JAM`UL QUR`AN

29 12 2008

A. JAM`UL QUR`AN

1. Penggagas Pertama Pengumpulan Al Qur`an

a. Pengumpulan al Qur`an pada Masa Nabi

Ali bin Abi Thalib sebagai pengumpul pertama al Qur`an pada masa Nabi berdasarkan perintah Nabi sendiri. Di kalangan Syi`ah menegaskan Ali bin Abi Thalib sebagai orang pertama yang mengumpulkan al Qur`an setelah wafatnya Nabi. Sumber-sumber Sunni juga mengungkapkan bahwa Ali memiliki kumpulan al Qur`an. Di kalangan ortodok Islam, pengumpula al Qur`an dapat dilakukan secara resmi pada masa pemerintahan Abu Bakar al- Shiddiq. Al Khatthabi berkata, “ Rasulullah tidak mengumpulkan al Qur`an dalam satu mushaf karena senantiasa menunggu ayat yang menghapus terhadap sebagian hukum-hukum atau bacaannya. Sesudah berakhir masa turunnya dengan wafatnya Rasulullah maka Allah mengilhamkan penulisan mushaf secara lengkap kepada para Khulafaur Rasyidin sesuai dengan janji-Nya yang benar kepada umat ini tentang jaminan pemeliharaannya “.

Dengan demikian, jam`ul Qur`an ( pengumpulan al Qur`an ) pada masa Nabi dinamakan Hifzhan ( hafalan ) dan Kitabatan ( pembukuan ) yang pertama.

b. Pengumpulan al Qur`an pada Masa Abu Bakar

Penggagas pertama pengumpulan al Qur`an pada masa itu adalah Umar bin Khattab yang memberikan usul kepada Abu Bakar al Shiddiq. Abu Bakar yang menjabat sebagai khalifah yang pertama setelah Rasulullah wafat. Ia dihadapkan pada peristiwa-peristiwa besar yang berkenaan dengan murtadnya sejumlah orang Arab.

Perang Yamamah yang terjadi pada tahun 12 H, telah mengakibatkan 70 qari` dari para sahabat gugur. Umar bin Khattab merasa sangat khawatir jika nantinya al Qur`an akan musnah karena banyaknya qari` yang gugur. Umar bin Khattab mengajukan usul kepada Abu Bakar agar menumpulkan dan membukukan al Qur`an. Akan tetapi, Abu Bakar menolak usulan tersebut, dengan alasan Rasulullah SAW tidak pernah memerintahkan hal tersebut. Namun Umar membujuknya, sehingga Allah SWT membukakan hati Abu Bakar untuk menerima usulan tersebut.

Abu Bakar memerintahkan Zaid bin Tsabit untuk mengumpulkan dan membukukan al-Qur`an mengingat kedudukannya dalam masalah qira`at, hafalan, penulisan, pamahaman dan kecerdasannya serta kehadirannya pada pembacaan al Qur`an yang terakhir di hadapan Nabi.

Pada mulanya Zaid bin Tsabit menolaknya, kemudian keduanya bertukar pendapat sampai akhirnya Zaid bin Tsabit dapat menerima dengan lapang dada perintah penulisan al- Qur`an tersebut. Zaid bin Tsabit memenuhi tugasnya dengan bersandar pada hafalan para qurra` dan catatan yang ada pada para penulis. Kemudian lembaran-lambaran itu disimpan Abu Bakar, sestelah ia wafat pada tahun 13 H berpindah kepada tangan Umar hingga wafat. Kemudian mushaf itu pindah ke tangan Hafshah ( puteri Umar ), Zaid bin Tsabit bertindak sangat teliti dan hati-hati.

Para ulama berpendapat bahwa penamaan al Qur`an dengan mushaf baru muncul sejak Abu Bakar mengumpulkan al Qur`an. Kata Ali, “ orang yang paling besar pahalanya berkenaan dengan mushaf ialah Abu Bakar “. Jam`ul Qur`an ( pengumpulan al Qur`an ) pada masa Abu Bakar dinamakan jam`u al Qur`an ats-tsani ( pengumpulan al Qur`an kedua ).

