructional design. New York:  Holt, Rinehart and Winston.<br />
Gagne, Robert M. dan Driscoll, Marcy P. 1988.  Essentials of learning for instruction. Englewood Cliffs, NJ.: Prentice-Hall,  Inc.<br />
Hendorn, James N. 1987. Learner interests, achievement, and continuing  motivation in instruction, Journal of Instructional Development, Vol. 10 (3),  11-14.<br />
Hilgard, Ernest R. dan Bower, Gordon H. 1975. Theories of learning.  Englewood Cliffs, NJ: Prentice Hall, Inc.<br />
Hopkins, Charles D. dan Antes,  Richard L. 1990. Classroom measurement and evaluation. Itasca, Illinois: F.E.  Peacock Publisher, Inc.<br />
Keller, John M. 1983. Motivational design instruction  dalam Charles M Reigeluth (ed.), Instructional design theories and models,  383-430. Hillsdale, NJ.: Lawrence Erlbaum Associates, Publishers.<br />
________  1987. Development and use of ARCS model of instructional design, Journal of  Instructional Development, Vol. 10 (3), 2-9.<br />
Keller, John M. dan Thomas W.  Kopp. 1987. An application of the ARCS model of motivational design, dalam  Charles M. Reigeluth (ed), Instructional theories in action, 289-319. Hillsdale,  NJ: Lawrence Erlbaum Associates, Publishers.<br />
Lastri, M.T.F. 1993. Kemampuan  murid SD memprihatinkan, Kompas, 14 Juli, 12.<br />
Lefrancois, Guy R. 1982.  Psychology for teaching. Belmont, CA: Wadsworth Publishing  Company.<br />
McClelland, David C. 1987. Memacu masyarakat berprestasi. Terjemahan  Siswo Suyanto dan W.W. Bakowatun. Jakarta: CV. Intermedia.<br />
Morris, William  (ed) 1981. The American heritage dictionary of English language. Boston:  Houghton Miflin Company. Petri, Herbert L. 1986. Motivation: Theory and  research. Belmont, CA: Wadsworth Publishing Company.<br />
Prayitno, Elida 1989.  Motivasi dalam belajar. Jakarta: PPPLPTK.<br />
Reigeluth, Charles M. dan Curtis  Ruth V. 1987. Learning situations and instructinal models, dalam Robert M. Gagne  (ed.), Instructional technology foundations, 175-206. Hillsdale, NJ: Lawrence  Erlbaum Associates, Publishers. Semiawan, Conny R. 1991.<br />
Strategi  pembelajaran yang efektif dan efisien dalam Conny R. Semiawan dan Soedijarto  (ed.), Mencari strategi pengembangan pendidikan nasional menjelang abad XXI,  165-175. Jakarta: Grasindo. Soekamto, Toeti 1994. Evaluasi diri demi peningkatan  mutu pendidikan. Pidato pengukuhan guru besar tetap Fakultas Pendidikan  Teknologi dan Kejuruan, Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Jakarta, 30  Juli.<br />
Sopah, Djamaah 1998. Studi tentang model peningkatan motivasi  berprestasi siswa, Laporan penelitian. Palembang: Lembaga Penelitian Universitas  Sriwijaya.<br />
________ 1999. Pengaruh model pembelajaran ARIAS dan motivasi  berprestasi terhadap hasil belajar siswa, Disertasi. Jakarta: PPS-IKIP  Jakarta.<br />
Suryabrata, Sumadi 1982. Psikologi pendidikan: Materi pendidikan  program bimbingan konseling di Perguruan Tinggi. Yogyakarta:  Depdikbud.</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p><a href="http://tonyjustinus.wordpress.com/2007/11/11/waterfall-process-model/"></a></div>
</div>
</div>
<br />Posted in PENDIDIKAN Tagged: metode debat, model-model pembelajaran, problem solving <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/haryono10182.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/haryono10182.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/haryono10182.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/haryono10182.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/haryono10182.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/haryono10182.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/haryono10182.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/haryono10182.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/haryono10182.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/haryono10182.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/haryono10182.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/haryono10182.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/haryono10182.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/haryono10182.wordpress.com/33/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=haryono10182.wordpress.com&amp;blog=5778151&amp;post=33&amp;subd=haryono10182&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://haryono10182.wordpress.com/2009/01/02/model-model-pembelajaran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4e360807ddc2482d9b6bf85e2b43d15e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">haryono10182</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM</title>
		<link>http://haryono10182.wordpress.com/2008/12/29/sejarah-pendidikan-islam/</link>
		<comments>http://haryono10182.wordpress.com/2008/12/29/sejarah-pendidikan-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Dec 2008 09:50:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>haryono10182</dc:creator>
				<category><![CDATA[PENDIDIKAN]]></category>
		<category><![CDATA[PERKEMBANGAN PENDIDIKAN ISLAM]]></category>
		<category><![CDATA[SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://haryono10182.wordpress.com/?p=29</guid>
		<description><![CDATA[BAB I PENDAHULUAN Proses pendidikan sebenarnya telah berlangsung sepanjang sejarah dan berkembang sejalan dengan perkembangan sosial budaya manusia di bumi. Proses pewarisan dan pengembangan budaya manusia yang bersumber dan berpedoman pada ajaran Islam sebagaimana termaktub dalam Al Qur`an dan terjabar dalam Sunnah Rasul bermula sejak Nabi Muhmmad SAW menyampaikan ajaran tersebut pada umatnya. Pembahasan tentang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=haryono10182.wordpress.com&amp;blog=5778151&amp;post=29&amp;subd=haryono10182&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="center"><span style="font-size:medium;"><strong>BAB I</strong></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="center"><span style="font-size:medium;"><strong>PENDAHULUAN</strong></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="center">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="center">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Proses pendidikan sebenarnya telah berlangsung sepanjang sejarah dan berkembang sejalan dengan perkembangan sosial budaya manusia di bumi. Proses pewarisan dan pengembangan budaya manusia yang bersumber dan berpedoman pada ajaran Islam sebagaimana termaktub dalam Al Qur`an dan terjabar dalam Sunnah Rasul bermula sejak Nabi Muhmmad SAW menyampaikan ajaran tersebut pada umatnya.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Pembahasan tentang pertumbuhan dan perkembangan pendidikan Islam dibagi dalam lima periodisasi, yaitu periode pembinaan pendidikan Islam pada masa Nabi Muhammad SAW, periode pertumbuhan pendidikan Islam yang berlangsung sejak Nabi Muhammad SAW wafat sampai masa akhir Bani Umayyah, periode kejayaan (puncak perkembangan) pendidikan Islam yang berlangsung sejak permulaan Daulah Abbasiyah sampai jatuhnya Baghdad, periode kemunduran pendidikan Islam, yaitu sejak jatuhnya Baghdad sampai jatuhnya Mesir ke tangan Napoleon yang ditandai dengan runtuhnya sendi-sendi kebudayaan Islam dan berpindahnya pusat-pusat pengembangan kebudayaan ke dunia Barat dan periode pembaharuan pendidikan Islam yang berlangsung sejak pendudukan Mesir oleh Napoleon sampai masa kini yangn ditandai dengan gejala-gejala kebangkitan kembali umat dan kebudayaan Islam.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Dalam makalah ini akan dibahas tentang periode kejayaan (puncak perkembangan) pendidikan Islam yang berlangsung sejak permulaan Daulah Abbasiyah sanpai dengan jatuhnya Baghdad yang diwarnai oleh berkembangnya ilmu aqliyah dan timbulnya madrasah serta memuncaknya perkembangan kebudayaan Islam.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Pembahasan pada periode kejayaan ini merupakan rangkaian pembahasan sejarah pendidikan Islam. Karena pada hakikatnya suatu peristiwa sejarah seperti halnya sejarah pendidikan Islam selalu berkaitan dengan peristiwa lainnya yang saling berhubungan yang mengakibatkan terjadinya rentetan peristiwa serta memberinya dinamisme dalam waktu dan tempat.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Semoga dengan makalah ini pembaca dapat menambah pengetahuan tentang peristiwa sejarah khususnya sejarah pendidikan Islam pada masa kejayaan.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="center"><span style="font-size:medium;"><strong>BAB II</strong></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="center"><span style="font-size:medium;"><strong>PEMBAHASAN</strong></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="center">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="center"><span style="font-size:medium;"><strong>SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM PADA MASA KEJAYAAN</strong></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Masa kejayaan pendidikan Islam merupakan satu periode dimana pendidikan Islam berkembang pesat yang ditandai dengan berkembangnya lembaga pendidikan Islam dan madrasah (sekolah-sekolah) formal serta universitas-universitas dalam berbagai pusat kebudayaan Islam. Lembaga-lembaga pendidikan sangat dominan pengaruhnya dalam membentuk pola kehidupan dan pola budaya umat Islam. berbagai ilmu pengetahuan yang berkembang melalui lembaga pendidikan itu menghasilkan pembentukan dan pengembangan berbagai macam aspek budaya umat Islam.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Pada masa kejayaan ini, pendidikan Islam merupakan jawaban terhadap tantangan perkembangan dan kemajuan kebudayaan Islam. kebudayaan Islam telah berkembang dengan cepat sehingga mengungguli dan bahkan menjadi puncak budaya umat manusia pada masa itu.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Dalam perkembangan kebudayaan Islam, ada dua faktor yang mempengaruhi yaitu faktor intern atau pembawaan dari ajaran Islam itu sendiri dan faktor ekstern yaitu berupa tantangan dan rangsangan dari luar.<sup><a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote1anc" href="#sdfootnote1sym"><sup>1</sup></a></sup></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Pendidikan Islam mencapai puncak kejayaan pada masa dinasti Abbasiyah, yaitu pada masa pemerintahan Harun al Rasyid (170-193 H). Karena beliau adalah ahli ilmu pengetahuan dan mempunyai kecerdasan serta didukung negara dalam kondisi aman, tenang dan dalam masa pembangunan sehingga dunia Islam pada saat itu diwarnai dengan perkembangan ilmu pengetahuan.<sup><a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote2anc" href="#sdfootnote2sym"><sup>2</sup></a></sup></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Tujuan pendidikan pada masa Abbasiyah yaitu<sup><a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote3anc" href="#sdfootnote3sym"><sup>3</sup></a></sup>;</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Tujuan 	Keagamaan dan Ahlak</p>
</li>
</ol>
<p style="margin-left:.49in;text-indent:.01in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Anak didik diajarkan membaca dan menghafal al Qur`an karena hal itu merupakan suatu kewajiban dalam agama agar mereka mengikuti ajaran agama dan berahlak menurut agama.</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Tujuan 	Kemasyarakatan</p>
</li>
</ol>
<p style="margin-left:.49in;text-indent:.01in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Pemuda-pemuda yang belajar dan menuntut ilmu agar mereka dapat mengubah dan memperbaiki masyarakat menjadi masyarakat yang bersinar ilmu pengetahuan.</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Cinta 	akan Ilmu Pengetahuan</p>
</li>
</ol>
<p style="margin-left:.49in;text-indent:.01in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Belajar demi memperdalam ilmu pengetahuan.</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Tujuan 	Kebendaan</p>
</li>
</ol>
<p style="margin-left:.49in;text-indent:.01in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Menuntut ilmu supaya mendapat penghidupan yang layak, pangkat yang tinggi, bahkan kekuasaan dan kemegahan di dunia ini.</p>
<p style="margin-left:.49in;text-indent:.01in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><strong>A. Kurikulum </strong></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><strong> </strong>Menurut Ahmad Tafsir, kurikulum adalah sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh atau dipelajari oleh siswa. Pada masa kejayaan Islam, mata pelajaran bagi kurikulum sekolah tingkat rendah adalah al Qur`an, agama, membaca, menulis, dan syair. Di istana-istana biasanya ditegaskan pentingnya pengajaran khittabah, ilmu sejarah, cerita perang, cara-cara pergaulan, ilmu-ilmu pokok seperti al Qur`an, syair dan fiqh.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Di lembaga-lembaga pendidikan formal, seperti masjid, kurikulumnya adalah ilmu agama dengan al Qur`an sebagai intinya. Selain itu hadits dan tafsir. Hadits merupakan materi penting di masjid-masjid, karena kedudukannya sebagai sumber agama Islam yang kedua, setelah al Qur`an. Sedangkan tafsir adalah ilmu yang membahas kandungan al -Qur`an dengan penafsirannya.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Pelajaran fiqh, merupakan materi kurikulum yang paling populer karena bagi mereka yang ingin mencapai jabatan-jabatan dalam pengadilan harus mendalami bidang studi tersebut. Banyaknya muslim yang tertarik pada ilmu fiqh karena besarnya penghasilan yang diperoleh ahli-ahli fiqh dalam memecahkan masalah fiqhiyah seperti masalah warisan menyebabkan berkembangnya kebiasaan buruk sebagaimana yang dikritik oleh al Ghazali yaitu munculnya ahli fiqh yang memberikan fatwa-fatwa demi mengharap imbalan harta.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Seni berdakwah (retorika) juga membentuk bagian penting dalam pengajaran ilmu-ilmu agama, karena kemampuan menyampaikan dakwah dengan meyakinkan dan pelajaran yang ilmiah serta memainkan peranan penting dalam kehidupan keagamaan dan pendidikan Islam di kalangan masyarakat muslim. Mata pelajaran retorika teridiri dari tiga cabang yaitu <em>al Ma`ani</em> yang membahas perbedaan kalimat dan bagaimana melafalkannya dengan jelas, <em>al Bayan</em>, yang mengajarkan seni mengekspresikan ide-ide dengan fasih dan tidak mengandung arti ganda, dal <em>al Badi</em> yang membahas kata-kata indah dan hiasan kata dalam pidato<sup><a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote4anc" href="#sdfootnote4sym"><sup>4</sup></a></sup>.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><strong>B. Metode Pengajaran</strong></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Metode pemngajaran merupakan salah satu aspek yang penting dalam proses belajar mengajar untuk mentransfer pengetahuan atau kebudayaan dari seorang guru kepada anak didiknya. Melalui metode pengajaran terjadi proses internalisasi dan pemilihan ilmu oleh murid, sehingga murid dapat menyerap apa yang disampaikan gurunya.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Metode pengajaran yang dipakai pada masa dinasti Abbasiyah dapat dikelompokkan menjadi 3 macam, yaitu<sup><a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote5anc" href="#sdfootnote5sym"><sup>5</sup></a></sup> :</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Metode 	lisan</p>
</li>
</ol>
<p style="margin-left:.52in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Metode ini dapat berupa dikte, ceramah, qira`ah, dan dapat berupa diskusi. Dikte (imla) adalah metode untuk menyampaikan pengetahuan yang dianggap baik dan aman sehingga pelajar mempunyai catatan yang dapat membantunya terutama bagi yang daya ingatnya tidak kuat. Metode ceramah (al asma`), yaitu guru membacakan bukunya atau menjelaskan isi buku dengan hafalan, sedangkan murid mendengarkannya. Pada saat tertentu guru memberi kesempatan kepada murid untuk menulis dan bertanya. Metode qira`ah (membaca) biasanya digunakan untuk membaca. Sedangkan diskusi merupakan metode pengajaran dalam pendidikan Islam dengan cara perdebatan.</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Metode 	hafalan</p>
</li>
</ol>
<p style="margin-left:.52in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Metide ini dilakukan oleh murid dengan cara membaca berulang-ulang sehingga pelajaran melekat di benak mereka. Dalam proses selanjutnya, murid mengeluarkan kembali pelajaran yang dihafalnya sehingga dalam suatu diskusi dia dapat merespon, mematahkan lawan, atau memunculkan ide baru.</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Metode 	tulisan</p>
</li>
</ol>
<p style="margin-left:.52in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Metode ini merupkan metode pengkopian karya-karya ulama. Metod ini di samping bermanfaat bagi proses penguasaan pengetahuan juga sangat besar artinya bagi penggandaan jumlah buku  karena pada masa itu belum ada mesin cetak.</p>