Tentang pengumpulan al Qur`an pada masa Abu Bakar, terdapat dua pandangan yaitu versi mayoritas dan versi minoritas.

1. Versi mayoritas

  • Dalam versi mayoritas, Umar sebagai penggagas intelektual pengumpulan pertama al- Qur`an, saedangkan Abu Bakar orang yang memerintahkan pengumpulan dalam kapasitasnya sebagai penguasa dan menunjuk pelaksana teknis, serta menerima hasil pekerjaan berupa mushaf al Qur`an.

  • Dalam versi mayoritas, alasan penunjukkan Zaid sebagai pelaksana teknis pengumpulan al Qur`an terlihat sangat transparan, dan terdapat kesepakatan tentangnya dalam keseluruhan riwayat. Usia muda, inteligensia tinggi, dan pekerjaan di masa Nabi sebagai penulis wahyu, merupakan kriteria yang dipegang Abu Bakar dalam penunjukkan Zaid sebagai pengumpul al Qur`an.

2. Versi minoritas

  • Versi minoritas yang membias tidak memiliki kesatuan pandang tentang pribadi-pribadi yang bergulat dan terkait secara langsung atau tidak langsung dengan pengumpulan pertama al Qur`an. Riwayat terpencil mengemukakan Ali bin Abi Thalib dan Salim bin Ma`qil sebagai pengumpul pertama al Qur`an.

  • Dalam versi minoritas terdapat riwayat al Zuhri yang mengungkapkan bahwa, ketika banyak kaum Muslimin yang terbunuh dalam pertempuran Yamamah, Abu Bakarlah yang justeru mencemaskan akan musnahnya sejumlah besar qurra`.

  • Dalam versi minoritas lainnya bahkan memangkas peran khalifah pertama dan meletakkan keseluruhan upaya pengumpulan al Qur`an di atas pundak khalifah kedua. Dalam riwayat ini dikisahkan bahwa suatu ketika Umar bertanya tentang suatu bagian al Qur`an dan dikatakan bahwa bagian tersebut berada pada seseorang yang tewas dalam pertempuran Yamamah. Ia mengekspresikan rasa kehilangan dengan mengucapkan inna li-llahi wa inna ilayhi raji`un, lalu ia memerintahkan untuk mengumpulkan al Qur`an, sehingga ia adalah orang pertama yang mengumpulkan al Qur`an ke dalam mushaf. Secara implisit, di sini disebutkan bahwa baik proses awal maupun proses akhir pengumpulan al Qur`an berlangsung pada masa pemerintahan Umar bin Khattab.

  • Riwayat lain mengungkapkan bahwa pekerjaan pengumpulan al Qur`an tidak terselesaikan dengan terbunuhnya khalifah Umar : Umar bin Khattab memutuskan untuk mengumpulkan al Qur`an. Ia berdiri ditengah manusia dan berkata: “ Barang siapa yang menerima bagian al Qur`an apapun langsung dari Rasulullah, bawalah kepada kami “. Mereka telah menulis dari apa yang mereka dengar dari Rasulullah di atas lembaran-lembaran, luh-luh dan pelepah-pelepah kurma. Umar tidak menerima sesuatupun dari seseorang hingga dua orang menyaksikan ( kebenarannya ) tetapi ia terbunuh ketika tengah melakukan pengumpulan al Qur`an. Utsman bin Affan melanjutkannya dan berkata : “ barang siapa yang memiliki sesuatu dari Kitab Allah bawalah kepada kami...”.

  • Suatu riwayat minoritas mengungkapkan keterlibatan Ubay dalam pengumpulan al Qur`an pada masa Abu Bakar. Ketika al Qur`an dikumpulkan ke dalam mushaf pada masa khalifah Abu Bakar beberapa orang menyalin didikte oleh Ubay. Ketika mencapai 9:127, beberapa diantaranya memandang bahwa itu merupakan bagian al Qur`an yang terakhir kali diwahyukan. Tetapi, Ubay menunjukkan bahwa Nabi telah mengajarkannya 2 ayat lagi ( 9:128-129 ) yang merupakan bagian terakhir dari wahyu. Versi lain dari riwayat ini mengungkapkan bahwa al Qur`an itu dikimpulkan dari mushaf Ubay.