<p style="margin-left:.52in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><strong>C. Kehidupan Murid</strong></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Ciri utama kehidupan murid dalam pendidikan tingkat dasar adalah :</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Diharuskannya 	belajar membaca dan menulis.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Bahan 	pengajarannya menggunakan syair-syair dan bukan al Qur`an karena 	dikhawatirkan mereka membuat kesalahan yang akan menodai al Qur`an.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Murid-murid 	diajarkan membaca dan menghafalkan al Qur`an.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Pada 	sekolah dasar tidak ditentukan lamanya belajar dan tergantung pada 	kemampuan anak-anak.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Hubungan 	guru dan murid sebagai hubungan orang tua dan anak.</p>
</li>
</ol>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Pada pendidikan tingkat tinggi murid-murid bebas memilih guru yang mereka sukai yang dianggapnya paling baik.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Di antara ciri khas pendidikan di masa dinasti Abbasiyah adalah <em>teacher oriented </em>, yaitu kualitas suatu oendidikan tergantung pada guru. Pelajar bebas mengikuti suatu pelajaran yang dikehendaki dan bisa belajar dimana saja, misdalnya di perpustakaan, toko buku, rumah ulama atau tempat terbuka. Pelajar dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu pelajar tidak tetap, yang terdiri dari para pekerja yang mengikuti pelajaran untuk menunjang profesi dan pelajar tetap, yaitu pelajar yan g mempunyai tujuan utama untuk belajar dan menghabiskan sebagian hidupnya untuk belajar.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Setiap pelajar membuat daftar guru-guru yang mengajar yang disebut <em>Mu`jam al Masyakhah.</em> Daftar tersebut digunakan sebagi bukti bahwa mereka telah belajar kepada guru-guru yang terkenal dan dapat mengetahui kualitas hadits yang mereka terima dari seorang guru.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><strong>D. Rihlah Ilmiyah</strong></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Yaitu pengembaraan atau perjalanan jauh untuk mencari ilmu. Dengan adanya sistem ini pendidikan di masa dinasti Abbasiyah tidak hanya di batasi dengan dinding kelas (<em>school without wall</em>) tetapi memberikan kebebasan kepadamurid untuk belajar kepada guru-guru yang mereka kehendaki. Guru-guru juga melakukan perjalanan dan pindah dari satru tempat ke tempat lain untuk mengajar sekaligus belajar, sehingga sistem rihlah ilmiyah disebut dengan <em>learning society</em> (masyarakat belajar).</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Kebebasan perjalanan di berbagai daerah Islam menyebabkan pertukaran pemikiran (<em>culture contact</em>) terus berlangsung antar masyarakat Islam sehingga dinamika sosial dan peradaban Islam terus berlangsung. Syalabi, mengutip dari Nicholson menjelaskan bahwa melakukan perjalanan ilmiah laksana lebah mencari bunga ke tempat yang jauh kemudian mereka kembali ke kota kelahirannya dengan membawa madu yang manis.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><strong>E. Wakaf</strong></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Lembaga wakaf menjadi sumber keuangan bagi lembaga pendidikan Islam. adanya sistem wakaf dalam Islam disebabkan oleh sistem ekonomi Islam yang menganggap bahwa ekonomi berhubungan erat dengan akidah dan syari`ah Islam sehingga aktifitas ekonomi memppunyai tujuan ibadah dan kemaslahatan bersama. Oleh karena itu di saat ekonomi Islam mencapai kemajuan, umat Islam tidak segan-segan membelanjakan uangnya untuk kepentingan dan kesejahteraan umat Islam seperti halnya untuk pelaksanaan pendidikan Islam. Dengan dipelopori penguasa Islam yang cinta ilmu seperti Harun al Rasyid dan al Ma`mun maka berdirilah lembaga-lembaga pendidikan untuk keilmuan.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Menurut Syalabi, bahwa khalifah al Ma`mun adalah orang yang pertama kali memberikan pendapatnya tentang pembentukan badan wakaf.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><strong>F. Berkembangnya Lembaga Pendidikan Islam</strong></p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><em>Lembaga 	Pendidikan Islam Nonformal</em></p>
</li>
</ol>
<p style="margin-left:.39in;text-indent:-.22in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">a.	Kutab sebagai Lembaga Pendidikan Dasar</p>
<p style="margin-left:.39in;text-indent:-.22in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Kutab atau maktab, berasal dari kata dasra <em>kattaba</em> yang berarti menulis atau tempat menulis. Pada mulanya dilaksanakan di rumah guru-guru yang bersangkutan, yang diajarkan adalah menulis dan membaca. Kemudian pada akhir abad pertama hijriyah, kutab tidak hanya mengajarkan menulis dan membaca, tetapi juga mengajarkan membaca al Qur`an dan pokok-pokok ajaran Islam.</p>
<p style="margin-left:.39in;text-indent:-.22in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">b.	Pendidikan Rendah di Istana</p>
<p style="margin-left:.39in;text-indent:-.22in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Pendidikan anak di istana berbeda dengan pendidikan di kutab pada umumnya. Di istana orng tua murid membuat rencana pelajaran yang selaras dengan anaknya. Guru yang mengajar disebut <em>Mu`addib</em>, karena berfungsi mendidik budi pekerti dan mewariskan kecerdasan serta pengetahuan.</p>
<p style="margin-left:.39in;text-indent:-.22in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">c.	Toko-Toko Kitab</p>
<p style="margin-left:.39in;text-indent:-.22in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Toko-toko kitab bukan hanya sebagai tempat berjual beli saja, tetapi juga sebagi tempat berkumpulnya para ulama, pujangga, dan ahli-ahli ilmu pengetahuan untuk berdiskusi, berdebat, bertukar pikiran dalam berbagai masalah ilmiah atau sekaligus sebagai lembaga pendidikan dalam rangka pengembangan berbagai macam ilmu pengetahuan dan kebudayaan Islam.</p>
<p style="margin-left:.39in;text-indent:-.22in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">d.	Rumah-Rumah Para Ulama (Ahli Ilmu Pengetahuan)</p>
<p style="margin-left:.39in;text-indent:-.22in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Pada masa kejayaan perkembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan Islam, rumah-rumah para ulama dan ahli ilmu pengetahuan menjadi tempat belajar dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Di antaranya, rumah Ibnu Sina, al Ghazali, Ali Ibnu Muhammad al Fashihi, Ya`qub Ibnu Killis, Wazir Khalifah, dan al Aziz Billah al Fathimy.</p>
<p style="margin-left:.39in;text-indent:-.22in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">e.	Majelis Kesusasteraan</p>
<p style="margin-left:.39in;text-indent:-.22in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Yaitu majelis khusus yang diadakan oleh khalifah untuk membahas berbagai macam ilmu pengetahuan.</p>
<p style="margin-left:.39in;text-indent:-.22in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">f.	Badiah (Padang Pasir, Dusun Tempat Tinggal Badwi)</p>
<p style="margin-left:.39in;text-indent:-.22in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Badiah digunakan sebagai tempat untuk mempelajari bahasa Arab yang fasih dan murni serta mempelajari syair-syair dan sastra Arab. Ulama-ulama yang banyak pergi ke Badiah untuk tujuan tersebut di antaranya;<sup><a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote6anc" href="#sdfootnote6sym"><sup>6</sup></a></sup></p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">al Khalil bin Ahmad 	(160 H). ia pergi ke badiah Hijaz, Najd, dan Tihamah.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Bajar bin Burd (167 	H). Ia belajar kepada 80 orang syekh di Bani Aqil.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">al Kasai (182 H). Ia 	belajar di badiah dan menghabiskan 15 botol tinta untuk menulis 	tentang Arab.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Imam Syafi`i (204 	H). Ia belajar di Hudzail selama 17 tahun.</p>
</li>
</ol>
<p style="margin-left:.37in;text-indent:-.21in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">g.	Rumah Sakit (Bimaristan)</p>
<p style="margin-left:.39in;text-indent:-.23in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Pada masa dinasti Abbasiyah yang mendirikan rumah sakit adalah Harun al Rasyid, yang memerintahkan kepada dokter Jibrail bin Buhtaisu untuk mendirikan rumah sakit di Baghdad. Di sebelah rumah sakit ada perpustakaan dan bilik untuk mengajarkan ilmu kedokteran dan ilmu obat-obatan.</p>
<p style="margin-left:.39in;text-indent:-.23in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">h.	Perpustakaan</p>
<p style="margin-left:.39in;text-indent:-.23in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Perpustakaan menjadi aspek budaya yang penting dan sebagai tempat belajar serta sumber pengembangan ilmu pengetahuan. Perpustakaan ada 3 macam, yaitu;</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Perpustakaan 	baitul hikmah di Baghdad, didirikan oleh khalifah Harun al Rasyid. 	Perpustakaan ini berisi ilmu-ilmu agama Islam dan bahasa Arab dan 	ilmu umum yang diterjemahkan dari bahasa Yunani, Persia, India, 	Qibty, dan Arami.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Perpustakaan 	al Haidariyah di Najaf (Irak) di sebelah makam Ali bin Abi Thalib.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Perpustakaan 	Ibnu Suwar di Basrah, didirikan oleh Abu Ali bin Suwar. Dalam 	perpustakaan ini diadakan khalakah pelajaran.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Perpustakaan 	Sabur didirikan pada tahun 383 H oleh Abu Nasr sabur bin Ardasyir. 	Dalam perpustakaan ini kurang lebih ada 10.400 jilid buku.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Darul 	Hikmah di Kairo (Mesir), didrikan oleh al Hakim Biamrillah al 	Fathimy tahun 395 H.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Perpustakaan 	khusus, yaitu perpustakaan al Fath bin Khagan Wazir al Mutawakkil al 	Abbasy (247 H), Perpustakaan Hunain bin Ishaq (264 H), dan 	Perpustakaan Ibnu al Khassyah (567 H).</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Perpustakaan 	di Andalusia, perpustakaan yang besar adalah perpustakaan di 	Kurtubah (Cordova). Didirikan oleh al Hakam bin an Nashir yang 	menjadi khalifah di Andalusia tahun 350 H.</p>
</li>
</ol>
<p style="margin-left:.39in;text-indent:-.22in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">i.	Ribath (Khaniqah), ialah kamp, tempat tentara yang dibangun di perbatasan negeri intuk mempertahankan negara dari serangan musuh. Ribath yang terbesar adalah di sebelah utara negeri Syam (Syiria) dan utara Afriqiah (Tunisia). Ribath digunakan sebagai tempat tinggal orang-orang sufi dan tempat penginapan alim ulama dan pelajar yang datang dari luar negeri untuk belajar hadits, ilmu agama, dan bahasa Arab.</p>
<p style="margin-left:.39in;text-indent:-.22in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><em>Lembaga 	Pendidikan Formal</em></p>
</li>
</ol>
<p style="margin-left:.38in;text-indent:-.2in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">a.	Madrasah Nizamiah didrikan oleh Nizam al Mulk, perdana menteri Saljuk pada tahun 1065 M – 1067 M. Pada tiap-tiap kota Nizam al Mulk mendirikan satu madrasah besar, di antaranya di Baghdad, Balkh, Naisabur, Harat, Asfahan, Basran, Marw, dan Mausul. Tetapi madrasah Nizamiah Baghdad adalah madrasah yang terbesar dan terpenting. Tujuan Nizam al Mulk mendirikan madrasah-madrasah itu adalad untuk menperkuat pemerintahan Turki Saljuk dan untuk menyiarkan madzhab keagamaan pemerintahan.</p>
<p style="margin-left:.38in;text-indent:-.2in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><strong>Madrasah Nizamiah Baghdad</strong></p>
<p style="margin-left:.38in;text-indent:-.2in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><strong> </strong>Madrasah ini didirikan di dekat pinggir sungai Dijlah, di tengah-tengah pasar Selasah di Baghdad pada tahun 457 H. Guru-guru madrasah ini diantaranya Abu Ishaq as Syiraji (guru tetap), Abu Nasr as Sabagh, Abul Qasim al `Alawi, Abu Abdullah al –Thabari, Abu Hamid al Ghazali, Radliyudin al Kazwaeni dan al Fairuz Abadi.</p>
<p style="margin-left:.38in;text-indent:-.2in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Rencana pengajaran adalah ilmu syari`ah dan ilmu fiqh dalam 4 madzhab.</p>
<p style="margin-left:.38in;text-indent:-.2in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">b.	Madrasah Nuruddin Zinki, didirikan oleh Nuruddin Zinki di Damaskus. Madrasah-madrasah yang didirikannya yaitu madrasah an Nuriyah al Qubra di Damaskus (563 H). Gedung madrasah terdiri dari iwan (aula tempat kuliah), masjid, tempat istirahat untuk guru, asrama, tempat tinggal pesuruh madrasah, kamar kecil, dan lapangan. Madrasah lainnya yaitu madrasah yang didirikan pada masa al Ayubi dan madrasah al Mustansiriah di Baghdad (Irak) tahun 631 H. Madrasah al Mustansiriah didirikan oleh khalifah Abasyi al Mustansir Billah pada tahun 631 H. Ilmu-ilmu yang diajarkan yaitu ilmu al Qur`an, syari`ah, bahasa Arab, kedokteran, dan ilmu pasti.</p>
<p style="margin-left:.38in;text-indent:-.2in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">c.	Perguruan Tinggi;</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Baitul 	Hikmah di Baghdad, didirikan pada amasa Harun al Rasyid (170-193 H), 	kemudian diperbesar oleh khalifah al Ma`mun (198-218 H). Pada Baitul 	Hikmah bukan saja diajarkan ilmu-ilmu agama Islam, tetapi juga 	ilmu-ilmu pengetahuan seperti ilmu alam, kimia, falaq, dan 	lain-lain. Guru besar Baitul Hikmah adalah Salam, yang menguraikan 	teori-teori ilmu pasti dalam al Maj`sthi (almageste) kitab karangan 	Bathlimus (Ptolemee). Kemudian guru besar al Khawarazmi, ahli ilmu 	pasti, ahli falaq, dan pencipta ilmu al jabar, guru besar Muhammad 	bin Musa bin Syakir, seorang ahli ilmu ukur, ilmu bintang dan falaq. 	Di baitul Hikmah dikumpulkan buku-buku ilmu pengetahuan dalam 	bermacam-macam bahasa seperti bahasa Arab, Yunani, Suryani, Persia, 	India, dan Qibtia. Kemudian al Ma`mun mendirikan peneropong bintang 	yang disebut peneropong al Ma`muni. Setelah wafat al Ma`mun, maka 	Baitul Hikmah tidak mendapat perhatian penuh dari 	khalifah-khalifah.<sup><a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote7anc" href="#sdfootnote7sym"><sup>7</sup></a></sup></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Darul 	`Ilmi di Kairo. Didirikan oleh al Hakim Biamrillah al Fathimi di 	pinggir sungai Nil untuk menyaingi Baitul Hikmah di Baghdad. Menurut 	keterangan al Makrizi, bahwa Darul `Ilmi didirikan di kampung al 	Kharun Fusy dengan perintah al Hakim Biamrillah al Fathimi. Ilmu 	yang diajarkan di antaranya; ilmu agama, falaq, kedokteran, dan 	berhitung.</p>
</li>
</ol>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><strong>G. Berkembangnya Ilmu Pengetahuan</strong></p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Ilmu 	Tafsir</p>
</li>
</ol>
<p style="margin-left:.43in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Ulama-ulama tafsir tidak hanya menerangkan makna-makna al Qur`an saja, tetapi juga menerangkan sebab-sebab turunnya ayat, bukti-bukti dari segi bahasa, nahwu, balaghah, yang dikandungnya dan dengan akidah dan hukum-hukum fiqh yang bisa dihasilkan dari ayat-ayat tersebut. Seperti tafsir <em>Imam Salam al Basri</em> (w.200 H), tafsir <em>Mufradat al Qur`an</em> (bahasa al Qur`an)<em> </em>karangan <em>al Roghib al as Fahani</em>, tafsir <em>Abu Ishaq al Zajjaj</em>, tafsir al <em>Bahr al Muhit</em> (masalah nahwu) karangan <em>Abu Hayyan</em>, tafsir <em>al Kasysyaf</em> (segi balaghah)<em> </em>oleh <em>al Zamakhsyari, </em>tafsir <em>al Qurtubi</em> (penentuan hukum-hukum fiqh), dan tafsir <em>al Fahr al Razi</em> yang bernama Mafatih al Ghayb yang menitik beratkan pada aspek intelektual.</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Ilmu 	Qira`at</p>
</li>
</ol>
<p style="margin-left:.43in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Lahirnya madzhab qira`at di Andalusia seperti Abu `Umar al Dani, Abu Muhammad al Syatibi, dan Abu Abdullah al Sarbini al Kharraz.</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Ilmu 	Hadits</p>
</li>
</ol>
<p style="margin-left:.43in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Diantara ulama-ulama yang menganjurkan penghimpunan hadits-hadits shahih adalah Imam Malik bin Anas (95-179 H) yang menulis kitab al Muwatha`, kemudian diikuti oleh Imam Muhammad bin Ismail al Buhori (259 H) dan muridnya Muslim bin Al Hajaj al Nisaburi (w.261 H). Kemudian muncul kitab-kitab hadits shahih yang dikarang oleh ulama-ulama terkenal seperti Abu Dawud Sulaiman bin al Asy`ath al Sajistani (w.275 H), Imam Abu `Isa Tirmidzi (w.273 H), dan Imam al Nasai (w.303 H).<sup><a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote8anc" href="#sdfootnote8sym"><sup>8</sup></a></sup></p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Ilmu 	Fiqh</p>
</li>
</ol>