  • Riwayat lain yang cukup fantastik yang disitir oleh Ya`qubi diunbgkapkan bahwa Abu- Bakar menolak pengumpulan al Qur`an lantaran Nabi tidak pernah melakukannya.

  • Versi minoritas lainnya berupaya mendamaikan kesimpang siuran antara versi mayoritas pengumpulan Zaid dan versi minoritas tentang pengumpulan pertama al- Qur`an yang dilakukan khalifah Umar.Dalam laporan diungkapkan bahwa Zaid atas perintah Abu Bakar menuliskan wahyu al Qur`an di atas lembaran kulit dan pelepah kurma. Setelah wafatnya Abu Bakar, pada masa khalifah Umar ia menyalin teks wahyu itu ke dalam lembaran-lembaran yang disatukan ( fi sahifah wahidah ).

Dengan bentuk laporan tersebut kedua versi tentang pengumpulan pertama al Qur`an tidak lagi bertabrakan.

2. Peran Khulafaur Rasyidin dalam Pembukuan al Qur`an

1. Khalifah Abu Bakar al Shiddiq

Abu Bakar al Shiddiq merupakan orang pertama yang mengumpulkan al Qur`an atas

pertimbangan ususlan dari Umar bin Khattab pada masa Khulafaur Rasyidin. Dengan menunjuk Zaid bin Tsabit untuk mengumpulkan dan membukukan al Qur`an.

2. Khalifah Umar bin Khattab

Umar bin Khattab berperan sebagai penggagas intelektual pengumpulan pertama al- Qur`an pada masa khalifah Abu Bakar. Umar khawatir akan musnahnya al Qur`an karena perang Yamamah telah banyak menggugurkan para qarri`.

3. Khalifah Utsman bin Affan

Utsman bin Affan menyalin lembaran-lembaran ke dalam mushaf-mushaf dengan menertibkan atau menyusun suratnya dan membatasinya hanya dengan bahasa Quraisy. Ia juga menghilangkan perselisihan / perpecahan di kalangan kaum Muslimin yang disebabkan adanya perbedaan qiraat al Qur`an di antara mereka.Khalifah Utsman juga berhasil menyusun Mushaf Utsmani.

3. Khalifah Ali bin Abi Thalib

Ali bin Abi Thalib merupakan pengumpul pertama al Qur`an pada masa Nabi berdasarkan perintah Nabi sendiri. Ia menunjuk kesepakatan atau ijma` akan kemutawatiran al-Qur`an yang tertulis dalam mushaf.

B. RASM AL QUR`AN

1. Definisi Rasm al Qur`an dan Rasm Utsmani

Rasm al Qur`an adalah tulisan al Qur`an, baik dalam hal penulisan lafaz maupun penulisan bentuk huruf.

Rasm Utsmani adalah penulisan mushaf Utsmani atau metode penulisan al Qur`an yang disusun oleh Utsman.