<p style="margin-left:.43in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Di antara yang terkenal dalam bidang ini adalah Abu Hanifah al Nu`man bin Tabith pendiri madzhab Hanafi (80 – 150 H), Malik bin Anas al Asbahi (95 – 179 H), Abu Abdullah Muhammad bin Idris al Syafi`i (150-204 H), dan Imam Ahmad bin Hanbal al Syaibani (164-241 H).</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Ilmu 	Ushul Fiqh</p>
</li>
</ol>
<p style="margin-left:.43in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Diantara yang terkenal dalam bidang ini adalah Imam Muhammad bin Idris al -Syafi`i, Abu Bakar al Syasyi al Qaffal al Syafi`i, al Walid al Baji al Andalusi, al -Syatibi dengan kitabnya al <em>Muwafaqot fi Ushul al Ahkam</em>, al Ghazali dengan kitab al-Mustasfa. Juga terkenal al Baqillani, Ibnu al Hajib, dan Abu Ishaq Ibrahim al –Nisaburi.</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Ilmu 	Kalam</p>
</li>
</ol>
<p style="margin-left:.43in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Di antara yang terkenal di kalangan madzhab Asy`ari adalah Abu Bakar al Bakillani, Imam al Haramain, Abdul Kohir al Baghdadi, al Ghazali, al Syahrastani, Abu al -Ma`ali, al Juwaini, dan lain-lain.</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Ilmu 	Tasawuf</p>
</li>
</ol>
<p style="margin-left:.43in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Mula-mula tasawuf Islam berdasar pada al Qur`an dan Sunnah seperti yang diamalkan para sahabat, tabi`in, dan ulama-ulama fiqh, seperti Malik bin Anas dan Ahmad bin Hanbal. Kemudian muncul tasawuf sunni yang berkembang ditangan al Harits al Muhasibi dan Abu al Qasim al Junaid dan pada puncaknya ditangan al Ghazali yang tersebar melalui tariqat syaziliah.</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Ilmu 	Tulen</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Ilmu 		Matematika, di antarnya yang terkenal adalah Muhammad bin Musa al 		Khawarizmi (w.236 H) yang menulis al jabar dalam bukunya <em>al Jibr 		wal Muqabalah</em>, al Qaslawi yang menggunakan symbol dalam 		matematik, al Tusi yang menunjukkan kekurangan teori eclideus.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Ilmu 		Falaq, di antara yang terkenal adalah Muhammad al Fazzari (w.158 		H), sebagai ahli falaq Islam yang pertama dan penerjemah buku <em>al 		Sind Hind</em>. Kemudian Abu Ishaq bin Habib bin Sulaiman (w.160 H) 		yang menulis buku falaq dan mencipta alat-alat teropong bintang, 		Musa bin Syakir yang menulis buku ilmu falaq berjudul <em> Kitab al 		Ikhwah al Thalathah</em>, Abu Ma`asyar bin Muhammad bin `Umar al 		Balkhi, dengan bukunya <em>al Madkhal ila ahkam al Nujum</em>, dan 		Ibnu Jabir al Battani (w.318 H), salah seorang pelopor 		trigonometri.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Ilmu 		Musik, seperti al Kindi al Farabi, dan Ibnu Sina</p>
</li>
</ol>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Ilmu 	Kealaman dan Eksperimental</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Ilmu 		Kimia, yang pertama kali menerjemahkan ilmu kimia ke dalam bahasa 		Arab ialah Amir Umaiyah Khalid bin Yazid bin Muawiyah (w.85 H). 		Kemudian diikuti oleh al Kindi, al Razi, Ibnu Sina, Abu Mansur 		Muwaffaq, Muhammad bin Abdul Malik, dan Mansur al Kamili.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Ilmu 		Fisika, salah seorang yang paling berpengaruh dalam bidang ini 		adalah al Hasan bin al Haitham (w.430 H), salah satu bukunya adalah 		al Manazir.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Ilmu 		Biologi, di antara yang terkenal ialah Abu Bakar Muhammad al Razi 		(w.315 H), seorang dokter yang menulis tentang tumbuhan bunga dan 		buah-buahan. Diikuti oleh Ibnu Sina (w.423 H) seorang filosof dan 		dokter yang menulis tentang tubuh-tumbuhan dalam bukunya <em>al 		Qanun</em>.</p>
</li>
</ol>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Ilmu 	Terapan dan Praktis<sup><a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote9anc" href="#sdfootnote9sym"><sup>9</sup></a></sup></p>
</li>
</ol>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Ilmu 	Kedokteran, di antara ilmuwan-ilmuwan muslim yang terkenal adalah 	Abu Bakar al Razi (w.351 H), bukunya yang termashur adalah <em>al 	Hawi</em> sebagai ensiklopedia kedokteran. Kemudian Ibnu Sina yang 	mengarang buku al Qanun yang juga dianggap ensiklopedia kedokteran 	dan farmasi, Ali al Abas (w.348 H) dengan bukunya <em>Kamil al 	Sina`ah fi al Tib</em>. Juga terkenal dokter mata dan pengarang buku 	<em>al Tazkir</em> yaitu Ibnu al Jazzar (w.1009 H). Abu al Qasim al 	Zahrawi, seorang tukang bedah di Andalusia yang menulis buku <em>al 	Tasrif liman `Aziz `an al Ta`alif</em>, Abu Marwan Abdullah bin Zuher 	al Isyabili al Andalusi seorang ahli kedokteran klinik terbesar, 	`Ala al Din `Ali bin Abi Hazm al Qurasyi al Dimasqi (Ibnu al Nafis) 	seorang ahli anatomi, Ibnu al Khatimah yang menulis tentang penyakit 	campak dan lain-lain.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Ilmu 	Farmasi, ahli-ahli yang menulis khusus mengenai farmasi yaitu al 	Razi, Abd Rahman bin Syahid al Andalusi, Masawaih al Mardini, Ibn 	Wafid al Tulaitali al Andalusi, Ibnu al Baitar, Abu Abdullah bin 	Sa`id al Tamimi, dan Ahmad bin Khalil al Qafiqi.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Ilmu 	Pertanian, di antara yang terkenal adalah Ibn al Rumiyah al Isyabili 	dan muridnya Ibn al Baitar, Zakariya bin Muhammad bin al `Awwam al 	Isyabili yang menulis kitab <em>al Falahah.</em></p>
</li>
</ol>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Para sarjana muslim telah mengembangkan metodologi untuk mendapatkan ilmu pengetahuan melalui metode observasi dan metode histories (sejarah) sebagaimana yang dikembangkan Ibnu Khaldun. Dalam bidang kebudayaan pada umumnya Islam telah mempersembahkan kepada dunia, suatu tingkat budaya tinggi yang menjadi mercusuar budaya umat manusia beberapa abad sesudahnya. Dalam bidang arsitektur sangat menonjol bangunan-bangunan masjid dan istana-istana yang indah.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Demikianlah dunia Islam di masa jayanya, yang dihiasi dengan berbagai unsur budaya dan ilmu pengetahuan yang beraneka ragam, dapat diibaratkan sebagai taman yang indah penuh dengan berbagai macam tanaman dengan bunga dan buah yang beraneka warna. Keadaan demikian berlangsung, sampai suatu saat terjadi kemunduran kaum muslimin setelah jatuhnya kota Baghdad yang diserang oleh Tar-Tar (Hulako) tahun 658 H.Hulako memerintahkan supaya khalifah Abbasiyah, ulama-ulama, dan pembesar-pembesar di bunuh. Oleh tentara Hulako diadakan pembunuhan besar-besaran selama 40 hari lamanya. Keluarga khalifah, ulama, dan pembesar-pembesar habis terbunuh, yang tertinggal hanya anak-anak bayi yang dijadikan tawanan dan budak dan orang-orang yang dapat melarikan diri. Kitab-kitab dan buku-buku dalam perpustakaan dibakar habis dan kulitnya dijadikan sepatu tentara. Dengan demikian, berakhirlah sejarah khalifah di kota Baghdad, sehingga kota itu menjadi sunyi senyap, tidak ubahnya seperti negeri yang dikalahkan garuda dan merupakan masa semakin memudarnya mercusuar kebudayaan Islam.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="center">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="center"><span style="font-size:medium;"><strong>BAB III</strong></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="center"><span style="font-size:medium;"><strong>SIMPULAN</strong></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="center">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Pendidikan Islam mencapai puncak kejayaan pada masa dinasti Abbasiyah, yaitu pada masa pemerintahan Harun al Rasyid. Pendidikan pada masa ini memiliki tujuan keagamaan dan ahlak, tujuan kemasyarakatan, cinta ilmu pengetahuan dan tujuan kebendaan.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Kehidupan murid pada pendidikan tingkat dasar memiliki ciri-ciri yaitu diharuskannya belajar membaca dan menulis, diajarkan membaca dan menghafalkan al Qur`an, serta hubungan yang baik antara guru dan murid layaknya orang tua dan anak. Pada pendidikan tingkat tinggi kehidupan murid berbeda karena mereka diberi kebebasan untuk memilih guru yang mereka kehendaki dan diberi kebebasan untuk berpindah dari guru yang satu ke guru yang lain apabila guru itu dianggap lebih baik.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Pada masa itu berkembang sistem rikhlah ilmiah, yaitu pengembaraan dan perjalanan jauh yang dilakukan oleh guru dan pelajar sehingga dinamika sosial dan peradaban Islam terus berkembang. Juga dikenal lembaga wakaf yang bertujuan untuk kemaslahatan dan kesejahteraan umat Islam terutama dalam bidang pendidikan.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Pada masa kejayaan ini ditandai dengan berkembangnya berbagai lembaga pendidikan, baik formal yaitu berupa madrasah (sekolah) dan nonformal yang berupa kutab, pendidikan di istana, toko-toko buku, rumah-rumah ulama, majelis kesusasteraan, badiah, rumah sakit, perpustakan, dan ribath. Selain itu juga berkembang ilmu pengetahuan sebagai mercusuar bagi pendidikan Islam di masa yang akan datang.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Masa kejayaan pendidikan Islam berakhir setelah jatuhnya kota Baghdad oleh Tar-Tar (Holako) dan sebagai masa memudarnya kebudayaan Islam.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="center">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="center">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="center">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="center">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="center">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="center">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="center">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="center">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="center">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="center"><span style="font-size:medium;"><strong>DAFTAR PUSTAKA</strong></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="center">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="center">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Asrohah, Hanun, M.Ag, <em>Sejarah pendidikan Islam,</em> Jakarta : PT. Logos Wacana Ilmu. 1999</p>
<p style="margin-left:1.43in;text-indent:-1.43in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Langgulung, Hasan, <em>Pendidikan Islam Menghadapi Abad ke 21</em>, Jakarta : Pustaka al- Husna, 1998.</p>
<p style="margin-left:1.43in;text-indent:-1.43in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Yunus, Mahmud, <em> Sejarah Pendidikan Islam,</em> Jakarta : PT. Hidakarya Agung, 1992.</p>
<p style="margin-left:1.43in;text-indent:-1.43in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Zuhairini, Dra, dkk, <em>Sejarah Pendidikan Islam, </em> Jakarta : Proyek Pembinaan Prasarana dan sarana Perguruan Tinggi Agama/IAIN di Jakarta. 1996.</p>
<div id="sdfootnote1">
<p class="sdfootnote"><a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote1sym" href="#sdfootnote1anc">1</a> Hanun Asrohah, M.Ag, <em>Sejarah Pendidikan Islam</em>,(Jakarta : PT 	Logos Wacana Ilmu. 1999), h.77</p>
</div>
<div id="sdfootnote2">
<p class="sdfootnote" style="margin-left:.13in;text-indent:-.13in;"><a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote2sym" href="#sdfootnote2anc">2</a> Dra. Zuhairini, dkk, <em>Proyek Pembinaan Prasarana dan Sarana 	Perguruan Tinggi Agama/IAIN di                  Jakarta,</em>1986, h. 	95</p>
</div>
<div id="sdfootnote3">
<p class="sdfootnote"><a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote3sym" href="#sdfootnote3anc">3</a> Prof. Dr. H. Mahmud Yunus, <em>Sejarah Pendidikan Islam </em>(Jakarta 	: PT. Hida Karya Agung, 1992), h. 46-47</p>
</div>
<div id="sdfootnote4">
<p class="sdfootnote"><a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote4sym" href="#sdfootnote4anc">4</a> Hanun Asrohah, M.Ag,, <em>Op.cit</em>, h.76</p>
</div>
<div id="sdfootnote5">
<p class="sdfootnote"><a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote5sym" href="#sdfootnote5anc">5</a> <em>Ibid, </em>h. 77-79</p>
</div>
<div id="sdfootnote6">
<p class="sdfootnote"><a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote6sym" href="#sdfootnote6anc">6</a> Prof. Dr. H. Mahmud Yunus, <em>Op.cit</em>, h. 90</p>
</div>
<div id="sdfootnote7">
<p class="sdfootnote"><a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote7sym" href="#sdfootnote7anc">7</a> <em>Ibid</em>, h. 65</p>
</div>
<div id="sdfootnote8">
<p class="sdfootnote" style="margin-left:.14in;text-indent:-.14in;"><a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote8sym" href="#sdfootnote8anc">8</a> Prof. Dr. Hasan Langgulung, <em>Pendidikan Islam Menghadapi Abad ke 	21,</em> (Jakarta : Pustaka al Husna, 1988), h. 22</p>
</div>
<div id="sdfootnote9">
<p class="sdfootnote"><a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote9sym" href="#sdfootnote9anc">9</a> <em>Ibid,</em> h.<em> </em>39-41</p>
</div>
<br />Posted in PENDIDIKAN Tagged: PERKEMBANGAN PENDIDIKAN ISLAM, SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/haryono10182.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/haryono10182.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/haryono10182.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/haryono10182.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/haryono10182.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/haryono10182.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/haryono10182.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/haryono10182.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/haryono10182.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/haryono10182.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/haryono10182.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/haryono10182.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/haryono10182.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/haryono10182.wordpress.com/29/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=haryono10182.wordpress.com&amp;blog=5778151&amp;post=29&amp;subd=haryono10182&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://haryono10182.wordpress.com/2008/12/29/sejarah-pendidikan-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4e360807ddc2482d9b6bf85e2b43d15e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">haryono10182</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>TUJUAN PENDIDIKAN</title>
		<link>http://haryono10182.wordpress.com/2008/12/29/tujuan-pendidikan/</link>
		<comments>http://haryono10182.wordpress.com/2008/12/29/tujuan-pendidikan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Dec 2008 09:40:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>haryono10182</dc:creator>
				<category><![CDATA[abaout me,pendidikan,sains,sekolah,kuliah,umum,pengetahuan sosial,temanku]]></category>
		<category><![CDATA[PENDIDIKAN]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[TUJUAN PENDIDIKAN]]></category>
		<category><![CDATA[TUJUAN PENDIDIKAN SERING BERSIFAT SANGAT UMUM]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://haryono10182.wordpress.com/?p=26</guid>
		<description><![CDATA[TUJUAN PENDIDIKAN Tujuan pendidikan sering bersifat sangat umum, seperti menjadi manusia yang baik, bertanggung jawaab, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, mengabdi kepada masyarakat, bangsa dan negara, dan sebagainya. Dalam dunia pendidikan dikenal sejumlah usaha untuk menguraikan tujuan yang sangat umum tersebut. Salah seorang diantaranya adalah Herbert Spencer (1860) yang menganalisis tujuan pendidikan dalam lima [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=haryono10182.wordpress.com&amp;blog=5778151&amp;post=26&amp;subd=haryono10182&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="center"><span style="font-size:large;">TUJUAN PENDIDIKAN</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="center">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Tujuan pendidikan sering bersifat sangat umum, seperti menjadi manusia yang baik, bertanggung jawaab, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, mengabdi kepada masyarakat, bangsa dan negara, dan sebagainya.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Dalam dunia pendidikan dikenal sejumlah usaha untuk menguraikan tujuan yang sangat umum tersebut. Salah seorang diantaranya adalah Herbert Spencer (1860) yang menganalisis tujuan pendidikan dalam lima bagian, yang berkenaan dengan:</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Kegiatan 	demi kelangsungan hidup.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Usaha 	mencari nafkah.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Pendidikan 	anak.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Pemeliharaan 	hubungan dengan masyarakat dan negara.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Penggunaan 	waktu senggang.</p>
</li>
</ol>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Tujuan pendidikan yang dikemukakan Herbert Spencer tersebut didasarkan atas apa yang dianggapnya paling berharga dan perlu untuk setiap orang bagi kehidupannya dalam masyarakat.<sup><a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote1anc" href="#sdfootnote1sym"><sup>1</sup></a></sup></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Bloom cs mebedakan tiga kategori tujuan pendidikan, yaitu<sup><a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote2anc" href="#sdfootnote2sym"><sup>2</sup></a></sup>;</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Kognitif 	(head)</p>
</li>
</ol>
<p style="margin-left:.52in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Tujuan kognitif berkenaan dengan kemampuan individual mengenal dunia sekitarnya yang meliputi perkembangan intelektual atau mental.</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Afektif 	(heart)</p>
</li>
</ol>
<p style="margin-left:.52in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Tujuan afektif mengenai perkembangan sikap, perasaan, dan nilai-nilai atau perkembangan emosional dan moral.</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Psikomotor 	(hand)</p>
</li>
</ol>
<p style="margin-left:.52in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Tujuan psikomotor menyangkut perkembangan keterampilan yang mengandung unsur motoris.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Tujuan kognitif dibagi dalam 6 bagian, yairu;</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Knowledge 	(Pengetahuan)</p>
</li>
</ol>
<p style="margin-left:.26in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Meliputi informasi dan fakta yang dapat dikuasai melalui hafalan untuk diingat.</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Comprehension 	(Pemahaman)</p>
</li>
</ol>
<p style="margin-left:.26in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Merupakan kesanggupan untuk menyatakan suatu definisi, rumusan, menafsirkan suatu teori.</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Application 	(Penerapan)</p>
</li>
</ol>
<p style="margin-left:.26in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Merupakan kesanggupan menerapkan atau menggunakan suatu pengertian, konsep, prinsip, teori yang memerlukan penguasaan pengetahuan dan pemahaman yang lebih mendalam.</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Analysis 	(Analisis)</p>
</li>
</ol>
<p style="margin-left:.26in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Yaitu kemampuan untuk menguraikan sesuatu dalam unsur-unsurnya misalnya analisis hubungan antara masyarakat dengan alam dan jagad raya.</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Synthesis 	(Sintesis)</p>
</li>
</ol>
<p style="margin-left:.26in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Yaitu kesanggupan untuk melihat hubungan antara sejumlah unsur.</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Evaluation 	(Penilaian)</p>
</li>
</ol>
<p style="margin-left:.26in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Penilaian berdasarkan bukti-bukti atau kriteria tertentu.</p>
<p style="margin-left:.26in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Tujuan afektif dibagi dalam 5 bagian, yaitu;</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Receiving</p>
</li>
</ol>
<p style="margin-left:.26in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Menerima, menaruh perhatian terhadap nilai tertentu.</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Responding 	(Merespon)</p>
</li>
</ol>
<p style="margin-left:.26in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Yaitu memperlihatkan reaksi terhadap norma tertentu, menunjukan kesediaan dan kerelaan untuk merespon, merasa puas dalam merespon.</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Valuing 	(Menghargai)</p>
</li>
</ol>
<p style="margin-left:.26in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Yaitu menerima suatu norma, menghargai suatu norma, dan mengikat diri pada norma tersebut.</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Organization 	(Organisasi)</p>
</li>
</ol>
<p style="margin-left:.26in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Membentuk suatu konsep tentang suatu nilai, menyusun suatu sistem nilai-nilai.</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Characterization 	by Value or Value Complex</p>
</li>
</ol>
<p style="margin-left:.26in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Mewujudkan nilai-nilai dalam pribadi sehingga merupakan watak seseorang, norma itu menjadi bagian diri pribadi.</p>
<p style="margin-left:.26in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-size:medium;">Tingkatan Tujuan</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-size:medium;"> </span>Tujuan pendidikan memiliki klasifikasi, dari mulai tujuan yang sangat umum sampai tujuan khusus yang bersifat spesifik dan dapat diukur yang kemudian dinamakan kompetensi. Tujuan pendidikan dapat diklasifikasikan menjadi 4, yaitu;</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><strong>Tujuan 	Pendidikan Nasional (TPN)</strong></p>
</li>
</ol>
<p style="margin-left:.26in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">TPN adalah tujuan yang bersuifat paling umum dan merupakan sasaran akhir yang harus dijadikan pedoman leh setiap usaha pendidikan, artinya setiap lembaga dan penyelenggara pendidikan harus dapat membentuk manusia yang sesuai dengan rumusan itu, baik pendidikan yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan formal, informal, maupun nonformal. Tujuan pendidikan umum biasanya dirumuskan dalam bentuk prilaku yang ideal sesuai dengan pandagan hidup dan filsafat suatu bangsa yang dirumuskan oleh pemerintah dalam bentuk undang-undang. TPN merupakan sumber dan pedoman dalam usaha penyelengggaraan pendidikan.</p>
<p style="margin-left:.26in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Secara jelas tujuan pendidikan nasional yang bersumber dari sistem nilai Pancasila dirumuskan dalam undang-undang nomor 20 tahun 2003 pasal 3 “Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bengsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”<sup><a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote3anc" href="#sdfootnote3sym"><sup>3</sup></a></sup>.</p>
<p style="margin-left:.26in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><strong>Tujuan 	Institusional</strong></p>
</li>
</ol>
<p style="margin-left:.26in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Tujuan institusional adalah tujuan yang harus dicapai oleh setiap lembaga pendidikan. Dengan kata lain, tujuan ini dapat didefinisikan sebagai kualifikasi yang harus dimiliki oleh setiap siswa setelah mereka menempuh atau dapat menyelesaikan program di suatu lembaga pendidikan tertentu. Tujuan institusional merupakan tujuan antara untuk mencapai tujuan umum yang dirumuskan dalam bentuk kompetensi lulusan setiap jenjang pendidikan, seperti standar kompetensi pendidikan dasar, menengah kejuruan, dan jenjang pendidikan tinggi.</p>
<p style="margin-left:.26in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Dalam Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan bab V pasal 26 dijelaskan standar kompetensi lulusan pada jenjang pendidikan dasar bertujuan untuk meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, ahlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut<sup><a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote4anc" href="#sdfootnote4sym"><sup>4</sup></a></sup></p>
<p style="margin-left:.26in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Standar kompetensi lulusan pada satuan pendidikan menengah umum bertujuan meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, ahlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri, dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.</p>
<p style="margin-left:.26in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Standar kompetensi lulusan pada satuan pendidikan menengah kejuruan bertujuan meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, ahlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri, dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya.</p>
<p style="margin-left:.26in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Standar kompetensi lulusan pada satuan pendidikan tinggi bertujuan untuk mempersiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang berahlak mulia, memiliki pengetahuan, keterampilan, kemandirian, dan sikap untuk menemukan, mengembangkan, serta menerapkan ilmu, teknologi, dan seni yang bermanfaat bagi kemanusiaan.</p>
<p style="margin-left:.26in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><strong>Tujuan 	Kurikuler</strong></p>
</li>
</ol>
<p style="margin-left:.26in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Tujuan kurikuler adalah tujuan yang harus dicapai oleh setiap bidang studi atau mata pelajaran. Oleh sebab itu, tujuan kurikuler dapat didefinisikan sebagai kualifikasi yang harus dimiliki anak didik setelah mereka menyelesaikan suatu bidang studi tertentu dalam suatu lembaga pendidikan. Tujuan kurikuler pada dasarnya merupakan tujuan antara untuk mencapai tujuan lembaga pendidikan. Dengan demikian, setiap tujuan kurikuler harus dapat mendukung dan diarahkan untuk mencapai tujuan institusional.</p>
<p style="margin-left:.26in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Pada Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan pasal 6 dinyatakan bahwa kurikulum untuk jenis pendidikan umum, kejuruan , dan khusus pada jenjang pendidikan dan menengah terdiri atas;<sup><a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote5anc" href="#sdfootnote5sym"><sup>5</sup></a></sup></p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Kelompok 	mata pelajaran agama dan ahlak mulia</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Kelompok 	mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Kelompok 	mata pelajaran Ilmu pengetahuan dan teknologi.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Kelompok 	mata pelajaran estetika.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Kelompok 	mata pelajaran jasmani, olah raga, dan kesehatan.</p>
</li>
</ol>
<p style="margin-left:.24in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Sesuai dengan Peraturan Pemerintah tersebut, maka Badan Standar Nasional Pendidikan merumuskan tujuan setiap kelompok mata pelajaran sebagai berikut</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Kelompok 	mata pelajaran agama dan ahlak mulia bertujuan; membantu peserta 	didik menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang 	Maha Esa serta berahlak mulia. Tujuan tersebut dicapai melalui 	muatan dan/atau kegiatan agama, kewarganegaraan, kepribadian, ilmu 	pengetahuan dan teknologi, estetika, jasmani, olah raga dan 	kesehatan.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Kelompok 	mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian bertujuan; membentuk 	peserta didik menjadi manusia menjadi memiliki rasa kebanggaan dan 	cinta tanah air. Tujuan ini dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan 	agama, ahlak mulia, kewarganegaraan, bahasa, seni dan budaya, dan 	pendidikan jasmani.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Kelompok 	mata pelajaran Ilmu pengetahuan dan teknologi bertujuan 	mengembangkan logika, kemampuan berpikir dan analisis peserta didik.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Pada 	Satuan Pendidikan SD/MI/SD-LB/Paket A, tujuan ini dicapai melalui 	muatan dan/atau kegiatan bahasa, matematika, ilmu pemngetahuan alam, 	ilmu pengetahuan sosial, keterampilan/kejuruan, dan muatan lokal 	yang relevan.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Pada 	Satuan Pendidikan SMP/MTs/SMP-LB/Paket B, tujuan ini dicapai melalui 	muatan dan/atau kegiatan bahasa, matematika, ilmu pengetahuan alam, 	ilmu pengetahuan sosial, keterampilan/kejuruan dan/teknologi 	informasi dan komunikasi serta muatan lokal yang relevan.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Pada 	Satuan Pendidikan SMA/MA/SMA-LB/Paket C, tujuan ini dicapai melalui 	muatan dan/atau kegiatan bahasa, matematika, ilmu pengetahuan alam, 	ilmu pengetahuan sosial, keterampilan/kejuruan, teknologi informasi 	dan komunikasi, serta muatan lokal yang relevan.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Pada 	Satuan Pendidikan SMK/MAK, tujuan ini dicapai melalui muatan 	dan/atau kegiatan bahasa, matematika, ilmu pengetahuan alam, ilmu 	pengetahuan sosial, keterampilan, kejuruan, teknologi informasi dan 	komunikasi, serta muatan lokal yang relevan.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Kelompok 	mata pelajaran estetika bertujuan membentuk karakter peserta didik 	menjadi manusia yang memiliki rasa seni dan pemahaman budaya. Tujuan 	ini dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan bahasa, seni dan 	budaya, keterampilan, dan muatan lokal yang relevan.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Kelompok 	mata pelajaran Jasmani, olah raga dan kesehatan bertujuan membentuk 	karakter peserta didik agar sehat jasmani dan rohani, danmenumbuhkan 	rasa sportifitas. Tujuan ini dicapai melalui muatan dan/atau 	kegiatan pendidikan jasmani, olah raga, pendidikan kesehatan, ilmu 	pengetahuan alam, dan muatan lokal yang relevan.</p>
</li>
</ol>
<p style="margin-left:.24in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><strong>Tujuan 	Pembelajarn/Instruksional</strong></p>
</li>
</ol>
<p style="margin-left:.24in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Dalam klasifikasi tujuan pendidikan, tujuan pembelajaran atau tujuan instruksional merupakan	tujuan yang paling khusus dan merupakan bagian dari tujuan kurikuler. Tujuan pembelajran dapat didefinisikan sebagai kemampuan yang harus dimiliki anak didik setelah mereka mempelajari bahasan tertentu dalam bidang studi tertentu dalam satu kali pertemuan. Karena hanya guru yang memahami kondisi lapangan, termasuk memahami karakteristik siswa yang akan melakukan pembelajaran di suatu sekolah, maka menjabarkan tujuan pembelajaran ini adalah tugas guru. Sebelum guru melakukan proses belajar mengajar, guru perlu merumuskan tujuan pembelajaran yang harus dikuasai oleh anak didik setelah mereka selesai mengikuti pelajaran.</p>
<p style="margin-left:.24in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-left:.24in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-left:.24in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-left:.24in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="center">= = = = =000000000= = = = =</p>
<p style="margin-left:.24in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<div id="sdfootnote1">
<p class="sdfootnote"><a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote1sym" href="#sdfootnote1anc">1</a> Nasution. <em>Teknologi Pendidikan,</em>(<em> </em>Jakarta : PT Bumi 	Aksara,1999), h.17</p>
</div>
<div id="sdfootnote2">
<p class="sdfootnote"><a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote2sym" href="#sdfootnote2anc">2</a> <em>Ibid.</em>h. 24-25</p>
</div>
<div id="sdfootnote3">
<p class="sdfootnote"><a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote3sym" href="#sdfootnote3anc">3</a> Baca Undang-undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang  	Sistem Pendidikan Nasional.</p>
</div>
<div id="sdfootnote4">
<p class="sdfootnote"><a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote4sym" href="#sdfootnote4anc">4</a> Sanjaya,Wina, <em>Strategi Pembelajaran</em>, (Jakarta: Kencana, 	2006), hl. 64</p>
</div>
<div id="sdfootnote5">
<p class="sdfootnote"><a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote5sym" href="#sdfootnote5anc">5</a> <em>Ibid,</em> h. 65</p>
</div>
<br />Posted in abaout me,pendidikan,sains,sekolah,kuliah,umum,pengetahuan sosial,temanku, PENDIDIKAN, Uncategorized Tagged: TUJUAN PENDIDIKAN, TUJUAN PENDIDIKAN SERING BERSIFAT SANGAT UMUM <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/haryono10182.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/haryono10182.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/haryono10182.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/haryono10182.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/haryono10182.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/haryono10182.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/haryono10182.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/haryono10182.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/haryono10182.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/haryono10182.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/haryono10182.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/haryono10182.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/haryono10182.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/haryono10182.wordpress.com/26/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=haryono10182.wordpress.com&amp;blog=5778151&amp;post=26&amp;subd=haryono10182&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://haryono10182.wordpress.com/2008/12/29/tujuan-pendidikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4e360807ddc2482d9b6bf85e2b43d15e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">haryono10182</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>JAM`UL QUR`AN</title>