2. Pendapat Ulama tentang Rasm Utsmani

a. Ada yang berpendapat bahwa rasm Utsmani untuk al Qur`an bersifat tauqifi yang wajib digunakan dalam penulisan al Qur`an, dan harus sungguh-sungguh disucikan. Mereka menisbatkan tauqifi dalam penulisan al Qur`an kepada Nabi. Mereka menyebutkan, Nabi pernah mengatakan kepada Muawiyah, salah seorang penulis wahyu, “ Goreskan tinta, tegakkan huruf ya, bedakan sin, jangan kamu miringkan mim, baguskan tuliskan lafal Allah, panjangkan Ar Rahman, baguskan Ar Rahim, dan letakkanlah penamu pada telinga kirimu, karena yang demikian akan lebih dapat mengingatkan kamu “. Ibnu Mubarok dari Syaikh Abdul Aziz ad Dabbagh, bahwa dia berkata kepadanya, “ Para sahabat dan orang lain tidak campur tangan seujung rambut pun dalam penulisan al Qur`an karena penulisan al Qur`an adalah tauqifi, ketentuan dari Nabi. Dialah yang memerintahkan kepada mereka untuk menuliskannya dalam bentuk seperti yang dikenal sekarang, dengan menambahkan alif atau menguranginya karena ada rahasia-rahasia yang tidak terjangkau oleh akal. Ituah sebab satu rahasia Allah yang diberikan kepada kitab-Nya yang mulia, yang tidak Dia berikan kepada kitab-kitab samawi lainnya. Sebagaimana susunan al Qur`an adalah mukjizat, maka penulisannya pun mukjizat. Bagi mereka rasm Utsmani menjadi petunjuk terhadap beberapa makna yang tersembunyi dan halus, sepereti penambahan “ya” dalam penulisan kata “aydin” yang terdapat dalam firmanNya, “Dan langit itu Kami bangun dengan tangan Kami “. (Adz Dzariyat: 47). Penulisan ini merupakan isyarat bagi kehebatan kekuatan Allah yang dengannya Dia membangun langit, dan bahwa kekuatanNya itu tidak dapat disamai, ditandingi oleh kekuatan yang manapun ini berdasarkan kaidah yang masyhur, “ penambahan huruf dalam bentuk kalimat menunjukkan penambahan makna “. Pendapat ini sama sekali tidak bersumber bahwa rasm itu bersifat tauqifi. Tetapi sebenarnya para penulislah yang mempergunakan istilah dan cara tersebut pada masa Utsman atas izinnya, dan bahkan Utsman telah memberikan pedoman kepada mereka dengan perkatannya kepada tiga orang Quraisy, “ Jika kalian (bertiga) berselisih pendapat dengan Zaid bin Tsabit mengenai penulisan sebuah lafal al Qur`an maka tulislah menurut logat Quraisy, karena ia diturunkan dalam logat mereka”.ketika mereka berselisih pendapat dalam penulisan tabut, Zaid bin Tsabit mengatakan tabuh, tetapi beberapa kalangan dari golongan Quraisy mengatakan tabut. Utsman mengatakan, “tulislah tabut, karena al Qur`an diturunkan dalam bahasa Quraisy”.

b. Menurut kebanyakan ulama, rasm Utsmani itu bukanlah tauqifi dari Nabi melainkan istilah yang disetujui oleh Utsman dan diterima oleh umat, sehingga menjadi suatu keharusan yang wajib menjadi pegangan dan tidak boleh dilanggar.

c. Sebagian ulama lain berpendapat, rasm Utsmani hanyalah sebuah istilah, metode dan tidaklah mengapa berbeda dengannya jika orang te;lah menggunakan satu model rasm tertentu untuk penulisan, kemudian rasm itu tersiar luas di antara mereka.

Abu Bakar al Baqilani menyebutkan dalam kitabnya Al Intishar, “ tak ada yang diwajibkan oleh Allah dalam hal penulisan mushaf. Diperbolehkan menulis al Qur`an dengan tulisan dan ejaan jaman kuno, dengan tulisan dan ejaan baru serta dengan tulisan dan ejaan pertengahan.

Al Baihaqi dalam Syu`ab Al Imam mengatakan, “ Barang siapa menulis mushaf, hendaknya ia memperhatikan bentuk rasm huruf-hurufnya yang mereka pakai dalam penulisan mushaf-mushaf dahulu janganlah menyalahi mereka dalam hal itu dan janganlah pula mengubah apa yang mereka tulis sedikitpun. Ilmu mereka lebih banyak, lebih jujur hati dan lisannya, serta lebih dapat dipercaya dari pada kita. Maka bagi kita tidak pantas menyangka bahwa diri kita lebih tahu dari mereka ”.

C. I`JAZUL QUR`AN

1. Tulisan Abdul Djalal HA

a. Definisi I`jazul Qur`an

I`jazul Qur`an berasal dari kata i`jaz dan Qur`an. Menurut bahasa kata i`jaz adalah mashdar dari kata a`jaza yang berarti melemahkan. Kata a`jaza termasuk fi`il ruba`i mazid yang berasal dari fi`il tsulatsi mujarrad ajaza yang berarti lemah, lawan dari qodara yang berarti kuat / mampu.