		<link>http://haryono10182.wordpress.com/2008/12/29/jamul-quran/</link>
		<comments>http://haryono10182.wordpress.com/2008/12/29/jamul-quran/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Dec 2008 09:32:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>haryono10182</dc:creator>
				<category><![CDATA[abaout me,pendidikan,sains,sekolah,kuliah,umum,pengetahuan sosial,temanku]]></category>
		<category><![CDATA[PENDIDIKAN]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[penggagas pertama pengumpulan al qur`an]]></category>
		<category><![CDATA[pengumpul pertama alqur`an pada masa nabi]]></category>
		<category><![CDATA[wafatnya rasulullah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://haryono10182.wordpress.com/?p=24</guid>
		<description><![CDATA[A. JAM`UL QUR`AN 1. Penggagas Pertama Pengumpulan Al Qur`an a. Pengumpulan al Qur`an pada Masa Nabi Ali bin Abi Thalib sebagai pengumpul pertama al Qur`an pada masa Nabi berdasarkan perintah Nabi sendiri. Di kalangan Syi`ah menegaskan Ali bin Abi Thalib sebagai orang pertama yang mengumpulkan al Qur`an setelah wafatnya Nabi. Sumber-sumber Sunni juga mengungkapkan bahwa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=haryono10182.wordpress.com&amp;blog=5778151&amp;post=24&amp;subd=haryono10182&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;"><strong>A. JAM`UL QUR`AN</strong></p>
<p style="text-indent:.21in;margin-bottom:0;line-height:150%;">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;"><strong>1. Penggagas Pertama Pengumpulan Al Qur`an</strong></p>
<p style="text-indent:.18in;margin-bottom:0;line-height:150%;"><strong>a. Pengumpulan al Qur`an pada Masa Nabi </strong></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Ali bin Abi Thalib sebagai pengumpul pertama al Qur`an pada masa Nabi berdasarkan perintah Nabi sendiri. Di kalangan Syi`ah menegaskan Ali bin Abi Thalib sebagai orang pertama yang mengumpulkan al Qur`an setelah wafatnya Nabi. Sumber-sumber Sunni juga mengungkapkan bahwa Ali memiliki kumpulan al Qur`an. Di kalangan ortodok Islam, pengumpula al Qur`an dapat dilakukan secara resmi pada masa pemerintahan Abu Bakar al- Shiddiq. Al Khatthabi berkata, “ Rasulullah tidak mengumpulkan al Qur`an  dalam satu mushaf karena senantiasa menunggu ayat yang menghapus terhadap sebagian hukum-hukum atau bacaannya. Sesudah berakhir masa turunnya dengan wafatnya Rasulullah maka Allah mengilhamkan penulisan mushaf secara lengkap kepada para Khulafaur Rasyidin sesuai dengan janji-Nya yang benar kepada umat ini tentang jaminan pemeliharaannya “.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Dengan demikian, jam`ul Qur`an ( pengumpulan al Qur`an ) pada masa Nabi dinamakan <em>Hifzhan</em> ( hafalan ) dan <em>Kitabatan</em> ( pembukuan ) yang pertama.</p>
<p style="text-indent:.19in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="text-indent:.19in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><strong>b. Pengumpulan al Qur`an pada Masa Abu Bakar</strong></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Penggagas pertama pengumpulan al Qur`an pada masa itu adalah Umar bin Khattab yang memberikan usul kepada Abu Bakar al Shiddiq. Abu Bakar yang menjabat sebagai khalifah yang pertama setelah Rasulullah wafat. Ia dihadapkan pada peristiwa-peristiwa besar yang berkenaan dengan murtadnya sejumlah orang Arab.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Perang Yamamah yang terjadi pada tahun 12 H, telah mengakibatkan 70 qari` dari para sahabat gugur. Umar bin Khattab merasa sangat khawatir jika nantinya al Qur`an akan musnah karena banyaknya qari` yang gugur. Umar bin Khattab mengajukan usul kepada Abu Bakar agar menumpulkan dan membukukan al Qur`an. Akan tetapi, Abu Bakar menolak usulan tersebut, dengan alasan Rasulullah SAW tidak pernah memerintahkan hal tersebut. Namun Umar membujuknya, sehingga Allah SWT membukakan hati Abu Bakar untuk menerima usulan tersebut.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Abu Bakar memerintahkan Zaid bin Tsabit untuk mengumpulkan dan membukukan al-Qur`an mengingat kedudukannya dalam masalah qira`at, hafalan, penulisan, pamahaman dan kecerdasannya serta kehadirannya pada pembacaan al Qur`an yang terakhir di hadapan Nabi.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Pada mulanya Zaid bin Tsabit menolaknya, kemudian keduanya bertukar pendapat sampai akhirnya Zaid bin Tsabit dapat menerima dengan lapang dada perintah penulisan al- Qur`an tersebut. Zaid bin Tsabit memenuhi tugasnya dengan bersandar pada hafalan para <em>qurra`</em> dan catatan yang ada pada para penulis. Kemudian lembaran-lambaran itu disimpan Abu Bakar, sestelah ia wafat pada tahun 13 H berpindah kepada tangan Umar hingga wafat. Kemudian mushaf itu pindah ke tangan Hafshah ( puteri Umar ), Zaid bin Tsabit bertindak sangat teliti dan hati-hati.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Para ulama berpendapat bahwa penamaan al Qur`an dengan mushaf baru muncul sejak Abu Bakar mengumpulkan al Qur`an. Kata Ali, “ <em>orang yang paling besar pahalanya berkenaan dengan mushaf ialah Abu Bakar</em> “. Jam`ul Qur`an ( pengumpulan al Qur`an ) pada masa Abu Bakar dinamakan <em>jam`u al Qur`an ats-tsani</em> ( pengumpulan al Qur`an kedua ).</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Tentang pengumpulan al Qur`an pada masa Abu Bakar, terdapat dua pandangan yaitu versi mayoritas dan versi minoritas.</p>
<p style="margin-left:.26in;text-indent:-.24in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">1.	Versi mayoritas</p>
<ul>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Dalam 	versi mayoritas, Umar sebagai penggagas intelektual pengumpulan 	pertama al- Qur`an, saedangkan Abu Bakar orang yang memerintahkan 	pengumpulan dalam kapasitasnya sebagai penguasa dan menunjuk 	pelaksana teknis, serta menerima hasil pekerjaan berupa mushaf al 	Qur`an.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Dalam 	versi mayoritas, alasan penunjukkan Zaid sebagai pelaksana teknis 	pengumpulan al Qur`an terlihat sangat transparan, dan terdapat 	kesepakatan tentangnya dalam keseluruhan riwayat. Usia muda, 	inteligensia tinggi, dan pekerjaan di masa Nabi sebagai penulis 	wahyu, merupakan kriteria yang dipegang Abu Bakar dalam penunjukkan 	Zaid sebagai pengumpul al Qur`an.</p>
</li>
</ul>
<p style="margin-left:.24in;text-indent:-.24in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">2.	 Versi minoritas</p>
<ul>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Versi 	minoritas yang membias tidak memiliki kesatuan pandang tentang 	pribadi-pribadi yang bergulat dan terkait secara langsung atau tidak 	langsung dengan pengumpulan pertama al Qur`an. Riwayat terpencil 	mengemukakan Ali bin Abi Thalib dan Salim bin Ma`qil sebagai 	pengumpul pertama al Qur`an.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Dalam 	versi minoritas terdapat riwayat al Zuhri yang mengungkapkan bahwa, 	ketika banyak kaum Muslimin yang terbunuh dalam pertempuran Yamamah, 	Abu Bakarlah yang justeru mencemaskan akan musnahnya sejumlah besar 	<em>qurra`.</em></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Dalam 	versi minoritas lainnya bahkan memangkas peran khalifah pertama dan 	meletakkan keseluruhan upaya pengumpulan al Qur`an di atas pundak 	khalifah kedua. Dalam riwayat ini dikisahkan bahwa suatu ketika Umar 	bertanya tentang suatu bagian al Qur`an dan dikatakan bahwa bagian 	tersebut berada pada seseorang yang tewas dalam pertempuran Yamamah. 	Ia mengekspresikan rasa kehilangan dengan mengucapkan <em>inna 	li-llahi wa inna ilayhi raji`un</em>, lalu ia 	memerintahkan untuk mengumpulkan al Qur`an, sehingga ia adalah orang 	pertama yang mengumpulkan al Qur`an ke dalam mushaf. Secara 	implisit, di sini disebutkan bahwa baik proses awal maupun proses 	akhir pengumpulan al Qur`an berlangsung pada masa pemerintahan Umar 	bin Khattab.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Riwayat 	lain mengungkapkan bahwa pekerjaan pengumpulan al Qur`an tidak 	terselesaikan dengan terbunuhnya khalifah Umar : Umar bin Khattab 	memutuskan untuk mengumpulkan al Qur`an. Ia berdiri ditengah 		manusia  dan berkata: “ <em>Barang siapa yang menerima bagian al 	Qur`an apapun langsung dari Rasulullah, bawalah kepada kami </em>“. 	Mereka telah menulis dari apa yang mereka dengar dari Rasulullah  di 	atas lembaran-lembaran, luh-luh dan pelepah-pelepah kurma. Umar 	tidak menerima sesuatupun dari seseorang hingga dua orang 	menyaksikan ( kebenarannya ) tetapi ia terbunuh ketika tengah 	melakukan pengumpulan al Qur`an. Utsman bin Affan melanjutkannya dan 	berkata : “ <em>barang siapa yang memiliki sesuatu dari Kitab Allah 	bawalah kepada kami..</em>.”.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Suatu 	riwayat minoritas mengungkapkan keterlibatan Ubay dalam pengumpulan 	al Qur`an pada masa Abu Bakar. Ketika al Qur`an dikumpulkan ke dalam 	mushaf pada masa khalifah Abu Bakar beberapa orang menyalin didikte 	oleh Ubay. Ketika mencapai 9:127, beberapa diantaranya memandang 	bahwa itu merupakan bagian al Qur`an yang terakhir kali diwahyukan. 	Tetapi, Ubay menunjukkan bahwa Nabi telah mengajarkannya 2 ayat lagi 	( 9:128-129 ) yang merupakan bagian terakhir dari wahyu. Versi lain 	dari riwayat ini mengungkapkan bahwa al Qur`an itu dikimpulkan dari 	mushaf Ubay.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Riwayat 	lain yang cukup fantastik yang disitir oleh Ya`qubi diunbgkapkan 	bahwa Abu- Bakar menolak pengumpulan al Qur`an lantaran Nabi tidak 	pernah melakukannya.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Versi 	minoritas lainnya berupaya mendamaikan kesimpang siuran antara versi 	mayoritas pengumpulan Zaid dan versi minoritas tentang pengumpulan 	pertama al- Qur`an yang dilakukan khalifah Umar.Dalam laporan 	diungkapkan bahwa Zaid atas perintah Abu Bakar menuliskan wahyu al 	Qur`an di atas lembaran kulit dan pelepah kurma. Setelah wafatnya 	Abu Bakar, pada masa khalifah Umar ia menyalin teks wahyu itu ke 	dalam lembaran-lembaran yang disatukan ( <em>fi sahifah wahidah</em> ).</p>
</li>
</ul>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Dengan bentuk laporan tersebut kedua versi tentang pengumpulan pertama al Qur`an tidak lagi bertabrakan.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><strong>2. Peran Khulafaur Rasyidin dalam Pembukuan al Qur`an</strong></p>
<p style="text-indent:.18in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><strong>1. Khalifah Abu Bakar al Shiddiq</strong></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><strong> </strong>Abu Bakar al Shiddiq merupakan orang pertama yang mengumpulkan al Qur`an atas</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">pertimbangan ususlan dari Umar bin Khattab pada masa Khulafaur Rasyidin. Dengan menunjuk Zaid bin Tsabit untuk mengumpulkan dan membukukan al Qur`an.</p>
<p style="text-indent:.18in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="text-indent:.18in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><strong>2. Khalifah Umar bin Khattab</strong></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Umar bin Khattab berperan sebagai penggagas intelektual pengumpulan pertama al- Qur`an pada masa khalifah Abu Bakar. Umar khawatir akan musnahnya al Qur`an karena perang Yamamah telah banyak menggugurkan para qarri`.</p>
<p style="text-indent:.18in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="text-indent:.18in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><strong>3. Khalifah Utsman bin Affan</strong></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Utsman bin Affan menyalin lembaran-lembaran ke dalam mushaf-mushaf dengan menertibkan atau menyusun suratnya dan membatasinya hanya dengan bahasa Quraisy. Ia juga menghilangkan perselisihan / perpecahan di kalangan kaum Muslimin yang disebabkan adanya perbedaan qiraat al Qur`an di antara mereka.Khalifah Utsman juga berhasil menyusun Mushaf Utsmani.</p>
<p style="text-indent:.18in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="text-indent:.18in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><strong>3. Khalifah Ali bin Abi Thalib</strong></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Ali bin Abi Thalib merupakan pengumpul pertama al Qur`an pada masa Nabi berdasarkan perintah Nabi sendiri. Ia menunjuk kesepakatan atau ijma` akan kemutawatiran al-Qur`an yang tertulis dalam mushaf.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><strong>B. RASM AL QUR`AN</strong></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><strong>1. Definisi Rasm al Qur`an dan Rasm Utsmani</strong></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><strong> </strong>Rasm al Qur`an adalah tulisan al Qur`an, baik dalam hal penulisan lafaz maupun penulisan bentuk huruf.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Rasm Utsmani adalah penulisan mushaf Utsmani atau metode penulisan al Qur`an yang disusun oleh Utsman.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><strong>2. Pendapat Ulama tentang Rasm Utsmani</strong></p>
<p style="margin-left:.39in;text-indent:-.2in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">a. Ada yang berpendapat bahwa rasm Utsmani untuk al Qur`an bersifat <em>tauqifi</em> yang wajib digunakan dalam penulisan al Qur`an, dan harus sungguh-sungguh disucikan. Mereka menisbatkan tauqifi dalam penulisan al Qur`an kepada Nabi. Mereka menyebutkan, Nabi pernah mengatakan kepada Muawiyah, salah seorang penulis wahyu, “ Goreskan tinta, tegakkan huruf ya, bedakan sin, jangan kamu miringkan mim, baguskan tuliskan lafal Allah, panjangkan Ar Rahman, baguskan Ar Rahim, dan letakkanlah penamu pada telinga kirimu, karena yang demikian akan lebih dapat mengingatkan kamu “. Ibnu Mubarok dari Syaikh Abdul Aziz ad Dabbagh, bahwa dia berkata kepadanya, “ Para sahabat dan orang lain tidak campur tangan seujung rambut pun dalam penulisan al Qur`an karena penulisan al Qur`an adalah <em>tauqifi</em>, ketentuan dari Nabi. Dialah yang memerintahkan kepada mereka untuk menuliskannya dalam bentuk seperti yang dikenal sekarang, dengan menambahkan alif atau menguranginya karena ada rahasia-rahasia yang tidak terjangkau oleh akal. Ituah sebab satu rahasia Allah yang diberikan kepada kitab-Nya yang mulia, yang tidak Dia berikan kepada kitab-kitab samawi lainnya. Sebagaimana susunan al Qur`an adalah mukjizat, maka penulisannya pun mukjizat. Bagi mereka rasm Utsmani menjadi petunjuk terhadap beberapa makna yang tersembunyi dan halus, sepereti penambahan “ya” dalam penulisan kata “aydin” yang terdapat dalam firmanNya, “<em>Dan langit itu Kami bangun dengan tangan Kami</em> “. (Adz Dzariyat: 47). Penulisan ini merupakan isyarat bagi kehebatan kekuatan Allah yang dengannya Dia membangun langit, dan bahwa kekuatanNya itu tidak dapat disamai, ditandingi oleh kekuatan yang manapun ini berdasarkan kaidah yang masyhur, “ penambahan huruf dalam bentuk kalimat menunjukkan penambahan makna “. Pendapat ini sama sekali tidak bersumber bahwa rasm itu bersifat tauqifi. Tetapi sebenarnya para penulislah yang mempergunakan istilah dan cara tersebut pada masa Utsman atas izinnya, dan bahkan Utsman telah memberikan pedoman kepada mereka dengan perkatannya kepada tiga orang Quraisy, “ Jika kalian (bertiga) berselisih pendapat dengan Zaid bin Tsabit mengenai penulisan sebuah lafal al Qur`an maka tulislah menurut logat Quraisy, karena ia diturunkan dalam logat mereka”.ketika mereka berselisih pendapat dalam penulisan <em>tabut, </em>Zaid bin Tsabit mengatakan <em>tabuh</em>, tetapi beberapa kalangan dari golongan Quraisy mengatakan <em>tabut</em>. Utsman mengatakan, “tulislah <em>tabut</em>, karena al Qur`an diturunkan dalam bahasa Quraisy”.<em> </em></p>
<p style="margin-left:.39in;text-indent:-.2in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">b.	Menurut kebanyakan ulama, rasm Utsmani itu bukanlah <em>tauqifi</em> dari Nabi melainkan istilah yang disetujui oleh Utsman dan diterima oleh umat, sehingga menjadi suatu keharusan yang wajib menjadi pegangan dan tidak boleh dilanggar.</p>
<p style="margin-left:.39in;text-indent:-.2in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">c.	Sebagian ulama lain berpendapat, rasm Utsmani hanyalah sebuah istilah, metode dan tidaklah mengapa berbeda dengannya jika orang te;lah menggunakan satu model rasm tertentu untuk penulisan, kemudian rasm itu tersiar luas di antara mereka.</p>
<p style="margin-left:.39in;text-indent:-.2in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Abu Bakar al Baqilani menyebutkan dalam kitabnya <em>Al Intishar</em>, “ tak ada yang diwajibkan oleh Allah dalam hal penulisan mushaf. Diperbolehkan menulis al Qur`an dengan tulisan dan ejaan jaman kuno, dengan tulisan dan ejaan baru serta dengan tulisan dan ejaan pertengahan.</p>
<p style="margin-left:.39in;text-indent:-.2in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Al Baihaqi dalam <em>Syu`ab Al Imam</em> mengatakan, “ Barang siapa menulis mushaf, hendaknya ia memperhatikan bentuk rasm huruf-hurufnya yang mereka pakai dalam penulisan mushaf-mushaf dahulu janganlah menyalahi mereka dalam hal itu dan janganlah pula mengubah apa yang mereka tulis sedikitpun. Ilmu mereka lebih banyak, lebih jujur hati dan lisannya, serta lebih dapat dipercaya dari pada kita. Maka bagi kita tidak pantas menyangka bahwa diri kita lebih tahu dari mereka ”.</p>
<p style="margin-left:.39in;text-indent:-.2in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-left:.39in;text-indent:-.2in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><strong>C. I`JAZUL QUR`AN</strong></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><strong>1. Tulisan Abdul Djalal HA</strong></p>
<p style="text-indent:.18in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">a. Definisi I`jazul Qur`an</p>
<p style="margin-left:.34in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">I`jazul Qur`an berasal dari kata i`jaz dan Qur`an. Menurut bahasa kata i`jaz adalah mashdar dari kata a`jaza yang berarti melemahkan. Kata a`jaza termasuk fi`il ruba`i mazid yang berasal dari fi`il tsulatsi mujarrad ajaza yang berarti lemah, lawan dari qodara yang berarti kuat / mampu.</p>
<p style="margin-left:.35in;text-indent:-.01in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">I`jazul Qur`an ialah melemahkannya al Qur`an. Suatu kata makjud yang terdiri dari dua kata yang di mudhafkan. Yaitu dimudhafkannya kata mashdar i`jaz kepada pelakunya yaitu al Qur`an yang berarti melemahkannya al Qur`an. Sedangkan ma`ulnya ( siapa objek yang dilemahkan ) dibuang atau tersimpan. Jadi, i`jazul Qur`an bila didatangkan artinya dilemahkan kitab al Qur`an kepada manusia untuk mendatangkan apa yang telah ditantangkan kepada mereka, yaitu membuat kitab seperti al Qur`an ini. Sebab kitab al- Qur`an telah menantang pujangga-pujangga Arab untuk membuat kitab seperti al- Qur`an tetapi dari dulu sampai sekarang tidak ada yang mampu membuat tandingan itu. Tantangn al Qur`an itu berupa menandingi seluruh isi al Qur`an dikurangi hanya 10 surat saja sampai terakhir hanya membuat 1 surat saja, tetapi tidak ada yang mampu menandinginya. Oleh karena itu, al Qur`an betul-betul i`jaz atau melemahkan manusia seluruhnya tak ada seorangpun yang mampu menandingi tantangannya.</p>
<p style="margin-left:.39in;text-indent:-.2in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Mukjizat menurut bahasa ialah sesuatu hal yang luar biasa, ajaib, atau menakjubkan. Menurut istilah mukjizat ialah sesuatu yang luar biasa yang melemahkan manusia baik sendiri maupun kolektif untuk mendatangkan sesuatu yang menyerupai atau menyamainya yang hanya diberikan kepada Nabi atau Rasul Allah.</p>
<p style="margin-left:.39in;text-indent:-.2in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-left:.39in;text-indent:-.2in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">b.	Aspek-aspek kemukjizatan al Qur`an</p>
<ol>
<li>
<ol>
<li>
<ol type="i">
<li>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Syeikh Abu Bakar Al Baqilani dalam kitab I`jazil Qur`an. Al 				Qur`an memiliki 3 segi kemukjizatan :</p>
</li>
</ol>
</li>
</ol>
</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p style="margin-left:.87in;text-indent:-.18in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">a. Di dalam al Qur`an itu ada cerita mengenai hal-hal yang ghaib.</p>
<p style="margin-left:.87in;text-indent:-.18in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">b. Di dalam al Qur`an itu ada cerita umat dahulu beserta para Nabinya, padahal Rasulullah SAW adalah seorang ummi.</p>
<p style="margin-left:.87in;text-indent:-.18in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">c.	Di dalam al Qur`an terdapat susunan indah yang terdiri dari 10 segi : ijaz, tasybih, isti`arah, talaum, jawashil, tajamus, tasyrif, tadhmin, mubalaghah, dan khusnul bayan.</p>
<ol>
<li>
<ol>
<li>
<ol type="i">
<li>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Al Qadhi Iyad Al Basty dalam buku Asy Syifa`u bi Ta`rifi Huquqil 				Mushthafa mengatakan : segi-segi kemukjizatan al Qur`an ada 4 hal 				:</p>
</li>
</ol>
</li>
</ol>
</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p style="margin-left:.91in;text-indent:-.23in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">a.	Susunannya yang indah</p>
<p style="margin-left:.91in;text-indent:-.23in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">b.	Uslubnya yang lain dari pada yang lain.</p>
<p style="margin-left:.91in;text-indent:-.23in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">c.	Adanya berita-berita ghaib yang belum terjadi, tetapi lalu betul-betul terjadi.</p>
<p style="margin-left:.91in;text-indent:-.23in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">d.	Adanya berita-berita ghaib masa lalu dan syariat-syariat dahulu yang jelas dan benar.</p>
<ol>
<li>
<ol>
<li>
<ol type="i">
<li>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Imam al Qurthuby dalam tafsirAl jami`u Ahkamil Qur`an mengatakan 				segi-segi kemukjizatan al Qur`an ada 10 hal :</p>
</li>
</ol>
</li>
</ol>
</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p style="margin-left:.91in;text-indent:-.23in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">a.	Susunannya yang indah, yang lain dari yang lain.</p>
<p style="margin-left:.91in;text-indent:-.23in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">b.	Uslubnya berbeda dengan seluruh uslub bahasa Arab.</p>
<p style="margin-left:.91in;text-indent:-.23in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">c.	Kefasihan ungkapannya yang tidak dapat diimbangi.</p>
<p style="margin-left:.91in;text-indent:-.23in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">d.	Pengaturan bahasa yang utuh-bulat.</p>
<p style="margin-left:.91in;text-indent:-.23in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">e.	Adanya berita mengenai pertama kali kejadian-kejadian dunia yang belum terdengar.</p>
<p style="margin-left:.91in;text-indent:-.23in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">f.	Ditepatinya hal-hal yang telah dijanjikan lalu betul-betul terjadi.</p>
<p style="margin-left:.91in;text-indent:-.23in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">g.	Adanya berita yang belum terjadi lalu betul-betul terjadi.</p>
<p style="margin-left:.91in;text-indent:-.23in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">h.	Isi aturan halal-haram.</p>
<p style="margin-left:.91in;text-indent:-.23in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">i.	Hikmah-hikmah tinggi yang tidak biasa terjadi.</p>
<p style="margin-left:.91in;text-indent:-.23in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">j.	Persesuaian semua kandungannya.</p>
<ol>
<li>
<ol>
<li>
<ol type="i">
<li>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Syeikh Abdul Adhim Az Zarqany, segi-segi kemukjizatan sedikitnya 				ada 7 :</p>
</li>
</ol>
</li>
</ol>
</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p style="margin-left:.91in;text-indent:-.25in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">a.	Keindahan bahasa dan uslub al Qur`an.</p>
<p style="margin-left:.91in;text-indent:-.25in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">b.	Cara penyusunan bahasanya tampak baik, tertib, dan berkaitan antara satu dengan yang lain, sehingga tidak kelihatan adanya perbedaan antara surat satu dengan yang lain meski al Qur`an diturunkan secara berangsur-angsur selama 22 tahun lebih.</p>
<p style="margin-left:.91in;text-indent:-.25in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">c.	Berisi beberapa ilmu pengetahuan, yang banyak memberi acuan makhluk kepada kebenaran dan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.</p>
<p style="margin-left:.91in;text-indent:-.25in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">d.	Kitab al Qur`an bisa memenuhi segala kebutuhan manusia baik yang berupa petunjuk dalam berbagai segi kehiduan ataupun tuntunan dalam peribadatan, maupun yang berbentk benih-benih dalam beraneka disiplin ilmu pengetahuan di sepanjang zaman.</p>
<p style="margin-left:.91in;text-indent:-.25in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">e.	 Cara-cara mengadakan perbaikkan dan kemaslahatan bagi umat manusia</p>
<p style="margin-left:1.17in;text-indent:-.22in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">1) Cara turunnya al Qur`an berangsur-angsur berbeda dengan kitab lain yang turun sekaligus.</p>
<p style="margin-left:1.17in;text-indent:-.22in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">2)	Cara al Qur`an melarang suatu barang atau perbuatan.</p>
<p style="margin-left:1.17in;text-indent:-.22in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">3)	Cara pembagian al Qur`an yang terbagi dalam juz surat dan ayat.</p>
<p style="margin-left:1.17in;text-indent:-.22in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">4)	Cara al Qur`an menanamkan perintah / pesan / petunjuk lewat ungkapan ( uslub ) yang indah.</p>
<p style="margin-left:1.17in;text-indent:-.22in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">5)	Cara al Qur`an menumbuhkan kesadaran terhadap kebajikan, keutamaan dan keluhuran budi.</p>
<p style="margin-left:1.17in;text-indent:-.22in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">6)	Cara al Qur`an menyadarkan umat melalui akal pikiran, penalaran, dalil aqli, dan bukti yang rasional.</p>
<p style="margin-left:1.17in;text-indent:-.22in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">7)	Cara al Qur`an memberi tuntunan terhadap jiwa dan raga manusia secara bersama.</p>
<p style="margin-left:1.17in;text-indent:-.22in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"> <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt='8)' class='wp-smiley' /> Cara al Qur`an mengatur urusan dunia dan akhirat.</p>
<p style="margin-left:1.17in;text-indent:-.22in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">10)	Cara al Qur`an menentukan aturan hukum dengan menberikan dispensasi (rukhshah).</p>
<p style="margin-left:.91in;text-indent:-.25in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">f.	Adanya berita-berita ghaib dalam al Qur`an yang menunjukkan bahwa al Qur`an benar-benar wahyu Allah SWT.</p>
<p style="margin-left:.91in;text-indent:-.25in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">g.	Adanya ayat <em>`itab</em> ( teguran ) yang menegur kekekliruan pendapat Nabi Muhammad SAW.</p>
<p style="margin-left:.91in;text-indent:-.25in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><strong>2. Tulisan Quraish Shihab</strong></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">a.  Definisi I`jazul Qur`an</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">I`jaz secara bahasa berarti keluputan. Dikatakan <em>A`jazani al Amru</em> artinya perkara itu luput dariku. Juga berarti “membuat tidak mampu”. Seperti dalam contoh <em>a`jaza akhuhu</em> ( dia telah membuat saudaranya tidak mampu ) manakala dia telah menetapkan ketidak mampuan saudaranya dalam suatu hal. Berarti juga “ Dia telah menjadikan saudaranya itu tidak mampu “. Juga berarti  “ terwujudnya ketidakmampuan” seperti dalam contoh <em>a`jazu zaza`an</em> ( aku mendapat Zaid tidak mampu ).</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Menurut istilah i`jazul berarti sesuatu yang membuat manusia tidak mampu baik secara sendiri maupun bersama untuk mendatangkan yang seperti itu. Perbuatan seseorang mengklaim bahwa ia menjalankan fungsi ilahiah dengan cara yang melanggar ketentuan hukum alam dan m,embuat orang lain tidak mampu melakukan dan bersaksi akan kebenaran klaimnya.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">b. Aspek-Aspek Kemukjizatan al Qur`an</p>
<p style="margin-left:.37in;text-indent:-.22in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">1.	Segi personal, maksudnya manusia yang kepadanya al Qur`an ditunjukkan mencakup umat manusia seluruhnya tanpa membeda-bedakan lapisan, agama, jenis kelamin, bahasa dan sebagainya. Firman Allah SWT “ <em>Katakanlah : hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua</em>&#8230;” ( QS al A`raf:158 ) dan “ <em>Dan tiadalah kami mengutus kamu melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”</em> ( QS al- Anbiya: 107 ).</p>
<p style="margin-left:.37in;text-indent:-.22in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">2.	Segi waktu, maksudnya adalah tentang masa untuk melaksanakan pesan yang dibawanya mencakup segala masa sejak Nabi SAW diangkat menjadi Nabi hingga hari kiamat. Firman Allah SWT “<em>dan al Qur`an ini diwahyukan kepadaku supaya dengannya aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang al Qur`an sampai kepadanya” </em>( QS al An`am: 19 ).</p>
<p style="margin-left:.37in;text-indent:-.22in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">3.	Segi tempat, maksudnya adalah wilayah kawasan dimana kewenangan al Qur`an berlaku.Al Qur`an mencakup semua manusia <em>mukallaf </em>( yang dibebani kewajiban ) baik di daratan, di lautan, maupun di angkasa. Firman Allah SWT : “ <em>Dan Kami tidak mangutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagi pemberi peringatan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui</em> “ ( QS al Saba:28 ).</p>
<p style="margin-left:.37in;text-indent:-.22in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">4.	Segi materi, yaitu segi-segi kehidupan manusia yang diaturnya. Al Qur`an datang sebagai penjelas segala sesuatu. Firman Allah dalam QS al An`am : 38 .”<em>Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya,melainkan umat-umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatupun di dalam al Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan</em>”.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<br />Posted in abaout me,pendidikan,sains,sekolah,kuliah,umum,pengetahuan sosial,temanku, PENDIDIKAN, Uncategorized Tagged: penggagas pertama pengumpulan al qur`an, pengumpul pertama alqur`an pada masa nabi, wafatnya rasulullah <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/haryono10182.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/haryono10182.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/haryono10182.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/haryono10182.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/haryono10182.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/haryono10182.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/haryono10182.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/haryono10182.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/haryono10182.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/haryono10182.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/haryono10182.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/haryono10182.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/haryono10182.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/haryono10182.wordpress.com/24/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=haryono10182.wordpress.com&amp;blog=5778151&amp;post=24&amp;subd=haryono10182&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://haryono10182.wordpress.com/2008/12/29/jamul-quran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4e360807ddc2482d9b6bf85e2b43d15e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">haryono10182</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PEMBINAAN KEPRIBADIAN GURU OLEH ATASAN</title>
		<link>http://haryono10182.wordpress.com/2008/12/29/pembinaan-kepribadian-guru-oleh-atasan/</link>
		<comments>http://haryono10182.wordpress.com/2008/12/29/pembinaan-kepribadian-guru-oleh-atasan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Dec 2008 09:14:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>haryono10182</dc:creator>
				<category><![CDATA[PENDIDIKAN]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[KEPALA SEKOLAH]]></category>
		<category><![CDATA[PEMBINAAN KEPRIBADIAN GURU OLEH ATASAN]]></category>
		<category><![CDATA[UNIT SUMBER DAYA MANUSIA INI BERTANGGUNG JAWAB UNTUK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://haryono10182.wordpress.com/?p=18</guid>