I`jazul Qur`an ialah melemahkannya al Qur`an. Suatu kata makjud yang terdiri dari dua kata yang di mudhafkan. Yaitu dimudhafkannya kata mashdar i`jaz kepada pelakunya yaitu al Qur`an yang berarti melemahkannya al Qur`an. Sedangkan ma`ulnya ( siapa objek yang dilemahkan ) dibuang atau tersimpan. Jadi, i`jazul Qur`an bila didatangkan artinya dilemahkan kitab al Qur`an kepada manusia untuk mendatangkan apa yang telah ditantangkan kepada mereka, yaitu membuat kitab seperti al Qur`an ini. Sebab kitab al- Qur`an telah menantang pujangga-pujangga Arab untuk membuat kitab seperti al- Qur`an tetapi dari dulu sampai sekarang tidak ada yang mampu membuat tandingan itu. Tantangn al Qur`an itu berupa menandingi seluruh isi al Qur`an dikurangi hanya 10 surat saja sampai terakhir hanya membuat 1 surat saja, tetapi tidak ada yang mampu menandinginya. Oleh karena itu, al Qur`an betul-betul i`jaz atau melemahkan manusia seluruhnya tak ada seorangpun yang mampu menandingi tantangannya.

Mukjizat menurut bahasa ialah sesuatu hal yang luar biasa, ajaib, atau menakjubkan. Menurut istilah mukjizat ialah sesuatu yang luar biasa yang melemahkan manusia baik sendiri maupun kolektif untuk mendatangkan sesuatu yang menyerupai atau menyamainya yang hanya diberikan kepada Nabi atau Rasul Allah.

b. Aspek-aspek kemukjizatan al Qur`an

        1. Syeikh Abu Bakar Al Baqilani dalam kitab I`jazil Qur`an. Al Qur`an memiliki 3 segi kemukjizatan :

a. Di dalam al Qur`an itu ada cerita mengenai hal-hal yang ghaib.

b. Di dalam al Qur`an itu ada cerita umat dahulu beserta para Nabinya, padahal Rasulullah SAW adalah seorang ummi.

c. Di dalam al Qur`an terdapat susunan indah yang terdiri dari 10 segi : ijaz, tasybih, isti`arah, talaum, jawashil, tajamus, tasyrif, tadhmin, mubalaghah, dan khusnul bayan.

        1. Al Qadhi Iyad Al Basty dalam buku Asy Syifa`u bi Ta`rifi Huquqil Mushthafa mengatakan : segi-segi kemukjizatan al Qur`an ada 4 hal :

a. Susunannya yang indah

b. Uslubnya yang lain dari pada yang lain.

c. Adanya berita-berita ghaib yang belum terjadi, tetapi lalu betul-betul terjadi.

d. Adanya berita-berita ghaib masa lalu dan syariat-syariat dahulu yang jelas dan benar.

        1. Imam al Qurthuby dalam tafsirAl jami`u Ahkamil Qur`an mengatakan segi-segi kemukjizatan al Qur`an ada 10 hal :

a. Susunannya yang indah, yang lain dari yang lain.

b. Uslubnya berbeda dengan seluruh uslub bahasa Arab.

c. Kefasihan ungkapannya yang tidak dapat diimbangi.

d. Pengaturan bahasa yang utuh-bulat.

e. Adanya berita mengenai pertama kali kejadian-kejadian dunia yang belum terdengar.

f. Ditepatinya hal-hal yang telah dijanjikan lalu betul-betul terjadi.

g. Adanya berita yang belum terjadi lalu betul-betul terjadi.

h. Isi aturan halal-haram.

i. Hikmah-hikmah tinggi yang tidak biasa terjadi.

j. Persesuaian semua kandungannya.

        1. Syeikh Abdul Adhim Az Zarqany, segi-segi kemukjizatan sedikitnya ada 7 :

a. Keindahan bahasa dan uslub al Qur`an.

b. Cara penyusunan bahasanya tampak baik, tertib, dan berkaitan antara satu dengan yang lain, sehingga tidak kelihatan adanya perbedaan antara surat satu dengan yang lain meski al Qur`an diturunkan secara berangsur-angsur selama 22 tahun lebih.

c. Berisi beberapa ilmu pengetahuan, yang banyak memberi acuan makhluk kepada kebenaran dan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

d. Kitab al Qur`an bisa memenuhi segala kebutuhan manusia baik yang berupa petunjuk dalam berbagai segi kehiduan ataupun tuntunan dalam peribadatan, maupun yang berbentk benih-benih dalam beraneka disiplin ilmu pengetahuan di sepanjang zaman.

e. Cara-cara mengadakan perbaikkan dan kemaslahatan bagi umat manusia

1) Cara turunnya al Qur`an berangsur-angsur berbeda dengan kitab lain yang turun sekaligus.