		<description><![CDATA[Upaya Pembinaan Terhadap Kepribadian Guru Melalui Penilaian dan Pembinaan oleh Atasan I. Kepala Sekolah Unit sumber daya manusia ini bertanggung jawab untuk mengidentifiksi individu-individu yang berkualitas secara profesional yang memiliki nialai atau unsur-unsur: sikap dan kecakapan yang mengisyartkan untuk mengembangkan dan tercapainya tujuan organisasi/sekolah, sejalan dengan harapan (ekspektasi) dari para individu yang merupakan motivasi mengapa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=haryono10182.wordpress.com&amp;blog=5778151&amp;post=18&amp;subd=haryono10182&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="center"><span style="font-size:medium;"><strong>Upaya Pembinaan Terhadap Kepribadian Guru </strong></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="center"><span style="font-size:medium;"><strong>Melalui Penilaian dan Pembinaan oleh Atasan</strong></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="center">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="center">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-size:medium;"><strong>I. Kepala Sekolah</strong></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Unit sumber daya manusia ini bertanggung jawab untuk mengidentifiksi individu-individu yang berkualitas secara profesional yang memiliki nialai atau unsur-unsur: sikap dan kecakapan yang mengisyartkan untuk mengembangkan dan tercapainya tujuan organisasi/sekolah, sejalan dengan harapan (ekspektasi) dari para individu yang merupakan motivasi mengapa mereka mengabdikan diri untuk kepentingan organisasi/sekolah.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Ada lima tahap peranan kunci kepala sekolah yaitu:</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Identifikasi 	staf</p>
</li>
</ol>
<p style="margin-left:.51in;text-indent:.01in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Merupakan tahap pengenalan terhadap kualitas yang dimiliki oleh para calon staf  apakah derajat kepribadian, keinginan atau harapan, motivasi serta keahlian yang dimiliki sesuai dengan kebutuhan atau pekerjaan/kedudukan yang akan diberikan kepada mereka. Identifikasi dibedakan menjadi dua yaitu:</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Rekruitmen, 	merupakan proses identifikasi calon-calon staf  yang secara 	potensial akan diterima.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Seleksi, 	merupakan proses pemilihan calon-calon  yang tingkat kualitasnya, 	seperti: kepribadian, kebutuhan atau harapan, motivasi serta 	kecakapan / keahlian memang betul-betul telah memenuhi persyaratan 	untuk melaksanakan pekerjaan/jabatan khusus yang ditugaskan.</p>
</li>
</ol>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Penempatan</p>
</li>
</ol>
<p style="margin-left:.52in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Tujuan pokok penemptn dalah mencari kepastian secara maksimal, yaitu kesesuaian antara jabatan/tugas yang harus diisi dengan karakteristik pribadi para individu (guru yang baru).</p>
<p style="margin-left:.52in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Penempatan guru meliputi: penempatan guru baru, penempatan kembali guru, dan penempatan guru yang berbeda-beda. Guru baru harus menerima tugas secara adil sehingga keberhasilan tugas mengajar tidak dalam keadaan yang membahayakan (jeopardized). Penempatan kembali para guru terjadi untuk mengoreksi kesalahan penempatan dan bertujuan untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi dari para guru.</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Penyesuaian 	Diri (Staff Orientation)</p>
</li>
</ol>
<p style="margin-left:.49in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Merupakan proses secara terus menerus yng memuli dengan wawancara, rekruitmen dn berkhir dengan asosiasi  profesional pegawai dengan sekolah.</p>
<p style="margin-left:.49in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Tujuan utama penyesuaian/orientasi adalah untuk membantu seorang pegawai baru memahami dan berdaptasi pada harapan, peran dan mengembangkan satu perasaan ikut memiliki dan mengenali sekolah serta masyarakat.</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Evaluasi 	Para Guru</p>
</li>
</ol>
<p style="margin-left:.5in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Evaluasi mencakup penilaian terhadap tingkat penampilan dari masing-masing anggota dewan guru dalam mencapai hasil yang diharapkan. Berdasarkan prosesnya, evaluasi meliputi:</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Waktu 	evaluasi (when evaluate)</p>
</li>
</ol>
<p style="margin-left:.74in;text-indent:.01in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Evaluasi guru dimulai sejak awal guru yang bersangkutan melaksanakan tugas mengajar sampai guru yang bersangkutan berhenti tidak mengajar.</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Mengapa 	evaluasi perlu diadakan (why evaluated)</p>
</li>
</ol>
<p style="margin-left:.74in;text-indent:.01in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Ada beberapa alasan pokok mengapa guru-guru perlu dievaluasi, meliputi:</p>
<ol>
<li>
<ul>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Menyesuaikan 		 hasil yang diinginkan dan sasaran .</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Memodifikasi 		prosedur</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Menentukan 		cara-cara yang baru dalam melaksanakan prosedur.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Memperbaiki 		penampilan individu.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Mendukung 		informasi demi modifikasi penempatan.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Melindungi 		individu-individu atau persekolahan.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Memberikan 		penghargaan yang penampilannya superior.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Memberikan 		basik/landasan perencanaan karir dan pertumbuhan setra pengembangan 		pribadi.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Memvalidasi 		proses seleksi.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Memberikan 		fasilitas pribadi</p>
</li>
</ul>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Apa 	yang dievaluasi (what to evlute)</p>
</li>
</ol>
<p style="margin-left:.74in;text-indent:.01in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Pokok-pokok sasaran penilaian (items) yang biasanya tercantum dalam instrumen penilaian meliputi:</p>
<ul>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Metodologi 	mengajar (teaching metodology)</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Pengelolaan 	kelas (classroom mangement)</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Pengetahuan 	isi/kadar muatan (knowledge of content)</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span lang="sv-SE">Hubung</span><span lang="sv-SE">an 	antar pribadi (interpersonal relation)</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Tingkat 	pertumbuhan profesional (eatent of profesional growth)</p>
</li>
</ul>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Bagaimana 	evaluasi dilaksanakan (how to evaluate)</p>
</li>
</ol>
<p style="margin-left:.74in;text-indent:.01in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Evaluate dilakkukan dengan beberapa cara yaitu:</p>
<ul>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Penggunaan 	instrumen dan proses</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span lang="sv-SE">Deng</span><span lang="sv-SE">an 	skala prioritas dan check list.</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span lang="sv-SE">Metode 	perny</span><span lang="sv-SE">ataan yang bersifat cerita.</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Hallo-effeck</p>
</li>
</ul>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Perbaikkan 	Guru dan Program Pendidikan</p>
</li>
</ol>
<p style="margin-left:.52in;text-indent:.52in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Inti perbaikkan guru adalah:</p>
<ul>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Kunjungan 	kelas (mempersiapkan staf pengajar, pertemuan sebelum mengajar, 	kunjungan observasi, pertemuan setelah kunjungan</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Obeservasi</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Pertemuan 	individual</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Kunjungan 	sekolah</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Keanggotaan 	dalam asosiasi profesi</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Perpustakaan 	profesional</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Supervisi 	guru bantu</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Program 	pelatihan inservice</p>
</li>
</ul>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><strong>( Wahjo Sumidjo, </strong><em><strong>Kepemimpinan Kepala Sekolah</strong></em><strong>. </strong><span lang="sv-SE"><strong>Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2002. hlm.276-287)</strong></span></p>
<p style="margin-left:.52in;text-indent:.52in;margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="sv-SE" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="sv-SE" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="sv-SE" align="justify"><span style="font-size:medium;"><strong>II. Supervisor</strong></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="sv-SE" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span lang="sv-SE"> Supervisor adalah orang yang menjalankan supervisi. Supervisi adalah  aktifitas menentukan kondisi/syarat-syarat yang esensial yang akan menjamin tercapainya tujuan pendidikan. Sehubungan dengan itu, maka kepala sekolah aebgai supervisor berarti bahwa kepala sekolah hendaknya pandai meneliti, mencari dan menentukan syarat-syarat yang diperlukan bagi kemajuan sekolahnya sehingga tuyjuan pendidikan tercapai secara maksimal.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span lang="sv-SE"> D</span><span lang="sv-SE">alam melaksanakan tugasnya sebagai supervisor, kepala sekolah perlu memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut:</span></p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span lang="sv-SE">Supervisi 	h</span><span lang="sv-SE">arus bersifat konstruktif dan kreatif 	sehingga menimbulkan dorongan untuk bekerja.</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span lang="sv-SE">Realistis 	dan mudah dilaksanakan.</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span lang="sv-SE">Menimbulkan 	rasa aman bagi guru/karyawan.</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span lang="sv-SE">Berdasarkan 	 hubungan profesional.</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span lang="sv-SE">Harus 	mempertimbangkan kesanggupan dan sikap guru/pegawai.</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span lang="sv-SE">Tidak 	bersifat mendesak (otoriter) karena dapat menimbulkan kegelisahan 	bahkan sikap antipati dari guru.</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span lang="sv-SE">Supervisi 	tid</span><span lang="sv-SE">ak boleh didasarkan atas kekuasaan, 	pangkat, kedudukan dari keuasaan pribadi.</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="sv-SE" align="justify">Supervisi tidak boleh bersifat mencari-cari kesalahan dan kekurangan 	(supervisi berbeda dengan inspeksi).</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="sv-SE" align="justify">Supervisi tidak terlalu cepat mengharap hasil</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span lang="sv-SE">Supervisi 	hendaknya bersifat prefektif, korektif, dan kooperatif</span></p>
</li>
</ol>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="sv-SE" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="sv-SE" align="justify">Sebagai implikasi tugas supervisor, beberapa hal yang perlu dilakukan kepala sekolah sebagai pemimpin yaitu:</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="sv-SE" align="justify">Mengetahui keadaan/kondisi guru dalam latar belakang kehidupan 	lingkungan dan sosial ekonominya, hal ini penting untuk tindakan 	kepemimpinannya.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="sv-SE" align="justify">Merangsang semangat kerja guru.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span lang="sv-SE">Mengusahakan 	tersedianya fasilitas yang diperlukan untuk mengembangkan kemacmpuan 	guru.</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span lang="sv-SE">Meningkatkan 	partisipasi guru dalam kehidupan sekolah.</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span lang="sv-SE">Membina 	rasa kekeluargaan di lingkungan sekolah antara kepala sekolah, guru, 	pegawai.</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span lang="sv-SE">Mempercepat 	hubungan sekolah dengan masyarakat.</span></p>
</li>
</ol>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="sv-SE" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span lang="sv-SE"><strong>(Suryobroto, </strong></span><span lang="sv-SE"><em><strong>Menejemen Pendidikan di Sekolah</strong></em></span><span lang="sv-SE"><strong>, Jakarta: PT Rineka Cipta, 2004. hlm. 187-188) </strong></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="sv-SE" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span lang="sv-SE"> Supervisi merup</span><span lang="sv-SE">akan kegiatan kooperatif dengan mengikutsetakan orang yang disupervisi, agar menyadari kekurangan dan kelemahan diri sendiri untuk kemudian berusaha memperbaikinya, baik dengan bantuan atau tanpa bantuan orang lain. Guna mengapai tujuan itu, supervisi pendidikan dapat dilakuikan dengan kegiatan-kegiatan sebagai berikut:</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span lang="sv-SE">1. </span><span lang="sv-SE">Orientasi dan Penyesuaian Guru-guru pada Situasi Baru.</span></p>
<p style="margin-left:.17in;text-indent:.01in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span lang="sv-SE"> Orientasi pada saat permulaan bekerja dalam menghadapi situasi baru dengan petunjuk pimpinan atau orang yang ditugaskan (supervisor) akan menimbulkan rasa senang karena merasa m,endapat pengakuan sebagai bagian/anggota dalam suatu lingkungan/organisasi yang masih asing. Dengan demikian akan timbul dan terbina kemampuan bekerja secara maksimal. Orientasi dan penyesuaian itu antara lain:</span></p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span lang="sv-SE">Orientasi 	personal, berupa perkenalan dan ramah tamah dengan menjelasksn tugas 	dari tingkat yang terendah sampai yang tertinggi di dalam dan di 	luar organisasi/lembaga.</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span lang="sv-SE">Orientasi 	terhadap program, berupa usaha menjelaskan rencana-rencana dan 	kegiatan yang telah sedang dan akan dilakukan di lingkungan 	organisasi.</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span lang="sv-SE">Orientasi 	terhadap fasilitas, berupa penjelsan tentang fasilitas yang dapat 	dipergunakan dalam meningkatrkan efisiensi tugas guru baru tersebut.</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span lang="sv-SE">Orientasi 	lingkungan berupa kegiatan memperkenalkan situasi dan kondisi 	sekolah.</span></p>
</li>
</ol>
<p style="margin-left:.18in;margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="sv-SE" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span lang="sv-SE">2. R</span><span lang="sv-SE">apat Dewan Guru dan Diskusi Staf Guru</span></p>
<p style="margin-left:.17in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span lang="sv-SE"> Kegi</span><span lang="sv-SE">atan ini merupakan salah satu cara untuk meningkatkan keterampilan    guru, karena guru dapat mengemukakan pendapat/saran.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="sv-SE" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span lang="sv-SE">3. Kunjungan Kelas dan Kunjungan Sekolah</span></p>
<p style="margin-left:.18in;text-indent:.01in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span lang="sv-SE"> Melalui kegiatan ini diharapkan para guru memperoleh pengalaman baru guna meningkatkan kecakapannya dalam menjalankan tugas. Kunjungan kelas/sekolah berarti kunjungan supervisor/kepala sekolah kepada guru-guru yang disupervisi.</span></p>
<p style="margin-left:.18in;text-indent:.01in;margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="sv-SE" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span lang="sv-SE">4. Pertemuan Individual dan Pertemuan Kelompok</span></p>
<p style="margin-left:.18in;text-indent:.01in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span lang="sv-SE"> Dalam hal ini seorang supervisor harus menempatkan dirinya sebagai penasehat yang bertugas menunjukan jalan atau cara-cara penyelesaian suatu masalah yang dihadapi oleh guru.</span></p>
<p style="margin-left:.18in;text-indent:.01in;margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="sv-SE" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span lang="sv-SE">5. In-Service Training</span></p>
<p style="margin-left:.18in;text-indent:.01in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span lang="sv-SE"> Merupakan kegiatan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan guru dalam bidang tertentu sesuai dengan tugasnya, agar dapat meningkatkan efisiensi dan produktifitas dalam melakukan tugas-tugas tersebut.</span></p>
<p style="margin-left:.18in;text-indent:.01in;margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="sv-SE" align="justify">
<p style="margin-left:.18in;text-indent:.01in;margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="sv-SE" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span lang="sv-SE"> Agar kegiatan supervisi pendidikan berjalan dengan lancar, seorang supervisor dapat menggunakan berbagai alat bantu, antara lain:</span></p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span lang="sv-SE">Perpustakaan 	profesional dan perpustakaan sekolah.</span></p>
</li>
</ol>
<p style="margin-left:.52in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span lang="sv-SE">Dengan perpustakaan tersebut, setiap guru dapat menambah pengetahuan dan keterampilan. Supervisor harus mendorong agar di lingkungan lembaga pendidikan/sekolah diselenggarakan perpusakaan dengan koleksi buku-buku yang up to date.</span></p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span lang="sv-SE">Buku 	kurikulum/rencana pelajaran dan buku pegangan guru.</span></p>
</li>
</ol>
<p style="margin-left:.52in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span lang="sv-SE">Berdasarkan kurikulum seorang guru harus dilengkapi dengan sejumlah buku pegangan agar dapat menjalankan  tugasnya dengan baik..</span></p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span lang="sv-SE">Buletin 	pendidikan dan buletin sekolah.</span></p>
</li>
</ol>
<p style="margin-left:.52in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span lang="sv-SE">Seorang supervisor harus berusaha agar seorang guru yang disupervisi mendapat kesempatan membaca guna mengembangkan keterampilan dan pengetahuannya.</span></p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Penasehat 	ahl dan resource person</p>
</li>
</ol>
<p style="margin-left:.52in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Staf ahli dapat memberikan bantuan dalam menyelesaikan suatu masalah yang dihadapi oleh guru. Jika tidak tersedia staf ahli, maka supervisor dapat meminta bantuan kepada siapapun di luar lembaga pendidikan (resource person).</p>
<p style="margin-left:.52in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><strong>(Hadari Nawawi, Administrasi Pendidikan. Jakarta: CV. Haji Mas Agung. 1994. hlm. 105-115)</strong></p>
<br />Posted in PENDIDIKAN, Uncategorized Tagged: KEPALA SEKOLAH, PEMBINAAN KEPRIBADIAN GURU OLEH ATASAN, UNIT SUMBER DAYA MANUSIA INI BERTANGGUNG JAWAB UNTUK <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/haryono10182.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/haryono10182.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/haryono10182.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/haryono10182.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/haryono10182.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/haryono10182.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/haryono10182.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/haryono10182.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/haryono10182.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/haryono10182.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/haryono10182.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/haryono10182.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/haryono10182.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/haryono10182.wordpress.com/18/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=haryono10182.wordpress.com&amp;blog=5778151&amp;post=18&amp;subd=haryono10182&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://haryono10182.wordpress.com/2008/12/29/pembinaan-kepribadian-guru-oleh-atasan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4e360807ddc2482d9b6bf85e2b43d15e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">haryono10182</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MENDIDIK ALA RASULULLAH</title>
		<link>http://haryono10182.wordpress.com/2008/12/27/mendidik-ala-rasulullah/</link>
		<comments>http://haryono10182.wordpress.com/2008/12/27/mendidik-ala-rasulullah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Dec 2008 07:43:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>haryono10182</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://haryono10182.wordpress.com/?p=9</guid>
		<description><![CDATA[CONTOH PRILAKU RASULULLAH YANG SEHARUSNYA KITA TERAPKAN DALAM DUNIA PENDIDIKAN : Rasulullah tidak pernah menghardik anak-anak Sejak kecil, Anas ra menjadi khadimat/pembantu Rasulullah SAW. Hadits ini menggambarkan indahnya akhlak Rasulullah SAW terhadap seorang anak-anak yang bernama Anas ra Dari Anas r.a., “Aku telah melayani Rasulullah SAW selama 10 tahun. Demi Allah beliau tidak pernah mengeluarkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=haryono10182.wordpress.com&amp;blog=5778151&amp;post=9&amp;subd=haryono10182&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>CONTOH PRILAKU RASULULLAH YANG SEHARUSNYA KITA TERAPKAN DALAM DUNIA PENDIDIKAN :</p>
<p>Rasulullah tidak pernah menghardik anak-anak  Sejak kecil, Anas ra menjadi khadimat/pembantu Rasulullah SAW. Hadits ini menggambarkan indahnya akhlak Rasulullah SAW terhadap seorang anak-anak yang bernama Anas ra<br />
Dari Anas r.a., “Aku telah melayani Rasulullah SAW selama 10 tahun. Demi Allah beliau tidak pernah mengeluarkan kata-kata hardikan kepadaku, tidak pernah menanyakan : ‘Mengapa engkau lakukan?’ dan pula tidak pernah mengatakan: ‘Mengapa tidak engkau lakukan?’”</p>
<p>(<strong>Hadits </strong>Riwayat Bukhari, Kitabul Adab 5578, Muslim, Kitabul Fadhail 4269, dan selain keduanya)</p>
<br />Posted in Uncategorized  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/haryono10182.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/haryono10182.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/haryono10182.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/haryono10182.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/haryono10182.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/haryono10182.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/haryono10182.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/haryono10182.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/haryono10182.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/haryono10182.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/haryono10182.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/haryono10182.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/haryono10182.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/haryono10182.wordpress.com/9/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=haryono10182.wordpress.com&amp;blog=5778151&amp;post=9&amp;subd=haryono10182&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://haryono10182.wordpress.com/2008/12/27/mendidik-ala-rasulullah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4e360807ddc2482d9b6bf85e2b43d15e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">haryono10182</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PENDIDIKAN GRATIS</title>
		<link>http://haryono10182.wordpress.com/2008/12/27/pendidikan-gratis/</link>
		<comments>http://haryono10182.wordpress.com/2008/12/27/pendidikan-gratis/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Dec 2008 07:15:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>haryono10182</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://haryono10182.wordpress.com/?p=7</guid>
		<description><![CDATA[KCM<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=haryono10182.wordpress.com&amp;blog=5778151&amp;post=7&amp;subd=haryono10182&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color:#008000;"><span style="font-size:medium;">PENDIDIKAN GRATIS DI INDONESIA?</span> </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#993300;"><span style="font-size:x-small;">SUDAH lebih dari 26 tahun, tepatnya sejak tahun 1984, pemerintah mendengungkan kampanye wajib belajar. Melihat pengalaman negara industri baru (new emerging industrialized countries) di Asia Timur, disadari pembangunan suatu bangsa memerlukan sumber daya manusia dalam jumlah dan mutu yang memadai untuk mendukung pembangunan.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:x-small;">TERLEBIH lagi, pembangunan masyarakat demokratis mensyaratkan manusia Indonesia yang cerdas. Selain itu, era global abad ke-21, yang antara lain ditandai oleh lahirnya knowledge base society atau masyarakat berbasis pengetahuan, menuntut penguasaan terhadap ilmu pengetahuan.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:x-small;">Hanya saja, meskipun sudah jauh-jauh hari mengampanyekan wajib belajar-mulai dari wajib belajar enam tahun hingga sembilan tahun-masih belum jelas apakah Indonesia melaksanakan wajib belajar (compulsory education) atau universal education yang berarti pendidikan dapat dinikmati oleh semua anak di semua tempat. Dua konsep tersebut berbeda dan hal ini jelas tertuang dalam keputusan internasional, yakni Declaration on Education for All di Jomtien, Thailand, tahun 1990, yang menegaskan compulsory education bukan universal education.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:x-small;">Wajib belajar terutama berimplikasi terhadap pembebasan biaya pendidikan sebagai bentuk tanggung jawab negara. Di berbagai negara yang mewajibkan warganya menempuh pendidikan dasar sembilan tahun, semua rintangan yang menghalangi anak menempuh pendidikan bermutu dihilangkan. Termasuk dalam hal pendanaan pendidikan.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:x-small;">Di China pemerintah menggratiskan pendidikan dasar dan memberikan subsidi bagi siswa yang keluarganya mempunyai masalah ekonomi. Pengalaman negara lain pun hampir serupa. Di India wajib belajar berimplikasi juga pada pembebasan biaya pendidikan dasar. Bahkan, di negara yang baru keluar dari konflik dan kemiskinan masih mencengkeram seperti Kamboja, pendidikan dasar digratiskan dan disertai dengan upaya peningkatan mutu, khususnya dari segi tenaga pendidik.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:x-small;">Selain itu, dibutuhkan kekuatan hukum mengikat untuk mengimplementasikan wajib belajar. China, misalnya, membagi hukum wajib belajar sembilan tahun menjadi tiga kategori: perkotaan dan daerah maju, pedesaan, dan daerah miskin perkotaan. Target pencapaiannya berbeda-beda. Sebagai bentuk komitmen terhadap wajib belajar dikeluarkan pula pernyataan pada Januari 1986, yang menyatakan ilegal mempekerjakan anak sebelum selesai wajib belajar sembilan tahun.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:x-small;">Negara super power seperti Amerika Serikat dalam masa perang dingin, sekitar tahun 1981, sempat khawatir dengan ketertinggalan pendidikannya sehingga muncullah laporan A Nation at Risk. Laporan tersebut mengatakan bahwa yang menyebabkan ketertinggalan Amerika dalam persaingan global antara lain karena buruknya pendidikan.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:x-small;">Dua puluh tahun kemudian, tepatnya tahun 2003, pandangan yang muncul pada tahun 1983 itu perlu dievaluasi. Apakah benar bahwa saat itu AS dalam bahaya dan berisiko? Dengan kemenangan AS dalam perang dingin memang tidak semua laporan itu benar.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:x-small;">Namun, pandangan tersebut juga menyajikan kenyataan pahit, yakni dengan status sebagai negara adidaya ternyata masih banyak anak di AS yang drop out dari sekolah. AS kemudian menganggap perlu peraturan dalam melaksanakan wajib belajar sehingga lahir undang-undang yang terkenal dengan sebutan &#8220;No Child Left Behind&#8221;. Dengan undang-undang ini, berbagai jenis pendidikan, mulai dari sekolah yang diadakan oleh keluarga di rumah hingga etnis minoritas, ditanggung negara.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:x-small;">Sebenarnya mewujudkan pendidikan gratis pada tingkat dasar di negara kita sangatlah mudah jika semua pihak yang mau peduli pada pendidikan.  Semoga  pendidikan di Indonesia benar-benar gratis pada tingkat dasar, sehingga seluruh anak Indonesia dapat menikmati pendidkan secara gratis dan dapat mewujudkan cita-cita mereka menjadi manusia yang berguna bagi keluarga mereka, agama, bangsa dan negara mereka yakni Indonesia tercinta.</span><strong><span style="font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:x-small;"><br />
</span></strong></p>
<br />Posted in Uncategorized  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/haryono10182.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/haryono10182.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/haryono10182.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/haryono10182.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/haryono10182.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/haryono10182.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/haryono10182.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/haryono10182.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/haryono10182.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/haryono10182.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/haryono10182.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/haryono10182.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/haryono10182.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/haryono10182.wordpress.com/7/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=haryono10182.wordpress.com&amp;blog=5778151&amp;post=7&amp;subd=haryono10182&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://haryono10182.wordpress.com/2008/12/27/pendidikan-gratis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4e360807ddc2482d9b6bf85e2b43d15e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">haryono10182</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>TUGAS KULIAH</title>
		<link>http://haryono10182.wordpress.com/2008/12/26/tugas-kuliah/</link>
		<comments>http://haryono10182.wordpress.com/2008/12/26/tugas-kuliah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Dec 2008 10:25:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>haryono10182</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[ARTIKEL PENDIDIKAN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://haryono10182.wordpress.com/?p=5</guid>
		<description><![CDATA[ARTIKEL PENDIDIKAN ARTIKEL 1 &#8220;SIFAT-SIFAT GURU YANG BAIK&#8221; Seorang guru yang baik harus mempunyai sifat-sifat yang positif, antara lain: bertanggungjawab, disiplin, berwibawa, bijaksana, adil, inofative, kreatif, berdedikasi yang tinggi, tak kenal menyerah, berwawasan luas, mengayomi anak didik, motifator bagi lingkungannya, lapang dada, sabar, beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, dan lain sebagainya. Selain sikap/sifat positif [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=haryono10182.wordpress.com&amp;blog=5778151&amp;post=5&amp;subd=haryono10182&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>ARTIKEL PENDIDIKAN</p>
<p>ARTIKEL 1 &#8220;SIFAT-SIFAT GURU YANG BAIK&#8221;</p>
<p>Seorang guru yang baik harus mempunyai sifat-sifat yang positif, antara lain: bertanggungjawab, disiplin, berwibawa, bijaksana, adil, inofative, kreatif, berdedikasi yang tinggi, tak kenal menyerah, berwawasan luas, mengayomi anak didik, motifator bagi lingkungannya, lapang dada, sabar, beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, dan lain sebagainya.<br />
Selain sikap/sifat positif tersebut di atas, sorang guru harus bisa menjadi tauladan bagi orang-orang yang ada di sekitarnya. Di samping itu ilmu yang disampaikan kepada anak didiknya bermanfaat di dunia dan akherat. Amiiin.</p>
<br />Posted in Uncategorized Tagged: ARTIKEL PENDIDIKAN <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/haryono10182.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/haryono10182.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/haryono10182.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/haryono10182.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/haryono10182.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/haryono10182.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/haryono10182.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/haryono10182.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/haryono10182.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/haryono10182.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/haryono10182.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/haryono10182.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/haryono10182.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/haryono10182.wordpress.com/5/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=haryono10182.wordpress.com&amp;blog=5778151&amp;post=5&amp;subd=haryono10182&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://haryono10182.wordpress.com/2008/12/26/tugas-kuliah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4e360807ddc2482d9b6bf85e2b43d15e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">haryono10182</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