2) Cara al Qur`an melarang suatu barang atau perbuatan.

3) Cara pembagian al Qur`an yang terbagi dalam juz surat dan ayat.

4) Cara al Qur`an menanamkan perintah / pesan / petunjuk lewat ungkapan ( uslub ) yang indah.

5) Cara al Qur`an menumbuhkan kesadaran terhadap kebajikan, keutamaan dan keluhuran budi.

6) Cara al Qur`an menyadarkan umat melalui akal pikiran, penalaran, dalil aqli, dan bukti yang rasional.

7) Cara al Qur`an memberi tuntunan terhadap jiwa dan raga manusia secara bersama.

8) Cara al Qur`an mengatur urusan dunia dan akhirat.

10) Cara al Qur`an menentukan aturan hukum dengan menberikan dispensasi (rukhshah).

f. Adanya berita-berita ghaib dalam al Qur`an yang menunjukkan bahwa al Qur`an benar-benar wahyu Allah SWT.

g. Adanya ayat `itab ( teguran ) yang menegur kekekliruan pendapat Nabi Muhammad SAW.

2. Tulisan Quraish Shihab

a. Definisi I`jazul Qur`an

I`jaz secara bahasa berarti keluputan. Dikatakan A`jazani al Amru artinya perkara itu luput dariku. Juga berarti “membuat tidak mampu”. Seperti dalam contoh a`jaza akhuhu ( dia telah membuat saudaranya tidak mampu ) manakala dia telah menetapkan ketidak mampuan saudaranya dalam suatu hal. Berarti juga “ Dia telah menjadikan saudaranya itu tidak mampu “. Juga berarti “ terwujudnya ketidakmampuan” seperti dalam contoh a`jazu zaza`an ( aku mendapat Zaid tidak mampu ).

Menurut istilah i`jazul berarti sesuatu yang membuat manusia tidak mampu baik secara sendiri maupun bersama untuk mendatangkan yang seperti itu. Perbuatan seseorang mengklaim bahwa ia menjalankan fungsi ilahiah dengan cara yang melanggar ketentuan hukum alam dan m,embuat orang lain tidak mampu melakukan dan bersaksi akan kebenaran klaimnya.

b. Aspek-Aspek Kemukjizatan al Qur`an

1. Segi personal, maksudnya manusia yang kepadanya al Qur`an ditunjukkan mencakup umat manusia seluruhnya tanpa membeda-bedakan lapisan, agama, jenis kelamin, bahasa dan sebagainya. Firman Allah SWT “ Katakanlah : hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua…” ( QS al A`raf:158 ) dan “ Dan tiadalah kami mengutus kamu melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam” ( QS al- Anbiya: 107 ).

2. Segi waktu, maksudnya adalah tentang masa untuk melaksanakan pesan yang dibawanya mencakup segala masa sejak Nabi SAW diangkat menjadi Nabi hingga hari kiamat. Firman Allah SWT “dan al Qur`an ini diwahyukan kepadaku supaya dengannya aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang al Qur`an sampai kepadanya” ( QS al An`am: 19 ).

3. Segi tempat, maksudnya adalah wilayah kawasan dimana kewenangan al Qur`an berlaku.Al Qur`an mencakup semua manusia mukallaf ( yang dibebani kewajiban ) baik di daratan, di lautan, maupun di angkasa. Firman Allah SWT : “ Dan Kami tidak mangutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagi pemberi peringatan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui “ ( QS al Saba:28 ).

4. Segi materi, yaitu segi-segi kehidupan manusia yang diaturnya. Al Qur`an datang sebagai penjelas segala sesuatu. Firman Allah dalam QS al An`am : 38 .”Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya,melainkan umat-umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatupun di dalam al Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan”.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: